Anda di halaman 1dari 47

Preceptor: dr. R. A. Neilan Amroisa, Sp.

Oleh:

Amalia Widya Larasati


Charisatus Sidqotie
Maya Nadira Yasmine
• Nama : Tn W • Status pernikahan : Menikah
• Umur : 45 Tahun • Suku bangsa : Jawa
• Jenis kelamin : Laki-laki • Tanggal masuk :12 Februari 2020
• Pekerjaan : Petani • Tanggal pemeriksaan : 13 Februari 2020
• Agama : Islam • No. MR :623450
 Keluhan Utama : Penurunan kesadaran sejak 2 hari SMRS
 Keluhan Tambahan: Nyeri kepala hebat, lemas, mual dan muntah, sulit berjalan
 Riwayat Penyakit Sekarang
• Delapan bulan sebelum masuk RS pasien sering mengeluhkan adanya nyeri kepala yang
hilang timbul yang semakin lama semakin memberat. Keluhan nyeri kepala terjadi
secara kronik, dirasakan seperti berdenyut dan progresif Keluhan nyeri kepala diikuti
adanya keluhan mual dan pandangan kabur. Keluhan seperti muntah, riwayat
penurunan kesadaran, dan kelemahan anggota gerak disangkal. Pasien biasanya
konsumsi obat panadol untuk meredakan nyeri kepala yang ia rasakan, terkadang
keluhan membaik namun muncul kembali. Kemudian pasien melakukan pemeriksaan ke
RS Mitra Husada dan disarankan untuk melakukan CT-Scan kepala. Dari hasil
pemeriksaan pasien disarankan untuk dilakukan operasi.
• Dua minggu setelah menjalani operasi yang pertama, pasien menjalani operasi
pemasangan selang di kepala yang kedua kalinya dikarenakan masih mengeluhkan
adanya nyeri kepala hebat, mual diikuti muntah yang semakin progresif dan sering.
Keluhan pandangan kabur tidak membaik, keluhan kelemahan anggota gerak disangkal.
Setelah operasi kedua, keluhan berkurang dan pasien bisa melakukan aktivitas seperti
biasa.
 Riwayat Penyakit Sekarang
• Dua hari SMRS pasien mengalami penurunan kesadaran. Sebelumnya pasien
mengalami nyeri kepala dirasakan seperti ditusuk-ditusuk terutama dibagian depan
kepala. Selain itu pasien mengeluhkan mual, muntah menyembur satu kali, lemas, dan
pandangan kabur. Kemudian pasien mengeluhkan adanya keluhan kekakuan pada otot
kaki sehingga menyebabkan pasien sulit berjalan. Adanya keluhan seperti gangguan
penciuman, pandangan ganda, bibir perot, bicara pelo, rasa kebas atau kesemutan pada
wajah dan anggota gerak, gangguan perasa pada lidah, penurunan pendengaran, dan
gangguan menelan disangkal oleh keluarga pasien. Pasien masih mengerti apa yang
dibicarakan dan mampu mengeluarkan bahasa dengan baik dan mampu mengenali
sekitar. Adanya penurunan berat badan secara progresif disangkal.
Sacred Seven Riwayat Penyakit Sekarang
1. KU : Penurunan kesadaran

2. Lokasi : (-)

3. Onset : 2 hari sebelum masuk rumah sakit

4. Kualitas : sejak awal onset hingga saat ini

5. Kuantitas : Aktivitas terbatas semenjak onset sampai saat ini

6. Faktor Memperberat dan Memperingan : tidak ada

7. Gejala Penyerta : Nyeri kepala hebat, lemas, mual dan muntah, sulit berjalan
Riwayat penyakit dahulu:
Riwayat hipertensi, DM, tiroid disangkal.

Riwayat penyakit keluarga:


Riwayat keluarga menderita keganasan/tumor, DM,
Hipertensi (-).

Riwayat ekonomi&sosial: Pasien merupakan perokok


aktif.

