Anda di halaman 1dari 22

FISIOLOGI RESPIRASI

Disusun oleh :
Zoraya Febriana Syahnaz
1102009310

Pembimbing:
dr. Uus Rustandi, Sp.An
dr. Ruby Satria Nugraha, Sp.An, M.Kes
2.1. Anatomi dan Fisiologi Saluran Respirasi

Anatomi Saluran Respirasi


2.3. Respirasi
Respirasi adalah pertukaran gas-gas antara organisme hidup dan
lingkungan sekitarnya. Pada manusia dikenal 2 macam respirasi
sebagai berikut.

Respirasi eksternal Respirasi Internal

• Pertukaran gas-gas antara darah • Pertukaran gas-gas antara darah


dan udara di sekitarnya, meliputi dan jaringan, meliputi beberapa
beberapa proses: proses:
• Ventilasi: proses masuk udara • Efisiensi kardiosirkulasi dalam
sekitar dan pembagian udara menjalankan darah kaya oksigen
tersebut ke alveoli • Distribusi kapiler
• Distribusi: distribusi dan • Dofusi, perjalanan gas keruang
percampuran molekul-molekul gas interstitial dan menembus dinding
intrapulmoner sel
• Difusi: masuknya gas-gas • Metabolism sel yang
menembus selaput alveolo-kapiler
• Perfusi: pengambilan gas-gas oleh
aliran darah kapiler paru yang
adekuat
Fungsi Respirasi

Fungsi respirasi adalah :

Mengambil oksigen kemudian dibawa oleh darah keseluruh


tubuh (sel-selnya) untuk mengadakan pembakaran.
Mengeluarkan karbon dioksida yang terjadi sebagai sisa
pembakaran, kemudian dibawa oleh darah ke paru-paru untuk
dibuang (karena tidak berguna lagi oleh tubuh).
dan melembabkan udara
Sistem Respirasi

Secara anatomis dapat dibagi menjadi bagian atas (hidung,


ruang hidung, sinus paranasal, dan faring) dan bagian bawah
(laring, trakea, bronkus, bronkiolus, alveolus).
Secara fisiologi dapat dibagi menjadi bagian konduksi (dari
ruang hidung sampai dengan bronkiolus terminalis) dan bagian
respirasi (dari bronkiolus respiratorius sampai alveoli).
Mekanisme Kerja Sistem Pernapasan

Proses terjadinya pernapasan terbagi 2 yaitu :

Inspirasi (menarik napas)

Ekspirasi (menghembus napas)


Inspirasi

Inspirasi adalah proses yang aktif, proses ini terjadi bila tekanan
intra pulmonal (intra alveol) lebih rendah dari tekanan udara luar.
Pada tekanan biasa, tekanan ini berkisar antara -1 mmHg sampai
dengan -3 mmHg.
Pada inspirasi dalam tekanan intra alveoli dapat mencapai -30
mmHg. Menurunnya tekanan intra pulmonal pada waktu inspirasi
disebabkan oleh mengembangnya rongga toraks akibat kontraksi
otot-otot inspirasi.
Ekspirasi

Ekspirasi adalah proses yang pasif, proses ini berlangsung bila


tekanan intra pulmonal lebih tinggi dari pada tekanan udara luar
sehingga udara bergerak keluar paru.
Meningkatnya tekanan di dalam rongga paru terjadi bila volume
rongga paru mengecil akibat proses penguncupan yang disebabkan
oleh daya elastis jaringan paru.
Penguncupan paru terjadi bila otot-otot inspirasi mulai relaksasi.
Pada proses ekspirasi biasa tekanan intra alveoli berkisar antara ±1
mmHg sampai dengan ±3 mmHg
Pusat Respirasi

Merupakan kelompok neuron yang terletak di substansia retikuler


medulla oblongata dan pons. Terdiri dari pusat apnestik, area
pneumotaksis, area ekspiratori, dan area inspiratori.

