Anda di halaman 1dari 54

Pawestri utami putu jayanti

Qori febriana rohmandani


Rizka dwi jayanti
Rosa amelia
Rostiana dewi
Definisi
 Berdasarkan buku yang berjudul Asuhan Keperawatan Klien
dengan gangguan sistem gastrointestinal menyatakan
bahwa Gastroenteritis yaitu radang pada lambung dan usus
yang memberikan gejala diare, dengan atau tanpa disertai
muntah, dan sering kali disertai peningkatan suhu tubuh .
diare yang dimaksud yaitu buang air besar berkali-kali
dengan jumlah melebihi 4 kali, dengan bentuk feses cair
dan bisa disertai dengan darah atau lendir (Suratun dan
Lusianah, 2010).
 Gastroenteritis merupakan peradangan pada lambung, usus
kecil dan usus besar, dengan berbagai kondisi patologis
dari saluran gastrointestinal dengan tanda gejala diare,
dengan atau tanpa disertai muntah, serta ketidaknyamanan
abdomen ( Arif Muttaqin, 2011).
Klasifikasi diare
 Klasifikasi diare dibagi menjadi diare akut dan
kronis. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung
kurang dari 14 hari. Diare kronik, yaitu diare yang
berlangsung lebih dari 14 hari dengan kehilangan
berat badan atau berat badan tidak bertambah
(failure to thrive) selama masa diare tersebut
(Kemenkes, 2011).
Manifestasi klinis
Menurut sodikin (2011), beberapa tanda dan gejala yang terjadi pada kasus
gastroenteritis yaitu :
 Bayi atau anak menjadi rewel, cenggeng, dan gelisah

 Suhu badan meningkat

 Nafsu makan berkurang atau tidak ada

 Timbul diare

 Feses makin cair, mungkin mengandung darah dan lender

 Warna feses berbah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu

 Terdapat gejala dan tanda dehidrasi : ubun-ubun besar, cekung pada


bayi, tonus otot dan turgor kulit berkurang, selapit lendir pada mulut dan
bibir terlihat kering
 Berat badan menurun