BMI = 21,00 (normal)


TB: 169 cm
BB: 60 kg
STATUS PRESENT
Keadaan umum :Tampak sakit berat
Kesadaran : somnolen
GCS : E4 V2M4
Tekanan darah: 160/100 mmHg
Nadi : 115 x/menit, regular, isi cukup
RR : 23 x/menit
Suhu : 37,3 o C
Berat Badan : 60 kg
Tinggi Badan : 169 cm
Gizi : 21,00 (normal)
Kepala
Wajah : pltethora (-), moon facies (-), penonjolan dahi (-)
Rambut : Hitam, lurus, tidak mudah dicabut
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Telinga : Simetris, serumen minimal
Hidung : Sekret (-), pernafasan cuping hidung (-)
Mulut : Sianosis (-)
Thoraks

Pulmo
• Inspeksi : Normochest, deformitas (-),
simetris,
• Palpasi : Nyeri tekan (-), fremitus
taktil kanan = kiri
Cor
• Perkusi : Sonor (+/+)
• Auskultasi : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), • Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
wheezing (-/-) • Palpasi : Ictus cordis teraba (+) di ICS V axilla
anterior
• Perkusi : Batas jantung melebar
• Auskultasi : BJ I/II regular, gallop (-),
murmur (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar, lesi (-)

Auskultasi : Bising usus (+) 15/menit Ekstremitas


Perkusi : Timpani • Superior : CRT < 2s, edema (-/-),
Palpasi : Nyeri tekan (-),
kaku (+)
organomegali (-)
• Inferior : CRT < 2s, edema (-/-),

kaku (+)
Saraf Cranialis

N. Olfaktorius
Subyektif : sulit dinilai

N. Opticus
Tajam penglihatan : sulit dinilai
Lapang Penglihatan : sulit dinilai
Tes Warna : sulit dinilai
Fundus Oculi : sulit dinilai
N. Occulomotorius, N. Troklearis, dan N. Abdusen

Kelopak Mata
Gerakan Bola Mata
• Ptosis : (-/-)
• Endophtalmus : (-/-)
• Medial : sulit dinilai
• Exophtalmus : (-/-) • Lateral : sulit dinilai
• Lagofthalmus : (-/-) • Superior : sulit dinilai
Inferior : sulit dinilai
Obliqus Superior : sulit dinilai
Pupil
• Obliqus Inferior : sulit dinilai
• Diameter : 3mm / 3mm
• Bentuk : Bulat / bulat
• Isokor/anisokor : Isokor (+/+)
• Posisi : Central (+/+)
Refleks cahaya langsung : (+/+)
Refleks cahaya tidak langsung : (+/+)
N. Trigeminus
Sensibilitas
• Ramus ofthalmikus : sulit dinilai
• Ramus maksilaris : sulit dinilai
• Ramus mandibularis : sulit dinilai
Motorik
• N. Maseter : (+)
• M. Temporalis : sulit dinilai
Refleks
• Refleks kornea : sulit dinilai
• Refleks bersin : sulit dinilai
N. Facialis

Pasif Aktif
• Diam : Simetris • Mengerutkan dahi : sulit dinilai
• Lipatan nasolabialis : Simetris • Mengangkat alis : sulit dinilai
• Sudut bibir : Simetris • Menutup mata kuat-kuat : sulit dinilai
• Meringis/tertawa : sulit dinilai
• Menggembungkan pipi : sulit dinilai

Sensoris
• Pengecapan 2/3 depan lidah: sulit dinilai
N. Vestibulocochlearis
N. Glossofaringeus dan N. Vagus
N. Cochlearis
• Suara bindeng : sulit dinilai
Ketajaman pendengaran
Tes rinne : sulit dinilai • Posisi Uvula : sulit dinilai
Tes webber : sulit dinilai
• Refleks batuk : sulit dinilai
Tes schwabach : sulit dinilai
Tinitus : sulit dinilai • Refleks muntah : sulit dinilai

N. Vestibularis • Peristaltik usus : ada


Test vertigo : tidak dilakukan
Nistagmus : tidak dilakukan
N. Accesorious
• M. Sternocleidomastoideus : sulit dinilai
• M. Trapezius : sulit dinilai

N. Hipoglossus
Artikulasi : sulit dinilai
Deviasi : sulit dinilai
Atrofi : sulit dinilai
Fasikulasi : sulit dinilai
Superior (Ka/Ki) Inferior (Ka/Ki)
Gerak +/+ +/+
Kekuatan Otot Sulit dinilai Sulit dinilai
Tonus Hipertonus (spasitas) Hipertonus (spasitas)
Trofi eutrofi eutrofi
Refleks Fisiologis
 Bicep +meningkat/+meningkat
 Trisep +meningkat/+meningkat
 Pattela +/+
 Achiles +/+
Refleks Patologis
 Hoffman Traumer -/-
 Chadoks -/-
 Babinsky -/-
 Gordon -/-
 Gonda -/-
 Schaefer -/-
 Oppenheim -/-
Klonus -/-
Eksteroseptif Superioxr Inferior Propioseptif Superior Inferior

