Anda di halaman 1dari 26

1

BITE MARK
Dosen Pengampu:
Rennie Puspa N,M.Farm.Klin.,Apt
Kelompok 7 :
1. Febby Primananda (08061381621059)
2. Hardi Kurnia Putra (08061381621056)
3. Ita Nuritasari (08061281722071)
4. Mipajrin Dwiani Putri (08061381621050)
5. Nindri Handayani (08061381621053)
6. Siti Aulia Mahmudah (08061381621058)
7. Taufiqurrahman (08061381621062)
2

DEFINISI
• Menurut William Eckert (1992), bite mark adalah bekas
gigitan dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam
bentuk luka, jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit
sebagai pola akibat dari pola permukaan gigitan dari gigi-gigi
pelaku melalui kulit korban.
• Menurut Bowers dan Bell (1995) mengatakan bahwa bite mark
merupakan suatu perubahan fisik pada bagian tubuh yang
disebabkan oleh kontak atau interdigitasi antara gigiatas
dengan gigi bawah sehingga struktur jaringan terluka baik oleh
gigi manusia maupun hewan.
3

Menurut Bowers (2004), karakteristik fisik pola


catatan gigitan adalah:

1. Lebar gigi : Jarak mesial-distal terlebar dari


suatu gigi.
2. Tebal gigi : Jarak dari labial ke lingual suatu
gigi.
3. Lebar rahang : Jarak pada rahang yang sama
dari satu sisi ke sisi lainnya (antartonjol).

KARAKTERISTIK DAN KLASIFIKASI BITE MARK


4

 Karakteristik gigi pada catatan gigitan:


1. Gigi anterior adalah gigi yang umumnya tercatat pada pola catatan gigitan.
• Gigi anterior rahang: Incisivus sentral lebar, incisivus lateral lebih sempit,
kaninus berbentuk konus.
• Gigi anterior rahang bawah: Lebar incisivus sentral dan incisivus lateral
hampir sama, kaninus berbentuk konus.
2. Rahang atas lebih lebar dibandingkan rahang bawah.
3. Jumlah gigi pada bekas gigitan biasanya berjumlah 12 sebanyak jumlah gigi
anterior kedua rahang (6 anterior rahang atas dan 6 anterior rahang
bawah).

KARAKTERISTIK DAN KLASIFIKASI BITE MARK


5

 Lukman (2006) mengatakan bahwa karakteristik catatan gigitan meliputi:


1. Bentuk empat gigi anterior rahang atas adalah segi empat dengan gigi sentral
memiliki bentuk yang lebih lebar.
2. Bentuk kaninus atas adalah bulat atau oval.
3. Bentuk gigi anterior rahang bawah adalah segi empat dengan lebar gigi yang
hampir sama.
4. Bentuk kaninus bawah adalah bulat atau oval.
5. Adanya jarak kemungkinan disebabkan oleh:
• Pelaku tidak memiliki gigi.
• Gigi lebih pendek dari ukuran normal.
• Terdapat benda yang menghalangi gigitan.
• Obyek yang digigit bergerak.
KARAKTERISTIK DAN KLASIFIKASI BITE MARK
6

 Karakteristik pola gigitan dibagi menjadi dua


kelompok besar yakni:
a. Karakteristik kelompok
Karakteristik kelompok adalah fitur, pola, atau sifat
yang biasanya terlihat, atau mencerminkan
KARAKTERISTIK POLA diberikan kelompok. Temuan biasa kotak persegi
GIGITAN panjang atau kecil seperti bentuk atau linier
memar di bagian tengah bekas gigitan merupakan
karakteristik kelompok manusia Gigi atas akan
menciptakan pola-pola yang lebih besar, karena
ukuran mereka. Nilai ini adalah bahwa ketika
terlihat di foto, tayangan atau pada kulit individu
yang hidup atau meninggal mereka memungkinkan
kita untuk mengidentifikasi kelompok (gigi sini atas
atau bawah) dari mana mereka berasal.
7

b. Karakteristik individu
Karakteristik individu adalah fitur, pola, atau sifat
yang merupakan variasi dari diharapkan
menemukan dalam sebuah kelompok tertentu.
Contoh ini akan menjadi diputar gigi, atau mungkin
KARAKTERISTIK POLA gigi cacat, rusak, atau pecah yang akan membantu
GIGITAN untuk membedakan antara dua dentitions berbeda
untuk membantu dalam menentukan gigi yang
menyebabkan cedera atau tanda gigitan. Ini adalah
penjumlahan dari individu karakteristik yang
menentukan, ketika mereka hadir dalam bekas
gigitan, gigi yang paling cocok ini tanda yang unik
atau berbeda ketika hadir di gigi seorang tersangka,
jika dibandingkan dengan tersangka lain dalam
kasus ini.
8

Kelas II :
Kelas I : menyerupai pola gigitan kelas I tetapi
terlihat pola gigitan cusp bukal dan
pola gigitan terdapat jarak dari palatal maupun cusp bukal dan cusp
gigi incisivus dan kaninus. lingual gigi P1, tetapi derajat pola
gigitannya masih sedikit.

