Anda di halaman 1dari 42

Salivary Gland Disease

Oleh : Arihta Putri


Pembimbing : drg. Nurul Husna
1.
Salivary Gland Aplasia
Salivary Gland Aplasia

 Anomali perkembangan Gambaran Klinis


yang jarang ditemukan dan
dapat mempengaruhi satu

?
atau lebih kelenjar saliva
mayor.
 Dapat berkaitan dengan
beberapa sindrom lain seperti:
- Mandibulofacial dysostosis
(Sindrom Treacher Collins),
- Hemifacial microsomia
- Sindrom Lacrimo Auriculo
Dento Digital (LADD)
Neville 4th ed, p. 422-432
Salivary Gland Aplasia

Ciri-Ciri Klinis Perawatan dan Prognosis


 Rasio kejadian lk:pr → 2:1,  Penggunaan saliva pengganti,
 Agenesis 4/1-3 kelenjar saliva mayor subparotis  Penggunaan obat sialagogue:
dan submandibula (CT/MRI/Ultrasonography)
pilocarpaine, cevimeline,
 Agenesis kelenjar/saluran lakrimal.
 Mengunyah permen karet rendah gula
 Wajah terlihat normal (diisi oleh lemak & atau permen asam.
jaringan ikat),
 Pada intraoral tidak terdapat orifice dari
 Preventive dental care teratur,
kelenjar saliva yang hilang, mencegah karies terkait xerostomia dan
kerusakan email.
 Xerostomia parah,
 Lidah keras dan kasar,
 Risiko ↑ karies dan erosi gigi.
Neville 4th ed, p. 422-432
2.
Mukokel
Mukokel
 Fenomena Ekstravasasi Mucus

? 


Lesi mukosa oral akibat duktus kelenjar
saliva pecah dan tumpahnya mucin ke
jaringan ikat sekitar.
- Bukan kista sebenarnya
- Ketidakhadiran lapisan epitel
DD
Lokasi

- Salivary gland neoplasma


(mucoepidermoid carcinoma)
- Vascular malformation
- Venous varix
- Soft tisusue neoplasma (neurofibroma
atau limpoma)
- Apabila mukokel muncul di gingiva
dapat di diagnosis banding dengan
eruption cyst atau gingival cyst Neville 4th ed, p. 422-432
Mukokel
 Fenomena Ekstravasasi Mucus

Ciri-Ciri Klinis
Gambaran Klinis
 Pembengkakan mukosa berbentuk
kubah ukuran 1/2 mm → bbrp cm,
 Tidak sakit,
 Usia muda → ↑ trauma → induksi mucin
tumpah, usia tua jg ada.
 Warna translucent kebiru-biruan (lebih
dalam dpt berwarna normal),
 Palpasi : Fluktuasi (bbrp > padat),
 Durasi : Bbrp hari/bbrp minggu/bbrp
tahun,
 Berhubungan dg pembengkakan rekuren
secara berkala. Neville 4th ed, p. 422-432
Mukokel
 Fenomena Ekstravasasi Mucus

Superficial Mucocele
Gambaran Klinis
 Timbul di mukosa bukal posterior
 Berbentuk vesikel 1/bnyk (d = 1-4 mm)
 Lesi dpt pecah → ulser dangkal & perih
 Sembuh dlm bbrp hari
 Jarang terjadi rekurensi
 Berkaitan dg kelainan lichenoid :
- lichen planus,
- lichenoid drug eruptions,
- graft-versus-host disease (GVHD)
kronis.
 Menyerupai mucous membrane
pemphigoid (berbeda scr histopatologi)
Neville 4th ed, p. 422-432
Mukokel
 Fenomena Ekstravasasi Mucus

Ciri Histopatologi
Gambaran Histopatologi
 Daerah tumpahan mucin dikelilingi
oleh respon jaringan granulasi,
 Inflamasi (sejumlah histiosit
berbusa/makrofag),
 Kelenjar saliva minor terdekat terdpt
sel inflamasi kronis yang merembes
dan dilatasi ductus.

Neville 4th ed, p. 422-432


Mukokel
 Fenomena Ekstravasasi Mucus

Perawatan dan Prognosis

 Lesi usia pendek → pecah dan sembuh sendiri.


