Anda di halaman 1dari 22

TITRASI IODOMETRI

TITRASI IODIMETRI
PRINSIP REAKSI : I2 + 2 e === 2 I –
(reversibel)

 Senyawa yang mempunyai potensial oksidasi < sistem Iod


– Iodida, berarti dapat dioksidasi oleh I2  dapat dititrasi
dengan larutan baku I2 (Iod)  IODIMETRI
SO3= + I2 + H2O === SO4= + 2 I– + 2 H+
S= + I2 === S + 2 I–
2 S2O3= + I2 === S4O6= + 2 I–

 Senyawa yang mempunyai potensial oksidasi > sistem Iod


– Iodida, berarti dapat mengoksidasi I–  I2 yg dapat
dititrasi dengan larutan baku Tiosulfat (S2O3=) 
IODOMETRI
BrO3– + 6 I– + 6 H+ === Br– + 3 I2 + 3 H2O
2 MnO4– + 10 I– + 16 H+ === 2 Mn2+ + 5 I2 + 8
H 2O
 I2 yang dibebaskan dititrasi dg larutan baku
TIOSULFAT (S2O3=)
POTENSIAL OKSIDASI (redoks) : I2 / I– (Iod-Iodida)
tidak dipengaruhi pH ( < 8 )
pH > 10 : I2  IO–  IO3–

 Reaksi : I2 + 2 OH– === IO– + I– + H2O


 3 IO– === 2 I– + IO3–

 Senyawa yang tak bersifat mereduksi atau mengoksidasi sistem Iod-Iodida


: tak berpengaruh thd sistem

 Kromat : tak bereaksi dg Iodida dlm suasana netral,


 dlm asam  Cr3+

 dg mengatur pH : Cr3+ dapat dioksidasi oleh I2  Titrasi


Iodimetri.
As2O3 + 2 I2 + 5 H2O === 2 H3AsO4 + 4 I– + 4 H+
reaksi reversibel,
pH 4 – 9 : As2O3 dapat dititrasi dengan larutan baku I2

• pH asam kuat medium : H3AsO4 + I–  I2


dan I2 yang dihasilkan dapat dititrasi dengan Na2S2O3 
reaksi diatas bergeser sepenuhnya KEKIRI.

Contoh lain : 2 Fe3+ + 2 I– === 2 Fe2+ + I2


 bila + Flourida / asam Fosfat / Pyrofosfat : komplek-Feri yang tak
bersifat oksidasi thd I–

2 Cu2+ + 4 I– === 2 CuI (endapan) + I2


 bila + Tartrat / Sitrat : komplek-cupri, tak bereaksi dg I–
 CATATAN :
Reaksi kesetimbangan pada Titrasi Iodometri dapat dioptimalkan
dengan cara :

 Menaikkan konsentrasi H+
 Menaikan konsentrasi I–
 Titrasi perlahan dg TIOsulfat dimana I2 dihilangkan
 Penambahan katalisator yang sesuai
 Menghilangkan I2 dengan pelarut Organik (CHCl3 atau CCl4) secara
destilasi
SUMBER KESALAHAN :  oksidasi oleh udara
 menguapnya I2

• suasana asam lemah : 4 I– + 4 H+ + O2 === 2 I2 + 2 H2O


 suasana netral : reaksi lambat
 [H+] bertambah : reaksi semakin dipercepat dg adanya sinar
matahari langsung
 Cu+ (cupro ion) : oleh udara dioksidasi  Cu2+ + I–  I2
 Nitrit : 2 NO2– + 2 I– + 2 H+ === 2 NO + I2 + 2 H2O
NO dg Oxygen udara + I–  I2
reaksi ini berlangsung seperti siklus  endpoint juga
menjadi tak jelas
 Mencegah menguapnya I2 dapat + KI === I3–
- titrasi pada suhu < 25o C  penguapan I2 selama titrasi berlangsung
dpt diabaikan dalam suasana KI 4%
PENETAPAN ENDPOINT dg IND. LAR. AMILUM
1 tetes 0.1N lar I2 dalam 100 ml air  kuning pucat
1 tetes 0.1N lar I2 + 0.2% lar amilum / 100 ml air  biru

potato corn
 STARCH / AMILUM : - amilosa 20 % –
- amilopektin 80 % 100 %
 Garam Na-glikolat sbg pengganti amilum

