Anda di halaman 1dari 36

Pemberian

Jalan Nafas Buatan


1. Miftahurrahmah
2. Inafatul Hamidah
3. David M
4. Amelia Putri
Disampaika 5. Risa Asri

n Oleh
Konsep Pemberian Nafas Buatan
 Mulut ke mulut
Mouth to mouth atau memberikan napas dari mulut ke mulut
adalah teknik napas buatan yang umum dilakukan, tetapi sudah
tidak direkomendasikan.Teknik mouth to mouth bisa dilakukan
oleh orang awam.Jika mulut orang yang hendak ditolong terluka,
pemberian napas buatan bisa dilakukan dari mulut penolong ke
hidung orang yang hendak ditolong.
 Pindahkan korban ke tempat yang aman. Misalnya jika korban ditemukan di tengah
jalan, segera pindahkan ke tepi jalan.
 Memeriksa kesadaran korban atau orang yang hendak ditolong dengan cara
memanggilnya atau menepuk dada atau bahu.
 Jika korban tidak sadar atau tidak merespons, tidak bernapas, dan tidak terdengar detak
jantung atau tidak teraba denyut nadi, segera minta pertolongan orang lain untuk
memanggil ambulans. Sambil menunggu, Anda perlu melakukan pertolongan dengan
menekan dada korban (kompresi) dan membuka saluran napas. Kompresi diberikan
urutan langkah memberikan sebanyak 30 kali diikuti 2 kali pemberian napas buatan.
 Untuk membuka saluran napas, dongakkan kepala korban kemudian letakkan salah satu
napas buatan dari mulut ke telapak tangan di keningnya. Lalu, angkat dagu orang tersebut dengan hati-hati hingga
mulut atau hidung: posisi kepalanya mendongak, untuk membuka saluran pernapasannya.
 Cubit lubang hidung korban, tarik napas dalam dan letakkan mulut Anda menutupi
mulut korban. Atau jika terdapat luka pada mulut korban, tutup mulutnya, letakkan
mulut Anda menutupi hidung korban. Tiupkan napas, lalu perhatikan apakah dada
korban naik. Jika dada tidak naik, ulangi dengan membuka saluran napas dan berikan
napas kedua.
Menekan dada sebanyak 30 kali diikuti oleh memberikan dua kali
napas buatan, terhitung sebagai satu siklus RJP.Lakukan
pertolongan ini hingga bantuan medis datang.
 O2 (Oksigen)
Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling
mendasar yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel
tubuh, mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ dan
sel tubuh.
Keberadaan oksigen merupakan salah satu komponen gas dan
unsure vital dalam proses metabolism dan untuk mempertahankan
kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen
ini diperoleh dengan cara menghirup O2 setiap kali bernapas dari
atmosfer. Oksigen (O2) untuk kemudian diedarkan ke seluruh
jaringan tubuh.
 Pemberian oksigen merupakan tindakan keperawatan dengan
cara memberikan oksigen ke dalan paru melalui saluran
pernapasan dengan menggunakan alat bantu oksigen.
Pemberian oksigen pada pasien dapat dilakukan melalui tiga
cara: yaitu melalui kanula, nasal, dan masker dengan tujuan
memenuhi kebutuhan oksigen dan mencegah terjadinya
hipoksia.
 Sistem Aliran Rendah
Metode Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah
konsentrasi udara ruangan, menghasilkan FiO2 yang
Pemberian bervariasi tergantung pada tipe pernapasan dengan
Oksigen patokan volume tidal klien. Ditujukan untuk klien yang
memerlukan oksigen, namun masih mampu bernafas
dengan pola pernapasan normal, misalnya klien dengan
volume
tidal 500 ml dengan kecepatan pernapasan 16-20
kali permenit.Teknik ini juga dibedakan menjadi dua
jenis yaitu low flow low concentration dan low flow
high concentration. 
Contoh Aliran rendah
 Nasal Kanul/Kanul Binasal 
 Nasal kanul adalah alat sederhana yang murah
dan sering digunakan untuk menghantarkan
oksigen. Nasal kanul terdapat dua kanula yang
panjangnya masing-masing 1,5 cm (1/2 inci)
menonjol pada bagian tengah selang dan dapat
dimasukkan ke dalam lubang hidung untuk
memberikan oksigen dan yang memungkinkan
klien bernapas melalui mulut dan hidungnya
 Kanula nasal untuk mengalirkan oksigen
Prinsip dengan aliran ringan atau rendah biasanya
hanya 2-3 liter/menit
Nasal  Membutuhkan pernapasan hidung