 Lesi kronis → eksisi (+pembuangan kelenjar saliva minor terdekat).
 Jaringan yg dieksisi → pemeriksaan histopatologi → penegakan diagnosis (tumor/bukan).
 Prognosis : Sangat Baik
Mukokel kdg2 timbul kembali (bila kelenjar minor terdekat tdk dibuang) → re eksisi.

Neville 4th ed, p. 422-432


3.
Ranula
Ranula

? 


Istilah utk mukokel di dasar mulut (dari kelenjar sublingual → produksi mucus terus
menerus tanpa rangsangan → ranula dpt timbul apabila salah satu duktusnya pecah).
Digunakan utk menggambarkan pembengkakan yg menyerupai, didasar mulut:
- Kista duktus saliva
- Kista dermoid
- Higroma kistik

Ciri Histopatologi Perawatan dan Prognosis


 Serupa dg mukokel yg dilokasi  Pembuangan kelenjar sublingual yg mengisi
lainnya pembengkakan → ↓ rekurensi lesi
 Marsupializasi → utk ranula kecil & superfisial

Neville 4th ed, p. 422-432


Ranula

Ciri-Ciri Klinis Gambaran Klinis

 Pembengkakan fluktuasi berwarna


biru dan berbentuk kubah didasar
mulut,
 Sering pd usia muda
 Cenderung > mukokel, hingga
massanya dpt mengangkat lidah,
 Lokasi : Lateral dasar mulut (kista
dermoid di midline)
 Dpt pecah dan mengeluarkan mucin.
Neville 4th ed, p. 422-432
Ranula

Plunging/Ranula Servikal Gambaran Klinis

 Tumpahan mucin melewati otot


mylohyoid → pembengkakan di leher,
 Pembengkakan didasar mulut bisa
ada bisa tdk,
 Jika tdk ada lesi dimulut → ranula bs
tdk dicurigai → Perlu CT dan MRI →
Tampak perluasan tipis dr lesi ke kel.
sublingual “tail sign”

Neville 4th ed, p. 422-432


4.
Kista Duktus Saliva
 Kista Retensi Mucus; Kista Duktus Mucus; Sialocyst
Kista Duktus Saliva
 Kista Retensi Mucus; Kista Duktus Mucus; Sialocyst

?


Suatu kavitas yang dilapisi epitel yang timbul dari jaringan kelenjar saliva dan terpisah
dari duktus saliva normal terdekat.
Dilatasi duktus saliva yg menyerupai kista dpt muncul akibat obstruksi duktus (spt mucus
plug) → ↑ tekanan intraluminal
 DD
- Salivary gland neoplasma
- Mucus extravasation phenomenon
- Benign connective tissue neoplasma
- Dermoid cyst bila lesi terjadi di dasar mulut.

Neville 4th ed, p. 422-432


Kista Duktus Saliva
 Kista Retensi Mucus; Kista Duktus Mucus; Sialocyst

Ciri-Ciri Klinis Gambaran Klinis


 Timbul dari kelenjar mayor (paling sering
parotis) /minor,
 Sering pd usia dewasa,
 Tumbuh pelan, pembengkakan asimptomatik,
 Lokasi: dasar mulut, mukosa bukal, dan bibir,
 Menyerupai mukokel :
- lunak
- fluktuasi kebiruan
- bbrp relatif keras
 Kista pd dasar mulut biasanya dkt dg duktus
submandibula & t’kdg berwarna kekuning2an.
Neville 4th ed, p. 422-432
Kista Duktus Saliva
 Kista Retensi Mucus; Kista Duktus Mucus; Sialocyst

Ciri Histopatologi Gambaran Histopatologi


 Lapisan kista duktus saliva terdiri atas epitel
skuamosa berbentuk:
- cuboidal - columnar - atrofi
 Ektasia duktus sekunder krn obstruksi saliva:
- onkosit metaplasia dr lapisan epitel
- jika luas → di diagnosis papillary cystadenoma
- kebanyakan bkn neoplasma sebenarnya

Neville 4th ed, p. 422-432


Kista Duktus Saliva
 Kista Retensi Mucus; Kista Duktus Mucus; Sialocyst

Kista Retensi Mucus Gambaran Klinis


 Jarang terjadi
 Ektasia tonjolan duktus ekskresi pd banyak
kelenjar saliva minor
 Tampak dilatasi orifis duktus dipermukaan
mukosa, nyeri
 Mucus /pus mungkin keluar dr dilatasi duktus ini.