Reaksi : I2 / I– + amilosa  deep blue


+ amilopektin  weak violet

 Potato starch : lebih baik untuk indikator Iodo-/Iodimetri

 Kepekaan : (1 – 2) x 10– 5 N I2 / 0.001N I– pada suhu kamar


tanpa adanya I– : kepekaan berkurang
 Kepekaan berkurang :
 Suhu : pada 50o C kepekaan 10 x kurangnya dari 25o C
 senyawa organik : etil dan metil alkohol
suasana alkohol 50 %  tak ada warna biru
< 5 % : tak berpengaruh
 larutan amilum tak segar : warna violet atau kemerahan
warna merah Iod-amilum + tiosulfat  bereaksi lambat
 pengawet larutan amilum 0.2% : 10 mg HgI2 / liter

 Penggunaan larutan indikator amilum : 5 ml 0.2% / 100 ml larutan

 Indikator lain : CCl4 / CHCl3 : 10 ml / 50 ml larutan 4 x 10– 5N I2


REAKSI : TIOSULFAT + IOD
2 S2O3= + I2 === S4O6= + 2 I–

 Brom, Hipoklorit + S2O3=  SO4= (kuantitatif)

 KMnO4, K2Cr2O7, Ce(SO4)2 : + S2O3=  SO4= (tak kuantitatif)

 I2 / Na2CO3 : S2O3= + 4 I2 + 10 OH– === 2SO4= + 8 I– + 5 H2O

 EKIVALENSI :
 Suasana normal (netral/asam lemah) : 1 mol S2O3= = 1 grek I2
 Suasana abnormal (alkali) : 1 mol S2O3= = 8 grek I2

 Suasan reaksi sangat berpengaruh : S2O3 =  S4O6=


atau
 SO4=
dimana menghasilkan ekivalensi : BERBEDA .
PENGARUH SUASANA TERHADAP REAKSI :
I2 dg S2O3=

• 25.0 ml 0.1N I2 + 0.5 g NaHCO3 memerlukan


24.00 ml 0.1N S2O3= utk sampai endpoint.

• 25.0 ml 0.1N I2 + 1.0 g NaHCO3 memerlukan


22.50 ml 0.1N S2O3= utk sampai endpoint.

•  netralisasi dengan : (NH4)2CO3,


• (berlebih) Na2HPO4
• Boraks
 dapat menyebabkan kesalahan

 Titrasi terhadap larutan:


0.1N I2 – pH < 7.6 Reaksi : I2 dg S2O3=  S4O6=
0.01N I2 – pH < 6.5 secara kuantitatif
0.001N I2 – pH < 5.0
PENGARUH NETRALISASI PADA TITRASI IODOMETRI
+ larutan dapar tertentu dan pada endpoint pH tidak
boleh terlalu tinggi
(basa)

- Larutan I2 suasana asam relatif kuat masih dapat


dititrasi langsung dg memperhatikan pengaruh
udara dan pengocokan

- Pada titrasi dlm suasana alkali lemah 


digunakan baku As2O3

- Pada titrasi yg harus penetralan + Na/KHCO3 :


keluarnya CO2 dpt memperkuat penguapan I2 
dipilih larutan dapar : Boraks atau

Na2HPO4

- Reaksi pada pH 8 :
H3AsO4 + H2O === H2AsO4– + H3O+ pKa1 =
2.25
H2AsO4– + H2O === HAsO4= + H3O+ pKa2 =
6.77
HAsO4= + H2O === AsO4 3 – + H3O+ pKa3 =
11.53
• As2O3 + 2 I2 + 5 H2O === 2 HAsO4= + 4 I– + 8
H+
• Dengan penurunan pH : HAsO4= + H+ ===
H2AsO4–
H2AsO4– + H+ ===
H3AsO4
• K pd suhu kamar (Washburn & Roebuck) :
{[H3AsO4] x [H+]2 x [I–]2} / {[H3AsO3] x [I2]} = 5.5 x
10– 2

•  titrasi As2O3 dengan larutan baku I2 : pH = 4 – 9


• pH 5 – 9 : kesalahan 0.1 %
• pH < 5 : reaksi berlangsung lambat

 Titrasi I2 dengan baku As2O3 : pH tak boleh > 9 :


I2 bereaksi dg OH–  IO3 –
PREPARASI LARUTAN : 0.1N Na2S2O3
25 g Na2S2O3. 5H2O + 0.1 g Na2CO3 + aquades segar
ad 1 liter
didiamkan semalam sebelum digunakan, kalau perlu
disaring dulu.