 Tidak dapat mengalirkan oksigen dengan
Kanul konsistensi >40%
Pasien yang bernapas spontan tetapi
membutuhkan alat bantu nasal kanula untuk
Indikasi memenuhi kebutuhan oksigen (keadaan sesak
atau tidak sesak).
 Pasien dengan gangguan oksigenasi seperti klien dengan
asthma, PPOK, atau penyakit paru yang lain
 Pada pasien yang membutuhkan terapi oksigen jangka
panjang
 Kontraindikasi:
 Pada pasien dengan obstruksi nasal
 Pasien yang apneu
 Hal-hal yang harus diperhatikan (Potter & Perry,
2010):
 Pastikan jalan napas harus paten tanpa adanya sumbatan
di nasal
 Hati-hati terhadap pemakaian kanul nasal yang terlalu
ketat dapat menyebabkan kerusakan kulit ditelinga dan
hidung.
 Jangan terlalu sering menggunakan aliran > 4 liter/menit
karena dapat menimbulkan efek pengeringan pada
mukosa
 Keuntungan dan Kerugian (Ni Luh Suciati, 2010)
 Keuntungan:
 Pemasangannya lebih mudah dibandingkan dengan kateter
nasal
 Lebih murah dan disposibel
 Pasien lebih mudah makan, minum dan berbicara
 Pasien lebih mudah mentolerir dan merasa nyaman
 Pemberian oksigen lebih stabil dengan volume tidal dan laju
pernafasan yang teratur
 Kerugian:
 Konsentrasi yang diberikan tidak bisa lebih dari 44%
 Mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1-1.5 cm
 Oksigen bisa berkurang jika pasien bernapas melalui mulut
 Aliran Oksigen > 4 liter/menit jarang digunakantidak akan
menambah FiO2 dan bisa menyebabkan iritasi selaput lender
serta mukosa kering
 Pemasangan selang nasal yang terlalu ketat dapat mengiritasi
kulit di daerah telinga dan hidung
 Sungkup Muka (Masker) Sederhana/Simple
Face Mask 
Alat ini memberikan oksigen jangka pendek,
kontinyu atau selang seling serta konsentrasi
oksigen yang diberikan dari tingkat rendah sampai
sedang. Aliran oksigen yang diberikan
 Aliran O2 tidak boleh kurang dari 5 liter/menit
karena untuk mendorong CO2 keluar dari masker
 Saat pemasangan perlu adanya pengikat wajah dan
jangan terlalu ketat pemasangan karena dapat
menyebabkan penekanan kulit yang bisa
menimbulkan rasa phobia ruang tertutup
 Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan
masker dan tali pengikat untuk mencegah iritasi
kulit
Keuntungan dan Kerugian (Suparmi, 2008)
Keuntungan:
 Sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui
pemilihan sungkup yang berlubang besar
 Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih besar
daripada kanul nasal ataupun kateter nasal
 Dapat diberikan juga pada pasien yang
mendapatkan terapi aerosol
Kerugian :
 Konsentrasi oksigen yang diberikan tidak bisa
kurang dari 40%
 Dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika
alirannya rendah
 Pemasangannya menyekap sehingga tidak
memungkinkan untuk makan dan batuk
 Bisa terjadi aspirasi bila pasien muntah
 Umumnya menimbulkan rasa tidak nyaman pada
pasien
 Menimbulkan rasa panas sehingga kemungkinan
dapat mengiritasi mulut dan pipi
Sungkup Muka (Masker) dengan Kantong Non-
Rebreathing 
Non-rebreathing mask mengalirkan oksigen dengan
konsentrasi oksigen sampai 80-100% dengan kecepatan aliran
10-12 liter/menit. Prinsip alat ini yaitu udara inspirasi tidak
bercampur dengan udara ekspirasi karena mempunyai 2
katup, 1 katup terbuka pada saat inspirasi dan tertutup pada
saat ekspirasi, dan ada 1 katup lagi yang fungsinya mencegah
udara kamar masuk pada saat inspirasi dan akan membuka
pada saat ekspirasi (Ni Luh Suciati, 2010).
 Indikasi dan Kontraindikasi (Potter & Perry, 2010)
Indikasi :
       Pasien dengan kadar tekanan CO2 yang tinggi, pasien
COPD, pasien dengan status pernapasan yang tidak stabil dan
pasien yang memerlukan intubasi
Kontraindikasi:
Pada pasien dengan retensi CO2 karena akan memperburuk
retensi
Hal-hal yang perlu diperhatikan
Prinsip
Mengalirkan oksigen dengan konsentrasi mencapai
99%
Volume aliran 10-12 liter/menit
Terdapat kantung reservoir untuk meningkatkan FiO2
dan dua katup untuk menampung oksigen
 
 Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara
menutup lubang antara kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian
kantong reservoir
 Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali
pengikat untuk mencegah iritasi kulit
 Perawat harus menjaga agar semua diafragma karet harus pada
tempatnya
 Menjaga supaya kantong O2 tidak terlipat/mengempes untuk
mencegah bertambahnya CO2

Keuntungan dan Kerugian


 Keuntungan:
 Konsentrasi oksigen yang diperoleh bisa tinggi bahkan sampai 100%
 Tidak mengeringkan selaput lendir

 Kerugian:
 Tidak dapat memberikan oksigen dengan konsentrasi yang rendah
 Kantong oksigen mudah terlipat, terputar atau mengempes
 Pemasangannya menyekap sehingga tidak memungkinkan untuk
makan dan batuk
 Terjadi aspirasi bila pasien muntah terutama ketika pasien tidak
sadar
PROSEDUR PEMENUHAN OKSIGEN
Pengertian
Pemberian oksigen ke dalam para-paru melalui
saluran pernapasan dengan menggunakan alat
bantu dan oksigen. Pemberian oksigen pada pasien
dapat melalui kateter nasal, kanula nasal, dan
masker oksigen.
Tujuan
1.         Memenuhi kebutuhan oksigen
2.         Mencegah atau mengatsi hipoksia.
PEMBERIAN OKSIGEN MELALUI KANULA NASAL
Pengertian
Kanula nasal adalah memberikan oksigen dengan
konsentrasi rendah (24-40%) dengan kecepatan aliran 2-
4 liter/ menit
Indikasi
Pasien bernapas spontan tetapi membutuhkan alat bantu
kanula untuk memenuhi kebutuhan oksigen (Pasien dapat
dalam keadaan sesak atau tidak sesak)
Prinsip
Kanula nasal untuk mengalirkan oksigen dengan lairan
ringan/rendah biasanya hanya 2-3 liter/menit
Membutuhkan pernapasan hidung
Tidak dapat mengalirkan oksigen dengan konsentrasi > 40%
 
Persiapan alat
·            Kanula nasal
·            Selang oksigen
·            Humidifier
·            Cairan steril
·            Tabung oksigen dengan flowmeter
·            Plester
 
Prosedur
Periksa program terapi medik
Ucapkan salam terapeutik
Lakukan evaluasi / validasi
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
Cuci tangan
Persiapkan alat
Kaji adanya tanda dan gejala hipoksia dan sekret pada jalan
napas
 Sambungkan kanula nasal ke selang oksigen dan
ke sumber oksigen
 Berikan aliran oksigen sesuai dengan kecepatan
aliran pada program medis dan pastikan berfungsi
dengan baik
 Selang tidak tertekuk dan sambungan paten
 Ada gelembung udara pada humadifier
 Terasa oksigen keluar dari kanula
 Letakkan ujung kanula pada lubang hidung pasien
 Atur pita elastik atau selang plastik ke kepala atau
ke bawah dagu sampai kanula pas dan nyaman
 Beri plester pada kanula di kedua sisi wajah
 Periksa kanula setiap 8 jam
 Pertahankan batas air pada botol humidifier setiap
waktu
 Periksa jumlah kecepatan aliran oksigen dan
program terapi setiap 8 jam
 Kaji membran  mukosa hidung dari adanya iritasi
dan beri jelly untuk melembabkan membran
mukosa jika diperlukan
 Cuci tangan
 Evaluasi respon pasien
 Catat hasil tindakan yang telah dilakukan dan
hasilnya
PEMBERIAN OKSIGEN MELALUI MASKER (FACE
MASK)
Pengertian
Memberikan oksigen dengan konsentrasi dan
kecepatan aliran lebih tinggi dari kanula nasal, 40-
60% pada kecepatan 5-8 liter/menit.
Prinsip
Face mask/masker untuk mengalirkan oksigen
tingkat sedang dari hidung ke mulut, dengan
konsentrasi oksigen 40-60%
Persiapan alat
·           Face mask, sesuai dengan kebutuhan dan ukuran pasien
·           Selang oksigen
·           Humudifier
·           Cairan steril
·           Tabung oksigen dengan flowmeter
·           Pita/tali elastik
 
