Anda di halaman 1dari 25

REGULASI 1

Sistem peruntukan lahan


Secara Geografis Kabupaten Sleman terletak diantara
110° 33ƍ 00Ǝ dan 110° 13ƍ 00Ǝ Bujur Timur, 7° 34ƍ 51Ǝ dan 7° 47ƍ
30Ǝ Lintang Selatan. Wilayah Kabupaten Sleman sebelah utara
berbatasan dengan Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah,
sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa
Tengah, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo,
Propinsi DIY dan Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah dan
sebelah selatan berbatasan dengan Kota Yogyakarta, Kabupaten
Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi D.I.Yogyakarta.
Kabupaten Sleman memiliki luas sebesar 57.482 hektar
atau 574,82 km2 atau sekitar 18% dari luas Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta yang luasnya 3.185,80 km2. Jarak terjauh
utara – selatan wilayah Kabupaten Sleman 32 km, sedangkan jarak
terjauh timur barat 35 km. Dalam perspektif mata burung, wilayah
Kabupaten Sleman berbentuk segitiga dengan alas di sisi selatan
dan puncak di sisi utara. Secara administratif, Kabupaten Sleman
terdiri atas 17 wilayah kecamatan, 86 desa, dan 1.212 Padukuhan.
Kecamatan dengan wilayah paling luas adalah Cangkringan (4.799
ha) dan yang paling kecil adalah Berbah (2.299 ha). Kecamatan
dengan pedukuhan terbanyak adalah Tempel (8 desa), sedangkan
Kecamatan dengan desa paling sedikit adalah Depok (3 desa).

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
REGULASI 2
Intensitas pemanfaatan lahan
Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sleman No. 12 Tahun 2012 terkait lokasi:
1. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 40-60%
2. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 1,2 – 2,0 dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) 40%
3. Tinggi bangunan maksimal 33 m berdasarkan radar untuk pesawat terbang
4. Rooi bangunan garis sempadan bangunan 10-14 m
5. Rooi sungai = 0,5 dari lebar badan sungai diukur dan bibir sungai
Dalam Peraturan Daerah Sleman No. 12 Tahun 2012, zona yang dipilih merupakan
zona peruntukan pemungkiman. Walaupun fungsi lahan sekarang digunakan untuk
persawahan, kita tetap dapat merekontruksi lahan tersebut karena berdasarkan
Perda Sleman, zona dapat diperuntukan untuk pemungkiman, termasuk sport
center.
Dari beberapa pertimbangan lahan, lahan ini dipilih karena berada dekat dengan
pusat kota tetapi tidak terlalu bising karena sedikit masuk perumahan. Sport
Center ini dibangun agar masyarakat Kabupaten Sleman memiliki tempat untuk
mereka berolahraga. Selain itu lahan ini dipilih karena memiliki kepadatan yang
sedang, sehingga tidak terlalu bising dan banyak polusi.
Selain itu menurut Peraturan Daerah No. 12 Tahun 2012 Koefisien Lantai Bangunan
(KLB) 1,2 – 2,0 dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) 40%. Ruang terbuka hijau yang
banyak membuat kualitas udara yang baik, dan olahraga membutuhkan kualitas
udara yang baik untuk sirkulasi pernafasan.
PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
REGULASI 3
Intensitas pemanfaatan lahan
1. KDB, KLB, clan KDH;
2. sempadan jalan, sungai, irigasi, kereta api, listrik tegangantinggi, mata air; ruang bebas terhadap
cagar budaya dan ketinggian bangunan.

Bangunan harus memenuhi persyaratan KDB berdasarkan tingkat kepadatan lokasi


meliputi:
a) bangunan gedung di lokasi renggang dengan KDB 30% (tiga puluh persen) sampai dengan 45%
(empat puluh lima persen);
b) bangunan gedung di lokasi sedang dengan KDB diatas 45% (empat puluh lima persen) sampai
dengan 60% (enam puluh persen);
c) bangunan gedung di lokasi padat dengan KDB diatas 60% (enam puluh persen).

