Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN KASUS

SNAKE
BITE
Oleh : dr. Kurnia Elka Vidyarni
Pembimbing : dr. H. M. Yogiyopranoto Sp.B, FINACS
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. X
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Usia : 63 Tahun
Alamat : Kampak, Trenggalek
Pekerjaan : Petani
Status : Menikah
Suku : Jawa
Agama : Islam
Tanggal MRS : 19 Januari 2020
ANAMNESIS
Keluhan Utama :
digigit ular

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien mengeluh betis kanan digigit ular 3 jam yang lalu saat di sawah, luka bekas gigitan terasa
nyeri, bengkak, dan panas menjalar disekitar luka bekas gigitan, berdarah saat setelah digigit dan
setelah beberapa menit perdarahan berhenti. Pasien menyebutkan untuk ciri-ciri ular berwarna
coklat seperti tanah (tidak belang-belang), ular berjalan di tanah, dan berukuran sekitar 50 cm.
Setelah betis digigit ular, pasien naik sepeda dari sawah menuju rumah, karena nyeri semakin hebat
dan bengkak pasien segera ke IGD RS Orpeha. Nyeri kepala, gusi berdarah, mual, muntah, sesak, dan
dada berdebar disangkal. BAB dan BAK dalam batas normal.
ANAMNESIS
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat Diabetes Melitus (-), Riwayat Hipertensi (-), Riwayat Alergi (-), Riwayat tergigit ular sebelumnya
(-).

Riwayat Pengobatan :
Tidak ada pengobatan sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit serupa.

Riwayat Sosial :
Pasien merupakan seorang petani, tinggal bersama istri, dan anak sulung.
ANAMNESIS SISTEM

Sistem Serebrospinal : demam (-), nyeri kepala (-), gusi berdarah (-)
Sistem Respirasi : sesak (-), dada berdebar (-)
Sistem Gastrointestinal : mual (-), muntah (-)
Sistem Muskuloskeletal : nyeri betis kanan (+)
Sistem Urogenital : BAK (+) normal, BAB (+) normal
Sistem Integumentum : luka bekas gigitan di betis kanan (+), bengkak (+),
berdarah (+) , nyeri dan panas (+)
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Kesakitan (PS=6) Status Gizi
Kesadaran Berat Badan : 72 kg
Kualitatif : Compos mentis Tinggi Badan : 175 cm
Kuantitatif : 4-5-6 IMT : 23,5
Gizi : Kesan cukup
Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : 140/80 mmHg
Frekuensi Nadi : 84 x/menit
reguler, kuat angkat
Frekuensi Pernafasan : 20 x/menit
Suhu Aksila : 360C
CRT : < 2 detik

Kesan : keadaan umum pasien tampak kesakitan, compos mentis, kesan gizi cukup
PEMERIKSAAN FISIK
Kepala dan Leher
Ukuran : Normocephal
Rambut : Lurus warna hitam dan sebagian putih, tebal
Muka : Wajah simetri
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, edema palpebra -/-, subkonjungtiva bleeding -/-
Hidung : Sekret -/-, darah -/-, mukosa hiperemis -/-
Telinga : Sekret -/-, darah -/-
Mulut : Sianosis (-), mukosa merah muda, nyeri (-)
Faring : Hiperemis (-)
Tonsil : Hiperemis (-), tonsil T1/T1
Leher : Bentuk simetris (+), pembesaran KGB (-), peningkatan tekanan vena jugularis -/-

Kesan : Kepala dan leher dalam batas normal


PEMERIKSAAN FISIK
Jantung Paru-Paru
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak Kanan Kiri
Palpasi : Iktus kordis teraba I : Simetris, Retraksi (-) I : Simetris, Retraksi (-)
Perkusi : Redup Anterior P : fremitus raba normal P : fremitus raba normal
Batas kanan sup : ICS II garis parasternal dex P : sonor P : sonor
Batas kanan inf : ICS IV garis parasternal dex A : Ves (+), Rho (-), Whe (-) A : Ves (+), Rho (-), Whe (-)
Batas kiri sup : ICS II garis parasternal sin I : Simetris, Retraksi (-) I : Simetris, Retraksi (-)
Batas kiri inf : ICS V garis mid klavikula sin P : fremitus raba normal P : fremitus raba normal
Auskultasi : S1S2 tunggal reguler, Posterior
P : sonor P : sonor
ekstrasistol (-), gallop (-), A: Ves (+), Rho (-), Whe (-) A : Ves (+), Rho (-), Whe (-)
murmur (-)

