Anda di halaman 1dari 22

Aulia Citra (P07220118069)

David Mirza Mahendra


(P07220118074)
Fiqhi Syarifatunnisa (P07220118083)
Mardiyana (P07220118082)
Putri Cahayaty (P07220118099)
Tiara Apriliawati Putri (P07220118106)
Trauma abdomen adalah terjadinya
atau kerusakan pada organ abdomen
yang dapatmenyebabkan perubahan
fisiologi sehingga terjadi gangguan
metabolisme, kelainan imonologi dan
gangguan faal berbagai organ.
Berdasarkan mekanisme trauma, dibagi
menjadi 2 yaitu :

a. Trauma tumpul (blunt injury)

b. Trauma tajam (penetration injury)


Trauma pada abdomen dibagi lagi
menjadi 2, yaitu :
a. Trauma pada dinding abdomen
 Trauma dinding abdomen dibagi
menjadi kontusio dan laserasi.
b. Trauma pada isi abdomen
 Perforasi organ viseral
intraperitoneum
 Luka tusuk (trauma penetrasi) pada
abdomen
 Cedera thorak abdomen
Trauma pada abdomen disebabkan oleh 2
kekuatan yang merusak, yaitu :
a. Paksaan /benda tumpul
 Merupakan trauma abdomen tanpa
penetrasi ke dalam rongga peritoneum.
b. Trauma tembus
 Merupakan trauma abdomen dengan
penetrasi ke dalam rongga peritoneum.
1. Trauma tembus abdomen (trauma perut
dengan penetrasi kedalam rongga peritonium):
 Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
 Respon stres simpatis
 Perdarahan dan pembekuan darah
 Kontaminasi bakteri
 Kematian sel
2. Trauma tumpul abdomen (trauma
perut tanpa penetrasi kedalam rongga
peritonium) ditandai dengan:
 Kehilangan darah.
 Memar/jejas pada dinding perut.
 Kerusakan organ-organ.
 Nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas
dan kekakuan (rigidity) dinding
perut.
 Iritasi cairan usus
Secara umum seseorang dengan trauma
abdomen menunjukkan manifestasi sebagai
berikut :
1) Laserasi, memar,ekimosis
2) Hipotensi
3) Tidak adanya bising usus
4) Hemoperitoneum
5) Mual dan muntah
6) Adanya tanda “Bruit” (bunyi abnormal pd
auskultasi pembuluh darah, biasanya pd arteri
karotis),
7) Nyeri
8) Pendarahan
9) Penurunan kesadaran
10) Sesak
11) Tanda Kehrs adalah nyeri di sebelah kiri yang
disebabkan oleh perdarahan limfa.Tanda ini ada
saat pasien dalam posisi recumbent.
12) Tanda Cullen adalah ekimosis periumbulikal
pada perdarahan peritoneal
13) Tanda Grey-Turner adalah ekimosis pada sisi
tubuh (pinggang) pada perdarahan retroperitoneal.
14) Tanda coopernail adalah ekimosis pada
perineum,skrotum atau labia pada fraktur pelvis
15) Tanda balance adalah daerah suara tumpul
yang menetap pada kuadran kiri atas ketika
dilakukan perkusi pada hematoma limfe
Penanganan kegawat daruratan
1. Stop makanan dan minuman

2. Imobilisasi

3. Kirim ke Rumah Sakit


 Penanganan awal
1. Trauma penetrasi (trauma tajam)
a) Bila terjadi luka tusuk ( pisau atau benda tajam lainnya), maka tusukan
tidak boleh
dicabut kecuali dengan adanya tim medis.

b) Penanganannya bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan kain kassa
pada daerah antara pisau untuk memfiksasi pisau sehingga tidak memperparah
luka.

c) Bila ada usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut tidak
dianjurkan
dimasukkan kembali ke dalam tubuh, kemudian organ yang keluar dari dalam
tersebut dibalut dengan kain bersih atau bila ada dengan verban steril.

d) Immobilisasi pasien

e) Tidak dianjurkan memberi makan dan minum

f) Apabila ada luka terbuka lainnya maka balut luka dengan menekan.

g) Sesegera mungkin bawa pasien tersebut ke rumah sakit.