RTHP dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:


a) luas RTHP yang wajib disediakan sebagai berikut:
1. KDH paling sedikit sebesar 30% (tiga puluh persen) dari luas tanah untuk nilai KDB 0% (nol
persen) sampai dengan 30% (tiga puluh persen);
2. KDH paling sedikit sebesar 20% (duapuluh persen) dari luas tanah untuk nilai KDB 31% (tiga
puluh satu persen) sampai dengan 70% (tujuh puluh persen); 27; 3.
3. KDH paling sedikit sebesar 10% (sepuluh persen) dari luas tanah untuk nilai KDB 71% (tujuh
puluh satu persen) sampai dengan 100% (seratus persen).
b) lahan yang memiliki nilai KDB antara 71% (tujuh puluh satu persen) sampai dengan 100% (seratus
persen), pemenuhan luas RTHP dapat diganti dengan penyediaan tanaman dalam pot atau roof
garden; (3) Penyediaan tanaman dalam pot atau roof garden sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf b diperhitungkan sebagai bagian dari KDH yang luasnya paling sedikit 25% (dua puluh lima
persen) dari luas tanah.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
REGULASI 4
Administratif kecamatan mlati
Kecamatan Godean, Kecamatan Gamping, Kecamatan Mlati, Kecamatan Depok, Kecamatan
Ngemplak dan Kecamatan Ngaglik. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) adalah kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasiona. Ketentuan umum peraturan
zonasi PKN yaitu diperbolehkan pengembangan pusat pemerintahan, fasilitas pendidikan
tinggi, kesehatan, olahraga dan rekreasi, usaha perdagangan dan jasa, perumahan, industri
kecil dan rumah tangga, fasilitas pendukung pariwisata, dan pasar tradisional. Pada pasal 7
ayat 2, PKN berupa kawasan perkotaan kabupaten yang berada di dalam KPY meliputi :
a. Kawasan perkotaan Kecamatan Gamping meliputi :
1. Desa Ambarketawang
2. Desa Banyuraden
3. Desa Nogotirto
4. Desa Trihanggo
b. Kawasan perkotaan Kecamatan Godean berada di Desa Sidoarum.
c. Kawasan perkotaan Kecamatan Mlati meliputi:
1. Desa Sendangadi
2. Desa Sinduadi
d. Kawasan perkotaan Kecamatan Depok meliputi:
1. Desa Caturtunggal
2. Desa Maguwoharjo
3. Desa Condongcatur
e. Kawasan perkotaan Kecamatan Ngemplak berada di desa Wedomartani
f. f. Kawasan perkotaan Kecamatan Ngaglik meliputi:
1. Desa Sariharjo
2. Desa Sinduharjo
3. Desa Minomartani

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
REGULASI 5
Kriteria pemilihan lokasi
Lokasi yang baik untuk kawasan rusunawa harus sesuai dengan rencana peruntukan
lahan yang diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) setempat atau dokumen
perencanaan lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah setempat, dengan
memperhatikan hal-hal berikut :
a) keamanan : lokasi tersebut bukan merupakan kawasan lindung (catchment area),
olahan pertanian, hutan produksi, daerah buangan Iimbah pabrik, daerah bebas
bangunan pada area Bandara, daerah dibawah jaringan listrik tegangan tinggi;
b) kesehatan : lokasi tersebut bukan daerah yang mempunyai pencemaran udara di atas
ambang batas. pencemaran air permukaan dan air tanah dalam;
c) kenyamanan : mudah dicapai, mudah berkomunikasi (intemal/eksternal, Iangsung
atau tidak langsung), mudah berkegiatan (tersedia prasarana dan sarana lingkungan);
d) keindahan / keserasian / keteraturan: cukup penghijauan, mempertahankan
karakteristik topografi dan lingkungan yang ada, misalnya tidak meratakan bukit,
mengurug seluruh rawa atau danau / setu / sungai / kali;
e) fleksibilitas : mempertimbangkan kemungkinan pertumbuhan fisik / pemekaran
lingkungan dikaitkan dengan kondisi fisik lingkungan dan keterpaduan prasarana;
keterjangkauan jarak : mempertimbangkan jarak pencapaian ideal kemampuan orang
berjalan kaki sebagai pengguna lingkungan terhadap penernpatan sarana dan
prasarana-utilitas lingkungan;
f) lingkungan berjati diri mempertimbangkan keterkaitan dengan karakter sosial budaya
masyarakat setempat, terutama aspek kontekstual terhadap lingkungan
tradisional/lokal setempat.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
REGULASI 6
Pemanfaatan lahan daerah mlati

