Anda di halaman 1dari 7

Yeri F.

Devita Ulfasari
Farhiz Lagan
Feri Wibowo
Ranum Anggun Sari
Widya Dwifirman
Vinil Klorida ??

• Merupakan gas yang tidak


berwarna
• berfasa liquid saat
pembuatan polivinil
klorida
• bersifat beracun, mudah
terbakar dan karsinogen
Pembuatan vinil klorida dengan
penambahan asam klorida pada asetilen

Keuntungan
•proses sederhana
•memerlukan modal yang
kecil
Kerugian
memerlukan bahan
mentah hidrokarbon yang
harganya sangat mahal.
prinsip
• Persiapan umpan
Asetilen dan asam hidroksida yang sedikit berlebih,
keringkan, campur semua termasuk gas daur ulang
• Reaksi
Campuran gas yang terjadi kemudian mamasuki sebuah
set dari multitabung reaktor yang diletakkan parallel.
Panas yang dihasilkan saat reaksi dapat dihilangkan
dengan sirkulasi fluida pendingin, yang didinginkan
secara eksternal dengan sebuah penukar panas.
• Treathmen effluent
Gas-gas yang meninggalkan zona reaksi diserap oleh
kaustik soda dan air untuk mengeleminasi kelebihan
asam hidroksida. Kemudian dikompres , didinginkan,
Kebanyakan gas mengembun pada tahap ini. Sisa air
dipisahkan, dengan pengendapan. Gas-gas yang
terlarut dalam fraksi organik dibebaskan dengan
stripping pada temperature sedang, untuk
menghindari dekomposisi dari vinil klorida
Proses kureha
• cracking minyak mentah dengan super heated
steam sampai 20000C.
• treatment fraksi gas
• hidroklorinasi campuran asetilen/etilen,dengan
katalis merkuri klorida pada support arang
aktif,pada suhu 120 sampai 1700C.
• penambahan klorin pada residu etilen yang
terkandung dalam menghasilkan effluent dari
absorpsi vinil klorida,dengan melewatkan pada
larutan feri klorida dalam etilen
diklorida,temperature antara 50 dan 700C,dan
tekanan antara 0.4 dan 0.5.106Pa absolute.
• Cracking etilen diklorida yang telah mengalami
pemanasan awal,pada suhu antara 450 dan 5500C
,pada tekanan 1.5.106Pa absolute,diikuti dengan
quenching.
• Pemurnian vinil klorida
• Treatment gas-gas residu
Pirolisis etilen diklorida menjadi
vinil klorida
pemanasan awal dan vaporisasi pada pembuatan dan
recycle etilen diklorida pada suhu sekitar 2150C.
Campuran kemudian dimasukkan kedalam satu set
furnaces turbular yang ditempatkan secara paralel,
berdasarkan pada kesamaan prinsip operasi seperti
pada steam cracking. Keduanya terdiri dari sebuah
zona konveksi dimana material dinaikkan
temperature dan zona radiasi dimana reaksi
berlangsung, tabung yang terbuat dari paduan logam
tinggi ,memberikan temperature yang tinggi yang
meningkat karena radiasi dari dinding keras,
dipanaskan dengan pembakar yang beroperasi
dengan gas alam. Produk gas yang keluar pada suhu
5000C, didinginkan untuk mencegah perubahan
berikutnya dengan melewati sebuah menara, dalam
kontak counter current dengan produk–produk yang
dikondensasi sampai 500C. Pendinginan tambahan
kemudian mengkondensasi sebagian besar etilen
klorida yang tidak bereaksi, sebuah fraksi yang
digunakan sebagai fluida quenching, setelah coke dan
tar dihilangkan dengan filtrasi.