 Pucat dan lemah


Faktor-faktor yang menyebabkan
diare
 Infeksi Internal
 Faktor parasit

 Faktor makanan

Mengkonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri,


basi, beracun, alergi
 Faktor psikologis

 Diare akut yang bisa disebabkan oleh konsumsi obat-obatan yang


tidak cocok, seperti sulih hormon tiroid, laktasif (obat-obatan untuk
mengatasi sembelit), antibiotik, asetaminofen, kemoterapi, dan obat
golongan antasida.
 Perilaku personal hygiene, lingkungan dan sanitasi lingkungan seperti
kegiatan mencuci tangan menggunakan sabun, jamban sehat.
Patofisiologi
 Menurut Jonas (2003) pada buku Muttaqin (2011).
Selain itu, diare juga dapat terjadi akibat masuknya
mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil
melewati rintangan asam lambung. Mikroorganisme
tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan
toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi
yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
Mikroorganisme memproduksi toksin. enterotoksin yang
diproduksi agen bakteri (E. Coli dan Vibrio cholera)
akan memberikan efek langsung dalam peningkatan
pengeluaran sekresi air ke dalam lumen gastrointestinal
WOC
 ..\Downloads\Askep Diare.doc
Komplikasi
 Kehilangan air
 Gangguan keseimbangan asam basa
 Hipoglikemia
 Gangguan gizi
 Gangguan sirkulasi
Penatalaksanaan
 Penggantian cairan dan elektrolit
 Antibiotik : Antibiotik diindikasikan pada pasien
dengan gejala seperti demam, feses berdarah,
leukosit pada feses, mengurangi eksresi dan
kontaminasi lingkungan, persisten atau
penyelamatan jiwa pada diare infeksi, dan pasien
immunocompromised.
 Obat Anti diare
Pencegahan
 Memberikan ASI
 Memperbaiki makanan pendamping ASI
 Menggunakan air bersih yang cukup
 Mencuci tangan
 Menggunakan jamban
 Membuang tinja bayi dengan benar
 Pemberian imunisasi campak
 Pengelolaan sampah
Kasus
 Seorang perempuan berusia 25 tahun dirawat diruang seruni bawah dengan
riwayat saat masuk rumah sakit demam, diare dan muntah. Selain itu klien juga
memiliki riwayat penyakit gula (Diabetes militus) sejak usia 21 tahun trias gejala.
Pada saat pengkajian didapatkan klien mengatakan badan terasa lemas, panas
sudah 2 hari, perut terasa kembung, mual, muntah 3x/hari, BAB 7x/hari dengan
warna kuning kehijauan bercampur lendir, dan mengatakan perut seperti teremas
dan nyeri pada anus. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan mata cekung, mukosa
bibir kering, turgor kulit menurun, BB 80 Kg, TB 156 cm, anus tampak kemerahan
dan lecet. Hasil pemeriksaan abdomen yang tidak normal adalah perkusi
didapatkan hasil hypertimpani dan auskultasi peristaltik meningkat 40x/menit.
Tanda-tanda vital klien 90/60 mmHg, HR 112x/menit, RR 24x/menit, S 390C. Hasil
pemeriksaan GDS 264mg/dL,tidak ada luka pada kaki. Klien memiliki kebiasaan
jajan sembarangan, langsung makan tanpa memperhatikan apakah sudah cuci
tangan atau belum. Selama perawatan klien mendapatkan terapi infus RL 28TPM,
injeksi Metampiron 500mg/8jam IV, injeksi simetidine 200mg/8jam IV, injeksi
cefotaxime 500mg/8jam dan New Diatab 3x2 tablet (1,2 gram/8jam per oral).

Pengkajian
 Nama lengkap : Nn. A
 Umur : 25 tahun
 jenis kelamin : perempuan
 status perkawinan : belum kawin
 agama : Islam
 suku bangsa : Jawa
 pendidikan : SMA
 pekerjaan : wiraswasta
 Alamat : Jl. cilangkap Rt 05 Rw 07
Keluhan
Keluhan utama
 Nn. A berusia 25 tahun dirawat diruang seruni bawah
dengan riwayat saat masuk rumah sakit demam, diare dan
muntah. Pada saat pengkajian didapatkan klien
mengatakan badan terasa lemas, panas sudah 2 hari, perut
terasa kembung, mual, muntah 3x/hari, BAB 7x/hari
dengan warna kuning kehijauan bercampur lendir, dan
mengatakan perut seperti teremas dan nyeri pada anus.

