Anda di halaman 1dari 25

REFERAT

OSTEOARTRITIS

Enha Muthia Firdiyanti


(K1A1 11 048)

Pembimbing:

dr. Tri Tuti Hendarwati, M.Kes., Sp.OT

BAGIAN ILMU BEDAH


RSU BAHTERAMAS PROVINSI SULAWESI TENGGARA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2020
PENDAHULUAN

Osteoartritis (OA) merupakan WHO: 40% penduduk dunia yang lansia akan
penyakit sendi degeneratif yang menderita OA, dari jumlah tersebut 80%
berkaitan dengan kerusakan kartilago mengalami keterbatasan gerak sendi.
sendi. Vertebra, panggul, lutut dan Indonesia: prevalensi OA cukup tinggi yaitu
pergelangan kaki paling sering terkena 5% usia >40 tahun, 30% usia 40-60 tahun dan
OA, meskipun dapat terkena pada sendi 65% usia >61 tahun.
sinovial mana pun. Nyeri menjadi gejala
utama terbesar pada sendi yang
mengalami osteoartritis. Prevalensi kerusakan sendi sinovial
Karena prevalensinya cukup meningkat dengan pertambahan usia.
tinggi dan sifatnya kronik-progresif, OA Diperkirakan 1-2 juta orang lanjut usia di
mempunyai dampak sosio-ekonomik Indonesia menderita cacat karena OA. Pada
yang besar, baik di negara maju abad mendatang tantangan terhadap dampak
maupun di negara berkembang. OA akan lebih besar karena semakin
banyaknya populasi yang berumur tua.

2
DEFINISI
(American College of Rheumatology)

Osteoartritis merupakan sekelompok kondisi heterogen yang mengarah kepada tanda dan
gejala sendi. Osteoartritis merupakan penyakit sendi degeneratif, dimana keseluruhan struktur
dari sendi mengalami perubahan patologis. Ditandai dengan kerusakan tulang rawan (kartilago)
hyalin sendi, meningkatnya ketebalan serta sklerosis dari lempeng tulang, pertumbuhan osteofit
pada tepian sendi, meregangnya kapsula sendi, timbulnya peregangan, dan melemahnya otot-
otot yang menghubungkan sendi.

3
ETIOPATOGENESIS

Hingga terjadi
Terjadi perubahan
ketidakseimbangan yang
biomekanikal & biokimia
menyebabkan degradasi
tulang rawan dengan
enzim-enzim &
penyebab yang multifaktorial
pengeluaran kolagen

Timbul kerusakan tulang terjadi perubahan


rawan sendi & sinovium matriks & struktur

Dapat terbentuk osteofit


sebagai proses perbaikan untuk
membentuk kembali persendian
sehingga dipandang sebagai
kegagalan sendi yang progresif
4
KLASIFIKASI

Berdasarkan Etiologi

KLASIFIKASI OA

Berdasarkan Lokasi Sendi

5
Klasifikasi OA berdasarkan Etiologi

OA Primer disebut juga OA idiopatik adalah OA yang kausanya tidak


Osteoartritis diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun
proses perubahan lokal pada sendi. OA primer lebih sering ditemukan
Primer daripada OA sekunder.

Osteoartritis OA Sekunder adalah OA yang didasari oleh adanya kelainan


endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan dan imobilisasi yang
Sekunder lama.

6
Klasifikasi OA berdasarkan Lokasi Sendi yang terkena

OA Koksa OA ditempat OA
OA Tangan OA Lutut OA Kaki OA Vertebra
(Panggul) lainnya Generalisata
• Nodus • Bony • Haluks Valgus • Eksentrik • Sendi apofiseal • Akromioklavikula • Meliputi 3 atau
Heberden & enlargement • Haluks rigidus (Superior) • Sendi r lebih daerah
Bouchard • Genu valgus • Jari kontraktur • Konsentrik intervertebral • Tibiotalar yang tersebut di
(Nodal) • Genu Varus (aksial, medial) • Spondilosis • Sakroiliaka atas
• Artritis erosif • Koksa Senilis (osteofit)
interfalang
• Karpal,
metakarpal I

7
FAKTOR RISIKO

Secara garis besar, terdapat 2 pembagian faktor


risiko OA yaitu:

Faktor Biomekanik
Faktor Predisposisi
lebih cenderung kepada faktor mekanis/ gerak tubuh
merupakan faktor yang memudahkan yang memberikan beban atau tekanan pada sendi
seseorang untuk terserang OA. lutut sebagai alat gerak tubuh, sehingga meningkatkan
risiko terjadinya OA.
1. Faktor Predisposisi

USIA Genetik Obesitas

Jenis Kelamin Gaya Hidup Osteoporosis

Ras/Etnis Penyakit Lain


2. Faktor Biomekanis

Riwayat Trauma
Lutut

Atlit Olahraga Kelainan Anatomis

Aktivitas Fisik Pekerjaan


DIAGNOSIS

PEMERIKSAAN
ANAMNESIS KRITERIA DIAGNOSIS
FISIK

PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN
LABORATORIUM RADIOLOGI
Anamnesis