Salah satu intrumen untuk mengatur kepadatan bangunan


adalah mengatur kepadatan bangunan tersebut dengan
koefisien dasar bangunan. Standar yang digunakan di dalam
pengaturan blok untuk kepadatan bangunan adalah:
• Blok peruntukan dengan KDB tinggi maksimal 80%
• Blok peruntukan dengan KDB menegah maksimal 60%
• Blok peruntukan dengan KDB rendah maksimal 40%
• Blok peruntukan dengan KDB sangar rendah maksimal 20%

Berdasarkan peta tersebut Jombor merupakan kawasan


dengan kepadatan tinggi sehingga KDB dan arahan
kepadatan bangunan di Mlati yang diguanakan adalah
KBD maksimal 80%. Rencana Ketinggian Bangunan (KLB)
Mlati adalah sebagai berikut:
• BWK I dengan koefisien ketinggian 2 – 3
• BWK II dengan koefisien ketinggian 1 – 2
• BWK III dengan koefisien ketinggian 1 – 2
• BWK IV dengan koefisien ketinggian 1
• BWK V dengan koefisien ketinggian 1

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
REGULASI 7
Alur Perizinan Alih Fungsi Lahan:
Prosedur Perijinan
Menurut Peraturan bupati sleman nomor 21 tahun 2017 tentang
1. Setiap pemohon izin mengajukan permohonan izin prinsip, izin lokasi, dan izin
petunjuk pelaksanaan peraturan daerah kabupaten sleman nomor penggunaan pemanfaatan tanah secara tertulis kepada Kepala DPMPPT dengan mengisi
3 tahun 2015 tentang izin pemanfaatan ruang formulir permohonan yang disediakan dan dilengkapi dengan persyaratan administrasi
2. Formulir diisi secara lengkap dan benar dan ditandatangani oleh pemohon izin.
Materi izin penggunaan pemanfaatan tanah memuat: 3. Kepala DPMPPT mengajukan permohonan pengkajian aspek teknis rencana tata ruang
a. izin perubahan pertanian menjadi non pertanian; dan/atau kepada Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah untuk memperoleh rekomendasi
b. keterangan rencana kabupaten antara lain memuat: kesesuaian rencana kegiatan dengan rencana tata ruang.
4. Hasil pengkajian disampaikan kepada Kepala DPMPPT paling lama 15 (lima belas) hari
1. fungsi bangunan gedung yang dapat dibangun pada lokasi kerja sejak diterima pengajuan permohonan dari Kepala DPMPPT.
bersangkutan. 5. DPMPPT melakukan penelitian dan pengkajian berkas permohonan izin yang diajukan
oleh pemohon untuk dinyatakan lengkap dan benar.
2. ketinggian maksimum bangunan gedung yang diizinkan; 6. Berkas permohonan izin pemanfaatan ruang yang telah dinyatakan lengkap dan benar
3. jumlah lantai/lapis bangunan gedung di bawah permukaan tanah dilakukan pengkajian, peninjauan lapangan, dan/atau rapat koordinasi.
dan koefisien tapak basement (KTB) yang dizinkan, apabila 7. Keputusan atas pemberian izin pemanfaatan ruang atau penolakan permohonan izin
pemanfaatan ruang didasarkan hasil pengkajian, rapat koordinasi, dan/atau peninjauan
membangun di bawah permukaan tanah maksimal 70% (tujuh lapangan sesuai dengan aspek pemberian izin.
puluh persen) 8. Pemberian izin pemanfaatan ruang sebagai berikut:
4. garis sempadan; a. izin prinsip dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak berkas
permohonan dinyatakan lengkap dan benar;