Ciri Histopatologi

 Onkosit metaplasia dr lapisan epitel

Neville 4th ed, p. 422-432


Kista Duktus Saliva
 Kista Retensi Mucus; Kista Duktus Mucus; Sialocyst

Perawatan dan Prognosis

 Bedah eksisi konservatif


 Kista pada kelenjar mayor → pembuangan sebagian/total → rekurensi tdk terjadi
 Eksisi lokal untuk kista retensi mukus yang pembengkakannya lebih bermasalah
 Tindakan bedah bukan untuk semua lesi;
 Bisa dengan konsumsi eritromisin sistemik dan obat kumur klorheksidin → ↓ nyeri & ↓
drainase pus
 Medikasi Sialagogue → stimulasi aliran saliva → mencegah akumulasi mukus di duktus
ekskresi yg dilatasi

Neville 4th ed, p. 422-432


5.
Sialolithiasis
 Kalkulus Saliva; Batu Saliva
Sialolithiasis
 Kalkulus Saliva; Batu Saliva

?
 Sialothiasis adl struktur terkalsifikasi (sialolith) yg berkembang di dlm sistem duktus saliva.
 Peneliti percaya jika sialolithiasis timbul dr deposisi garam kalsium disekitar nidus debris
di dlm lumen duktus.
 Penyebab blm jelas, tp pembentukannya dpt didukung oleh sialadenitis kronis.
 Perkembangannya scr khusus tdk terkait dg gangguan sistemik kalsium dan
metabolisme fosfor.
 Duktus kel. submandibula (80% kasus) & terkadang kel. minor (mukosa bibir atas &
bukal)
 Usia dewasa muda-pertengahan
 Semakin mendekati permukaan luar (duktus Wharton), semakin tebal & kental sekresi →
↑ terbentuk kalkulus saliva
Neville 4th ed, p. 422-432
Sialolithiasis
 Kalkulus Saliva; Batu Saliva

Ciri-Ciri Klinis Gambaran Klinis

 Pembengkakan kelenjar
 Muncul sebagai masa keras yang bulat,
oval, atau silindris.
 Biasanya berwarna kuning, putih
kekuningan atau kecokelatan
 Rasa sakit sering ada saat makan, tp
kesakitannya tergantung besar
kerusakan & tekanan dlm kelenjar.

Neville 4th ed, p. 422-432


Sialolithiasis
 Kalkulus Saliva; Batu Saliva

Ciri-Ciri Radiograf Gambaran Radiograf

 Terlihat sbg massa radiopak


 Tidak semua massa terlihat (tergantung
pd tingkat kalsifikasi lesi)
 Batu parotis multiple scr radiograf
menyerupai kalsifikasi nodus limfe di
parotis (yg t’jd pd TBC)
→ Sialografi, ultrasound, CT scan
→ Sialendoscopy diagnostik

Neville 4th ed, p. 422-432


Sialolithiasis
 Kalkulus Saliva; Batu Saliva

Ciri Histopatologi Gambaran Histopatologi

 Masa terkalsifikasi memperlihatkan


laminasi konsentrik yang dikelilingi nidus
debris tak berbentuk
 Apabila kelenjar yang bersangkutan
dibuang, akan terlihat oncocytic
squamous atau metaplasia sel mukosa.

Neville 4th ed, p. 422-432


Sialolithiasis
 Kalkulus Saliva; Batu Saliva

Perawatan

 Sialolith kecil → Pemijatan → Mengarahkan batu ke orifis duktus


 Sialagogues → Obat yg menstimulasi aliran saliva → Membantu batu utk keluar
 Sialolith besar → Tindakan bedah
 Ada inflamasi kerusakan signifikan → Kelenjar yg bersangkutan ikut dibuang
 Sialolith kel. Minor → Pembuangan bersama kelenjar yg bersangkutan
 Sialendoscopy → utk kel. Mayor → Teknik terbaru

