Anda di halaman 1dari 22

Askep Komplikasi

Persalinan
Erika, M.kep, Sp.Mat, PhD
Prematuritas
• Prematuritas adalah kelahiran yang berlangsung pada umur
kehamilan 20 minggu hingga 37 minggu dihitung dari hari
pertama haid terakhir.

• Terdapat 3 subkategori usia kelahiran prematur berdasarkan


World Health Organization (WHO), yaitu:
• 1) Extremely preterm (< 28 minggu)
• 2) Very preterm (28 hingga < 32 minggu)
• 3) Moderate to late preterm (32 hingga < 37 minggu).
Patofisiologi
• penyebab persalinan prematur dapat dikelompokan dalam 4
golongan yaitu :
1) Aktivasi prematur dari pencetus terjadinya persalinan
2) Inflamasi/infeksi
3) Perdarahan plasenta
4) Peregangan yang berlebihan pada uterus
• Mekanisme pertama ditandai dengan stres dan anxietas yang biasa
terjadi pada primipara muda yang mempunyai predisposisi genetik.
Adanya stres fisik maupun psikologi menyebabkan aktivasi
prematur dari aksis Hypothalamus-Pituitary-Adrenal (HPA) ibu dan
menyebabkan terjadinya persalinan prematur
• Mekanisme kedua adalah decidua-chorio-amnionitis, yaitu infeksi
bakteri yang menyebar ke uterus dan cairan amnion. Keadaan ini
merupakan penyebab potensial terjadinya persalinan prematur
• Mekanisme ketiga yaitu mekanisme yang berhubungan dengan
perdarahan plasenta dengan ditemukannya peningkatan
hemosistein yang akan mengakibatkan kontraksi miometrium.
• Mekanisme keempat adalah peregangan berlebihan dari uterus
yang bisa disebabkan oleh kehamilan kembar, polyhydramnion atau
distensi berlebih yang disebabkan oleh kelainan uterus atau proses
operasi pada serviks
Tanda dan Gejala Bayi Prematur
• Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu.
• Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram.
• Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm.
• Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm.
• Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm.
• Rambut lanugo masih banyak.
• Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang.
• Tulang rawan daun telinga belum sempuna pertumbuhannya.
• Tumit mengkilap, telapak kaki halus.
• Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh
labia mayora dan klitoris menonjol (pada bayi perempuan).
Testis belum turun ke dalam skrotum, pigmentasi dan rugue
pada skrotum kurang (pada bayi laki-laki).
• Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan
pergerakannya lemah.
• Fungsi saraf yang belum atau tidak efektif dan tangisnya
lemah.
• Jaringan kelenjar mamae masih kurang akibat pertumbuhan
otot dan jaringan lemak masih kurang.
• Vernix caseosa tidak ada atau sedikit bila ada
Masalah yang Terjadi pada Bayi
Prematur
• Gangguan metabolik Hipotermia, hipoglikemia,
hiperglikemia
• Gangguan imunitas Gangguan imonologik, Kejang saat
dilahirkan, ikterus,
• Gangguan pernafasan Sindroma gangguan pernapasan,
Asfiksia, henti nafas
• Paru-paru belum berkembang
• Gangguan sistem peredaran darah Masalah perdarahan,
anemia, gangguan jantung
• Gangguan pada otak
• Ikterus
• Kejang
• Gangguan cairan dan elektrolit
Diagnosa keperawatan
• Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan imaturitas otot-
otot pernafasan dan penurunan ekspansi paru.
• Ketidakadekuatan pemberian ASI berhubungan dengan
prematuritas.
• Disfungsi motalitas gastrointestinal berhubungan dengan
ketidakadekuatan aktivitas peristaltik di dalam sistem
gastrointestinal.
• Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakmampuan menerima nutrisi.
• Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh berhubungan dengan
penurunan jaringan lemak subkutan.
• Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan imunologis tidak
adekuat.
• Ikterus neonatus berhubungan dengan bilirubin tak terkonjugasi
dalam sirkulasi.
KPD
• Ketuban pecah ini adalah keluarnya cairan dari jalan lahir/vagina
sebelum proses persalinan.