Kesan : Thorax dalam batas normal


PEMERIKSAAN FISIK
Abdomen Anggota Gerak
I : permukaan dinding perut datar, jejas (-) Atas : akral hangat +/+, edema -/-, sianosis (-),
A: bising usus (+) normal atrofi otot (-), spasme(-), lesi -/-
P: timpani (+) Bawah : akral hangat -/-, edema +/-, sianosis (-)
P: soepel, turgor kulit normal, nyeri tekan (-), atrofi otot (-), spasme (-), lesi +/-
hepatomegali (-), splenomegali (-)

Kesan : Abdomen dalam batas normal, Anggota gerak bawah edema dan terdapat lesi
STATUS
LOKALIS

Look : hematom (+), edema (+), bleeding (+),


2 buah titik bekas gigitan
Feel : nyeri (+), teraba hangat
Movement : immobilisasi
PEMERIKSAAN FISIK
Neurologi
GCS :4-5-6
Meningeal Sign : KK (-), K (-), L (-), B1 (-), B2 (-)
N. III : Pupil bulat isokor, 3mm/3mm, RC +/+
N. VII : simetris/simetris
N. XII : simetris/simetris
Motorik :
KO 555/555 TO n | n RF B +2 +2 RP (-)
tde/555 tde | n T +2 +2
K +2 +2
A +2 +2
Sensorik : dbn
Otonom : dbn

Kesan : dalam batas normal


PEMERIKSAAN PENUNJANG
19 Januari 2020 20 Januari 2020
Hematologi Lengkap Hasil Nilai Rujukan Hematologi Lengkap Hasil Nilai Rujukan
RBC 3,95 3,50 - 5,50 1012/l RBC 4,13 3,50 - 5,50 1012/l
MCV 89,8 75,0 - 100,0 fl MCV 89,3 75,0 - 100,0 fl
RDW% 13,5 11,0 - 16,0 % RDW% 13,5 11,0 - 16,0 %
HCT 35,5 35,0 - 55,0 % HCT 36,9 35,0 - 55,0 %
PLT 28 100 – 400 109/l PLT 5 100 – 400 109/l
MPV 8,0 - 11,0 fl MPV 8,0 - 11,0 fl
WBC 12,9 3,5 - 10,0 109/l WBC 14,6 3,5 - 10,0 109/l
HGB 12,6 11,5 - 16,5 g/dl HGB 13,2 11,5 - 16,5 g/dl
MCH 32,0 25,0 - 35,0 pg MCH 32,1 25,0 - 35,0 pg
MCHC 35,7 31,0 - 38,0 g/dl MCHC 35,9 31,0 - 38,0 g/dl
LYM 0,6 0,5 - 5,0 109/l LYM 0,8 0,5 - 5,0 109/l
GRAN 12,0 1,2 - 8,0 109/l GRAN 13,5 1,2 - 8,0 109/l
MID 0,3 0,1 - 1,5 109/l MID 0,3 0,1 - 1,5 109/l
LYM% 4,9 15,0 - 50,0 % LYM% 5,6 15,0 - 50,0 %
GRA% 93,0 35,0 - 80,0 % GRA% 92,0 35,0 - 80,0 %
MID% 2,1 2,0 - 15,0 % MID% 2,4 2,0 - 15,0 %

