Anda di halaman 1dari 17

Absorpsi

M
A
T
E
Pharmacokinetic M distribusi obat
A
T
I
C
eliminas

 Tubuh dianggap sbg kompartemen tunggal atau


beberapa kompartemen saling berhubungan dari
volume obat yang mengandung konsentrasi tertentu
dimana obat yang masuk dan keluar dari
kompartemen dinyatakan sebagai laju ketetapan.
 Model Satu-kompartemen
 konsentrasi plasma (Cp)
setiap waktu sebanding dgn
V jumlah obat dijaringan.
Kab Kel Dengan demikian :
Diagram skematik pada tubuh model satu kompartemen
Cp = KCp (1)
 Kab Laju ketetapan absorpsi d
dt
 Hubungan integrasi dengan
 Kel Laju ketetapan eliminasi
waktu
Cp= Cp0 exp (Kt) (2)
 Cp0 adalah kadar obat pada
mula-mula
 Sebagian besar proses kinetik terjadi pada
kinetika periode pertama dimana laju obat
yang memasuki atau meninggalkan
kompartemen sebanding dengan konsentrasi di
dalamnya
 konsentrasi plasma warfarin terhadap
waktu lebih dari 100 jam setelah
pemberian dosis tunggal 35 mg.
Sumbu vertikal merupakan logaritmik,
dengan demikian mengubah
exponensial kemiringan peluruhan
terlihat skala aritmatika menjadi garis
lurus: kemiringan garis ini
memberikan ketetapan laju eliminasi
(Kel). Waktu paruh obat dalam plasma
adalah waktu yang dibutuhkan untuk
setiap konsentrasi turun 50 persen.
 waktu paruh plasma warfarin  kemiringan peluruhan
(yaitu waktu yang dibutuhkan warfarin dalam plasma
untuk Cp menurun 50 persen): diekstrapolasi kembali ke
waktu nol, konsentrasi
Cp = C2p0 plasma pada waktu nol
adalah 4 µg/ml. Waktu
Atau Cp0 = Cp0 exp (-Kt1/2) paruh eliminasi plasma
warfarin tepat 50 jam.
Jadi t1/2 = 0,693/K (3)
 Volume distribusi dari  Model Kompartemen 2
warfarin menggunakan Jika konsentrasi plasma
sistem model kompartemen obat dibanding waktu
satu dihitung dengan adalah searah, hasilnya
membagi dosis (35mg atau mungkin tidak linear seperti
35.000µg) dengan nilai Cp pada gambar diatas, tetapi
(4 µg / ml). Hasilnya adalah dapat menghasilkan dua
8750 ml atau 8,75 L bagian linear seperti pada
gambar berikut
 menunjukkan penurunan
plasma ethinyloestradiol
setelah pemberian oral.
 fase pertama dapat secara
luas obat terdistribusi ke
dalam jaringan
 fase kedua mewakili
eliminasi dari tubuh
 Tubuh terdiri dari dua
kompartemen,
kompartemen pusat dan
perifer saling terhubung
seperti yang ditunjukkan V1 V2
Kab
pada Gambar berikut

Kel
 Jumlah volume pada jaringan
 sebuah ketetapan proporsionalitas yang menjelaskan
gambaran jumlah obat dalam tubuh relatif terhadap yang
ada dalam plasma pada setiap waktu.
 Dengan demikian jumlah total obat dalam tubuh sama
dengan volume distribusi yang dikalikan dengan
konsentrasi plasma.

Volume Distribusi
 obat-obatan (seperti warfarin) yang memiliki volume
distribusi rendah cenderung berada di dalam plasma,
berdasarkan afinitas tinggi terhadap plasma
 Obat-obatan antidepresan seperti trisiklik memiliki
volume distribusi yang besar konsentrasi dalam
jaringan tinggi yang relevan dengan plasma.
Drug Vd L/kg
Furosemid 0.1
 Obat dengan volume distribusi
Warfarin 0.1 rendah yang ada dalam plasma
Phenilbutazon 0.1 dapat didialisis lebih mudah daripada
Aspirin 0.15 obat dengan volume distribusi tinggi
Sulphofurozole 0.2 yang terutama terletak di jaringan.
Nalidixic acid 0.3
 aspirin (volume distribusi 0.15 L/
Penicillin G 0.3
Diphenylhydantoin 0.6
kg) dapat dialisis ulang tetapi
Diazepam 0.7
nortriptyline (volume distribusi 20 l /
Indomethacin 0.9 kg) mungkin tidak.
Lignocaine 1.3
Proicainamide 2.0
Digoxin 6.0
Propranolol 15.0
Nortriptyline 20.0
 Pendekatan yang lebih Kliren Plasma Obat
umum adalah  Klirens didefinisikan sebagai
volume cairan biologis yang
VD = Dose / (AUC x Kel) (4) sepenuhnya dibersihkan
dari obat setiap waktu.
 Vd (Volume distribusi) Laju eliminasi
 Kel (ketetapan eliminasi)  CL= konsentrasi (5)
 AUC (Area Under Curve)  Dimana laju eliminasi
adalah kecepatan obat saat
dikeluarkan dari tubuh dan
konsentrasi obat dalam
cairan biologis yang
menentukan klirens
 Pernyataan diatas dapat  Jika disposisi suatu obat
diaplikasikan ke seluruh dapat digambarkan oleh
tubuh, pembersihan ginjal, model satu kompartemen,
atau hati. Jika hati adalah klirens (CL) dapat
satu-satunya organ didefinisikan sebagai:
eliminasi obat maka klirens  CL = VD x Kel (6)
sistemik dan hati adalah
sama. Dari pers. (4) untuk
menghitung klirens obat:

CL = Dose/AUC
 jumlah obat yang mencapai  jika obat yang sama
sirkulasi sistemik terlepas diberikana secara i.v dan
dari rute pemberian disebut oral, dalam dosis yang sama
bioavaibiltas pada individu yang sama,
 bioavaibilitas suatu obat rasio bioavailabilitasnya
setelah pemberian i.v adalah:
adalah 100 persen.
AUC setelah dosis oral
AUC setelah dosis i.v

Bioavaibilitas
 Dari data menunjukkan untuk
etinilestradiol memiliki
bioavaibilitas yang rendah, rata-
rata hanya 40% dari obat yang
mencapai sirkulasi sistemik.
 Data lain menunjukkan
etinilestradiol diserap dari saluran
pencernaan, tetapi dimetabolisme
secara ekstensif di dinding usus
dan hati.
 Kerusakan metabolisme pada
dinding usus dan hati disebut first
pass effect
 Sebagian besar bahan terapi tidak diberikan dalam dosis
tunggal tetapi secara teratur.
 Suatu obat memiliki waktu paruh plasma 36 jam,
terlepas dari rute eliminasi, dan diberikan dua kali sehari,
obat akan menumpuk.
 Namun, jika eliminasi obat mengikuti kinetika orde
pertama, karena konsentrasi dalam plasma meningkat,
maka jumlah yang dihilangkan per unit waktu akan
meningkat juga.

Steady-State Plasma Consentration (CSS)