Rasa raba Sulit dinilai Sulit dinilai


Posisi Sulit dinilai Sulit dinilai
Rasa nyeri Sulit dinilai Sulit dinilai
Vibrasi Sulit dinilai Sulit dinilai
Suhu panas Sulit dinilai Sulit dinilai

Suhu dingin Sulit dinilai Sulit dinilai Tekanan Dalam Sulit dinilai Sulit dinilai
Saraf Otonom

 Miksi : Normal

 Defekasi : Normal
Fungsi Kortikal untuk Sensibilitas Tanda Perangsangan Selaput Otak
 Stereognosis : Sulit dinilai • Kaku Kuduk : (-)
 Grafognosis : Sulit dinilai • Kernig Test : (-/-)
• Brudzinsky I : (-/-)
Fungsi Luhur • Brudzinsky II : (-/-)
 Fungsi Bahasa : Sulit dinilai
 Fungsi Orientasi : Sulit dinilai
 Fungsi Memori : Sulit dinilai
 Fungsi Emosi : Sulit dinilai

Koordinasi dan Keseimbangan


 Finger to nose test : tidak dilakukan
 Tes Romberg : tidak dilakukan
 Tes Tandem gait : tidak dilakukan
Parameter Hasil Nilai rujukan Satuan

HEMATOLOGI

Hemoglobin 15.7 14,0 – 18,0 g/dL

Leukosit 10.500 5 – 10 103/μL

Eritrosit 44,9 4,37 – 5,63 106/μL

Hematokrit 45 41 – 54 %

Trombosit 309.000 150-450 103/μL

Ureum 55 19 – 44 mg/
Creatinin 0,9-1, dL
0.90
mg/
dL
15/6/2019 26/8/2019
11/2/2020
Dua hari SMRS pasien mengalami penurunan kesadaran. Sebelumnya pasien
mengeluhkan adanya nyeri kepala hebat dirasakan seperti berdenyut terutama dibagian
depan kepala. Selain itu pasien mengeluhkan mual, muntah menyembur satu kali, dan
lemas. Kemudian pasien mengeluhkan adanya keluhan kekakuan pada otot kaki
sehingga menyebabkan pasien sulit berjalan. Pasien masih mengerti apa yang
dibicarakan dan mampu mengeluarkan bahasa dengan baik. Pasien memiliki riwayat
keluhan serupa 8 bulan yang lalu dan telah menjalani operasi sebanyak 2 kali untuk
pemasangan selang di kepalanya.

Dari pemeriksaan fisik pasien tampak sakit berat kesadaran somnolen, TD 160/100
mmHg, pemeriksaan status generalis dalam batas normal, pemeriksaan nervus III,IV,VI
refleks pupil lambat; nervus VII; pemeriksaan pasif kesan simetris, lain-lain sulit dinilai.
Pemeriksaan sensorik & motoric sulit dinilai, pemeriksaan refleks fisiologis +meningkat
pada ekstremitas atas, refleks patologis (-) dan tonus otot hipertonus spasitas pada
keempat ekstremitas.
KLINIS

Penurunan kesadaran dan cephalgia

TOPIS

Sella turcica dan sistema ventrikel

ETIOLOGI
SOL susp. Pituitary adenoma
Hidrosefalus
KLINIS

Hipertensi Grade II

TOPIS

Vaskular

ETIOLOGI
Kerusakan endotel vaskular
Hormonal
Tatalaksana Non-medikamentosa
Tinggikan kepala 30o
Oksigenasi 3 lpm

Tatalaksana Medikamentosa
IVFD RL 20 tpm
Dexamethason injeksi 2x1 ampul (5 mg/mL)
Mannitol hari I 4x125 mg, hari II 3x125 mg, hari III 3x125 mg, hari IV 1x125 mg, hari V
stop.
Paracetamol 3x500 mg
Amlodipin 1x5 mg