Tanda-tanda dan Gejala Gangguan Fungsi Pernapasan

Batuk Sesak

Batuk darah Nyeri dada


2.4 Spirometri Test

Spirometri merupakan suatu metode sederhana yang dapat


mengukur sebagian terbesar volume dan kapasitas paru- paru.
Spirometri merekam secara grafis atau digital volume ekspirasi
paksa dan kapasitas vital paksa.
Volume Ekspirasi Paksa atau Forced Expiratory Volume (FEV)
adalah volume dari udara yg dihembuskan dari paru- paru setelah
inspirasi maksimum dengan usaha paksa minimum, diukur pada
jangka waktu tertentu. Biasanya diukur dalam 1 detik (FEV1) .
Jenis Gangguan Fungsi Paru terdiri dari :

• Gangguan Fungsi Paru Obstruktif

Tidak dapat menghembuskan udara


(Unable to get air out). FEV1/FVC <75%
Semakin parah obstruksinya
• Gangguan Fungsi Paru Restriktif

Tidak dapat menarik napas (unable to


get air in)
• Gangguan Fungsi Paru Gabungan (Mixed)
Volume dan Kapasitas Paru

1. Volume Paru

Ada empat volume paru yang bila dijumlahkan sama dengan volume
maksimal paru yang mengembang.
Volume Tidal (VT) : merupakan volume udara yang diinspirasikan
dan diekspirasikan disetiap pernapasan normal, jumlahnya ±500 ml.
Volume Cadangan Inspirasi : merupakan volume tambahan udara
yang dapat diinspirasikan di atas volume tidl normal, jumlahnya
±3000 ml.
Volume Cadangan Ekspirasi : merupakan jumlah udara yang masih
dapat dikeluarkan dengan ekspirasi tidal yang jumlah normalnya
±1100 ml.
Volume Sisa : volume udara yang masih tersisa di dalam paru-paru
setelah ekspirasi kuat, volume ini ±1200 ml
2. Kapasitas Paru

Dalam peristiwa siklus paru-paru diperlukan menyatukan dua


volume atau lebih kombinasi seperti ini disebut kapasitas paru-paru.
Jenis kapasitas paru-paru ada empat yaitu kapasitas inspirasi,
kapasitas fungsional, kapasitas vital dan kapasitas total paru.
Kapasitas Inspirasi : merupakan jumlah udara yang dapat dihirup
oleh seseorang mulai pada tingkat normal dan mengembangkan paru-
parunya sampai jumlah maksimum.
Kapasitas Fungsional : merupakan jumlah udara yang tersisa
didalam paru-paru pada akhir ekspirasi normal ±2300 ml.
Kapasitas Vital : merupakan jumlah udara maksimum yang dapat
dikeluarkan dari paru-paru setelah mengisi sampai batas maksimum
dan kemudian mengeluarkan sebanyak-banyaknya ±4600 ml.
Kapasitas Total Paru : volume maksimum pengembangn paru-paru
dengan usaha inspirasi yang sebesar-besarnya ±5800 ml
2.5 Pengaruh Anastesi Pada Respirasi

Efek penekanan dari obat anastesi dan pelumpuh otot lurik terhadap
respirasi telah dikenal sejak dahulu ketika kedalaman, karakter dan
kecepatan respirasi dikenal sebagai tanda klinis yang bermanfaat
terhadap kedalaman anastesia.
Zat-zat anestik intravena dan abar (volatil) serta opioid semuanya
menekan pernapasan dan menurunkan respon terhadap CO2. Respon
ini tidak seragam, opioid mengurangi laju pernapasan, zat abar
trikloretilen meningkatkan laju pernapasan.
Hiperkapnia atau hiperkarbia (PaCO2 dalam darah arteri meningkat)
merangsang kemoreseptor di badan aorta dan karotis dan diteruskan
ke pusat napas, terjadilah napas dalam dan cepat (hiperventilasi).
Sebaliknya hipokapnia atau hipokarbia menghambat kemoreseptor
di badan aorta dan karotis dan diteruskan ke pusat napas ,terjadilah
napas dangkal dan lambat (hipoventilasi).
Induksi anastesia akan menurunkan kapasitas sisa fungsional
(fungsional residual volume), mungkin karena pergeseran
diagfragma keatas, apalagi setelah pemberian pelumpuh otot.
Mengigil pasca anastesia akan meningkatkan konsumsi O2.
Pada perokok berat mukosa jalan napas mudah terangsang, produksi
lender meningkat, darahnya mengandung HbCO kira-kira 10% dan
kemampuan Hb mengikat O2 menurun sampai 25%. Nikotin akan
menyebabkan takikardia dan hipertensi.
TERIMAKASIH
WASSALAM