Riwayat kesehatan masa lalu


 Penyakit gula (Diabetes militus) sejak usia 21 tahun trias
gejala
 ..\Downloads\Askep Diare.doc
 JUDUL :
 ORALIT 200 TERHADAP LAMA PERAWATAN BAYI
DENGAN DIARE AKUT DEHIDRASI RINGAN
SEDANG
PROBLEM
Populasi dalam penelitian ini berjumlah 30 anak atau
usia bayi dengan umur 1-12 bulan dengan
diagnosa medis diare dehidrasi ringan-sedang
(DRDS) yang dirawat sejak masuk di UGD sampai
rawat inap.
INTERVESION
 Hasil uji statistik Uji t independent diperoleh p value
sebesar 0,051 tidak ada perbedaan pengaruh
yang signifikan diantara kedua kelompok
terhadap lamanya perawatan bayi dengan
diare akut dehidrasi ringan- sedang. Dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa walaupun secara
uji statistik tidak ada perbedaan pengaruh namun
secara klinik dan penghitungan menunjukkan
adanya perbedaan dimana lama perawatan bayi
dengan diare akut dehidrasi ringan sampai
sedang selisih 1 hari atau 24 jam.
 Selama tahun 2013, terdapat 267 kasus diare
akut di RS Banyumanik Semarang dengan jumlah
pasien paling banyak ada di rentang usia 1-4
tahun yakni mencapai 73 orang. Namun demikian,
tidak semua pasien mendapat terapi antibiotik,
melainkan hanya 54 pasien saja, 32 (59%)
diantaranya merupakan pasien anak laki-laki dan
22 (41%) pasien anak perempuan.
COMPARISON
 Hasil uji statistik independent t test dengan
CI95% menunjukkan bahwa tidakter dapat
perbedaan yang signifikan lama perawatan pada
kedua kelompok dengan p value=0,051; α >
0,05). Hal ini dikarenakan oralit 200 mengandung
kadar natrium dan glukosa yang memiliki nilai
osmolaritas rendah, sehingga mempercepat
absorpsi cairan dalam tubuh dan dengan cepat
menggantikan cairan secara efektif terutama tubuh
dalam keadaan dehidrasi ringan-sedang.
OUTCOME
 hasil uji statistik independent t test dengan CI
95% menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang signifikan lama perawatan pada
kedua kelompok dengan p value= 0,051; α >
0,05). Hal ini dikarenakan oralit 200 mengandung
kadar natrium dan glukosa yang memiliki nilai
osmolaritas rendah, sehingga mempercepat
absorpsi cairan dalam tubuh dan dengan cepat
menggantikan cairan secara efektif terutama
tubuh dalam keadaan dehidrasi ringan-sedang.
ANALISA JURNAL
QORRI FEBRIYANA
ROMANDANI
Judul Jurnal
 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEJADIAN DIARE DI DESA SOLOR KECAMATAN
CERMEE BONDOWOSO
Kata Kunci
 Diare Faktor resiko Sanitasi lingkungan