Kesan : Trombositopenia dan Leukositosis


Kumpulan Data Kumpulan Data Diagnosis dan Rencana Terapi
Rencana Diagnosis
Anamnesis Pemeriksaan Fisik Snake Bite + Planning Terapi
KU : Digigit ular KU : kesakitan (PS=6) Trombositopenia + Immobilisasi
Kes : compos mentis Leukositosis
RPS : Pasien mengeluh betis kanan digigit TD : 140/80 mmHg Cross Insisi (Rawat Luka)
ular 3 jam yang lalu saat di sawah, luka HR : 84x/menit Injeksi SABU 1 vial IV dalam
bekas gigitan terasa nyeri, bengkak, dan RR : 20x/menit
panas menjalar disekitar luka bekas gigitan, Tax : 360C 500cc NaCl 0,9% atau D5%
berdarah saat setelah digigit dan setelah Kepala-Leher : anemis (-),ikterik (-) Planning Diagnostik Injeksi ATS 1.500 IU IM
beberapa menit perdarahan berhenti. pembesaran KGB (-) DL ulang besok
Pasien menyebutkan untuk ciri-ciri ular Thorax : retraksi (-), sonor/sonor, ves Infus RL : D5 = 2 : 1
berwarna coklat seperti tanah (tidak +/+, rhonki -/- wheezing -/- Injeksi Cefotaxime 2x1 gr
belang-belang), ular berjalan di tanah, dan Abdomen : flat, BU(+) , soepel, timpani,
berukuran sekitar 50 cm. Setelah betis Ekstremitas : akral hangat (+), oedem Injeksi Ketorolac 3x30 mg
digigit ular pasien naik sepeda dari sawah (+), lesi bekas gigitan (+), hematom (+) Injeksi Dexamethasone 2x5 mg
menuju rumah, karena nyeri semakin hebat Neurologi:
dan bengkak pasien segera ke IGD RS MS (-), RF (+), RP (-) Konsul Interna
Orpeha. Nyeri kepala, gusi berdarah, mual, N. III, VII, XII : dbn
muntah, sesak, dan dada berdebar Motorik : KO tde/55
disangkal. BAB dan BAK dalam batas Sensorik : dbn
normal. Otonom : dbn

RPO :- Lab 19/01/2020 : Trombositopenia


RPD :- dan Leukositosis
RPK :-
DIAGNOSIS
Snake Bite+ Trombositopenia+ Leukositosis

PLANNING
Monitoring
• Keadaan umum
• Tanda-tanda vital
• Keluhan
• Respon terapi, efek samping, komplikasi

Edukasi
• Menjelaskan kepada wali pasien tentang penyakit yang diderita pasien meliputi penyebab, perawatan
atau terapi di RS
• Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang prognosis penyakit pasien
PROGNOSIS
ad vitam (hidup) : bonam
ad functionam (fungsi) : bonam
ad sanationam (sembuh) : bonam
TANGGAL SUBJEKTIF OBJEKTIF ASSESSMENT PLANNING
20/01/2020 Nyeri dan KU: Lemah (PS = 2); Kes : CM, 4-5-6 Snake Bite + Infus RL : D5 = 2 : 1
H2MRS bengkak pada TD : 130/90 mmHg ; N : 64 x/menit ; Trombositopenia + Injeksi Cefotaxime 2x1 gr
betis mulai RR : 20 x/menit ; Tax : 36°C Leukositosis Injeksi Ketorolac 3x30 mg
berkurang, badan Kepala leher : anemis (-), Ikterus (-), Injeksi Dexamethasone 2x5 mg
lemas, demam (-), dyspnea (-), sianosis (-) Transfusi TC 200 cc
pusing(-), BAB Thorax : Injeksi Vitamin K 3x1 amp
dan BAK dalam Cardio : S1 S2 normal, regular, gallop (-), murmur
batas normal. (-) Planning Diagnostik
Pulmo : Simetris (-/-), Vesikuler (-/-), Rh (-/-), Wh Rujuk RSUD
(-/-) Evaluasi FH (Faal Hemostasis)
Abd : Flat, BU (+) normal, Soepel, Timpani
Extremitas : Akral hangat (++/++), Edema Planning Monitoring
ekstremitas bawah (+/-) TTV, subjektif

Lab 20/01/2020 : Trombositopenia


dan Leukositosis
FOLLOW UP DI RSUD dr.ISKAK
• Tidak bisa membuka Rekam Medis karena terkendala perijinan
• Perawat Ruangan : Terapi selama di RSUD dr.Iskak
Inj Ceftriaxone 2x1 gr
Inj Santagesik 3x1 gr
Inj Ranitidin 2x50 mg
Cek DL + FH (PT, APTT) / 24 jam
• Admisi : pasien kontrol pada tanggal 27 Januari 2020 (jadi kemungkinan sudah membaik)
DISKUSI
Bagaimana
KASUS membedakan ular
berbisa dan ular tidak
berbisa ?