Prosedur
 Periksa program terapi medik
 Ucapkan salam terapeutik
 Lakukan evaluasi / validasi
 Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
 Cuci tangan
 Persiapkan alat
 Kaji adanya tanda dan gejala hipoksia dan sekret pada jalan napas
 Sambungkan masker ke selang dan ke sumber oksigen
 Atur pita elastik ke telinga sampai masker  terasa pas dan nyaman
 Berikan aliran oksigen sesuai kecepatan aliran
 Periksa masker, aliran oksigen setiap 2 jam atau lebih cepat, tergantung
kondisi dan keadaan umum pasien
 Lakukan prosedur 14-19 seperti pada pemberian oksigen melalui kanula nasa
 Definisi ventilasi mekanik

 Ventilasi mekanik adalah suatu alat bantu mekanik


yang berfungsi memberikan bantuan nafas pasien
Ventilasi dengan cara memberikan tekanan udara positif

mekanik pada paru-paru melalui jalan nafas buatanadalah


suatu alat yang digunakan untuk membantu
sebagian atau seluruh proses ventilasi untuk
mempertahankan oksigenasi (Brunner dan
Suddarth,
 Ventilator tekanan negatif mengeluarkan tekanan
negatif pada dada eksternal. Dengan mengurangi
tekanan intratoraks selama inspirasi
memungkinkan udara mengalir ke dalam paru-
paru sehingga memenuhi volumenya.
 Ventilator tekanan positif menggembungkan paru-
paru dengan mengeluarkan tekanan positif pada
jalan nafas dengan demikian mendorong alveoli
untuk mengembang selama inspirasi, Ekspirasi
terjadi secara pasif.
 Menurut Pontopidan (2003), seseorang perlu
mendapat bantuan ventilator bila:
 Frekuensi napas lebih dari 35 kali per menit.
 Hasil analisa gas darah dengan O2 masker PaO2
kurang dari 70 mmHg.
Kriteria Pemasangan
Ventilasi Mekanik  PaCO2 lebih dari 60 mmHg
 AaDO2 dengan O2 100 % hasilnya lebih dari 350
mmHg.
 Vital capasity kurang dari 15 ml / kg BB.
 Jika pasien mengalami penurunan (PaO2), peningkatan kadar
(PaCO2), dan asidosis persistem, maka ventilasi mekanis
kemungkinan diperlukan. Ada juga kondisi kondisi yang diindikasikan
menggunakan ventilator mekanis:
 Gagal nafas, Pasien dengan distres pernapasan gagal napas (apnue)
maupun hipoksemia yang tidak teratasi dengan pemberian oksigen
merupakan indikasi ventilator mekanik.
 Insufisiensi jantung,Pada pasien dengan syok kardiogenik dan CHF,
peningkatan kebutuhan aliran darah pada system pernapasan
(system pernapasan sebagai akibat peningkatana kerja napas dan
konsumsi oksigen) dapat mengakibatkan kolaps. Pemberian ventilator
Indikasi ventilasi untuk mengurangi beban kerja system pernapasan sehingga beban
mekanik kerja jantung juga berkurang.
 Disfungsi neurologis, Pasien dengan GCS 8 atau kurang yang beresiko
mengalami apnu berulang juga mendapatkan ventilasi mekanik.
Selain itu ventilasi mekanik juga berfungsi untuk menjaga jalan nafas
pasien serta memungkinkan pemberian hiperventilasi pada klien
dengan peningkatan tekanan intra cranial.
 Tindakan operasi, Tindakan operasi yang membutuhkan penggunaan
anestesi dan sedative sangat terbantu dengan keberadaan alat ini.
Resiko terjadinya gagal napas selama operasi akibat pengaruh obat
sedative sudah bisa tertangani dengan keberadaan ventilator
mekanik.
 Controlled Ventilation: Ventilator mengontrol
volume dan frekuensi pernafasan. Indikasi untuk
pemakaian ventilator meliputi pasien dengan
apnoe. Ventilator tipe ini meningkatkan kerja
pernafasan klien.
 Assist/Control: Ventilator jenis ini dapat mengontrol
ventilasi, volume tidal dan kecepatan. Bila klien
gagal untuk ventilasi, maka ventilator secara
Mode operasional otomatis. Ventilator ini diatur berdasarkan atas
ventilasi mekanik frekuensi pernafasan yang spontan dari klien,
biasanya digunakan pada tahap pertama
pemakaian ventilator.
 Intermitten Mandatory Ventilation: Model ini
digunakan pada pernafasan asinkron dalam
penggunaan model kontrol, klien dengan
hiperventilasi. Klien yang bernafas spontan
dilengkapi dengan mesin dan sewaktu-waktu
diambil alih oleh ventilator.
 Synchronized Intermitten Mandatory Ventilation
(SIMV): dapat digunakan untuk ventilasi dengan
tekanan udara rendah, otot tidak begitu lelah dan
efek barotrauma minimal. Pemberian gas melalui
nafas spontan biasanya tergantung pada aktivasi
klien. Indikasi pada pernafasan spontan tapi tidal
volume dan/atau frekuensi nafas kurang adekuat.
 Positive End-Expiratory pressure: Modus yang
digunakan dengan menahan tekanan akhir ekspirasi
positif dengan tujuan untuk mencegah Atelektasis.
Dengan terbukanya jalan nafas oleh karena tekanan
yang tinggi, atelektasis akan dapat dihindari.
 Continious Positive Airway Pressure. (CPAP): Pada
mode ini mesin hanya memberikan tekanan positif
dan diberikan pada pasien yang sudah bisa bernafas
dengan adekuat. Tujuan pemberian mode ini adalah
untuk mencegah atelektasis dan melatih otot-otot
pernafasan sebelum pasien dilepas dari ventilator.
 Persiapan alat
 Mesin ventilator
 Tubing ventilator steril
 Humidifier set (penghangat)
 Kertas filter