2. Trauma penetrasi
a) Bila ada dugaan bahwa ada luka tembus dinding abdomen, seorang ahli
bedah yang berpengalaman akan memeriksa lukanya secara lokal untuk
menentukan dalamnya luka. Pemeriksaan ini sangat berguna bila ada luka
masuk dan luka keluaryang berdekatan.

b) Skrining pemeriksaan rontgen.

c) Foto rontgen torak tegak berguna untuk menyingkirkan kemungkinan


hemo atau pneumotoraks atau untuk menemukan adanya udara
intraperitonium. Serta rontgen abdomen sambil tidur (supine) untuk
menentukan jalan peluru atau adanya udara retroperitoneum.

d) IVP atau Urogram Excretory dan CT Scanning dilakukan untuk


mengetahui jenis cidera yang ada.

e) Uretrografi dilakukan untuk mengetahui adanya rupture uretra.

f) Sistografi ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya cedera pada


kandung kencing, contohnya pada fraktur pelvis.
3. Trauma non-penetrasi
a) Penanganan pada trauma benda tumpul di rumah sakit.

b) Pengambilan contoh darah dan urin

c) Darah diambil dari salah satu vena permukaan untuk pemeriksaan laboratorium
rutin, dan juga untuk pemeriksaan laboratorium khusus seperti pemeriksaan darah
lengkap, potasium, glukosa, amilase dan sebagainya.

d) Pemeriksaan rontgen

e) Pemeriksaan rontgen servikal lateral, toraks anteroposterior dan pelvis adalah


pemeriksaan yang harus di lakukan pada penderita dengan multi trauma, mungkin
berguna untuk mengetahui udara ekstraluminal di retroperitonium atau udara bebas
di bawah diafragma, yang keduanya memerlukan laparatomi segera.

f) Studi kontras Urologi dan Gastrointestinal

g) Dilakukan pada cedera yang meliputi daerah duodenum, kolon ascendens atau
decendens dan dubur.
Penatalaksanaan
1. Abdominal paracentesis menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritonium,
merupakan indikasi untuk laparotomi

2. Pemasangan NGT memeriksa cairan yang keluar dari lambung pada trauma abdomen

3. Pemberian antibiotik mencegah infeksi

4. Pemberian antibiotika IV pada penderita trauma tembus atau pada trauma tumpul
bila ada persangkaan perlukaan intestinal.

5. Penderita dengan trauma tumpul yang terkesan adanya perdarahan hebat yang
meragukan kestabilan sirkulasi atau ada tanda-tanda perlukaan abdomen lainnya
memerlukan pembedahan

6. Prioritas utama adalah menghentikan perdarahan yang berlangsung. Gumpalan kassa


dapat menghentikan perdarahan yang berasal dari daerah tertentu, tetapi yang lebih
penting adalah menemukan sumber perdarahan itu sendiri.

7. Kontaminasi lebih lanjut oleh isi usus harus dicegah dengan mengisolasikan bagian
usus yang terperforasi tadi dengan mengklem segera mungkin setelah perdarahan
teratasi.
Pengkajian
Dasar pemeriksaan fisik ‘head to toe’ harus dilakukan dengan singkat tetapi
menyeluruh dari bagian kepala ke ujung kaki.
Pengkajian data dasar menurut Brunner & Suddart (2001), adalah :
 Aktifitas/istirahat
Data Subyektif : Pusing, sakit kepala, nyeri, mulas,
Data Obyektif : Perubahan kesadaran, masalah dalam keseim Bangan cedera
(trauma)
 Sirkulasi
Data Obyektif: kecepatan (bradipneu, takhipneu), polanapas (hipoventilasi,
hiperventilasi, dll).
 Integritas ego
Data Subyektif : Perubahan tingkah laku/ kepribadian (tenang atau
dramatis)
Data Obyektif : Cemas, Bingung, Depresi.
 Eliminasi
Data Subyektif : Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami
gangguan fungsi.
 Makanan dan cairan
Data Subyektif : Mual, muntah, dan mengalami perubahan
Selera makan.
Data Obyektif : Mengalami distensi abdomen.
 Neurosensori.
Data Subyektif : Kehilangan kesadaran sementara, vertigo
Data Obyektif : Perubahan kesadaran bisa sampai koma,
perubahan status mental,Kesulitan dalam menentukan posisi
tubuh.
 Nyeri dan kenyamanan
Data Subyektif : Sakit pada abdomen dengan intensitas dan
lokasi yang berbeda, biasanya lama.
Data Obyektif : Wajah meringis, gelisah, merintih.
 Pernafasan
Data Subyektif : Perubahan pola nafas.
 Keamanan
Data Subyektif : Trauma baru/ trauma karena kecelakaan.
Data Obyektif : Dislokasi gangguan kognitif. Gangguan
rentang gerak.
 DX 1: Kekurangan volume cairan
berhubungan dengan perdarahan
 DX 2: Nyeri berhubungan dengan adanya
trauma abdomen atau luka penetrasi
abdomen
 DX 3: Resiko infeksi berhubungan dengan
tindakan pembedahan, tidak adekuatnya
pertahanan tubuh.
 DX 4: Gangguan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b/d intake yang kurang.
No.
1. Tujuan Rencana Rasionl
Dx