POLA GIGITAN BEDASARKAN DERAJAT PERLAKUAN PERMUKAAN


9

Kelas III : Kelas IV:


derajat luka lebih parah dari kelas terdapat luka pada kulit dan otot
II, yaitu permukaan gigit incisivus di bawah kulit yang sedikit
telah menyatu akan tetapi dalamnya terlepas atau rupture sehingga
luka gigitan mempunyai derajat lebih terlihat pola gigitannya irreguler.
parah dari pola gigitan kelas II.

POLA GIGITAN BEDASARKAN DERAJAT PERLAKUAN PERMUKAAN


10

Kelas V : Kelas VI :
Terlihat luka yang menyatu pola memperlihatkan luka dari seluruh
gigitan incisivus, kaninus, dan gigitan dari gigi rahang atas dan
premolar baik pada rahang atas bawah, serta jaringan kulit dan otot
maupun rahang bawah. terlepas sesuai dengan kekerasan
oklusi dan pembukaan mulut

POLA GIGITAN BEDASARKAN DERAJAT PERLAKUAN PERMUKAAN


11

PEMERIKSAAN BITE MARK


Ditujukan untuk mendeteksi suatu kejadian
perkara dengan memperhatikan beberapa
aspek. Pemeriksaan di bagi menjadi;

Pemeriksaan Pemeriksaan
Awal Khusus
12

Pemeriksaan Awal

Gigitan biasanya tampak sebagai luka oval atau melingkar disertai goresan,
abrasi, kadang-kadang laserasi, indentasi, dan avulsi. Sering kali tampak
sebagai bentuk busur ganda atau kadang goresan tidak terpola. Paling
sering bekas gigitan berasal dari enam gigi depan atas atau enam gigi
depan bawah, kadang juga terdapat bekas gigitan yang berasal dari gigi
geraham belakang. Dalam kasus bekas gigitan, gigi yang keras
meninggalkan bekas berupa abrasi, laserasi, dan indentasi atau luka dan
trauma yang lain pada permukaan kulit yang halus pada lokasi yang digigit.
13

Pemeriksaan Awal
Menurut odontologi, bekas sirkuler atau melingkar di kulit yang terdiri dari
beberapa laserasi kecil dengan area pusat berupa ekimosis merupakan
karakteristik utama dari gigitan. Odontologi juga bisa membedakan
dimensi dari goresan, abrasi, dan laserasi sehingga dapat membantu
membedakan bekas gigitan tersebut merupakan gigitan manusia atau
bukan. Jika informasi yang tersedia minimal, jenis luka atau pola luka
kadang tidak dapat diidentifikasi.
14

Pemeriksaan Khusus
1. Pemeriksaan Bekas Gigitan pada Korban
Pengenalan dini dan pengawetan bekas Setelah foto, swab, impressi, dan bahan
gigitan adalah hal yang terpenting sehingga lain diambil dari korban, dokter gigi
sangat penting untuk mempunyai protokol forensik harus pula membuat catatan
penanganan bekas gigitan. Protokol standart detail mengenai prosedur dan bahan
yang disetujui oleh hampir seluruh yang digunakan bersama dengan batas
kedokteran forensik meliputi swab saliva tanggal akhir berlakunya dan nomor seri
pada luka bekas gigitan, fotografi luka, dan pabrik yang membuatnya. Sebagai
membuat model permukaan gigi dengan contoh, mencatat waktu diambilnya
mengambil impressi dari kulit. Pada kasus di impressi gigi, oleh siapa, bagaimana
mana korban meninggal, juga dapat prosedurnya, jumlah bahan yang dipakai,
dilakukan pengambilan kulit pada luka berat dan tipe batu gigi yang digunakan.
bekas gigitan.
15
Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan Bekas Gigitan pada Korban