• Etiologi
1. ketuban yang abnormal
2. infeksi vagina / serviks
3. kehamilan ganda
4. polihidramnion
5. trauma
6. distensi uteri
7. serviks yang pendek
8. prosedur medis
TANDA DAN GEJALA
• kencang-kencang (nyeri ringan dibagian bawah)
• keluarnya cairan ketuban dari vagina
• dapat disertai demam bila sudah ada infeksi
• tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan
air ketuban sudah kering
• Berbau anyir
• Warna cairan putih agak keruh seperti santan encer
Patofisiologi
• Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan
oleh kontraksi uterus dan peregangan berulang. Selaput
ketubn pecah karena pada daerah tertentu terjadi perubahan
biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh
bukan karena luruh ketuban rapuh.
Komplikasi
• Komplikasi yang paling sering terjadi pada ketuban pecah dini
sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress
pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir.
• Resiko infeksi meningkat pada kejadian ketuban pecah dini.
Semua ibu hamil dengan ketuban pecah dini prematur
sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya
korioamnionitis (radang pada korion dan amnion).
Diagnosa Keperawatan
• Resiko infeksi (korioamnionitis) behubungan dengan pecahnya
selaput ketuban
• Resiko gawat janin b.d berkurangnya air ketuban
• Gangguan Rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya
kontraksi/His
• Cemas (ansietas) berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang KPD
Intrauterine Fetal Death
(IUFD)
• Intrauterine fetal death (IUFD) merupakan kondisi kematian
janin sebelum dilahirkan atau kematian janin saat proses
persalinan.
• IUFD merupakan istilah yang digunakan untuk
menggambarkan kematian janin dalam rahim setelah usia
kehamilan 20 minggu atau lebih. Secara medis, IUFD kadang
disebut juga dengan istilah stillbirth.
• istilah abortus digunakan untuk kematian janin pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu.
• Berdasarkan waktunya, IUFD dibagi menjadi tiga, yaitu:

• Early IUFD, yaitu kematian janin yang terjadi pada usia


kehamilan 20–27 minggu.
• Late IUFD, yaitu kematian janin yang terjadi pada usia
kehamilan 28–36 minggu.
• Aterm IUFD, yaitu kematian janin yang terjadi pada usia
kehamilan 37 minggu atau lebih.
Penyebab Intrauterine Fetal Death (IUFD)
• Gangguan pada bayi, seperti gangguan genetik dan kecacatan
akibat gangguan kromosom atau infeksi.
• Gangguan pada plasenta atau tali pusat, seperti terpuntirnya
tali pusat dan solusio plasenta (plasenta terlepas dari tempat
perlekatannya).
• Masalah kesehatan pada ibu, seperti diabetes yang tak
terkontrol, hipertensi, obesitas, sindrom antifosfolipid, atau
penyakit autoimun.
Kejadian IUFD lebih rentan dialami oleh ibu dengan kondisi
kehamilan sebagai berikut:

• Hamil pada usia kurang dari 20 tahun atau di atas 35 tahun


• Merokok atau terpapar asap rokok selama kehamilan
• Hamil kembar
• Memiliki riwayat keguguran atau IUFD sebelumnya
• Hamil di luar nikah
Persalinan postterm
• WHO mendefinisikan kehamilan lewat waktu sebagai
kehamilan usia ≥ 42 minggu penuh (294 hari) terhitung sejak
hari pertama haid terakhir
Faktor resiko dari kehamilan post term
1. Primiparitas
2. Riwayat kehamilan post term sebelumnya
3. Anensephali janin
4. Jenis kelamin bayi adalah laki-laki
5. Predisposisi genetik
Diagnosis
• USG di trimester pertama untuk menentukan usia kehamilan
• Jika tidak ada USG, maka lakukan anamnesis yang baik untuk
menentukan hari pertama haid terakhir
• Pada beberapa penelitian, penentuan usia kehamilan dengan
tanggal
• HPHT tidak akurat
• Penentuan dengan USG menunjukan proporsi usia kehamilan
yang lebih rendah dengan USG dibandingkan dengan HPHT
• Semakin dini dilakukan pemeriksaan USG (12 minggu atau
kurang) makin rendah insidensi kehamilan post term
Penatalaksanaan
• Berdasarkan ACOG, jika dalam 41 minggu tanpa komplikasi
pantau kesejahteraan janin 42 minggu diperiksa apakah ada
komplikasi atau tidak
• Jika ada (ganggunan janin dan oligohidramnion) induksi
• Jika tidak ada, pantau kesejahteraan janin dan induksi
(terutama dengan pematangan serviks)
PROSES KEPERAWATAN
• Pengkajian
• Diagnosa keperawatan
• Resiko gangguan pertukaran gas
• Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan b.d penurunan
pasokan nutrisi dan terhentinya pertumbuhan janin
• Gangguan termoregulasi: hipotermi b.d suhu tubuh tidak
stabil karena hilangnya lemak sub kutan
• Resiko tinggi cedera pada janin b.d distress janin