5. jarak bebas minimum bangunan gedung yang diizinkan baik ke b. izin lokasi dalam jangka waktu paling lama 15 (lima belas) hari kerja sejak berkas
bawah maupun ke atas; permohonan dinyatakan lengkap dan benar; dan
c. izin penggunaan pemanfaatan tanah dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
6. koefisien dasar bangunan (KDB) maksimum yang dizinkan; hari kerja sejak berkas permohonan dinyatakan lengkap dan benar.
7. koefisien lantai bangunan (KLB) maksimum yang dizinkan; 9. Apabila dalam proses pemberian izin pemanfaatan ruang berdasarkan hasil pengkajian,
8. koefisien dasar hijau (KDH) minimum yang diwajibkan 20% (dua peninjauan lokasi, dan rapat koordinasi terdapat persyaratan administrasi yang belum
lengkap dan atau diperlukan tambahan persyaratan administrasi, pemohon wajib
puluh persen); melengkapi persyaratan dimaksud dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak
9. koefisien tapak basement (KTB) maksimum yang diizinkan; berita acara kekurangan persyaratan disampaikan kepada pemohon.
10. Apabila dalam jangka waktu pemohon tidak melengkapi persyaratan administrasi,
dan/atau permohonan izin pemanfaatan ruang ditutup dan tidak diproses.
10. jaringan utilitas kota antara lain, ketersediaan air bersih, 11. Permohonan izin pemanfaatan ruang yang ditutup dan tidak diproses) dapat dimohonkan
pengelolaan air hujan dan air kotor kembali sebagai permohonan izin pemanfaatan ruang baru.
12. Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan isi formulir diatur oleh Kepala DPMPPT.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE INVENTORY 8

ASPEK FISIK
1. Bentuk tapak
bentuk tapak yang digunakan
menyesuaikan kavling dan kontur
pada daerah tersebut,karena
akan memudahkan dalam
pengurusan ijin guna lahan dan
dalam pembelian. Lahan ini
Deskripsi Lokasi memiliki luas kurang lebih
Kutu asem terletak di sinduadi, mlati, sleman, 9,996.60 m2 atau bisa dibulatkan
Yogyakarta yang hanya berjarak kurang lebih 6km menjadi 1 hektar. Lahan tersebut
dari pusat kota jogja dan berjarak kurang lebih masuk ke dalam tingkat
8km dari pemerintahan kota sleman. Kutu Asem kependudukan sedang-tinggi
merupakan daerah yang sangat strategis karena
dekat dengan kota, mal, terminal, stasiun dan lain 2. Keterkaitan tapak
sebagainya. Selain hal tersebut kutu asem juga Lahan ini terletak di kutu asem,
dapat di akses dengan mudah karena adanya sleman, DIY. Lahan tersebut
jalan yang sudah bagus untuk dilalui kendaraan dihimpit oleh pemukiman,
persawahan, dan pepohonan.
bermotor dan mobil. Daerah ini terletak di
Lahan ini terletak kurang lebih 5
perbatasan sleman dan kota jogja dimana daerah km dari pusat kota jogja dan 8 km
tersebut sudah bisa dibilang daerah perkotaan. dari pusat pemerintahan
kabupaten sleman.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE INVENTORY 9
Aspek biologi
1. Identifikasi Vegetasi 2. Keragaman habitat 3. Komponen abiotik
Adapun komponen abiotic
adalah sebagai berikut:
1. Air
2. Tanah
Katak
3. Cahaya matahari
Padi Belalang
4. Udara
5. iklim