Saliva Trace Evidence (Bukti Jejak Saliva) Fotografi


Pada penampilan luka yang meragukan, Daerah luka harus difoto dengan
penemuan enzim amilase pada luka menggunakan film berwarna dan film
dapat memastikan bahwa luka tersebut hitam-putih. Dalam interval 24 jam dan
merupakan bekas gigitan. Sebagai dalam periode 3-5 hari telah terbukti
tambahan, penelitian terakhir efektif untuk merekam fenomena
menunjukkan bahwa saliva juga kematangan luka memar. Kegunaan
mengandung sel sel epitel dari fotografi ini secara umum adalah
permukaan dalam bibir dan mukosa merekam lokasi gigitan pada tubuh
mulut, serta leukosit dari cairan atau korban sehubungan dengan letak
jaringan gusi. Sel-sel ini dapat menjadi anatomis. Fotografi close-up bertujuan
sumber bukti DNA. untuk merekam hal-hal spesifik dari bekas
gigitan tersebut.
16
Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan Bekas Gigitan pada Korban

Cetakan Permukaan Kulit Pelepasan Jaringan


Suatu cetakan akurat permukaan kulit Pada kasus yang melibatkan korban
dapat diperoleh dengan menggunakan meninggal, kulit korban dapat diambil dan
bahan-bahan impresi gigi. Kekakuan dan diawetkan. Hal ini sangat penting untuk
stabilitas adalah kriteria utama bahan mempertahakan kulit dalam bentuk
ideal mengingat kegunaannya untuk anatomis aslinya dan menghindari distorsi.
mempertahankan kontur anatomis Para dokter gigi forensik, menyetujui
impresi ketika dilepaskan dari kulit. bahwa penggunaan cincin acrylic dapat
Bahan-bahan seperti dental laboratory mempertahankan bentuk anatomis tubuh
stone, acrylic dental tray material, pada area sehingga meminimalisasi
thermoplastic tray material, dan pengerutan dan distorsi kulit
thermoplastic orthopedic mesh adalah
yang secara luas dipakai.
17

Pemeriksaan Khusus
2. Pemeriksaan Pada Tersangka
• Pemeriksaan Fisik
Beberapa hal yang dilakukakan pada pemeriksaan fisik
dimana diantaranya pengamatan dan rekaman dari
jaringan keras dan lunak yang signifikan, dinamika gigitan
dari tersangka,asimetris dari wajah dan tonus otot,.
Pembukaan maksimal dari mulut juga harus dicatat. Pada
rongga mulut, ukuran dan fungsi lidah harus dicatat,
begitu juga abnormalitas dari gerakannya, kesehatan
jaringan sekitar gigi yang berhubungan gigi yang goyang,
daerah meradang atau hipertrofi, dan gigi yang lepas juga
harus dicatat. Gigi yang patah juga harus dicatat secara
akurat untuk mengetahui berapa lama kondisi itu telah
terjadi.
18
Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan Pada Tersangka

Saliva Swab Fotografi Impresi Gigi


Jika saliva swab telah diambil Fotografi serial pada Bahan Vinyl PolySiloxane (VPS)
dari luka gigitan, odontologist tersangka yang ideal adalah menghasilkan model gigi yang
perlu untuk mengambil sampel merekam posisi gigi dan dagu sangat akurat. Pemakaian VPS
saliva dari pelaku. Gunakan dalam berbagai sudut, membutuhkan waktu lama,
cotton swab steril. Langkah ketajaman dan kontur gigi. sebaiknya digunakan bahan
yang terbaik yang bisa Foto pertama adalah foto lain yang penggunaannya lebih
dilakukan adalah dengan seluruh wajah dan profil dari cepat, contohnya Alginate. Tiga
memutar swab di dalam tersangka. Selanjutnya semua model gigi harus dibuat. Model
vestibulum dan sepanjang foto harus diambil sesuai pertama dibuat sebagai arsip,
mukosa pada daerah buccal dengan referensi skala yang kedua digunakan sebagai
dengan tekanan yang cukup ada dan disesuaikan dengan analisa gigitan dan yang ketiga
untuk mengambil saliva dan informasi yang ada. Skala yang digunakan sebagai cadangan.
melepas sel epitel. digunakan adalah referensi
skala ABFO no. 2.
19
Analisis Bite Mark dengan Photoshop
Prosedur Analisis Software

Tujuan:
Analisis ini bertujuan untuk
mengidentifikasi dan memudahkan
dalam mengenali siapa pelakunya,
oleh karena itu analisis yang akurat
sangatlah penting untuk
menghindari terjadinya kesalahan
tuduhan terhadap pelaku kekerasan
yang meninggalkan jejak bite marks.
20

Prosedur Analisis Software


4. Atur Opocity
2. Ubah ke Mode Grayscale Gambar bitemarks yang telah
(Klik Image – Mode – Grayscale). diwarnai kini ditempatkan pada layer
Hal digunakan untuk mempermudah dalam diatas foto gigitan mark asli
menghasilkan perbedaan bekas gigit dengan menggunakan Photoshop ® dari
daerah yang tidak terkena gigitan Adobe Systems ®