Penulis Jurnal
 Handono Fatkhur Rahman1*, Slamet Widoyo2*,
Heri Siswanto3*, Biantoro4*
LATAR BELAKANG
 Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang sering menyebabkan kejadian
luar biasa. Diare merupakan salah satu penyebab utama dari morbiditas dan
mortalitas di negara yang sedang berkembang dengan kondisi sanitasi lingkungan
yang buruk, persediaan air yang tidak adekuat, kemiskinan, dan pendidikan yang
terbatas (WHO, 2013). Setiap tahun di dunia terdapat 1 dari 5 anak meninggal
akibat diare (UNICEF, 2009). Pada tahun 2012 di dunia sebanyak 2.195 anak
meninggal setiap hari akibat diare (CDC, 2012). Berdasarkan pada Riskesdas
tahun 2013 di Indonesia period prevalence diare adalah sebanyak 3,5% lebih
kecil dibanding Riskesdas tahun 2007 sebanyak 9%. Penurunan prevalensi ini
diasumsikan pada tahun 2007 pengumpulan data tidak dilakukan secara serentak,
sementara tahun 2013 pengumpulan data dilakukan secara serentak (Riskesdas,
2013). Prevalensi diare di Indonesia pada usia >15 tahun adalah sebanyak
30,1%, sedangkan prevalensi diare pada usia <15 tahun sebanyak 21,9%
(Riskesdas, 2013). Berdasarkan pada Riskesdas tahun 2013 bahwa Propinsi Jawa
Timur menduduki posisi ke 11 jumlah prevalensi diare terbanyak dari 33 propinsi
yang ada di Indonesia (Riskesdas, 2013). Salah satu Kabupaten di Jawa Timur
yang wilayah kecamatannya ditetapkan KLB (kejadian luar biasa) adalah
Kabupaten Bondowoso.
 Kejadian diare di Kabupaten Bondowoso sampai dengan bulan September tahun 2015
sebanyak 22.791 penderita diare. Kejadian diare di Kabupaten Bondowoso terbanyak
terjadi di Kecamatan Tlogosari, Kecamatan Cermee, dan Kecamatan Wonosari. Penderita
diare sampai bulan September tahun 2015 di Kecamatan Cermee sebanyak 1.741 penderita
diare dengan cakupan terbanyak berada di Desa Solor. Pada tahun 2013 di Kecamatan
Cermee ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) diare. Banyak faktor resiko yang
diduga menyebabkan terjadinya penyakit diare. Salah satu faktor antara lain adalah sanitasi
lingkungan yang kurang baik, persediaan air yang tidak hiegienis, dan kurangnya
pengetahuan (WHO, 2013). Selain itu, faktor hygiene perorangan yang kurang baik dapat
menyebabkan terjadinya diare (Primona dkk, 2013; Azwinsyah dkk, 2014), kepemilikan
jamban yang tidak ada dapat menyebabkan diare (Azwinsyah dkk, 2014). Tingginya angka
kejadian diare, peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian diare, terutama dalam menganalisis adanya hubungan dengan
faktor ketersediaan air bersih, faktor sanitasi lingkungan, faktor ketersediaan jamban, faktor
hygiene perorangan, faktor perilaku buang tinja, dan faktor sanitasi makanan. Pemilihan di
Desa Solor, Kecamatan Cermee sebagai tempat penelitian didasarkan pada angka
prevalensi yang tinggi dan juga pernah di tetapkan sebagai daerah dengan KLB (kejadian
luar biasa) diare di Kabupaten Bondowoso, serta belum pernah dilakukan penelitian tentang
faktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian diare di Desa Solor, Kecamatan Cermee
setelah dijadikan daerah KLB diare.
TUJUAN PENELITIAN
 Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor
yang berhubungan dengan kejadian diare
terutama faktor ketersediaan air bersih, sanitasi
lingkungan, ketersediaan jamban, hygiene
perorangan, perilaku buang tinja, dan sanitasi
makanan.
METODOLOGI PENELITIAN
 Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan menggunakan
pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga
yang bertempat tinggal di Desa Solor, Kecamatan Cermee dengan jumlah
1050 keluarga. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 105 responden
dengan teknik pengambilannya menggunakan simple random sampling.
 Pengumpulan data dengan cara wawancara yang tersetruktur dengan
menggunakan kuesioner kepada responden yang terpilih sebagai sampel
penelitian, pemilihan tersebut dilakukan secara acak sederhana (simpel
random sampling) yaitu dengan cara undian. Populasi sebanyak 1050
kepala keluarga yang ada selanjutnya dibuat tulisan angka sesuai dengan
nomor urut rumah (blok sensus), selanjutnya nomor tersebut dicampur secara
acak berikutnya peneliti mengambil secara acak jumlah sampel yang
diinginkan. Analisa bivariat yang digunakan adalah Chi square dengan