Tabel iklim sleman 2005-2009

Pohon pisang Burung Tikus

Semak belukar Ular bekicot dan siput

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE INVENTORY 10
Aspek kultural
1. Peruntukan guna lahan 2. Akses utilitas
• Jaringan listrik sudah tersalur ke daerah tersebut dengan baik, sehingga tidak diperlukan pembuatan
jaringan listrik lagi.
• Sumber air bersih berasal dari pipa PAM dan beberapa dari sumur galian dalam.
• Sudah adanya system drainase di sepanjang tepi jalan atau akses masuk berupa saluran terbuka.
• Akses menuju logasi dapat diakses dengan mudah karena sudah adanya jalan daerah.

3. Properti 4. sensory
Kutu asem merupakan daerah untuk Kutu asem merupakan daerah untuk
pengembangan layanan dan jasa sehingga sport pengembangan layanan dan jasa sehingga sport
Kawasan tersebut merupakan center merupakan suatu yang dibutuhkan center merupakan suatu yang dibutuhkan
kawasan sebagai upaya masyarakat untuk sarana olahraga . Sport center masyarakat untuk sarana olahraga . Sport center
banyak diminati masyarakat karena masyarakat banyak diminati masyarakat karena masyarakat
pengembangan layanan dan jasa, dapat mencoba gaya olahraga baru dan aneka dapat mencoba gaya olahraga baru dan aneka
sehingga akan cocok dengan jenisnya. jenisnya.
proyek sport center yang akan
dibangun di sini. Selain itu proyek
ini juga akan mendukung
pemerintah sebagai upaya
peningkatan minat olahraga
masyarakat khusunya Yogyakarta.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE INVENTORY 11
kontur lahan Hidrologi
Kontur merupakan garis yang menunjukan pergerakan naik turun suatu Lahan ini memiliki elevasi semakin mengarah ke selatan, maka air
keadaan tanah. Dalam lahan ini lahan cenderung landai dengan akan mengalir ke arah selatan. Tetapi karena lahan terletak di
perbedaan tinggi yang tidak terlalu signifikan. Sehingga lahan ini cocok selatan selokan, maka lahan perlu dibuat sumur resapan agar air
untuk dijadikan sport center yang cenderung membutuhkan lahan yang tidak tergenang. Selain itu lahan perlu di atur lagi elevasinya agar
relative datar. Lahan ini memiliki kontur yang relative landai namun tetap air mengalir dengan lancar tanpa ada genangan tetapi dapat
ada sedikit kemiringan sehingga limpahan air hujan tidak akan menyerap dalam tanah dengan baik
mengenang di tempat tertentu, ditambah lagi dengan adanya saluran
drainase sehingga genangan air akan terkurangi

Slope
Walaupun lahan memiliki perbedaan tinggi 3 meter dari ujung utara hingga selatan, tetapi
lahan cenderung landai dengan kerapatan yang hamper sama sehingga ketinggan tidak terasa.
Luas lahan perbedaan ketinggian tiap bagian lahan juga dapat diketahui melalui slope ini.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE INVENTORY 12
Intensitas pemanfaatan ruang Intensitas kepadatan penduduk
Kepadatan Penduduk Nama Wilayah