Neville 4th ed, p. 422-432


6.
Sialadenitis
 Inflamasi Kelenjar Saliva
Sialadenitis
 Inflamasi kelenjar saliva

 Penyebab : Infeksius & Noninfeksius


 Infeksi virus → Penyakit Gondok/Gondong (Mumps), Coxsackie A, ECHO, choriomeningitis,
parainfluenza, HIV, cytomegalovirus saat neonatal
 Infeksi bakteri → Obstruksi duktus, ↓ aliran saliva (dehidrasi, obat yg menghambat sekresi),
blokade duktus (Sialolithiasis), struktur kongenital, tekanan dr tumor terdekat
 Pembedahan (khususnya bedah abdomen) → atropine selama prosedur bedah → parotitis
akut
 - Staphylococcus aureus or streptococcal species
- Hospital-acquired → S. aureus
- Lainnya → Eikenella corrodens, Escherichia coli, Fusobacterium, Haemophilus influenzae,
Klebsiella, Prevotella, Proteus, dan Pseudomonas
 Noninfeksius → Sindrom Sjögren, sarcoidosis, terapi radiasi, dan berbagai alergen.
Neville 4th ed, p. 422-432
Sialadenitis
 Inflamasi kelenjar saliva

Ciri-Ciri Klinis Gambaran Klinis

 Sialadenitis bakteri akut → Kel. Parotis &


bilateral (10%-25% kasus)
 Bengkak, Sakit (saat makan → saliva
terstimulasi), Hangat, Eritema, Demam,
& Sering keluar pus saat di tekan
 Rekuren/Persisten → Sialadenitis kronis
(dpt t’jd di kel. Minor ← trauma)

Neville 4th ed, p. 422-432


Sialadenitis
 Inflamasi kelenjar saliva

Ciri Histopatologi Gambaran Histopatologi

 Sialadenitis akut → akumulasi neutrophil


di duktus & acini
 Sialadenitis kronis → infiltrasi limfosit dan
sel plasma
 Chronic sclerosing sialadenitis → terjadi
fibrosis

Neville 4th ed, p. 422-432


Sialadenitis
 Inflamasi kelenjar saliva

Perawatan

 Perlu pemeriksaan panoramik radiograf → ada/tdk nya sialolith


 CT/MRI disarankan
 Terapi antibiotik dan rehidrasi (utk stimulasi aliran saliva)
 Bedah drainase jika ada abses
 20-50% mortaliti krn penyebaran infeksi dan sepsis
 Jika ada sialolith → sialoendoscopy
 Bedah pembuangan kelenjar jika metode konservatif tdk dpt mengkontrol sialadenitis
kronis
Neville 4th ed, p. 422-432
7.
Cheilitis Glandularis
Cheilitis Glandularis

Kondisi inflamasi Ciri-Ciri Klinis


yang jarang
 Terjadi pada bibir bawah, walaupun terdapat beberapa kasus yang terjadi pada bibir atas dan
ditemukan, dan palatum
terjadi pada
 Adanya pembengkakan dan eversi bibir (pergerakan keluar) hasil dari hipertropi dan inflamasi
kelenjar saliva
kelenjar
minor
 Jalan masuk pada ductus kelenjar inflamasi dan berdilatasi dan tekanan pada kelenjar dapat
Penyebab belum menghasilkan mucopurulent
diketahui, tetapi  Biasa terjadi pada middle age dan laki-laki tua
terdapat  Walaupun kasus ini pernah juga terjadi pada wanita dan anak-anak
beberapa factor
etiologi:  Secara historical, diklasifikasikan seberdasarkan keparahan penyakit:
- Simple
Actinic damage, - Superficial suppurative (Baelz’s Disease)
tembakau, sifilis, - Deep Supurative (Cheilitis glandularis apostematosa)
poor hygiene,
 Dua tipe terakhir mempresentasikan stase progresif dengan keterlibatan bakteri, ditandai dengan
hereditas peningkatan inflamasi, supurasi, ulserasi, dan pembengkakan bibir.
Cheilitis Glandularis

Ciri Histopatologi
 Terlihat adanya sialadenitis chronic dan dilatasi ductus
 Perubahan Concomitant dysplastic dapat terlihat
pada permukaan epitelium yang menutupi
 Pada kasus dengan keterlibatan actinic damage,
18_35% terjadi perkembangan squamous cell
carcinoma pada epitelium bibir

Perawatan
 Pilihan perawatan cheilitis glandularis dengan asosiasi
actinic damage: vermilionectomy
8.
Sialorrhea
Sialorrhea

 Sialorrhea merupakan gejalan klinis yang diketahui terdapat pada


rabies dan keracunan heavy metal
 Sialorrhea juga dapat disebabkan penggunaaan medikasi seperti
agen antipsikotik, seperti clozapine dan choligernic agonist yang
biasa digunakan untuk merawat demensia tipe alzahaimer.