1. Tujuan: Setelah Mandiri •untuk mengidentifikasi defisit


diberikan tindakan •Kaji tanda-tanda volume cairan.
keperawatan vital. •mengidentifikasi keadaan
diharapkan volume •Pantau cairan perdarahan, serta Penurunan
cairan tidak parenteral dengan sirkulasi volume cairan
mengalami elektrolit, antibiotik menyebabkan kekeringan
kekurangan. dan vitamin mukosa dan pemekatan urin.
Kriteria hasil: •Kaji tetesan infus. Deteksi dini memungkinkan
terapi pergantian cairan segera.
•Intake dan output Kolaborasi : •awasi tetesan untuk
seimbang •Berikan cairan mengidentifikasi kebutuhan
•Turgor kulit baik parenteral sesuai cairan.
•Perdarahan (-) indikasi. •cara parenteral membantu
•Cairan parenteral ( memenuhi kebutuhan nuitrisi
IV line ) sesuai tubuh.
dengan umur. •Mengganti cairan dan elektrolit
•Pemberian tranfusi secara adekuat dan cepat.
darah. •menggantikan darah yang
keluar.
Tujuan: setelah Mandiri •
diberikan tindakan •Kaji karakteristik Mengetahui tingkat nyeri klien.
keperawatan nyeri. •Mengurngi kontraksi abdomen
diharapkan nyeri •Beri posisi semi •Membantu mengurangi rasa nyeri
dapat hilang atau fowler. dengan mengalihkan perhatian
terkontrol. •Anjurkan tehnik •lingkungan yang nyaman dapat
manajemen nyeri memberikan rasa nyaman klien
Kriteria hasil:
2. seperti distraksi •analgetik membantu mengurangi
•Skala nyeri 0 •Managemant rasa nyeri.
•Ekspresi tenang lingkungan yang
nyaman.

Kolaborasi pemberian
analgetik sesuai
indikasi.
1. Tujuan: setelah Mandiri •Mengidentifikasi adanya resiko infeksi
3. diberikan tindakan •Kaji tanda-tanda lebih dini.
keperawatan infeksi. •Keadaan luka yang diketahui lebih
diharapkan infeksi •Kaji keadaan luka. awal dapat mengurangi resiko infeksi.
tidak terjadi. •Kaji tanda-tanda •Suhu tubuh naik dapat di indikasikan
vital. adanya proses infeksi.
Kriteria hasil:
•Lakukan cuci tangan •Menurunkan resiko terjadinya
•Tanda-tanda infeksi sebelum kntak dengan kontaminasi mikroorganisme.
(-) pasien. •Dengan pencukuran klien terhindar
•Leukosit 5000- •Lakukan pencukuran dari infeksi post operasi
10.000 mm3 pada area operasi •Teknik aseptik dapat menurunkan
(perut kanan bawah resiko infeksi nosokomial
•Perawatan luka •Antibiotik mencegah adanya infeksi
dengan prinsip bakteri dari luar.
sterilisasi.
•Kolaborasi
pemberian antibiotik
41. Tujuan: setelah Mandiri •Keletihan berlanjut menurunkan
diberikan tindakan •Ajarkan dan bantu keinginan untuk makan.
keperawatan klien untuk istirahat •Adanya pembesaran hepar dapat
diharapkan nutrisi sebelum makan menekan saluran gastro intestinal
pasien terpenuhi •Awasi pemasukan dan menurunkan kapasitasnya.
diet/jumlah kalori, •Akumulasi partikel makanan di
Kriteria hasil:
tawarkan makan mulut dapat menambah baru dan
•Nafsu makan sedikit tapi sering rasa tak sedap yang menurunkan
meningkat dan tawarkan pagi nafsu makan.
•BB Meningkat paling sering. •Menurunkan rasa penuh pada
•Klien tidak lemah •Pertahankan abdomen dan dapat meningkatkan
hygiene mulut yang pemasukan.
baik sebelum makan •Glukosa dalam karbohidrat cukup
dan sesudah makan efektif untuk pemenuhan energi,
. sedangkan lemak sulit untuk
•Anjurkan makan diserap/dimetabolisme sehingga
pada posisi duduk akan membebani hepar..
tegak.
•Berikan diit tinggi
kalori, rendah lemak