Anda di halaman 1dari 18

Pengertian Hubungan Bisnis

Hubungan Bisnis adalah kegiatan yang dilakukan karena


mempunyai kepentingan dan tujuan untuk saling mencari keuntungan satu
sama lain. Tujuan lain seperti untuk mempercepat proses pemasaran
produknya ke masyarakat luas dan ada pula yang melakukannya karena
ketidakmampuannya untuk berbisnis, ataupun masalah permodalannya.
BENTUK – BENTUK
HUBUNGAN BISNIS
AGEN & DISTRIBUTOR

Keagenan biasanya diartikan sebagai suatu hubungan hukum di


mana biasanya seseorang/ pihak agen diberi kuasa bertindak untuk dan
atas nama orang/ pihak prinsipal untuk melaksanakan transaksi bisnis
dengan pihak lain.
Sedangkan, seorang Distributor tidak bertindak untuk dan atas
nama pihak yang menunjuknya sebagai distributor (biasanya supplier,
atau manufacture) namun seorang distributor bertindak untuk dan atas
nama sendiri.
• Dalam perjanjian bisnis yang diadakan antara agen/ distributor dengan prinsipalnya,
biasanya dilakukan dengan membuat suatu kontrak tertulis yang isinya ditentukan
oleh para pihak sesuai dengan kepentingan para pihak tersebut, asal tidak
bertentangan dengan hukum dan kesusilaan.
• Bila pihak asing ingin menunjuk seorang agen/ distributor di Indonesia, maka

menurut Surat Keputusan Menteri Perdagangan Nomor


77/Kp/III/78, tanggal 9 MAret 1978,
ditentukan lamanya perjanjian harus dilakukan untuk jangka waktu

3 tahun
*merumuskan secara jelas peristiwa apa saja yang
menjadi perselisihan (events of defaults)
Franchise

British Franchise Association (BFA) mendefinisikan franchise adalah


contractual licence yang diberikan oleh suatu pihak (franchisor) kepada pihak
lain (franchisee) yang mengizinkan franchisee untuk menjalankan usaha
selama periode franchise berlangsung, suatu usaha tertentu yang menjadi milik
franchisor.
Keuntungan Franchisee dari bisnis franchise antara lain:
1.Pelatihan dan dukungan manajemen
2.Produk dan format bisnis yang sudah terbukti
3.Daya beli yang terpusat

Kerugian Franchisee dalam bisnis franchise antara lain:


1.Biaya Franchise dan Royalty yang terus berjalan
2.Standar Operasi yang ketat
3.Kejenuhan pasar KANIBALISME PENJUALAN
4.Kurangnya kebebasan
Keuntungan dan kerugian seorang Franchisor:

KEUNTUNGAN KERUGIAN
Ekspansi dan perluasan usaha dengan cepat, Reputasi buruk jika mendapat Franchisee yang
mudah, dan murah. kurang kompeten

Pemasukan baru : Royalty, biaya pelatihan, Kehilangan kepercayaan pelanggan


biaya Franchising

Meningkatkan Omzet Penurunan pendapatan


Mempermudah pengawasan outlet baru, Karena
Franchisee

Mengurangi resiko usaha, karena sudah dikelola


orang yang ingin terjun di bisnis yang sama
(franchisee).
10%

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang


dikupas oleh Wakil Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan
Lisensi Indonesia (WALI) dan konsultan International
6% Franchise Business Management (IFBM), Evi Diah
5% Puspitawati, industri waralaba akan tumbuh 10 persen tahun
ini.
Joint Venture
Menurut pandangan ahli hukum, Joint Venture adalah
kerjasama sementara, yaitu suatu macam Partnership (perserikatan)
yang bersifat sementara.
Joint Venture adalah kerjasama antara pemilik modal asing dengan
pemilik modal nasional semata-mata berdasarkan suatu perjanjian
berkala (contractueel).

Terdapat beberapa alasan beberapa pihak mendirikan


perusahaan joint venture, diantaranya:
a. Menggabungkan Sumber Daya
b. Menggabungkan Keahlian
c. Menghemat Uang
BOT (Build Operate Transfer)

Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor:


248/KMK.04/1995 tanggal 2 Juni 1995, disebutkan bahwa
yang dimaksud dengan Bangun Guna Serah adalah suatu bentuk
perjanjian kerja sama yang dilakukan antara pemegang hak atas
tanah dengan investor, yang menyatakan bahwa pemegang hak atas
tanah memberikan hak kepada investor untuk mendirikan bangunan
selama masa perjanjian bangun guna serah (BOT), dan mengalihkan
kepemilikan bangunan tersebut kepada pemegang hak atas tanah
setelah masa bangun guna serah berakhir.
Masing-masing pihak memiliki Kewajiban dan hak, diantaranya sebagai berikut:

1. Pihak Pertama berkewajiban untuk:


• Menyiapkan dan menyerahkan tanah sebagaimana dalam keadaan kosong dan
bebas dari ikatan hukum dengan pihak lain kepada Pihak Kedua

• Membantu kelancaran pengurusan dan penyelesaian Hak Guna Bangunan (HGB) atas
tanah tersebut tercatat atas nama Pihak Kedua, serta membantu kelancaran
pengurusan penyelesaian perizinan-perizinan dalam rangka pendirian sarana yang
diperlukan antara lain, Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), H.O., Surat Ijin Tempat Usaha
(SITU), atas biaya Pihak Kedua.
Masing-masing pihak memiliki Kewajiban dan hak, diantaranya sebagai berikut:

2. Pihak Kedua berkewajiban untuk:


• Melaksanakan pembangunan sebagaimana dimaksud sampai selesai
• Membayar biaya pengadaan tanah. Menyetorkan bagian keuntungan setiap tahun kepada
Pihak Pertama.
• Membayar kompensasi atas pemberian Hak Guna Bangunan atas nama Pihak Kedua diatas Hak
Milik atas nama Pihak Pertama.
• Membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
• Mengadakan renovasi Bangunan dan sarana penunjangnya sekurang-kurangnya tiap 5 (lima)
tahun sekali.
• Menyerahkan kembali Bangunan dan hak pengoperasian kepada Pihak Pertama setelah
berakhirnya jangka waktu pengoperasian dalam keadaan baik dan dapat berfungsi secara
maksimal.
3. Pemutusan Perjanjian.
Perjanjian dapat diputuskan apabila:
• Kedua belah pihak sepakat untuk mengakhirinya dan dituangkan
dalam persetujuan tertulis.
• Pihak Kedua tidak dapat menyelesaikan pembangunan Bangunan.
• Terjadi keadaan memaksa (force majeure) dan perjanjian ini
disepakati untuk diakhiri.
TERIMA KASIH