Terapi Pembedahan
TTV , KU • Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya, faktor
risiko, rencana terapi, serta komplikasi
Defisit neurologi • Menjelaskan tentang prognosis penyakit
Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad Funcitonam : dubia ad bonam
Quo ad Sanationam : dubia ad bonam
Neoplasma intrakranial adalah suatu massa abnormal yang
ada di dalam tengkorak yang disebabkan oleh multiplikasi
sel-sel yang berlebihan dan menyebabkan adanya proses
desak ruang.
Secara umum, neoplasma intracranial dapat dikelompokkan menjadi
neoplasma intraaksial, yaitu neoplasma yang berasal dari parenkim otak (sel
saraf dan sel glia) dan yang berasal dari mesenkim, dan neoplasma
ekstraaksial yang berasal dari struktur ekstraserebral.
Sedangkan klasifikasi neoplasma intracranial berdasarkan topis neoplasma
dibagi menjadi dua, yaitu:
Neoplasma supratentorial
- Hemisfer serebral. Misalnya: meningioma, tumor merastase, glioma.
- Tumor midline. Misalnya: adenoma pituitary, tumor pineal,
kraniofaringioma.
Neoplasma infratentorial
- Pada dewasa misalnya schanoma serebelar, tumor metastase, meningioma,
hemangioblastoma, glioma batang otak.
- Pada anak-anak. Misalnya: astrositoma serebelar, meduloblastoma,
ependimoma.
Neoplasma intracranial secara umum menyebabkan peningkatan
tekanan intracranial (TIK) melalui dua mekanisme dasar, yaitu:
• Penambahan volume otak oleh jaringan neoplasma, sehingga
akan terjadi:
Tekanan oleh massa neoplasma
Tekanan oleh edema serebri
• Mekanisme obstruksi pada:
Obstruksi aliran CSS.
Obstruksi sistem vena.
Obstruksi absorbs CSS.
Timbulnya massa yang baru di dalam cranium seperti
neoplasma, akan menyebabkan terdesaknya komponen
intracranial yang normal sebagai konsekuensi lesi desak
ruang arau space occupying lesion (SOL).
TIK akan meningkat hanya bila mekanisme kompensasi
gagal. Misalnya, neoplasma fossa posterior atau
infratentorial adalah merupakan lesi massa sendiri, namun
juga memblok aliran CSS dari ventrikel atau melalui foramen
magnum, sehingga volume CSS menumpuk dan kompensasi
untuk massa tumornya sendiri akan terbatas.
• Pergeseran CSS; gambaran CT scan ventrikel kolaps pada
sisi ipsilateral dari neoplasma sedangkan ventrikel lateral
sisi kontralateralnya tampak distensi.
• Herniasi serebri; neoplasma yang pertumbuhannya cepat,
seperti glioblastoma, otak segera tergeser dari satu
kompartemen ke kompartemen lainnya.
• Edema serebri: edema serebri adalah peningkatan volume
serebri akibat bertambahnya kandungan air dan sodium
pada jaringan otak. Berdasarkan penyebabnya, edema
serebri dibagi menjadi tiga yaitu edema sitotoksik,
vasogenik, dan interstitial.
Gambaran klinis neoplasma intrakranial secara umum dibagi dalam tiga
kelompok, yaitu gambaran klinis umum, terlokalisir, dan terlokalisir palsu.
• Gambaran Klinis Umum
Biasanya disebabkan oleh meningkatnya TIK, infiltrasi difus dari massa
neoplasma, edema serebri, atau hidrosefalus. Gambaran klinsi umum yang
lebih sering terjadi adalah nyeri kepala, muntah, kejang, perubahan status
mental. Tanda klinisnya berupa edema papil. Nyeri kepala yang dirasakan
biasanya hebat di pagi hari, karena selama tidur malam tekademikian
meningkatkan TIK. Sifat muntah dari penderita dengan peningkatan TIK
adalah khas, yaitu proyektil tanpa didahului mual. Perlu dicurigai penyebab
bangkitan kejang adalah neoplasma intrakranial bila bangkitan kejang
pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun, mengalami post iktal paralisis,
mengalami status epilepsi, resisten terhadap obat-obat epilepsi, bangkitan
disertai gejala peningkatan TIK yang lain. Papil edem menujukkan adanya
edem/pembengkakan diskus optikus yang disebabkan oleh peningkatan TIK
yang menetap selama lebih dari beberapa hari/minggu.
• Gambaran klinis neoplasama terlokalisir
• Neoplasma lobus frontal: katatonia, refleks memegang, disartria kortikal, kelemahan
kontralateral, anosmia, kejang motorik sederhana/kejang umum yang diikuti paralisis post
iktal.
• Neoplasma lobus temporal; hemiapnosia kuadran atas homonim kontralateral, afasia
konduktif, disnomia, kejang parsial kompleks. Uncinated fit yaitu epilepsi dengan
halusinasi olfaktorik berupa mencium bau tidak enak pada preiktal atau postiktal disertai
automatisme, terdiri dari gerakan lidah mengecap dan bibir komat-kamit. Automatisme
merupakan tanda khas.
• Neoplasma lobus parietal: ggn sensorik & defisit atensi, disfungsi kortikospinal
kontralateral, hemianopsia kuadran bawah homonim kontralateral, kejang sederhana,
neglect, apraksia, & agnosia.
• Neoplasma lobus oksipital: nyeri kepala di oksiput, gangguan visual, dan hemianopsia
homonim.
• Neoplasma di hipotalamus: Obstruksi CSS.
Gambaran neoplasma intrakranial terlokalisir palsu
• Kelumpuhan saraf otak
• Refleks patologis yang positif pada kedua sisi
• Gangguan mental
• Gangguan endokrin
Penegakkan diagnosis neoplasma intrakranial ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan
pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan radiologi dan
patologi anatomi.
• Computed Tomography Scan (CT) prosedur diagnostic
yang paling penting. Penilaian pada CT scan adalah
meliputi proses desak ruang berupa midline shift,
penekanan dan perubahan bentuk ventrikel otak, kelainan
densitas pada lesi berupa hipodens, hiperdens, atau
kombinasi, kalsifikasi maupun perdarahan, serta edema
perifokal.
• Magnetic Resonance Imaging (MRI)
• Adenoma hipofisis adalah jenis neoplasma yang relatif
sering muncul, yaitu antara 10-20% dari semua kejadian
tumor intrakranial.