Rendah Kawasan Pakem, Cangkringan, Sayegan,


Tempel, Minggir, Prambanan, Kalasan

Sedang Kawasan Ngaglik, Mlati, Gamping,


Godean

Tinggi Kawasan Depok

Sempadan Jalan Berdasarkan Peta Sistem Kota-Kota Kabupaten Sleman


Fungsi Jalan Tahun 2008 pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Arteri Kolektor Lokal Lingkungan Sleman tahun 2008 – 2018, Hirarki Kota Mlati termasuk
hirarki dua dengan kepadatan penduduk mencapai 24.000
22 m 12,5m  lokal dengan rencanalebar jalan 15m,  Lingkungan dengan rencana lebar
sempadan = 9,5m jalan 8m, sempadan = 6m jiwa pada tahun 2008 dengan kebutuhan rumah sebesar
 lokal dengan rencanalebar jalan 12m,  Lingkungan dengan rencana lebar
14.977 – 17421 unit pada tahun 2008.
sempadan = 9m jalan 7m, sempadan = 5,5m
 lokal dengan rencana lebar jalan 10m,  Lingkungan dengan rencana lebar
sempadan = 8m jalan 6m, sempadan= 5m
 umtuk ketentuan lain terkait pertahanan  Lingkungan dengan rencana lebar
dan keamanan serta pembangkit energi jalan 5m, sempadan= 4,5m
listrik diatur melelui ketentuan pada instansi
yang memiliki kewenangan  Lingkungan dengan rencana lebar
jalan 4m, sempadan= 4m

 Lingkungan dengan rencana lebar


jalan 3m, sempadan= 3,5m

 Lingkungan dengan rencana lebar


dibawah 3m tidak dikenakan
sempadan jalan

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE INVENTORY 13
Peraturan ukuran lapangan

Lapangan Futsal
Lapangan Tenis

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE SUITABILITY 14
Arah aliran air hujan Drainase

Pedestrian
a. Ruang yang harus dibutuhkan oleh satu pendestrian normal
memiliki lebar minimum 0,75 – 0,9 m x 1,8 m atau luas minimum
1,35 – 1,62 m².
b. Sementara pendestrian berkebutuhan khusus minimum sebesar
1,5 m x 1,5 m.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
15

PERENCANAAN BANGUNAN II
FARHAN SEPTIANTORO
17505241057

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE SUITABILITY 16
PENILAIAN LAHAN

1. Pembagian zona 4. Keragaman vegetasi

A Keterangan: 2 2 Keterangan:
B Zona A
1. Vegetasi tinggi
2. Vegetasi sedang
Zona B
C D Zona C 2 2 3. Vegetasi rendah
Zona D

2. Aliran air 5. viuw

2 2
Keterangan:
1. Aliran air deras 2 2
Keterangan:
1. Viuw pemandangan kurang
2. Aliran air sedang 2. Viuw pemandangan sedang
2 2 3. Aliran air kecil
2 2 3. Viuw pemandangan baik

3. slope 6. utilitas
Keterangan:
3 3 Keterangan: 3 3 1. Jarak utilitas jauh
1. Kemiringan curam 2. Jarak utilitas sedang
3. Jarak utilitas dekat
3 2
2. Kemiringan sedang
3. Kemiringan landai 3 3
PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE SUITABILITY 17
PENILAIAN LAHAN

Penilaian total

Rencana tapak
12 12

Entrance &
12 11 development
Entrance &
development

Keterangan:
<7 lahan tidak dapat dibangun
development development
8-10 lahan cukup baik dibangun
11-15 lahan sangat baik dibangun

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE SUITABILITY 18
RECONTOURING

Karena lahan lebih rendah dari jalan maka


dibutuhkan fill kuntur dengan tanah yang
dipadatkan dengan alat berat sehingga
permukaan lahan akan lebih tinggi dari jalan
yang sudah ada.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE SUITABILITY 19
Perhitungan luas bangunan
regulasi penyesuaian
no
ketentuan luasan luasan hasil ket
kdb yang digunakanyaitu 70% dari
1 KDB 70% 70% ok
10.000m2=7000m2
rth diperoleh 30% dari
2 RTH 30% 30% ok
10.000m2=3000m2
diperoleh dari peraturan perda sleman
3 jarah bangunan ke jalan 7m 7m ok
yaitu 7m
digunakan lebar jalan minimum 4m dan
4 lebar jalan minimal 4m 4m ok
tidak boleh buntu