Dari anamnesis, pasien biasanya akan mengeluhkan gejala sebagai berikut sebagai tanda
dari serangan osteoartritis:

Persendian terasa kaku & Nyeri sendi terus menerus/


nyeri apabila digerakkan. Adanya pembengkakan /
hilang timbul, terutama saat
Awalnya hanya pagi hari, tapi peradangan pada
jika dibiarkan akan bertambah bergerak/ menanggung
persendian
buruk beban

Persendian yang sakit Kelelahan yang menyertai Kesulitan menggunakan


berwarna kemerahan rasa sakit pada persendian persendian

Bunyi pada setiap persendiaan Perubahan bentuk tulang. Akibat


(krepitus). Gejala ini tidak jaringan tulang rawan yang semakin
menimbulkan nyeri, hanya rasa rusak, tulang mulai berubah bentuk
tidak nyaman pada setiap & meradang, menimbulakan rasa
persendiaan (umumnya tulang lutut) sakit yang amat sangat.

12
Kriteria Diagnosis

Untuk diagnosis OA lutut, tangan dan pinggul menggunakan kriteria American College
Rheumatology (ACR) 1986.

1. Kriteria Diagnosis Osteoartritis Panggul

Nyeri Panggul

Eksorotasi 150 dan


Endorotasi <150 atau dan
Nyeri panggul
LED <45 mm/jam atau dan
Kaku sendi <60 menit dan
Fleksi <1150 jika LED tidak ada Umur 50 tahun

13
Kriteria Diagnosis

Untuk diagnosis OA lutut, tangan dan pinggul menggunakan kriteria American College
Rheumatology (ACR) 1986.

2. Kriteria Diagnosis Osteoartritis Lutut

Berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan
Berdasarkan anamnesis dan
Berdasarkan anamnesis, laboratorium: nyeri lutut dan 5
pemeriksaan fisik nyeri lutut dan 3 diantara berikut ini:
pemeriksaan fisik dan radiologis:
dari berikut ini: - Umur >50 tahun
nyeri lutut dan 1 diantara berikut
- Umur >50 tahun - Kaku sendi <30 menit
ini:
- Kaku sendi <30 menit - Krepitus pada gerakan aktif
- Umur >50 tahun
- Krepitus pada gerakan aktif - Pembesaran sendi
- Kaku sendi <30 menit
- Pembesaran sendi - Nyeri tulang
- Krepitus pada gerakan aktif
- Nyeri tekan tepi tulang - Hangat pada perabaan
dan osteofit
- Hangat pada perabaan - LED <40 mm/jam
- Rheumatoid factor <1:40
- Analisis cairan sendi
menunjukkan OA

14
Kriteria Diagnosis

Untuk diagnosis OA lutut, tangan dan pinggul menggunakan kriteria American College
Rheumatology (ACR) 1986.

3. Kriteria Diagnosis Osteoartritis Tangannyeri atau kaku pada jari-jari tangan


dan 3 dari berikut ini:

- Pembesaran sendi 2 atau lebih dari DIP II, III, PIP II, III dan MCP I (D/S)
- Pembesaran sendi 2 atau lebih DIP
- Pembengkakan MCP <3 sendi
- Deformitas dari sendi-sendi yang disebut diatas

15
Pemeriksaan Radiologi

Kriteria OA berdasarkan temuan radiografi dikenal sebagai kriteria Kellgren dan Lawrence
yang membagi OA dimulai dari tingkat ringan hingga tingkat berat.

Derajat Klasifikasi Gambaran Radiografis

0 Normal Tidak ada gambaran radiografis yang abnormal

1 Meragukan Penyempitan celah sendi diragukan dan


kemungkinan tampak osteofit kecil

2 Minimal Tampak osteofit, celah sendi menyempit

Osteofit jelas, penyempitan celah sendi,


3 Sedang kemungkinan deformitas ujung tulang
4 Berat Penyempitan celah sendi berat dan adanya
sklerosis, deformitas ujung tulang pasti

Klasifikasi radiografis dari Osteoartritis.


A.Grade 1 B.Grade 2 C.Grade 3 D.Grade 4
16
Pemeriksaan Laboratorium

Pada pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tak banyak


berguna. Pemeriksaan laboratorium ditemukan yaitu darah tepi
(hemoglobin, leukosit, laju endap darah) dalam batas-batas normal.
Pemeriksaan imunologi (ANA, faktor rheumatoid dan komplemen) juga
normal.
Pada OA yang disertai peradangan, mungkin didapatkan penurunan
viskositas, pleositosis ringan sampai sedang, peningkatan sel peradangan
(<8000/m) dan peningkatan protein.

17
PENATALAKSANAAN

Pengelolaan pasien dengan OA bertujuan untuk untuk menghilangkan keluhan,


mengoptimalkan fungsi sendi, mengurangi ketergantungan dan meningkatkan kualitas hidup,
menghambat progresivitas penyakit dan mencegah komplikasi.