PREPARASI LARUTAN : 0.1N I2


12.7 g I2 + 40 g KI (bebas Iodat) + 25 ml air, dalam
beaker glass – aduk sampai I2 semua larut , baru
diadkan sampai 1 liter.
(disimpan dalam glass-stoppered bottle, ditempat
dingin).

PREPARASI LARUTAN : 0.1N As2O3


2.4725 g As2O3 (p.a.) + 20 ml 1N NaOH, sampai
larut + H2SO4 atau HCl 1N sampai netral atau
sedikit asam terhadap kertas litmus, + air ad 500.0
ml (volumetric flask)
PEMBAKUAN DENGAN KIO3 :
IO3– + 5 I– + 6 H+ === 3 I2 + 3 H2O

• PROSEDUR :
0.14 – 0.15 g KIO3 + 25 ml air + 2 g KI (bebas Iodat) +
10 ml H2SO4 / HCl 1N – dititrasi dg larutan TIOSULFAT
sampai larutan kuning muda + indikator larutan amilum –
titrasi dilanjutkan sampai warna biru tepat hilang.

Catatan :
1. Untuk memperkecil kesalahan dari penimbangan  dibuat
larutan
100 ml 0.1N KIO3, kemudian dipipet mis. 10.0 ml dan dititrasi
seperti diatas.
2. Dengan KBrO3 : BrO3– + 6 I– + 6 H+ === 3 I2 + Br– + 5 H2O
reaksi lebih lambat dan keasaman perlu lebih tinggi, 5 ml HCl
4N atau 10 ml H2SO4 4N utk 25 ml larutan iodida-bromat, +
amonium molibdat 3% bbrp tetes (katalisator).
PEMBAKUAN LARUTAN 0.1N I2 dg As2O3 :
As2O3 + 3 I2 + 5 H2O === 2 HAsO4= + 4 I– + 8
H+

PROSEDUR :
0.2 g As2O3 (p.a.) + 10 ml NaOH 1N + 15 ml H2SO4
1N (berlebih) + 2 g NaHCO3 / 50 ml air – dititrasi
dengan larutan I2 dengan indikator larutan amilum
 warna blue tinge.

Catatan :
- As2O3 : racun keras !!!
- memperkecil kesalahan dari penimbangan As2O3
kalau dititrasi
langsung  dibuat dulu larutan baku As2O3 
dipipet.
PENGGUNAAN TITRASI IODOMETRI
atau
IODIMETRI :

PENETAPAN KLOR DLM BLEACHING POWDER :

Reaksi : CaCl(OCl) + 2 H+  Ca2+ + Cl2 + H2O


atau
CaCl(OCl) + 2 I– + 2 H+  Cl– + I2 + H2O

Peruraian dlm penyimpanan :  klorit : ClO2 –


ClO2– + 4 I– + 4 H+  2 I2 + Cl – + 2 H2O

Prosedur:
5 g sampel + gerus dimortir dg air  suspensi homogen – dipindahkan
ke labu ukur 500 ml + air sampai garis tanda.
Dipipet 50.0 ml + 2 g KI + 15 ml H2SO4 4N – dititrasi dengan larutan
baku Na2S2O3 dan indikator larutan amilum sampai warna biru tepat
hilang.
PENETAPAN IODIDA :
5 g sampel + 100 ml air + H2SO4 2N sampai metil
orange  kuning, + 2 ml H2SO4 2N lagi (berlebih) + gas Br2
secara perlahan, gas Br2 dihilangkan, baru + 0.2 g KI + ind
amilum – titrasi dg baku 0.005N Tiosulfat

PENETAPAN H2O2 :
dipipet sampel 25.0 ml H2O2 yang telah diencerkan +
10 ml H2SO4 4N + 1 g KI + 3 tts larutan amonium
molibdat netral 3% - dititrasi dg larutan baku Tiosulfat
dan indikator lar. Amilum

PENETAPAN Cu2+ : 2 Cu2+ + 4 I– === 2 CuI (end.) + I2

PENETAPAN Fe3+ : 2 Fe3+ + 2 I– === 2 Fe2+ + I2

PENETAPAN H2S : H2S + I2 === S (end) + 2 H+ + 2 –


(suasana asam)
PENETAPAN Na2S : S= + 4 I2 + 8 OH– === SO4= + 8 I– + 4
H2 O
PENETAPAN VIT. C :
C6H8O6 + I2  2 HI + C6H6O6

• PROSEDUR FARMAKOPE INDONESIA IV:


• Timbang saksama lebih kurang 400 mg – dilarutkan dalam
100 ml air + 25 ml H2SO4 2N + 3 ml larutan kanji LP – dititrasi
dengan larutan baku
I2 0.1N LP, sampai larutan tepat biru.