5 lebar pedestrian 1,62m2 1.62m2 lebar pedestrian digunakan 1.62m2 ok

diperoleh kdh 10%dari 3000m2=300m2


6 KDH 10% 10% ok
dan sisanya untuk resapan air hujan
perhitungan lahan

fungsi luas (m2)


KDB 7000
RTH 2700
KDH 300
total 10000

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SITE SUITABILITY 20
Perhitungan luas bangunan
perhitungan bangunan
fungsi luas (m2) jumlah sirkulasi total dimensi

gedung futsal 450 3 30% 1755 30x59

lapangan tenis 264 2 50% 792 30x27

lapangan basket 364 1 30% 474 30x16

lapangan volly 162 2 70% 681 22x30

gedung fitness 1000 1 30% 1300 20x50

gedung layanan dan kantor 600 1 30% 780 20x30

foodcourt 200 1 30% 260 15x18

mushola 150 1 30% 200 12x17

total 6242

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
DESIGN CONSIDERATION 21

PEMBAGIAN ZONA BARU

ZONA A ZONA B
Dalam hal ini zona A akan Zona B akan digunakan
digunakan untuk zona untuk area parker dan
olahraga indoor. akses masuk sport center.
B
A
D C
ZONA D ZONA C
E
Zona D rencananya akan F Dalam hal ini zona C akan
digunakan untuk area G digunakan untuk gedung
pelayanan dan servis. kebugaran atau fitness.

ZONA E ZONA G
Rencananya zona E ZONA F Rencananya zona G akan
digunakan untuk area digunakan untuk area
ibadah dan saluran akhir Zona F akan digunakan olahraga outdoor.
drainase karena kontur untuk area olahraga
paling rendah. outdoor bola besar.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
DESIGN CONSIDERATION 22
PLOTING ZONASI GEDUNG PELAYANAN
POS SATPAM
Pos satpam dibuat agar Gedung yang berfungsi
keamanan lebih terjaga, untuk pelayanan dan
sehingga pengunjung merasa kantor pada sport center
aman dengan kendaraannya. ini.

GEDUNG FUTSAL GEDUNG FITNES


Gedung yang berfungsi untuk Gedung yang berfungsi
kegiatan olahraga futsal
untuk melatih kebugaran
indoor
pengunjung.

MUSHOLA
FOODCOURT
Mushola dibangun untuk
Digunakan sebagai tempat
mendukung kegiatan
istirahat dan makan
rohani pengunjung.
setelah olahraga.

KOLAM
PENAMPUNGAN LAPANGAN OUTDOOR
Digunakan sebagai Merupakan lapangan
penampungan air hujan olahraga luar ruangan.
sementara sebelum ke
saluran drainase komunal.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
DESIGN CONSIDERATION 23
SISTEM SIRKULASI

POS SATPAM
Pos satpam dibuat agar
keamanan lebih terjaga,
sehingga pengunjung merasa
aman dengan kendaraannya.

AREA PARKIR
Area parkir untuk menaruh
kendaran pengunjung sport
center. Direncanakan akses
kendaraan hanya sampai pada
parkiran saja sedangkan akses
pengunjung menggunakan
pedestrian

PEDESTRIAN
Jalur pejalan kaki digunakan
untuk akses pengunjung
untuk setiap fasilitas sport
center.

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
DESIGN CONSIDERATION 24
SISTEM DRAINASE

BIOPORI WATERHOLE
Biopori dibuat di ruang hijau Waterhole dibuat dengan
dengan jumlah 1 per 3m terintegrasi oleh drainase
persegi gabungan

DRAINASE GABUNGAN
Drainase dibuat dibawah
pedestrian seperti drainase
standar namun didalamnya
ada biopori atau peresapan,
selanjutnya limpahan
didistribusikan ke kolam
penampungan

Drainase standar
Drainase standar dibuat pada
daerah yang tidak terakses
pedestrian namunmemiliki
curahan air yang cukup
banyak

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
DESIGN CONSIDERATION 25
SITE PLAN

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN BANGUNAN II
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA