Anda di halaman 1dari 47

TRAUMA URETRA

KELOMPOK D
Anggota :

Ahmad Mufid NA
Hanifa Salma Ramadhani
Nabila Casogi Adryana
Restu Cyntia Permatasari
Vanesa Faradise Inonu
ANATOMI URETRA
Secara anatomis uretra dibedakan menjadi
dua :
1. Uretra posterior
terdiri dari : pars prostatika dan pars
membranasea
2. Uretra anterior
terdiri dari : pars spongiosa/penile
Pars Prostatica Mulai dari basis prostat sampai
(3-4 cm) pada apeks prostat

Pars Berjalan ke arah caudo ventral, mulai


Membranesea dari apeks prostat menuju ke bulbus
(1 cm) penis. Bagian terpendek

Pars spongiosa / Berada di dalam corpus


penile spongiosum penis, berjalan di
dalam bulbus penis – corpus
(15 cm) penis – glans penis

bermula di proksimal setinggi aspek


Pars bulbosa inferior dari diafragma urogenitalia, yang
menembus dan berjalan melalui korpus
spongiosum
Pars prostatica
Pars membranosa

Pars spongiosa
VASKULARISASI & PERSARAFAN
URETRA
• Uretra Masculina :
– Arteri :
• Pars prostatika : a. vesicalis inferior dan a. rectalis media
• Pars membranasea : cabang-cabang a. dorsalis penis dan a.
profunda penis
– Vena :
• Aliran darah venous menuju pleksus venosus prostatikus dan ke v.
pudenda interna
– Nervus :
• Pars prostatika : pleksus nervosus prostatikus
• Pars membranasea : n. kavernosus penis
• Pars sponsiosa : pleksus nervosus vesikalis & pleksus nervosus
uretrovaginalis
• Pars kaudalis : n. pudendus
TRAUMA URETRA
DEFINISI
• Trauma atau
ruptur pada
uretra akibat
cedera internal
maupun
eksternal.
ETIOLOGI
• Blunt injuries
– Terpukul, tendangan,
• Penetrating injuries
– Luka tembak, luka tusuk
• Cedera iatrogenik
– Pemasangan kateter
– Tindakan operasi transuretra
KLASIFIKASI
• Ruptur uretra posterior
• Ruptur uretra anterior
RUPTUR URETRA POSTERIOR
DEFINISI
• Trauma pada
uretra yang
terletak di
uretra pars
membranosa
dan uretra
pars
prostatika.
ETIOLOGI
• Blunt injuries (Trauma tumpul)
– E.g tabrakan kendaraan bermotor, terjatuh
– Fraktur pelvis (10%)
• Fraktur ramus/simfisis pubis  kerusakan pada cincin
pelvis  robekan uretra pars prostato-membranasea
EPIDEMIOLOGI
• Cedera uretra posterior yang paling sering
dikaitkan dengan fraktur pelvis  5% -10%
• Tingkat tahunan sebesar 20 fraktur pelvis per
100.000 penduduk
• Laki-laki > wanita
– (uretra wanita >> pendek, lebih mobile & lig. pubis
yg tdk kaku)
KLASIFIKASI

Melalui gambaran uretrogram


Colapinto dan McCollum (1976)
TIPE 1
• Uretra posterior
masih intak dan
hanya mengalami
stretching
(perengangan)
• Foto uretrogram tidak
menunjukkan adanya
ekstravasasi
• Uretra hanya tampak
memanjang
TIPE 2
• Uretra posterior
terputus pada
perbatasan prostate-
membranasea (parsial)
• Diafragma urogenitalia
masih utuh
– Foto uretrogram :
ekstravasasi kontras
yang masih terbatas di
atas diafragma
– Kontras mengisi uretra
proksimal s/d vu
TIPE 3
• Uretra posterior,
diafragma
urogenitalis, dan
uretra pars bulbosa
sebelah proksimal
ikut rusak.
• Foto uretrogram :
ekstravasasi kontras
meluas hingga di
bawah diafragma
sampai ke perineum
GEJALA KLINIS
• Nyeri abdomen bawah
• Kesulitan BAK/retensi urin
• Shock karena perdarahan
ETIOPATOGENESIS
• Akibat dari adanya gaya geser pada
prostatomembranosa junction  prostat
terlepas dari fiksasi pada diafragma
urogenitalia
– CATATAN :
• uretra posterior difiksasi pada dua tempat yaitu :
1. Uretra pars membranasea ke ramus ischiopubis oleh
diafragma urogenitalia
2. Uretra pars prostatika ke simphisis oleh ligamentum
puboprostatikum
PEMERIKSAAN FISIK
• Perdarahan di meatus uretra externa
• Teraba fraktur pelvis
• Suprapubic contusion
• Pada daerah suprapubik dan abdomen bagian
bawah  jejas hematom & nyeri tekan
Trias diagnostik dari gangguan uretra
prostatomembranosa :