Salivasi yang banyak (Hypersalivation)

Kondisi tidak biasa yang disebabkan


beberapa faktor

• Iritasi lokal
• Kesalahan saat pemasangan gigi tiruan
• Pasien GERD (gastroesopageal reflux Burket 12th
disease) Ed P: 216
Sialorrhea

Ciri-Ciri Klinis
 Produksi saliva berlebih yang menyebabkan saliva keluar dan tersedak, yang mana
dapat menyebabkan pasien malu
 Pada pasien retardasi mental aliran saliva yang tidak terkontrol dapat menyebabkan
luka maserasi pada mulut, dagu dan leher yang dapat mengakibatkan infeksi sekunder
 Supersalivasi yang tidak diketahui sebabnya dikenal dengan istilah idiopathic
paroxysmal sialorrhea.
- Saliva berlebih berlangsung selama 2-5 menit
- Diasosiasikan dengan prodome nausea atau nyeri epigastrik
Sialorrhea

Perawatan
 Beberapa kasus tidak diperlukan perawatan
 Pada pasien hipersalivasi akibat GERD diperlukan manajemen medis untuk penyakit tersebut
 Speech therapy: untuk meningkatkan kontrol neuromuscular
 Medikasi anticholigernic: untuk mengurangi produksi saliva namun memiliki efek samping
 Injeksi intraglandular menunjukkan kesuksesan dalam mereduksi saliva dengan durasi 6 minggu- 6
bulan
 Surgical procedure dilakukan untuk pasien yang memiliki control neuromascular yg kurang baik
- Relokasi ductus submandibular (terkadang disertai eksisi sublingual gland)
- Relokasi ductus parotid
- Submandibular eksisi disertai ligasi kelenjar parotid
- Ligasi ductus parotid dan submandibular
- Bilateral tymphanic neurectomy dengan sectioning chorda tymphani
9.
MUMPS
MUMPS
(Paramyxovirus or Epidemic Parotitis)

Etiologi dan Patogenesis


 Disebabkan paramyxovirus
Infeksius, sialadenitis viral akut, yang  Inkubasi selama 2-3 minggu hingga muncul symptom klinis
utamanya mempengaruhi kelenjar  Transmisi terjadi melalui kontak langsung dengan droplet saliva
parotid.
Ciri Klinis
 Demam, malaise, sakit kepala, menggigil, nyeri preauricular.
Paling sering terjadi diantara
penyakit kelenjar saliva lainnya bila  Insidensi infeksi bilateral kelenjar parotid 70%
belum mendapatkan imunisasi rutin  Pembengkakan parotid asimetris, mencampai ukuran maksimum 2-3 hari setelah
terjangkit

Bentuk non infeksius yang jarang dari  Severe local pain ketika menggerakkan rahang saat bicara dan mengunyah
mumps atau pembesaran parotid  Duktus stensen juga menjadi bagian dari pembengkakan kelenjar parotid akan
adalah iodide Mumps menghasilkan rasa sakit yang tajam saat terjadi stimulasi mekanisme sekretori dari
makanan dan minuman
MUMPS
(Paramyxovirus or Epidemic Parotitis)

• Berkurangnya pembengkakan terlihat 10 Perawatan


hari setelah onset  Bed rest

• Terjadi pada laki-laki dan perempuan  Analgesik dapat diresepken,


kortikosteroid diberikan bila kasus
dengan perbandingan sama, biasanya yang parah
dewasa muda dan anak-anak
 Nerve deafness dan bilateral
• Komplikasi serius (orchitis atau atropi testicular pernah terjadi
namun jarang
oophoritis) dapat tejadi pada orang
dewasa  Prevention: vaksinasi
 Dapat juga disebabkan virus lain;
• Mumps adalah infeksi sistemik yang Cocksakie A virus, echovirus,
menyebar luas melibatkan kelenjar dan cytomegalovirus, parainfluenza
jaringan tubuh lain seperti hati, pancreas, virus tipe 1-2, choriomeningitis
ginjal dan sistem nervus virus
Terima Kasih
^^