Anda di halaman 1dari 10

Perdarahan Pasca Persalinan.

Perdarahan pervaginam 500 ml, atau lebih, sesudah anak


lahir atau setelah kala III.Perdarahan ini bisa terjadi segera
begitu ibu melahirkan terutama pada dua jam pertama.
Kalau terjadi perdarahan maka tinggi rahim akan bertambah
naik .TD menurun terjadiperdrahan pervaginam post
partum, dan denyut nadi ibu menjadi cepat
a. Klasifikasi Klinis
• Pedarahan pasca primer, yakni perdarahan yg
terjadi dalam 24 jam pertama, penyebab :
atonia uteri, retensio plasenta, dan robekan
jalan lahir.
• Perdarahan pasca persalinan sekunder, yakni
perdarahan yg terjadi setelah 24 jam pertama
, penyebab : robekan jalan lahir dan sisa
plasenta.
b. Etiologi dan Faktor Predisposisi
• Penyebab perdarahan pasca persalinan ada beberapa
sebab al :
1) Atonia Uteri (73%),atau uterus tidak berkontraksi dalam
15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (placenta
telah lahir).
2) Robekan (laserasi, luka) jalan lahir atau robekan yg terjadi
pada jalan lahir bisa disebabkan oleh robekan spontan atau
memang sengaja dilakukan episiotomi.Robekan jalan lahir
dapat terjadi ditempat: robekan serviks,perlikaan vagina,
robekan perinium.
3) Retensio plasenta dan sisa plasenta. 4) Inversio Uterus
(Uterus keluar dari rahim) 5) Gangguan pembekuan darah
(koagulopati).
Penanganan Umum.
1) Hentikan perdarahan.
2) Cegah atau atasi syok.
3) Ganti darah yang hilang : diberi infus cairan
(larutan garam fisiologis, plasma ekspander,
Dextran-L), transfusi darah kalau perlu
oxygen.
• a.Konsep Dasar.
Atonia Uteri (relaksasi otot uterus) adalah uterus
Atonia Uteri.
yg tidak berkontraksidalam 15detik setelah
dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah
lahir. Atonia uteri merupakan penyebab utama
terjadinya perdarahan pasca persalinan.Pada atonia
uteri uterus gagal berkontraksi dengan baik (tidak
adekuat) setelah persalinan. Lemahnya kontraksi
miometrium merupakan akibat dari kelelahan
karena persalinan lama atau persalianan dng tenaga
besar, terutama jika mendapatkan stimulasi.
b.Etiologi
• Penyebab tersering kejadian pada ibu dengan
atonia uteri al:
1) Distensi berlebihan (gemeli, makrosomia,
hidramion.)
2) Multiparitas. 3) Kelelahan setelah partus lama
4) Kerja uterus yg kurang efektif. 5)anemia berat
6) Partus presipitatus
7) Persalinan karena induksi oksitosin
8) Pernah atonia sebelumnya
c.Diagnosis.
• Diagnosis ditegakkan bila setelah bayi dan
plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif
dan banyak, bergumpal dan pada palpasi
didapatkan fundus uteri masih setinggi pusat atau
lebih dengan kontraksi yg lembek. Perlu
diperhatikan bahwa pada saat atonia uteri
didiagnosis, maka pada saat itu juga masih ada
darah sebanyak 500 – 1000 cc yg sudah keluar
dari pembuluh darah, tetapi masih terperangkap
didalam uterus dan harus diperhitungkan dalam
kalkulasi pemberian darah pengganti.
d.Tindakan.
• Banyaknya darah yg hilang akan
mempengaruhi KU pasien. Pasien bisa masih
dalam keadaan sadar, sedikit anemis, atau
sampai syok berat hipovolemik. Tindakan
pertama yg harus dilakukan tergantung pada
keadaan klinisnya.
• Pada umumnya hal2 sbb dilakukan secara
simultan (bila pasien Syok):
1) Sikap trendelenberg, memasang venous
line dan memberikan oxygen.
2) Sekaligus merangsang kontraksi uterus dng
cara:
* Masase fundus uteri dan merangsang pu
ting susu.
* Pemberian oksitosin dan turunan ergot
melalui suntiksn secara IM dan IV atau SC.
• Pemberian misoprostol 800 – 1000 ug per
rektal.
• Kompresi bimanual internal dan atau eksternal
• Kompresi aorta abdominalis.
• 3) Bila semua tindakan itu gagal maka
dipersiapkan untuk dilakukan tindakan operatif
Laparatomi dengan pilihan bedah konservatif
(mempertahankan uterus) atau melakukan
Histerektomi.