• Ditemukan secara kebetulan pada sekitar 10% pasien


yang menjalani radioimaging untuk indikasi lain.

• Tumor ini juga merupakan tumor tersering kedua secara


histopatologi pada pasien berusia 20-35 tahun
berdasarkan Central Brain Tumor Registry of the United
States (CBTRUS).
Klasifikasi
UKURAN KLINIS & ENDOKRIN PATOLOGI WHO
• mikroadenoma • nonfungsional • asidofilik • Presentasi klinis
< 10 mm dan tidak menyebabkan merupakan tumor dan aktivitas
terletak secara presentasi klinis yang sekretori (misalnya
keseluruhan dalam akibat hormon yang mensekresikan GH akromegali)
Keluhan
sella tursika berlebihan • Data neuroimaging
Utama (hipersekresi) • basofilik yang dan intraoperatif
• Makroadenoma mensekresikan (ukuran dan
> 10 mm yang bisa • fungsional ACTH invasinya-grade
berada dalam berasal dari sel Hardy)
intrasellar secara adenoma anterior • Kromofobik, tumor • Gambaran
keseluruhan hipofisis yang yang gagal diwarnai histologis (tipikal
namun sering mengatur sekresi didesain secara dan atau atipikal)
berhubungan dan regulasi dipercaya sebagai • Profil
dengan perluasan hormon peptida tumor yang imunohistokemikal
ekstrasellar. juga faktor stimulasi hormonnya tidak • Subtipe
aktif ultrastruktur
• Biologimolekular
• Genetik
Patogenesis

1. Teori bahwa tumor ini merupakan kelainan intrinsik


dalam kelenjar itu sendiri.

2. Teori lainnya disebabkan terutama oleh hipotalamus.


Menurut hipotesis kedua, tumor hipofisis merupakan
hasil dari stimulasi lanjutan oleh hormon atau faktor
hipotalamus.
Patofisiologi dan gejala klinis
Produksi hormon yang berlebihan. Misalnya tanda dan gejala dari hiperkortisolisme pada pasien
dengan adenoma yang mensekresi ACTH atau tanda dari pasien akromegali dengan adenoma yang
mensekresi GH.

Efek mekanik dari perluasan tumor ke dalam sella tursika. Seperti gejala sakit kepala,
gangguan penglihatan dan kelumpuhan saraf kranial.