tingkat kepercayaan 95% (alfa = 0,05), dan analisa multivariat yang
digunakan adalah regresi logistik berganda.
HASIL PENELITIAN
 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-
faktor yang berhubungan dengan diare antara lain
sanitasi lingkungan (p value = 0,000), ketersediaan
air bersih (p value = 0,005), hygiene perorangan
(p value = 0,010), sanitasi makanan (p value =
0,020), ketersediaan jamban (p value = 0,031),
dan perilaku buang tinja (p value = 0,044).
KELEMAHAN PENELITIAN
 Desain penelitian menggunakan desain deskriptif
analitik dengan pendekatan cross sectional yang
hanya mengambil data pada satu waktu
 Sample hanya berjumlah 105 responden dan akan
ada kemungkinan lebih besar
 Tidak diberikan penjuluhan kesehatan untuk
mengurangi faktor-faktor penyebab diare
KELEBIHAN PENELITIAN
 Peneliti dapat menjelaskan lama dilakukannya
penelitian
 Dapat mengambarkan secara jelas faktor-faktor
yang menyebabkan diare
MANFAAT PENELITIAN
 Dapat menjadi sumber rujukan sebagai upaya
promotif dan preventif terhadap terjadinya diare
 Bagi rumah sakit dapat rujukan untuk managemen
penyakit diare
 Dapat menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya
 Bagi perawat dapat memberikan loiteratur dalam
pemberian asuhan keperawatan pada pasien diare
ANALISA JURNAL
RIZKA DWI JAYANTI
201511023
Judul jurnal :
 Hubungan praktik cuci tangan, kriteria pemilihan
warung makan langganan dan sanitasi warung dengan
kejadian diare pada mahasiswa universitas negeri
semarang
Kata kunci :
 Hand washing, practice; Food stall Choosing Criteria;
Sanitation of food stall; Diarrhea
Penulis jurnal :
 Endang Trikora, Arum Siwiendrayanti
LATAR BELAKANG
 Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia
dan juga merupakan penyakit potensial KLB yang sering
disertai dengan kematian. Banyak faktor yang dapat
memicu penyebarannya yaitu melalui praktik –praktik yang
tidak higienes, seperti menyiapkan makanan dengan tangan
yang belum dicuci setelah buang air atau membersihkan
tinja seorang anak, atau membiarkan seorang anak
bermain didaerah dimana ada tinja yang terkontaminasi
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan praktik
cuci tangan, kriteria pemilihan warung makan langganan
dan sanitasi warung dengan kejadian diare pada
mahasiswa Universitas Negeri Semarang
TUJUAN PENELITIAN
 Untuk mengetahui hubungan praktik cuci tangan,
kriteria pemilihan warung makan langganan dan
sanitasi warung dengan kejadian diare pada
mahasiswa Universitas Negeri Semarang
MANFAAT PENELITIAN
 Melakukan perilaku hidup bersih dan sehat dengan
cara mencuci tangan karena penularan kuman
diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan
dengan sabun, terutama sesudah buang air besar,
sesudah membuang tinja anak dan sebelum makan,
dapat menurunkan angka kejadian diare
 Untuk membuat pembaca untuk lebih
memperhatikan kualitas sarana sanitasi kantin
METODOLOGI PENELITIAN
 Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif
observasional dengan menggunakan pendekatan Cross
Sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu mahasiswa
Universitas Negeri Semarang yang masih aktif yang
berjumlah 28.827 orang. Sampel pada penelitian ini
yaitu sebanyak 320 mahasiswa Universitas Negeri
Semarang yang tersebar dari setiap jurusan dan
fakultas di Universitas Negeri Semarang.
Pengambilan sampel dilakukan secara accidental
sampling, pengambilan sampel secara aksidental
(accidental) ini dilakukan dengan mengambil kasus
atau responden yang kebetulan atau tersedia.
HASIL PENELITIAN
 Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan
antara kriteria pemilihan warung makan langganan
dengan kejadian diare pada mahasiswa Universitas
Negeri Semarang (p=0,028). Dan tidak terdapat
hubungan antara praktik cuci tangan mahasiswa
(p=0,978), sanitasi warung (p=0,705) dengan
kejadian diare pada mahasiswa Universitas
Negeri Semarang
KELEBIHAN PENELITIAN
 Dalam penganalisaan peneliti tertulis jelas dalam
penganilisaan hasil dari setiap kata kunci yang
telah dibuat.
 Sampel yang digunakan sebanyak 320 mahasiswa
dari 28.827 orang.
KELEMAHAN PENELITIAN
 Tidak dijelaskan tanggal dan waktu dilakukannya
penelitian
ANALISA JURNAL
ROSA AMELIA
 Judul : Model pendekatan education of the mother
community(emc) dalam pencegahan diare pada anak
di pekapuran raya
PROBLEM