TERAPI INJEKSI
EDUKASI TERAPI FISIK DIET TERAPI BEDAH
FARMAKOLOGI INTRAARTIKULAR

18
EDUKASI

Edukasi yang diberikan yaitu memberikan pengertian bahwa OA adalah


penyakit yang kronik, sehingga perlu dipahami bahwa mungkin dalam derajat
tertentu akan tetap ada rasa nyeri, kaku dan keterbatasan gerak serta fungsi.
Juga diberikan pemahaman bahwa hal tersebut perlu dipahami dan
disadari sebagai bagian dari realitas kehidupannya. Agar rasa nyeri dapat
berkurang, maka pasien sedianya mengurangi aktivitas/pekerjaannya
sehingga tidak terlalu banyak menggunakan sendi lutut dan lebih banyak
beristirahat. Pasien juga disarankan untuk control kembali sehingga dapat
diketahui apakah penyakitnya sudah membaik atau ternyata ada efek
samping akibat obat yang diberikan.

19
TERAPI
FISIK

Dianjurkan untuk berolah raga tapi olah raga yang memperberat sendi
sebaiknya dihindari seperti lari atau joging. Hal ini dikarenakan dapat
menambah inflamasi, meningkatkan tekanan intraartikular bila ada efusi sendi
dan bahkan bisa dapat menyebabkan robekan kapsul sendi.
Untuk mencegah risiko terjadinya kecacatan pada sendi, sebaiknya
dilakukan olah raga peregangan otot seperti m. Quadrisep femoris, dengan
peregangan dapat membantu dalam peningkatan fungsi sendi secara
keseluruhan dan mengurangi nyeri. Pada pasien OA disarankan untuk senam
aerobic low impact/intensitas rendah tanpa membebani tubuh selama 30
menit sehari tiga kali, seminggu.

20
DIET

Diet bertujuan untuk menurunkan berat badan pada pasien OA yang


gemuk. Hal ini sebaiknya menjadi program utama pengobatan OA. Obesitas
atau kelebihan berat badan tidak hanya meningkatkan ketegangan pada sendi
yang dapat meningkatkan risiko progresifitas dari OA, tetapi kelebihan lemak
juga menyebabkan peradangan yang dapat memperburuk gejala.
Penurunan berat badan seringkali dapat mengurangi keluhan dan
peradangan, juga meningkatkan fungsi fisik dan mobilitas. Pada pasien OA
disarankan untuk mengurangi berat badan dengan mengatur diet rendah
kalori sampai mungkin mendekati berat badan ideal.

21
TERAPI
FARMAKOLOGI

Pada pasien osteoartritis, terapi farmakologi biasanya bersifat


simptomatis. Obat analgetika dan Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)
biasa digunakan untuk mengurangi rasa nyeri. Untuk nyeri yang ringan maka
asetaminophen tidak lebih dari 4 gram per hari merupakan pilihan pertama.
Untuk nyeri sedang sampai berat, atau ada inflamasi, maka OAINS
yang selektif COX-2 merupakan pilihan pertama, kecuali jika pasien
mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya hipertensi dan penyakit ginjal. OAINS
yang COX-2 non-selektif juga bisa diberikan asalkan ada perhatian khusus
untuk terjadinya komplikasi gastrointestinal dan jika ada risiko ini maka harus
dikombinasi dengan inhibitor pompa proton atau misoprostol.
Tramadol bisa diberikan tersendiri atau dengan kombinasi dengan analgetik.

22
INJEKSI
INTRAARTIKULAR

Pada dasarnya ada 2 indikasi suntikan intra artikular


yakni penanganan simtomatik dengan steroid, dan
✢ Viskosuplemen: Hyaluronan
viskosuplementasi dengan hyaluronan untuk memodifikasi
perjalanan penyakit. Terdapat 2 jenis hyaluronan di Indonesia: High
molecular weight dan low molecular weight atau tipe
campuran.
✢ Kortikosteroid (triamsinolone hexacetonide dan
Penyuntukan intra artikular viskosuplemen ini dapat
methyl prednisolone)
diberikan untuk sendi lutut. Karakteristik dari
Dapat diberikan pada OA lutut, jika mengenai 1 atau penyuntikan hyaluronan ini adalah onsetnya lambat,
2 sendi dengan keluhan nyeri sedang hingga berat namun berefek jangka panjang, dan dapat
yang kurang responsive terhadap pemberian mengendalikan gejala klinis lebih lama bila
OAINS, atau tidak dapat mentolerir OAINS atau dibandingkan dengan pemberian injeksi
terhadap penyakit komorbid yang merupakan kortikosteroid intra artikular.
kontraindikasi terhadap pemberian OAINS.
Diberikan juga pada OA lutut dengan efusi sendi
atau secara pemeriksaan fisik terdapat tanda-tanda
inflamasi lainnya.

23
TERAPI
BEDAH

Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologi tidak berhasil untuk mengurangi
rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi
yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

24
Thanks! 25