Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.

A DENGAN
KELOMPOK 11 PRAKTEK
BRONKOPNEUMONIA DI RUANG MELATI RSUD KLINIK KEPERAWATAN ANAK
TUGUREJO SEMARANG UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SEMARANG
1. DEFINISI BRONKOPNEUMONIA
Bronkopeneumonia adalah salah satu jenis
pneumonia yang mempunyai pola penyebaran
bercak, teratur dalam satu atau lebih area
terokalisasi didalam bronki dan meluas ke
parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. (
Smeltzer & Suzanne L, 2002 : 57 )
Bronkopneumonia berasal dari kata bronkus dan
pneumonia yang berarti peradangan pada
jaringan paru-paru dan juga cabang tenggrorokan
/ bronkus ( Arief Mansjoer )
2. ETIOLOGI
Secara umum orang yang terserang bronkopneumonia
diakibatkan oleh adanya penurunan mekanisme
pertahanan tubuh terhadap virulensi organism pathogen.
Timbulnya bronkopneumonia disebabkan virus, bakteri,
jamur, protozoa, mikroplasma, dan riketsia ( Sandra M.
Nettina, 2001 : 628 ) antara lain :
a. Bakteria : Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenza,
klebsiella
b. Virus : Legronella pneumonia
c. Jamur : A spergillus spesies, Candida Albicans
d. Aspirasi makanan, sekresi orofariengal atau isi lambung
kedalam paru.
e. Terjadi karena kongesti paru yang lama
3. KLASIFIKASI
Klasifikasi pneumonia berdasarkan anatomi menurut pendapat Ngatiyah (
2005 ) ada 3 yaitu :
a. Pneumonia Lobaris
Biasanya gejala penyakit secara mendadak, tapi kadang didahului
oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas.
b. Pneumonia Lobularis ( bronchopneumonia )
Biasanya didahului oleh infeksi respiratoris bagian atau selama
beberapa hari suhu tubuh 39 – 40 c dan kadang disertai kejang demam yang
tinggi. Kadang disertai muntah dan diare. Anak tampak gelisah, dispneu,
pernapasan cepat disertai pernapasan cuping hidung serta sianosis sekitar
hidung & mulut.
c. Pneumonia Interstial ( broncholus )
Terjadi pada jaringan interstial. Pada jaringan ini ditemukan infiltrate
sel sedang , terdapat edema, dan akumulasi mucus serta eksudat maka dapat
terjadi obstruksi parsial / total pada bronciolus.
4. PATOFISIOLOGI
Proses terjadinya bronkopneumonia dimulai dari berhasilnya kuman pathogen masuk
ke mucus jalan napas. Kuman tersebut berkembang biak di saluran napas / sampai
di paru – paru. Bila mekanisme pertahanan seperti sistem transport mukosilia tidak
adekuat maka kuman berkembang biak secara cepat sehingga terjadi peradangan
disekitar nafas atas , sebagai respon peradangan akan terjadi hipersekresi mucus &
merangsang batuk. Mikroorganisme berpindah karena adanya gaya tarik bumi dan
alveoli menebal. Pengisian cairan alveoli akan melindungi mikroorganisme dari
fagosif dan membantu penyebaran organism ke alveoli lain. Keadaan ini
menyebabkan infeksi meluas, aliran darah diparu sebagian meningkat yang diikuti
peradangan vascular dan penurunan darah kapiler ( Price & Wilson, 2005 ).
ASUHAN KEPERWATAN PADA AN.A DENGAN
BRONKOPNEUMONIA DI RUANG MELATI RSUD TUGUREJO
SEMARANG
A. PENGKAJIAN
1. Biodata Pasien
Nama : An.A
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat Tanggal Lahir : Semarang, 2 April 2019
Alamat : Semarang
Umur : 0 Tahun 8 bulan 8hari
Agama : Islam
Diagnosa Medik : Bronkopneumonia
Identitas Penanggung Jawab Pasien
Nama : Tn.A
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Hubungan dengan pasien : Ayah
Alamat : Semarang
2. Riwayat Kesehatan
A. Keluhan utama
“Ibu pasien mengatakan anaknya sesak nafas, batuk dan demam selama 3 hari”
B. Riwayat penyakit sekarang
“Sejak hari sabtu, 6 April 2019 badan anak panas, batuk, dan sesak nafas, kemudian orang tua membawa anaknya
ke IGD RSUD Tugurejo Semarang”
C. Riwayat kesehatan dahulu
“Ibu pasien mengatakan anaknya pernah dirawat di RS karena sariawan”
D. Riwayat kesehatan keluarga
“Ibu pasien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang mengalami sakit seperti anaknya”
E. Riwayat imunisasi
“Ibu pasien mengatakan An. A sudah mendapatkan imunisasi lengkap : BCG; DPT I,II,III; POLIO I,II,III,IV; Campak,
Hepatitis”
Pemeriksaan Fisik
• TTV
Nadi : 100x/mnt
Suhu : 38,5
RR : 24x/menit
BB : 7 kg

