Anda di halaman 1dari 16

KELOMPOK 7

1. Azwar Annas (17621014)

2. Pandu prayudi (17621004)

3. Sukma dwi P (17621019)

4. Abdul (17621096 )
HARTA KEKAYAAN PERKAWINAN
Akibat perkawinan terhadap harta kekayaan menurut
undang-undang.
Mengenai akibat perjanjian perkawinan yang berkenaan dengan harta kekayaan, terdapat
perbedaan prinsipil antara ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (KUHPdt) dan Undang-Undang Perkawinan. Dalam KUHPdt ditentukan apabila
tidak diadakan perjanjian, sejak perkawinan berlangsung “terjadi penyatuan harta
kekayaan” suami dan istri. Sebaliknya, dalam Undang-Undang Perkawinan ditentukan
apabila tidak diadakan perjanjian perkawinan, sejak perkawinan dilangsungkan “harta
kekayaan suami dan harta kekayaan istri tetap dikuasai oleh masing-masing pihak” (Pasal
35 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan).
Abdulkadir, Op,Cit,. hlm 99
Menurut undang-undang
Menurut KUH Perdata.

Jika sebelum perkawinan dilangsungkan calon suami isteri tidak membuat perjanjian kawin, maka
dalam perkawinan tersebut terjadi persatuan bulat harta kekayaan perkawinan (Pasal 119
KUH Perdata). Hal ini berarti bahwa dengan dilangsungkannya perkawinan, maka secara otomatis
demi hukum harta kekayaan suami isteri menjadi milik bersama suami isteri yang bersangkutan,
tanpa diperlukan adanya penyerahan atau perbuatan hukum lainnya. Dengan kata lain, begitubegitu
seorang pria kawin dengan seorang wanita tanpa didahului pembuatan perjanjian kawin, maka
demi hukum terjadilah persatuan bulat harta kekayaan perkawinan di antara mereka. Persatuan
itu sepanjang perkawinan tidak boleh ditiadakan atau diubah dengan sesuatu persetujuan antar
suami-istri.
Menurut Undang Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974

Pasal 35,36, dan 37 Undang-Undang Perkawinan mengatur tentang harta kekayaan dalam
perkawinan. Menurut ketentuan pasal tersebut, harta kekayaan dalam perkawinan dibedakan
menjadi 2 macam. Pertama, harta bersama yang diperoleh suami dan istri selama dalam ikatan
perkawinan. Kedua, harta bawaan yang dibawa oleh masing-masing suami dan istri ketika terjadi
perkawinan
Pengurusan Harta Kekayaan

Pengaturan tentang pengurusan harta kekayaan perkawinan dalam KUH


Perdata didasarkan pada maritale macht sebagaimana diatur dalam Pasal 105
KUH Perdata, yang menetukan bahwa “Suami adalah kepala persekutuan suami
isteri”, sedangkan isteri harus taat dan patuh kepada suaminya (Pasal 106 KUH
Perdata). Selanjutnya dalam Pasal 108 KUH Perdata ditentukan “bahwa seorang
wanita yang terikat tali perkawinan dalam melakukan perbuatan hukum harus
mendapat izin lebih dahulu dari suaminya. Jadi Pasal 108 megandung
ketidakcakapan berbuat hukum bagi isteri.
Dalam Pasal 124 (1) dan (2) KUH Perdata ditentukan :

“Suami sendiri harus mengurus (beheren) sendiri harta kekayaan perkawinan. Tanpa campur
tangan isteri, suami diperbolehkan menjual, memindahtangankan dan membebani.”

Menurut Pasal 124 (1) dan (2) KUH Perdata ini, suami diberi wewenang yang sangat besar dalam
mengurus (beheren) harta kekayaan perkawinan. Istilah beheren di sini dipergunakan dalam arti
luas yaitu mengelola, yang meliputi tindakan pengurusan (beherr) dalam arti sempit dan tindakan
memutus (beschikken).
Dalam Pasal 125 KUH Perdata diatur jalan keluar apabila suami tidak dapat melakukan pengelolaan
atas harta persatuan, yaitu suami dalam keadaan tidak hadir atau dalam keadaan memaksa untuk
melakukan tindakan terhadap harta persatuan dalam keadaan demikian, maka oleh pengadilan
negeri si isteri dapat diberi kuasa untuk melakukan perbuatan hukum memindahtangankan atau
membebani (beschikken) harta persatuan. Walaupun tidak disebut dalam Pasal 125 KUH Perdata,
namun mestinya pengadilan negeri berwenang memberi kuasa kepada isteri untuk melakukan
pengurusan (beheren) atas harta persatuan, karena tindakan pengurus ini sangat bermanfaat bagi
suami isteri yang bersangkutan. Selain itu akibat hukum yang ditimbulkan oleh tindakan pengurusan
(beheren) tidak begitu besar. Kekuasaan suami dalam mengelola yang sedemikian besarnya atas
harta perkawinan tersebut dibatasi oleh undang undang dan dapat pula dibatasi oleh perjanjian.
Pertanggung jawaban terhadap hutang

