Anda di halaman 1dari 11

Hukum Perlindungan

Konsumen
Nama Kelompok :
 Baharudin Jusuf (1710631010049)
 Cep Ali Puja (1710631010215)
 Erdin Wijaya (1710631010002)
 Muhammad Ali (1710631010133)
 Putra Septiana (1710631010159)
 Rio Ramadhan Hutasuhut (1710631010170)
PENGERTIAN LPKSM

Istilah yang dikenal dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang


Perlindungan Konsumen adalah Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya
Masyarakat.Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) ialah
lembaga non pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh pemerintah yang
mempunyai kegiatan menangani perlindungan konsumen. Menurut Miru, pengertian
ini sesungguhnya mengaburkan makna istilah “swadaya masyarakat” yang selama ini
dikenal independen menjadi berkesan sebagai LSM produk pemerintah dengan
adanya syarat terdaftar dan diakui pemerintah. Hal ini berimplikasi pada tumpulnya
perjuangan LPKSM untuk memberdayakan konsumen dikarenakan adanya bayang-
bayang eksistensi yang setiap saat dapat hilang.
TUJUAN PERLINDUNGAN KONSUMEN

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dari


penjelasan Undang-undang tersebut dalam pasal 3 disebutkan bahwa tujuan Perlindungan
Konsumen antara lain:
• a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi
diri
• b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari
ekses negatif pemakaian barang dan / atau jasa
• c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut
hak-haknya sebagai konsumen
• d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian
hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi
• e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen
sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha
• f. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang, menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan
konsumen.
Secara yuridis Konsumen sudah mendapatkan perlindungan melalui
UU tersebut, akan tetapi tidak sedikit masyarakat yang kurang memahami
akan hak mereka dalam mengkonsumsi suatu barang/jasa. Maka dari itu
dibentuklah suatu badan hukum yang dapat membantu masyarakat sebagai
konsumen apabila suatu ketika mereka dirugikan baik secara materiil maupun
formil setelah mengkonsumsi barang atau mendapatkan pelayanan
jasa.Dalam hal ini, badan hukum tersebut disebut sebagai Lembaga
Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM). Dalam pasal 1 ayat
(9) di jelaskan bahwaLembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat
adalah lembaga non-Pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh Pemerintah
yang mempunyai kegiatan menangani perlindungan konsumen.
TUJUAN LPKSM
Tujuan LPKSM ini ialah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perlindungan konsumen serta
menunjukan bahwa perlindungan konsumen menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Sedangkan tugas dan wewenang dari LPKSM diatur dalam pasal 44:
• Pemerintah mengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat.
• Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam
mewujudkan perlindungan konsumen.
• Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi kegiatan:
• Menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban dan kehati-hatian
konsumen dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.
• Memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya.
• Bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen.
• Membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen.
• Melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap pelaksanaan perlindungan konsumen.
• Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
PENDIRIAN LPKSM

•Untuk menjamin adanya suatu kepastian hukum, keterbukaan dan ketertiban dalam penyelenggaraan perlindungan
konsumen di Indonesia, setiap LPKSM wajib melakukan Pendaftaran pada Pemerintah Kabupaten atau Kota, untuk
memperoleh Tanda Daftar LPKSM (TDLPK) sebagai bukti bahwa LPKSM yang bersangkutan benar-benar bergerak di bidang
Perlindungan Konsumen, sesuai dengan bunyi Anggaran Dasar dan atau Rumah Tangga dari Akta Pendirian LPKSM tersebut.
•Tanda Daftar LPKSM dapat dipergunakan oleh LPKSM yang bersangkutan untuk melakukan kegiatan penyelenggaraan
Perlindungan Konsumen di seluruh Indonesia, dan pendaftaran tersebut dimaksudkan sebagai pencatatan dan bukan
merupakan suatu perizinan.
•LPKSM yang telah didirikan dan melakukan kegiatan dibidang Perlindungan Konsumen, jika belum mendaftarkan dan
memperoleh Tanda Daftar LPKSM dari Pemerintah Kabupaten/Kota setempat, maka LPKSM yang bersangkutan menurut
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen belum memenuhi syarat atau belum diakui untuk
bergerak diperlindungan konsumen.
•Setelah LPKSM yang bersangkutan memperoleh Tanda Daftar LPKSM, maka Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen menjadi landasan hukum bagi LPKSM, untuk menyelenggarakan perlindungan konsumen di
Indonesia, baik melalui kegiatan upaya pemberdayaan konsumen dengan cara pembinaan, pendidikan konsumen maupun
mampu melalui pelaksanaan tugas LPKSM sesuai UU Nomor 8 Tahun 1999, berikut peraturan pelaksanaannya.
PENDIRIAN LPKSM

•Setelah LPKSM mendapatkan izin serta sudah mulai menjalankan kegiatannya, tidak berhenti sampai di sana. Ketentuan ini
masih harus diuji dalam pelaksanaannya, mengingat Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2001 Tentang Lembaga
Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (PP LPKSM), menentukan bahwa:[11]
•1. Pemerintah membatalkan pendaftaran LPKSM apabila LPKSM tersebut:
•a. Tidak lagi menjalankan kegiatan perlindungan konsumen; atau
•b. Terbukti melakukan kegiatan pelanggaran ketentuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen dan Peraturan Pelaksanaannya.
•2. Ketentuan mengenai tata cara pembatalan pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut
dalam Keputusan Menteri.
•LPKSM posisinya amat strategis dalam ikut mewujudkan perlindungan konsumen.Selain menyuarakan kepentingan
konsumen, lembaga ini juga memiliki hak gugat (legal standing) dalam konteks ligitas kepentingan konsumen di
Indonesia.Hak gugat tersebut dapat dilakukan oleh lembaga konsumen (LPKSM) yang telah memenuhi syarat, yaitu bahwa
LPKSM yang dimaksud telah berbentuk Badan Hukum atau Yayasan yang dalam anggaran dasarnya memuat tujuan
perlindungan konsumen.Gugatan oleh lembaga konsumen hanya dapat diajukan ke Badan Peradilan Umum (Pasal 46
Undang-undang Perlindungan Konsumen).
PERAN PENTING LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM
MELINDUNGI KONSUMEN DI INDONESIA