Kelemahan fungsi hipofisis normal. Hal ini hampir selalu ditemukan pada pasien-pasien dengan
makroadenoma, pengecualian utama yaitu ketika gangguan dari fungsi hipofisis yang diakibatkan
oleh efek dari sekresi hormon yang berlebihan. Contoh lazim selanjutnya yaitu temuan
hipogonadsisme pada pasien dengan adenoma yang mensekresi prolaktin.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
• prolaktinoma
prolaktin di atas 200 mg/l pada pasien dengan makroadenoma merupakan landasan diagnostik prolaktinoma.

• Abnormalitas Hormon Pertumbuhan


TTGO adalah tes definitif untuk mendiagnosis akromegali; hasilnya positif apabila kadar GH tidak bisa turun
menjadi <1 μg/l setelah meminum 50-100 g glukosa. Kadar GH yang lebih besar dari 5 μg/l mengarah ke
akromegali.
Kadar IGF-1 mencerminkan konsentrasi GH selama 24 jam sebelumnya.

• Penyakit Cushing
Terjadi peningkatan kadar kortisol bebas dalam urin 24 jam
Tes dexamethasone dosis rendah bertujuan untuk menentukan nilai two-day baseline dari kadar kortisol
serum dan urin.
Tes dexamethasone dosais tinggi bertujuan untuk mengonfirmasi diagnosis adenoma hipofisis.
Terjadi peningkatan
Pemeriksaan kadar ACTH dalam serum (>5,5 pmol/l pada jam 9 pagi dan >2.2 pmol/l pada tengah
Neuroradiologi
malam).
Magnetic resonance imaging (MRI) adalah modalitas radioimaging terpilih untuk mendiagnosis dan melihat
karakteristik lesi hipofisis saat ini.
Diagnosis dan Diagnosis Banding
Diagnosa : gejala klinis dari gangguan hormon, pemeriksaan fisik yang menunjang,
pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan disfungsi dari hormon yang terganggu, adanya
pemeriksaan penunjang yang akurat seperti CT-Scan, MRI.

Diagnosa Banding
• kelainan hipofisis oleh karena terapi obat-obat yang mempengaruhi kerja hormon seperti
seseorang yang sedang mendapatkan terapi gonadotropin releasing hormone (GnRH) pada
penderita tumor prostate.
• Pemberian cytomel (triiodothyronine) dan juga bexarotene akan menekan sekresi TSH.
• Keadaan kehamilan akan menampakkan gejala hiperprolaktinemia.
• Lesi pada daerah hipotalamus menyebabkan hipersekresi dari prolaktin, maupun
terjadinya tekanan.
Farmakologi
Tatalaksana
Sebagian besar prolaktinoma memberikan respons yang baik terhadap agonis reseptor dopamin
seperti bromocriptine. obat analog somatostatin seperti octreotide dan antagonis reseptor
hormon pertumbuhan, pegvisomant, dapat membantu dalam menurunkan kadar GH pascaoperasi
dalam kasus akromegali. Agonis dopamin juga telah digunakan untuk terapi pada akromegali.
Terapi penggantian hormon untuk kadar hormon yang menurun atau bahkan tidak ada dapat
dilakukan sesuai kebutuhan.

Beberapa data menunjukkan bahwa bromocriptine dan octreotide dapat memberikan


radioresistensi relatif pada tumor yang menjalani radiosurgery. Akibatnya, banyak dokter
menyarankan untuk menghentikan kedua preparat ini 4-6 minggu sebelum tindakan bedah
dilakukan. Terapi dapat dimulai kembali satu minggu setelah radiosurgery.
Manajemen Bedah Fraksi Radiasi Stereotactic Radiosurgery
Tujuan dari prosedur operasi Untuk pengobatan adenoma Tujuan radiosurgery yaitu
adalah: hipofisis yang tidak dapat menormalkan sindrom
1. pengangkatan tumor secara direseksi. Mungkin hipersekresi hormon tanpa
total membutuhkan waktu terjadinya hipopituitarisme
2. dekompresi kiasma optikum bertahun-tahun sebelum efek yang baru dan melakukan
dan saraf kranial II (mata) terapi sepenuhnya dapat kontrol tumor secara
3. debulking tumor untuk terlihat. permanen.
cytoreduction,
4. menjaga atau memperbaiki
fungsi endokrin, dan
5. konfirmasi histologis.

Terdapat dua pendekatan


operasi, endonasal
transsphenoidal dan operasi
transkranial (kraniotomi).
operasi endonasal
transsphenoidal lebih banyak
dipilih untuk terapi bedah pada
adenoma hipofisis.