Terjadinya Hutang-Hutang Persatuan Dalam perkawinan


Terjadinya hutang dalam perkawinan tidak lepas dari adanya usaha untuk pemenuhan harta
dan kebutuhan dalam perkawinan, sehingga menjadi suatu persoalan ketika hutang tersebut lalai
dalam penyelesaiaannya. Perkawinan erat hubungannya dengan harta dan hutang dikarenakan kehidupan
suatu rumah tangga secara langsung bersentuhan dengan penghasilan dan pengeluaran yang
sering menjadi sumber permasalahan dalam kedudukannya.
Pertanggung jawaban terhadap hutang

Terjadinya hutang-hutang dalam perkawinan dapat dikategorikan menjadi beban


bersama, karena hutang-hutang dalam perkawinan adalah hutang-hutang yang
dipergunakan untuk kepentingan bersama dan atas kesepakatan bersama, sehingga
menjadi beban dan tanggung jawab bersama Hutang dalam perkawinan yang
membebani harta persatuan dapat terjadi karena beberapa hal, yaitu :
Pertanggung jawaban terhadap hutang
1. Adanya hutang sebelum perkawinan. Dalam hal ini terkait dengan Pasal 35 ayat (2) UUP, bahwa harta yang
dimiliki masing-masing suami dan istri sebelum perkawinan, adalah menjadi harta milik pribadi masing-masing
pihak. Apabila adanya hutang baik suami atau istri yang dilakukan sebelum perkawinan dan dibawa ke dalam
perkawinan yang telah berlangsung, maka masing-masing pihaklah yang bertanggung jawab melunasinya;
2. Hutang untuk keperluan rumah tangga. Hutang ini diperuntukan untuk pengeluaran sandang, papan, pangan yang
dilakukan suami maupun istri dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga;
3. Terdapat pengeluaran hutang-hutang untuk kepentingan usaha;
4. Melakukan ganti rugi karena salah satu pihak melakukan perbuatan melawan hukum;
5. Adanya denda-denda;
6. Adanya hutang warisan/hibah yang masuk ke dalam persatuan.
Pertanggungjawaban Suami dan Istri Terhadap Hutang-Hutang
Persatuan Jika Perkawinan Putus Akibat Perceraian

Perkawinan yang telah putus karena perceraian di hadapan hakim, maka para pihak
dapat melakukan pembagian harta perkawinan yaitu dengan mengajukan gugatan ke
Pengadilan dimana Hakim yang akan memutus pembagian harta perkawinan. Namun
para pihak juga dapat membuat pembagian harta perkawinan yang dilakukan dihadapan
Notaris berdasarkan kesepakatan bersama. Ini akan lebih meringankan biaya dalam
persidangan.
Pertanggungjawaban Suami dan Istri Terhadap Hutang-Hutang
Persatuan Jika Perkawinan Putus Akibat Perceraian

Penyelesaian sengketa harta kekayaan perkawinan tetap digunakan hukum yang


bersifat plural, seperti peraturan yang mendasar pada Hukum Adat dan KUH.
Perdata dalam penyelesaian sengketa harta kekayaan di Pengadilan Negeri,
sedangkan di Pengadilan Agama mendasar pada Kompilasi Hukum Islam. Pada
penelitian ini Penulis hanya mengambil pertanggung jawaban hutang perkawinan
setelah perceraian mendasar pada UUP dan KUH. Perdata.
Pertanggungjawaban Hutang-Hutang Persatuan Menurut
KUH. Perdata

1. Suami istri bertanggung jawab terhadap hutang-hutang yang telah dibuatnya. Pasal 130 KUH.Perdata menentukan bahwa
setelah bubarnya persatuan, suami boleh karena hutang-hutang persatuan seluruhnya, dan yang demikian itu tak akan
mengurangi hak suami, untuk menuntut kembali setengah bagian dari hutang-hutang itu kepada istri, atau kepada para ahli
warisnya.
2. Suami bertanggung jawab sepenuhnya bagi pelunasan hutang-hutang bersama yang dibuat oleh pihak istri, dikecualikan dari
pertanggung jawab tersebut ialah hal peluanasan hutanghutang yang dibuat sebelum perkawinan oleh si istri, pertanggung
jawab mana berakhir dengan dilaksanakannya pembagian dan pemisahan harta Campuran.
3. Istri bertanggung jawab hanya untuk separuh bagian dari hutang bersama yang dibuat oleh pihak suami akan tetapi
bertanggung jawab penuh untuk hutang bersama yang dibuat olehnya sendiri dalam perkawinan.
4. Setelah diadakan pembagian, pihak lain tidak lagi dapat dituntut terhadap hutang yang dibuat pihak lain sebelum
perkawinan.
Pertanggungjawaban Hutang-Hutang Perkawinan menurut Undang
Undang Perkawinan

Dalam Pasal 37 UUP jelas dikatakan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian,
harta bersama di atur menurut hukumnya masing-masing, bahwa yang
dimaksud dengan hukumnya masing-masing ialah hukum agama, hukum adat ataupun
hukum lainnya. walaupun UUP menjadi acuan utama dalam penyelesaian sengketa harta
perkawinan namun tetap
memeberlakukan hukum lainnya seperti hukum agama, adat, dan juga KUH.
Thank You