SETTING  Aquadest steril


 Sarung tangan steril 1 buah
VENTILASI  Test lung
MEKANIK  Persiapan petugas
 Petugas melepas semua perhiasan yang digunakan
 Petugas memakai APD
 Pelaksanaan prosedur
 Siapkan alat-alat setting ventilator
 Lakukan cuci tangan dan pakailah sarung tangan steril
 Persiapan petugas
 Petugas melepas semua perhiasan yang digunakan
 Petugas memakai APD
 Pelaksanaan prosedur
 Siapkan alat-alat setting ventilator
 Lakukan cuci tangan dan pakailah sarung tangan steril

Pasang humidifier (masukkan kertas filter pada tabung
penghangat,kemudia tutup)
 Hubungkan tubing inspirasi dari ventilator ke humidifier (in)
 Pasang tubing inspirasi panjang dengan menggunakan kawat pengait
masukkan wire heater kemudian hubungkan dengan humidifier (out)
 Ujung tubing inspirasi panjang pasang Y piece (lubang kabel penghangat
ada jalur inspirasi
 ujung Y piece yang lain pasang tubing ekspirasi,diantara tubing ekspirasi
pasang water trap,dan ujung tubing ekspirasi yang lain hubungkan
dengan valve ekspirasi
 ujung Y piece yang lain pasangkan urogeted ujung yang satu pasang
konektor dan ujung yang lain pasang Elbow
 ujung urogeted yang dipasang konektor dihubungkan dengan ujung Y
piece
 ujung urogeted yang dipasang elbow dihubungkan
dengan test lung
 hubungkan sumber udara tekan (air compressor)
dengan ventilator
 hubungkan sumber oksigen dengan ventilator
 hubungkan power ventilator dan humidifier
dengan sumber listrik
 hidupkan power on pada ventilator dan humidifier
 lakukan setting sesuai dengan order dokter
 mode CMV/IPPV/BIPAP/SIMV/ASB
 tentukan tidal volume 8-10 cc/kgbb
 tentukan respirasi rate 12-15x/menit
 berikan oksigenasi (FiO2)mulai 100% sampai 40 %
dengan target saturasi (SPO2) 95-100%
 atur PEEP mulai 3 CmH2O
 atur tekanan puncak (peak press) 30-40 mBar
 atur flow oksigen 30-40 liter/menit
 atur batas alarm 10% diatas dan 10% dibawah
mode yang diset
 atur invers rasio inspirasi dan ekspirasi (I;E ratio)
1;2/1;5;1,5 dll
 cek display apakah sudah sesuai dengan yag kita
setting
 jika setting sesuaindengan yang kita kehendaki
maka hubungkan konektor urogeted ke tubing
endotracheal/tracheostomy pada pasien
 observasi hemodinamik secara ketat
 rapikan pasien dan alat yag telah digunakan
 lakukan cuci tangan 6 langkah.