Mengapa terjadi
trombositopenia dan
leukositosis pada
kasus ?

Guidelines Tatalaksana
Snake Bite berdasarkan
“Guidelines for The Clinical
Management of Snake Bites
WHO 2016”
Perbedaan Ular Berbisa dan Tidak Berbisa

Warna : seperti tanah, berukuran 50 cm

Kepala : tidak diamati

Ekor : tidak diamati


Ular berbisa memiliki warna lebih mencolok atau lebih menarik
Luka bekas gigitan : 2 titik bekas gigitan
De Jong. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah
Famili Contoh Spesies di Indonesia
Elapidae Cobra, King Cobra, Kraits, Ular Batu Bungarus candidus (Sumatera dan Jawa), Naja sputarix (Jawa dan Kep.
Karang, Ular Australia, serta Ular Laut Sunda), Naja sumatrana (Sumatera dan Kalimantan), Acanthrophis laevis
(Papua dan Maluku)
Viperidae Terdiri dari 2 subfamili:

1. Viperinae Calloselasma rhodostoma atau ular tanah (Jawa)

2. Pit Vipers (Crotalinae)

Anamnesis :
ciri-ciri ular berwarna coklat
seperti tanah (tidak belang-
belang), ular berjalan di tanah,
dan berukuran sekitar 50 cm

WHO. 2016. Guidelines for The Clinical Management of Snake Bites


Kapita Selekta Kedokteran.2014.Gigitan Ular Berbisa
PATOFISIOLOGI
• Lebih dari 90% komponen bisa ular adalah protein; terdiri dari enzim, toksin polipeptida non-enzimatik, serta
protein non-toksik.

• Kandungan enzim hyaluronidase dan enzim proteolitik akan menghidrolisis jaringan, merusak endotel dan
membran basal kapiler sehingga meningkatkan permeabilitas jaringan, kebocoran albumin, peningkatan tekanan
onkotik jaringan yang mengakibatkan edema.

• Pelepasan bradikinin sehingga menimbulkan rasa nyeri, hipotensi, mual dan muntah. Agen vasoaktif (seperti
histamin dan serotonin) dapat memperberat vasodilatasi dan hipotensi, yang berujung pada hipovolemia dan
syok.

• Hambatan transmisi impuls pada neuromuscular junction sehingga terjadi gangguan neurologis seperti
parestesia, spasme, kelemahan, ptosis, miosis, disfagia, trismus, dan paralisis.

• Sindrom hemoragik melalui beberapa jalur aktivasi sistem koagulasi, seperti enzim protease yang merusak
fibrinopeptida, degradasi fibrinogen, aktivasi trombin, faktor X, atau secara langsung memicu agregasi trombosit
 trombositopeni + leukositosis

Kapita Selekta Kedokteran.2014.Gigitan Ular Berbisa


TANDA DAN GEJALA
Derajat Derajat Gejala dan Tanda
1 Minor Terdapat tanda bekas gigitan/taring, tidak ada edema, tidak nyeri, tidak ada gejala
sistemik, tidak ada koagulopati
2 Moderate Terdapat tanda bekas gigitan/taring, edema lokal, tidak ada gejala sistemik, tidak
ada koagulopati
3 Severe Terdapat tanda bekas gigitan/taring, edema regional (2 segmen dari
ekstremitas), nyeri yang tidak teratasi oleh analgesik, tidak ada tanda sistemik,
terdapat tanda koagulopati
4 Major Terdapat tanda bekas gigitan/taring, edema yang luas, terdapat tanda sistemik
(muntah, sakit kepala, nyeri perut, dan dada, syok), thrombosis sistemik

Anamnesis : nyeri, bengkak, dan panas menjalar disekitar luka bekas gigitan, berdarah
Pemeriksaan Fisik : tanda bekas gigitan, edema (+), hematom (+)
Pemeriksaan Penunjang : Leukositosis + Trombositopenia

Kapita Selekta Kedokteran.2014.Gigitan Ular Berbisa


DIAGNOSIS
Anamnesis
• Keluhan
• Identifikasi ular (warna, bentuk kepala, dan ekor)

Pemeriksaan Fisik
• TTV
• Pain Score
• Head to Toe
• Bekas gigitan : ada tidaknya perdarahan/nekrosis/bula
Pemeriksaan Penunjang
• 20’WBCT (20 minutes Whole Blood Clotting Test)
• ECG
• Laboratorium (Kadar Hb, Wbc, Platelet, RFT, LFT, PT, APTT, INR)

WHO. 2016. Guidelines for The Clinical Management of Snake Bites


TATALAKSANA
Stabilisasi A-B-C Antibitoik : bila ada leukositosis
01 06
Kasus : ABC stabil
Kes : CM, TD : 140/80 mmHg, HR : 84x/menit,
RR : 20x/menit, Tax : 360C

Imobilisasi 02 07 ATS (Anti Tetanus Serum)

Transfusi seperti FFP,


Wound Management 03 08
Kriopresipitat, WB, atau TC

Antivenom : Drug of Choice Adrenalin (Epinephrine),


04 09 Antihistamin dan Kortikosteroid.
Simptomatik : Analgesik
Morfin ((PS ≥ 7 ) dan Fasciotomy bila ada
05 10
Paracetamol infus atau oral compartment syndrome
(PS < 7).
TATALAKSANA
Antibitoik : bila ada leukositosis
Stabilisasi A-B-C 01 06

Imobilisasi 02 07 ATS (Anti Tetanus Serum)


Kasus : bidai dan bandage

Transfusi seperti FFP,


Wound Management 03 08
Kriopresipitat, WB, atau TC

Antivenom : Drug of Choice Adrenalin (Epinephrine),


04 09 Antihistamin dan Kortikosteroid.
Simptomatik : Analgesik
Morfin ((PS ≥ 7 ) dan Fasciotomy bila ada
05 10
Paracetamol infus atau oral compartment syndrome
(PS < 7).
Pressure-Pad plus Immobilization

WHO. 2016. Guidelines for The Clinical Management of Snake Bites Pressure-Bandage plus Immobilization
TATALAKSANA
Antibitoik : bila ada leukositosis
Stabilisasi A-B-C 01 06

Imobilisasi 02 07 ATS (Anti Tetanus Serum)

Wound Management Transfusi seperti FFP,


03 08
Kriopresipitat, WB, atau TC
Kasus : Cross Insisi (Rawat luka)

Antivenom : Drug of Choice Adrenalin (Epinephrine),


04 09 Antihistamin dan Kortikosteroid.
Simptomatik : Analgesik
Morfin ((PS ≥ 7 ) dan Fasciotomy bila ada
05 10
Paracetamol infus atau oral compartment syndrome
(PS < 7).
TATALAKSANA
Antibitoik : bila ada leukositosis
Stabilisasi A-B-C 01 06

Imobilisasi 02 07 ATS (Anti Tetanus Serum)

Transfusi seperti FFP,


Wound Management 03 08
Kriopresipitat, WB, atau TC

Antivenom : Drug of Choice


Adrenalin (Epinephrine),
Kasus : Injeksi SABU 1 IV dalam 500cc NaCl 04 09 Antihistamin dan Kortikosteroid.
0,9% atau D5
Simptomatik : Analgesik
Morfin ((PS ≥ 7 ) dan Fasciotomy bila ada
05 10
Paracetamol infus atau oral compartment syndrome
(PS < 7).
Antivenom : Drug of Choice
SABU (Serum Anti Bisa Ular) dapat diberikan segera dengan dosis SABU 10 mL (2 vial)
intravena dalam 100 ml Normal Saline 0,9% atau Dektrosa 5% drip 60-80 tpm, dapat diulang 6-8
jam berikutnya bila tanda-tanda Re-Envenomasi muncul.