Kepala: Rambut bersih berwarna hitam jarang


Mata : Konjungtiva anemis
Mulut : Membran mukosa bibir pucat
Kulit : Turgor kulit tidak elastis
Pemeriksaan Penunjang
Hasil laboratorium

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal

Leukosit 11.5 10^3 / uL 4.5 – 13.5

Hb 10.80 g/dL 10.8 – 15.6

Hematokrit 34.30 % 33 - 45

Neutrofil 48.50 % 50 - 70

RWD 16.30 % 11.5 – 14.5

Glukosa sewaktu 87 Mg/dL 50 – 80

Natrium 126,9 Mmol/L 129 - 143

Chlorida 96,7 Mmol/L 93 - 112


 Terapi obat:
Infuse KAEN 3A 30cc/jam
Inj. Metilprednisolon 3 x 7.5 mg
Inj. Gentacimin 2 x 20 mg
Inj. Ampicillin 3 x 250mg
Inj. Ranitidine 2 x 15mg
Paracetamol drtp 3 x 0.7
Pulmicort 3 x 1/3
Combivent 3 x 1/3
Nacl 100 cc
Pengkajian pertumbuhan
BB : 7kg
PB : 71 cm
Jumlah gigi: 2 buah
Pengkajian perkembangan
Berguling: 5 bulan
Duduk: 7 bulan
ANALISA DATA

Data (DS dan DO) Masalah Etiologi


Ds: ibu mengatakan anaknya
demam selama 3 hari
Do: - Suhu 38,5℃
- Nadi: 100x/menit
- RR: 24x?menit
- Anak rewel dan menangis Hipertermia Proses infeksi
- Kulit teraba hangat

Ds: ibu mengatakan nafsu


makan anaknya menurun,
malas makan dan minum
Do: - tampak lemas Ketidaseimbangan nutrisi kurang dari Ausupan tidak adekuat
- Tampak pucat kebutuhan tubuh
- Turgor kulit tidak elastis
Ds: ibu mengatakan anaknya batuk dan
sesak nafas Perubahan membrane alveolar
Do: - Lemas Gangguan pertukaran gas
- Rewel
- Retraksi subcostal dan intracosta

Ds: ibu pasien mengatakan anaknya sesak


Do: - Sesak nafas
- Terdengar bunyi weezing
- Batuk Bersihan jalan nafas tidak efektif Produksi mucus berlebihan dan kental
- Terdapat secret di hidung
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mucus berlebih dan kental
2. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membrane alveolar
3. Hipertermi b.d proses infeksi
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d asupan tidak adekuat
C. PERENCANAAN
Tanggal No. Diagnose Rencana Tindakan
DP Keperawatan Tujuan & KH Tindakan keperawatan