( 1 ml I2 0.1N setara dengan 8.806 mg C6H8O6 : Vit.C )

PROSEDUR FARMAKOPE RUSIA IX :


- Ditimbang saksama 0.5 g – air ad 50 ml dalam labu ukur.
- Dipipet 10.0 ml + 2 ml larutan amilum 0.5% + 1 ml HCl 2% -
dititrasi dengan larutan baku KIO3 0.1N – sampai larutan
tepat biru

( 1 ml KIO3 0.1N setara dengan 0.008806 g Asam Askorbat =


Vit. C )
CONTOH SOAL (1) : 25.0 ml lar. sampel Pb2+ + K2CrO4
 endapan disaring – dicuci – dilarutkan dlm H+  lar.
+ I–  I2 dititrasi dengan lararutan baku tiosulfat :
31.50 ml 0.1010N dan ind. lar. amilum

1). Reaksi : Pb2+ + CrO4=  PbCrO4 (endapan)


2 PbCrO4 + 2 H+  2 Pb2+ + Cr2O7= + H2O
Cr2O7= + 16 H+ + I– === 2Cr3+ + 3 I2 + 7 H2O
I2 + 2 S2O3= === S4O6= + 2 I–

2). Menghitung I2 yg dibebaskan/dihasilkan dari reaksi


Cr2O7= hasil melarutkan endapan PbCrO4 :
Vol. I2 x N I2 = Vol. S2O3= x N S2O3=
mgrek I2 = 31.50 x 0.1010 = 3.1815
I2 = (3.1815/2) mgrl  Cr2O7= = (3.1815/2) / 3 mgrl
 Pb2+ (PbCrO4) = 2 x (3.1815/2) / (3) mgrl
= {2 x (3.1815/2) / (3)} / 25 =
0.0424M .
CONTOH SOAL (2) : 25.0 ml sampel KI + HCl encer +
10.00 ml KIO3 0.0500M (berlebih) – gas I2 yg terjadi
diuapkan – setelah dingin + KI dan I2 yg terjadi
dititrasi dg baku : 21.14 ml 0.1008N Na2S2O3

REAKSI : 5 I– + 6 H+ + IO3– === 3 I2 + 3 H2O


I2 + 2 S2O3= === 2 I– + S4O6=

1) Menghitung I2 yg dihasilkan dari reaksi sisa KIO3 + KI +


asam :
= 21.14 ml x 0.1008N = (21.14 x 0.1008) mgrek
= (21.14 x 0.1008) / 2 mgrl = 1.0655 mgrl
 Sisa KIO3 = (1/3) x mgrl I2 = (1/3) x 1.0655 = 0.3552 mgrl
2) KIO3 awal = 10.00 x 0.0500 = 0.5000 mgrl
3) KIO3 yg bereakksi dg sampel KI = (0.5000 – 0.3552)
= 0.1448 mgrl
4) KI sampel = 5 x 0.1448 mgrl = (5 x 0.1448) / 25 =
0.02896 M.
CONTOH SOAL (3) : 200.0 mg Na2C2O4 + H+ + 31.00 ml
KMnO4.
25.0 ml KMnO4 (diatas) dititrasi secara Iodometri
suasana asam  berapa ml Na2S2O3 0.1000N yg
diperlukan ?
REAKSI: 5 C2O4= + 2 MnO4–+16 H+ === 10 CO2 + 2 Mn2+ + 8
H2 O
2 MnO4– + 10 I– + 16 H+ === 2 Mn2+ + 5 I2 + 8
H2 O
I2 + 2 S2O3= === S4O6= + 2 I–

1). Menghitung N dari KMnO4 :


[C2O4=] = 200 / 134 = 1.4925 mgrl = (1.4925 x 2) = 2.9850
mgrek
 N KMnO4 = 2.9850 / 31 = 0.0963

2). 25.0 ml KMnO4 0.0963 N = Vol. Na2S2O3 x 0.1000 N

 Vol. Na2S2O3 = (25 x 0.0963) / (0.1000) = 24.07 ml.