 Sampel pada penelitian ini yaitu Ibu balita


dibawah 5 tahun dan 3 bulan terakhir
mengalami diare, bertempat tinggal di
sepanjang pinggiran sungai Pekapuran Raya
serta bersedia mengikuti keseluruhan kegiatan
promosi kesehatan melalui model pendekatan
Education of the mother community.
INTERVENSION
 Penelitian ini bersifat quasi eksperimental one
group pre-post test design. Teknik pengambilan
sampel secara purporsive sampling. Analisis data
dilakukan dengan cara wawancara langsung
kepada responden serta berdasarkan hasil
observasi lapangan. Instrumen penelitian
kuesioner disertai hasil diskusi serta simulasi
peran di deskripsikan (narasi) dari kegiatan EMC
secara sistematis. Data pemahaman ibu balita
yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan
uji paried t-test dengan derajat kepercayaan 95%.
 Dalam penelitian ini tindakan perbaikan dan
peningkatan keterampilan pencegahan diare
antara lain yaitu manajemen deteksi balita
diare (MDBD) dan simulasi peran ibu dalam
mengurangi dehidrasi saat diare. Pelaksanaan
kegiatan promosi kesehatan ini menekankan
pada model EMC (Model Education of the
mother community).
COMPARISON
 Jurnal Model Pendekatan Education Of The Mother
Community (Emc) Dalam Pencegahan Diare Pada Anak
Di Pekapuran Raya
Berdasarkan hasil ujian alisis statistik menggunakan
uji paired test dengan α =0.05 pada pre test dan post
test di dapatkan peningkatan secara signifikan, artinya
terdapat perbedaan sebelum dan setelah intervensi
menggunakan penerapan model Education of Mother
Community (EMC), efektif atau bermanfaat sebagai
media informasi dan promosi kesehatan (p<0,05).
Terjadinya perubahan nilai tersebut karena responden
telah memahami model dan materi yang disampaikan.
 Jurnal Pengaruh Media Permainan Engklek Dalam
Meningkatkan Perilaku Pencegahan Diare Di SDN 2
Laeya Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2017
Berdasarkan hasil penelitian ada pengaruh media
permainan engklek terhadap peningkatan pengetahuan
siswa kelas IV tentang pencegahan penyakit diare
sebelum dan sesudah intervensi di SDN 2 Laeya
Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2017 dengan p
value (0,001) < α (0,05), Penelitian yang telah
dilakukan menunjukkan hasil bahwa responden yang
sudah mendapatkan intervensi berupa permainan
engklek mengalami peningkatan kategori positif dalam
upaya pencegahan diare.
Tidak ada pengaruh media permainan engklek terhadap peningkatan
sikap siswa kelas IV tentang pencegahan penyakit diare sebelum
dan sesudah intervensi di SDN 2 Laeya Kabupaten Konawe Selatan
Tahun 2017 dengan p value (0,687) > α (0,05), responden yang
sudah mendapatkan intervensi berupa permainan engklek
mengalami peningkatan motivasi sudah cukup baik dari 52 siswa
terdapat 98,1% yang termasuk dalam kategori baik dalam upaya
pencegahan diare dan 1,9% responden yang memiliki tindakan
buruk dalam pencegahan diare. Dan ada pengaruh media permainan
engklek terhadap peningkatan tindakan siswa kelas IV tentang
pencegahan penyakit diare sebelum dan sesudah intervensi di SDN
2 Laeya Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2017 dengan p value
(0,001) < α (0,05).
OUTCOME
Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya
peningkatan pemahaman ibu balita terhadap
pencegahan diare setelah dilakukan kegiatan promosi
menggunakan model pendekatan education of the
mother community(p<0,05). Model penelitian ini
terbukti bermanfaat untuk menyampaikan informasi
kesehatan berhubungan dengan pencegahan diare pada
balita, hal ini terlihat dari keterampilan ibu balita dalam
penatalaksanaan diare secara tepat dan benar melalui
manajemen deteksi balita diare, simulasi oralit serta
mampu mediagnosa lingkungan serta terdapat
peningkatan pengetahuan ibu balita setelah dilakukan
kegiatan EMC.
 ..\Downloads\ppt bunga.pptx
Terimakasih 