• fraktur pelvis
• darah pada meatus
• urin tidak bisa keluar dari kandung kemih
• DRE :
– floating
prostate/high
riding (o/ krn
rupture of
puboprostatic
ligaments)
– massa lunak
yang menonjol
ke dalam rektum
(akibat
hematoma
rongga panggul)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Uretrografi retrograd
– Injeksi 20-30 ml kontras radioopak ke dlm uretra
– Ekstravasasi cairan kontras di uretra pars
prostaticomembranosa  menunjukan lokasi
kerusakan
Tatalaksana
• Cidera peregangan (tipe I) dan robekan uretra
yang tidak lengkap (tipe II) paling baik diobati
dengan pemasangan stent dengan kateter uretra.
• Tipe III
Pasien memiliki berbagai risiko striktur uretra,
inkontinensia urin, dan disfungsi ereksi (DE)
Manajemen awal dengan cystotomy suprapubik
dan mencoba perbaikan primer pada 7 sampai 10
hari setelah cedera.
KOMPLIKASI
• Striktur berulang (1% -2% pasien)
• Kehilangan kemampuan ereksi
PROGNOSIS
• Sangat baik  bila dikelola dengan benar
RUPTUR URETRA ANTERIOR
DEFINISI
• Trauma pada uretra yang terletak di bagian
distal uretra pars membranosa
ETIOLOGI
• Straddle injury
– e.g tendangan atau pukulan pada daerah
perineum
• uretra pars bulbosa terjepit diantara tulang pubis dan
benda tumpul.
• Penetrating injury (luka tembak atau luka
tusuk)
• Trauma iatrogenic dari kateterisasi, atau
masuk benda asing
KLASIFIKASI
1. KONTUSIO
• Gambaran klinis memberi kesan cedera
uretra, tetapi uretrografi retrograde normal
2. PARTIAL DISRUPTION
• Uretrografi menunjukkan ekstravasasi, tetapi
masih ada kontinuitas uretra sebagian.
• Kontras terlihat mengisi uretra proksimal atau
vesika urinaria
3. COMPLETE DISRUPTION
• Uretrografi menunjukkan ekstravasasi dengan
tidak ada kontras mengisi uretra proksimal
atau vesika urinaria.
• Kontinuitas uretra seluruhnya terganggu
GEJALA KLINIS
• Hematoma pada penis dan skrotum.
• Perdarahan di meatus uretra merupakan
tanda klasik cedera uretra.
• Bila terjadi rupture uretra total  tidak bisa
BAK sejak terjadi trauma & nyeri perut bagian
bawah / daerah suprapubik.
• Pada perabaan  kandung kemih penuh.
DIAGNOSIS
• Uretrografi retrograde :
– Gambaran ekstravasasi bila terdapat laserasi
uretra (nb : pada kontusio, tdk terdapat
ekstravasasi)
– Bila tidak tampak adanya ekstravasasi  kateter
uretra boleh dipasang
TATALAKSANA
• CONTUSIO
Kateter uretra F # kecil selama satu minggu

• Ruptur Uretra Anterior Sebagian


Tidak ada kateterisasi uretra
Mayoritas dapat dikelola dengan pengalihan urin
suprapubik selama satu minggu
Menembus gangguan sebagian (mis., Pisau, luka
tembak), perbaikan primer (langsung).
• Ruptur Uretra Anterior Lengkap
Pasien tidak stabil kateter suprapubik.
Pasien stabil, uretra dapat segera diperbaiki atau kateter
suprapubik.
Menembus Cidera Uretra Anterior
umumnya dikelola oleh debridemen dan perbaikan
bedah
KOMPLIKASI
• Komplikasi dini setelah rekontruksi uretra
adalah :
– infeksi, hematoma, abses periuretral, fistel
uretrokutan, dan epididimitis.
• Komplikasi lanjut yang paling sering terjadi
adalah striktur uretra.
PROGNOSIS
• Kurang baik jika ada striktur  laju aliran urin
kurang baik dan infeksi urinaria
Daftar pustaka
1. Zaid U, Bayne DB, Harris CR, Alwaal A, McAninch J, Breyer BN. Penetrating
trauma to the ureter, bladder, and urethra. Curr Trauma Rep. 2015;1119-24.2.
2. Elgammal MA. Straddle injuries to the bulbar urethra Management and outcome
in 53 patients. International Braz J Urol. 2009;35(4)450-8.4.
3. Lumen N, Kuehhas FE, Djakovic N, Kitrey ND, Serafetinidis E, Sharma DM, et al.
Review of the current management of lower urinary tract injuries by the EAU
trauma
4. fracture urethral injury. Arab Journal of Urology. 2015;132-6.9. Bryk DJ, hao LC.
uidline of guidelines A review of urological trauma guidelines. BJU Int.
2016;117226-34.10.
5. Morey AF, Brandes S, Dugi DD, Armstrong JH, Breyer BN, Broghammer JA, et al.
Urotrauma AUA guideline. Jurology 2014;1921-9.11.
6. Ramchandani P, Buckler PM. Imaging of genitourinary trauma. AJR.
2009;1921514-23.12.
7. Summerton DJ, Djakovic N, Kitrey ND, Kuehhas FE, Lumen N, Serafetinidas E, et
al. uidelines on urological trauma. Eur Urol. 2012;62(4)628-39. 13.
8. Mundy AR, Andrich DE. Urethral trauma. BJUI. 2011;108630-50.