1. Upload File 3. Pertegas Resolusi Gambar 5. Bandingkan


Upload File foto Resolusi gambar tersebut kemudian diubah Sekarang dapat
bitemark dengan menjadi kompatibel dengan resolusi asli digunakan untuk
foto. Kebanyakan gambar bitemarks dipindai
Software Photoshop, membandingkan hasil
menggunakan scanner berkepadatan
dan Potong pada 300dpi. Bagian dari skala ABFO No.2 harus gigitan dengan hasil
daerah yang dipilih terlihat pada penempatan gambar. rekaan dental printer
21

Kasus
Seorang gadis muda (berusia 5 tahun) bermain kereta luncur pada sore musim
dingin. Ketika dia ingin membelai Rottweiler, ia digigit seperti yang dilaporkan oleh
ibunya ke polisi. Namun, pemilik anjing mengatakan bahwa anak itu terjatuh di
dekat anjing dan terluka oleh kalung yang memiliki paku. Lebih dari satu tahun
setelah kecelakaan itu terjadi kita punya file. Foto-foto yang diambil oleh keluarga
gadis itu, foto tersebut tidak memiliki skala dan menunjukkan luka bermotif di sisi
kanan wajah gadis itu. Pemotongan di sudut kanan mulut, yang telah diobati
dengan pembedahan, di dokumentasikan dalam laporan medis. Selain itu, daerah
lecet yang dangkal ditampakkan di pipi. Pengadilan menanyakan apakah luka yang
disebabkan oleh kontak dengan kalung atau dengan gigitan anjing. Penyelidikan
mengidentifikasi luka di sisi kanan wajah anak yang disebabkan oleh gigitan anjing.
Overlay dengan pola, yang diambil dari tengkorak dari Rottweiler, dapat jelas
disesuaikan dengan luka bermotif (Gambar 1, 2, dan 3). Selain itu, cedera muncul
seperti Bite mark yang khas, yang menunjukkan cedera yang disebabkan oleh
gigitan seekor anjing.
22

Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3.


Rahang atas dan Superimposisi dari tanda Kalung anjing, di
bawah dari diambil dari rahang tunjukkan oleh
Rottweiler Rottweiler dengan pola pemilik sebagai
tanda gigitan penyebab cedera
23

Analisa Kasus
Tanda Fisik
• Terdapat tanda seperti :
1. luka di sisi kanan wajah anak yang disebabkan oleh gigitan anjing
2. Overlay dengan pola, yang diambil dari tengkorak dari Rottweiler, dapat
disesuaikan dengan luka bermotif
3. Cedera muncul seperti Bite mark yang khas, yang menunjukkan cedera
disebabkan oleh gigitan anjing
• Gigitan dari hewan jarang menjadi objek dari identifikasi Bite mark. Gigi
hewan meninggalkan motif cedera yang berbeda dengan Bite mark oleh gigi
manusia. Hal ini berlaku pada anjing, yang merupakan penyebab dominan
dalam gigitan manusia. Anjing menggigit manusia delapan kali lebih sering
daripada manusia yang saling menggigit. Namun gigitan tersebut mungkin
perlu di analisis untuk membedakan apa spesies hewan yang telah
menyerang.
24

Analisa Kasus
Tanda Fisik
• Kualitas dan sudut dari foto-foto Bite mark dan
ketepatan identifikasi sangat penting untuk forensik
odontologi. Kulit manusia adalah bukti yang dapat
mengungkapkan jejak gigi individu. Mungkin muncul
sebagai pola melengkung ganda, atau bahkan tanda
homogeny bruise. Bite dapat terdistorsi dengan sifat
elastis dari jaringan kulit atau oleh lokasi anatomi.
Selain itu gigitan dari rahang atas dan rahang bawah
dapat mengubah tampilan tanda gigitan.
• Posisi tubuh pada saat mengigit juga dapat
mempengaruh Bite mark tersebut.
25

Kesimpulan Kasus
1. Dari analisis kasus tersebut dapat disimpulkan
bahwa korban memang terkena gigitan dari
anjing jenis Rottweiler.
2. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis dan
rekam medis dari korban yang menunjukkan
adanya bekas luka yang sama dengan bentuk
rahang atas dan bawah anjing jenis rottweiler.
3. Berbeda dengan penjelasan dari pemilik anjing
yang menyebutkan bahwa korban terjatuh
didekat anjing dan luka oleh kalung yang
memiliki paku.
26