WHO. 2016. Guidelines for The Clinical Management of Snake Bites


TATALAKSANA
Antibitoik : bila ada leukositosis
Stabilisasi A-B-C 01 06

Imobilisasi 02 07 ATS (Anti Tetanus Serum)

Transfusi seperti FFP,


Wound Management 03 08
Kriopresipitat, WB, atau TC

Antivenom : Drug of Choice Adrenalin (Epinephrine),


04 09 Antihistamin dan Kortikosteroid.
Simptomatik : Analgesik
Morfin ((PS ≥ 7 ) dan Fasciotomy bila ada
Paracetamol infus atau oral 05 10
compartment syndrome
(PS < 7).
Kasus : Injeksi Ketorolac 3x30 mg
TATALAKSANA
Antibitoik : bila ada leukositosis
Stabilisasi A-B-C 01 06
Kasus : Injeksi Cefotaxime 2x1 gr

Imobilisasi 02 07 ATS (Anti Tetanus Serum)

Transfusi seperti FFP,


Wound Management 03 08
Kriopresipitat, WB, atau TC

Antivenom : Drug of Choice Adrenalin (Epinephrine),


04 09 Antihistamin dan Kortikosteroid.
Simptomatik : Analgesik
Morfin ((PS ≥ 7 ) dan Fasciotomy bila ada
05 10
Paracetamol infus atau oral compartment syndrome
(PS < 7).
TATALAKSANA
Stabilisasi A-B-C 01 06 Antibitoik : bila ada leukositosis

ATS (Anti Tetanus Serum)


Imobilisasi 02 07
Kasus : Injeksi ATS 1.500 IU IM

Transfusi seperti FFP,


Wound Management 03 08
Kriopresipitat, WB, atau TC

Antivenom : Drug of Choice Adrenalin (Epinephrine),


04 09 Antihistamin dan Kortikosteroid.
Simptomatik : Analgesik
Morfin ((PS ≥ 7 ) dan Fasciotomy bila ada
05 10
Paracetamol infus atau oral compartment syndrome
(PS < 7).
Wound Management dan Anti Tetanus Serum (ATS)
• Direkomendasikan
• Bula, abses dapat dilakukan needle aspiration
• Tanda Nekrosis dapat dilakukan surgical debridement untuk mengurangi risiko infeksi anaerob
• Amputasi dilakukan apabila ada indikasi gangren

• ATS (Anti Tetanus Serum) sebagai profilaksis terjadinya reaksi infeksi anaerob, karena
kandungan flora normal pada bisa ular terdiri dari bakteri aerob dan anaerob
• Dosis 1 vial 1.500 IU IM

WHO. 2016. Guidelines for The Clinical Management of Snake Bites


TATALAKSANA
Antibitoik : bila ada leukositosis
Stabilisasi A-B-C 01 06

Imobilisasi 02 07 ATS (Anti Tetanus Serum)

Transfusi seperti FFP,


Wound Management 03 08 Kriopresipitat, WB, atau TC
Kasus : Transfusi TC 200 cc
(Trombosit 5.000)

Antivenom : Drug of Choice Adrenalin (Epinephrine),


04 09 Antihistamin dan Kortikosteroid.
Simptomatik : Analgesik
Morfin ((PS ≥ 7 ) dan Fasciotomy bila ada
05 10
Paracetamol infus atau oral compartment syndrome
(PS < 7).
TATALAKSANA
Antibitoik : bila ada leukositosis
Stabilisasi A-B-C 01 06

Imobilisasi 02 07 ATS (Anti Tetanus Serum)

Transfusi seperti FFP,


Wound Management 03 08
Kriopresipitat, WB, atau TC

Adrenalin (Epinephrine),
Antivenom : Drug of Choice 04 09 Antihistamin dan Kortikosteroid.
Kasus : Injeksi Dexamethasone 2x5 mg
Simptomatik : Analgesik
Morfin ((PS ≥ 7 ) dan Fasciotomy bila ada
05 10
Paracetamol infus atau oral compartment syndrome
(PS < 7).
TATALAKSANA
Antibitoik : bila ada leukositosis
Stabilisasi A-B-C 01 06

Imobilisasi 02 07 ATS (Anti Tetanus Serum)

Transfusi seperti FFP,


Wound Management 03 08
Kriopresipitat, WB, atau TC

Antivenom : Drug of Choice Adrenalin (Epinephrine),


04 09 Antihistamin dan Kortikosteroid.
Simptomatik : Analgesik
Morfin ((PS ≥ 7 ) dan Fasciotomy bila ada
05 10
Paracetamol infus atau oral compartment syndrome
(PS < 7).
Kasus : Tidak dilakukan
Terima kasih
“Live like you will die tomorrow and blessed like you will live forever-B.J. Habibie”