9 April 2019 1 Hipertermi b.d Setelah dilakukan tindakan - Monitor suhu sesering mungkin
proses infeksi keperawatan 3x24 jam - Monitor warn da suhu kulit
hipertermi dapat teratasi dengan - Monitor intake dan output
KH: - Lakukan water tapide sponge
- Shu tubuh dalam rentang normal - Tingkatkan sirkulasi udara
- Nadi dan RR dalam rentang - Diskusikan tentang pentingnya
normal pengaturan suhu
- Tidak ada perubahan warna kulit - Monitor TD. Nadi, Suhu
9 April 2 Bersihan jalan Setelah dilakukan tindakan - Aukultasi suara nafas
2019 nafas tidak keperawatan 3x24 jam sesak sebelum dan sesudah
efektif b.d nafas berkurang dengan KH: suctioning
peningkatan - Tidak ada sianosis dan - Beri O2 nasal canul
produksi dydpneu - Monitor status oksigen
sputum - Mampu bernafas dengan pasien
mudah - Posisikan pasien semi fowler
- Menunjukan jalan nafas paten
(frekuensi pernafasan dalam
rentan normal)
9 April 3 Gangguan Setelah dilakukan tindakan - Posisikan pasien semi fowler
2019 pertukaran gas b.d keperawatan 3x24 jam gangguan - Aukultasi suara nafas, catat ada
perubahan pertukaran gas menjadi normal dengan suara tambahan
membrane alveoli KH: - Berikan bronkhodilator bila perlu
- Memlihara kebersihan paru-paru dan - Atur intake untuk cairan
bebas dari tanda-tanda disstres - Keluarkan secret dengan suction
pernafasan - Monitor suara nafas
- TTV dalam rentang normal

9 April 4 Nutrisi kurang dari Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Evaluasi status nutrisi pasien
2019 kebutuhan tubuh b.d 3x24 jam nutrisi dapat terpenuhi dengan - Beri makan porsi kecil tapi sering
asupan tidak KH: - Auskultasi bunyi usus
adekuat - Menunjukan peningkatan nafsu makan
- BB stabil/meningkat
Tanggal/jam No. DP Implementasi Respon pasien Paraf

9 April 2019 1 Mengukur TTV S: ibu mengatakan


18.00 anaknya panas
O: suhu: 38,5℃
Nadi: 100x/menit
RR: 24x/menit

18.05 2 Beri lingkungan yang nyaman S: ibu pasien


mengatakan nyaman
dengan lingkunganya
O: -

18.20 3 Memberi obat paracetamol S: ibu meminumkan


3x0,7 cc obat ke anaknya
O: -

10 April 2019 1 Mengukur TTV S: ibu mengatakan


14.00 suhu anaknya
menurun
O: suhu: 36,8℃
Nadi: 120x/menit
Tanggal/jam No. DP Implementasi Respon pasien Paraf

15.10 2 Pemberian injeksi gentamisin S: -


2x20mg, ranitidine 2x15mg, O: anak menangis
ampicillin 3x20mg

11 April 2019 1 Mengukur TTV S: -


09.00 O: suhu: 37,4℃

09.20 2 Memberi terapi nebulizer S: ibu mengatakan


anaknya masih batuk
dan sesak
O: pasien tampak
rewel, menangis

09.25 3 Edukasi ibu tentang penanganan S: ibu Nampak


batuk antusias dan
mengamati dengan
cermat
O: ibu ingin
melakukanya
Tanggal/jam No. DP Implementasi Respon pasien Paraf

12 April 2019 1 Mengukur TTV S: -


15.00 O: suhu: 36,8℃

16.10 2 Melakukan suction S: -


O: pasien menangis
Secret keluar banyak
dan kental

17.00 3 Melakukan massage WINA S: ibu Nampak antusias


melihatnya
O: anak nyaman ketika
mendapatkan terapi
E. EVALUASI
No Tanggal Evaluasi Paraf

1. 10 April 2019 S: ibu pasien mengatakan panas anaknya turun


O: suhu: 36,8℃
A: Masalah hipertermi sudah teratasi
P: -pertahankan intervensi

S: ibu pasien mengatakan anaknya batuk setelah


diberi nebulizer dan masih sesak.
O: pasien rewel, terdengar suara wezzing
A: bersihan jalan nafas belum teratasi
P: -lanjutkan intervensi
Monitoring TTV
Pemberian suction post nebul
berikan terapi WINA 2x sehari dan fisioterapi dada
No Tanggal Evaluasi Paraf

S: ibu pasien mengatakan anaknya masih batuk


Ibu pasien tampak antusias melihat massage
WINA
O: anak merasa nyaman dan menikmatinya
A: masalah bersihan jalan nafas belum teratasi
P: - lanjut intervensi
Monitor TTV
Pemberian suction post nebul 3x sehari
Massage WINA 2x sehari
TERIMAKASIH