•Di dalam Pasal 31 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dinyatakan bahwa dalam rangka
mengembangkan upaya perlindungan konsumen dibentuk Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
•Berangkat dari ketentuan Pasal ini, dapat diketahui bahwa pemerintah mengakui adanya lembaga perlindungan konsumen
swadaya masyarakat. Lembaga perlindungan yang dibentuk oleh masayarakat ini harus memenuhi syarat yang telah
ditetapkan oleh pemerintah. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) tetap harus didaftarkan dan
mendapat pengakuan dari pemerintah, dengan tugas-tugas yang masih harus diatur dengan Peraturan pemerintah.
•Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam
mewujudkan perlindungan konsumen.Kehadiran LPKSM dalam suatu Negara sangat penting untuk memberikan
perlindungan terhadap konsumen. LPKSM sebagai arus bawah yang kuat dan tersosialisasi secara luas di masyarakat dan
sekaligus secara refresentatif dapat menampung dan memperjuangkan aspirasi konsumen.
•Arus bawah tersebut sebelum diundangkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen diperankan oleh Yayasan Lembaga
Perlindungan Konsumen Indonesia (YLKI). Sebalikya, BPKN sebagai arus atas memiliki kekuasaan yang secara khusus
diberikan undang-undang untuk mengurusi perlindungan konsumen.
PERAN PENTING LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM
MELINDUNGI KONSUMEN DI INDONESIA
• Di dalam Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2001 tentang Lembaga
Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat dikatakan bahwa dalam membantu
konsumen untuk memperjuangkan haknya, LPKSM dapat melakukan advokasi
atau pemberdayaan konsumen agar mampu memperjuangkan haknya secara
mandiri, baik secara perorangan maupun kelompok.
• Dalam PP LPKSM tersebut Tidak dijelaskan secara rinci bagaimana bentuk
advokasi yang dimaksud, apakah dalam bentuk memberikan jasa hukum
sebagaimana halnya advokat di persidangan atau tidak. Namun jika diiakitkan
dengan UU Nomor 18 tahun 2003 tentang Adovakt, dinyatakan bahwa jasa hukum
hanyalah diberikan oleh orang yang memang berprofesi sebagai advokat
sebagaimana yang disebut dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 18 Tahun
2003 tentang Advokat yang berbunyi:
• “Jasa hukum adalah jasa yang diberikan advokat berupa memberikan konsultasi
hukum, bantuan hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela,
dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien.”
PERAN PENTING LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM
MELINDUNGI KONSUMEN DI INDONESIA

• Peran Lembaga Perlindungan Konsumen Dalam hal ini, lembaga yang bergerak di bidang perlindungan konsumen
menjadi sangat penting, dan peran-peran ini diakui oleh pemerintah. Lembaga perlindungan konsumen yang secara
swadaya didirikan masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen.
• Lembaga perlindungan konsumen berperan untuk menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas
hak dan kewajiban dan kehati-hatian konsumen dalam mengkonsumsi barang dan jasa, memberikan nasihat kepada
konsumen yang memerlukannya, serta bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan
konsumen, membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima keluhan atau pengaduan
konsumen, melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap pelaksanaan perlindungan konsumen.
• Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen menyebutkan tiga lembaga yakni Badan
Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) dan Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).Perbedaan di antara ketiganya terletak pada beberapa hal, yakni BPKN dengan
LPKSM sebenarnya sebuah lembaga yang sama namun inisiatif pembentukannya, LPKSM berasal dari arus bawah
(buttomup) sedangkan BPKN inisiatif pembentukannya dari arus atas (top down).
• Arus bawah yakni pembentukan lembaga yang diprakarsai dan lebih banyak dijalankan oleh rakyat biasa, bukan para
pejabat atau petinggi negara. Sehingga pergerakan kegiatannya banyak yang berbentuk menghimpun data dan fakta
untuk selanjutnya diajukan kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti. Sedangkan arus atas lebih banyak dimainkan oleh
para pejabat atau pegawai resmi pemerintahan, selain didirikan oleh pemerintah melalui pejabat yang berwenang.
Pergerakan kegiatannya banyak yang berupa penghasilan barang jadi semisal aturan-aturan atau keputusan-keputusan
yang digulirkan kepada rakyat bawah. Atau lebih gamblangnya bisa kita pinjam istilah Santoso dengan menyebutnya
lembaga plat merah dan lembaga plat hitam.
• Bila kita perhatikan kembali fungsi dan tugasnya, BPKN secara khusus sebagai pelindung konsumen masuk dalam bagian
struktur kekuasaan yang menunjukan semakin besar pengaruh dan power yang dimiliki untuk melindungi konsumen. Dan
dari arus bawah LPKSM sebagai lembaga konsumen yang tersosialisasi secara luas di masyarakat dan sekaligus secara
representatif dapat menampung dan memperjuangkan aspirasi konsumen.
TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai