Anda di halaman 1dari 22

MIOPIA

Oleh :
Dinah Kusuma Wardani
(G1A219017)

Pembimbing:
dr.Djarizal, Sp.M.,MPH

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN / KSM MATA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU
KESEHATAN / RSUD RADEN MATTAHER
UNIVERSITAS JAMBI
2020
PENDAHULUAN
• Penyakit mata sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan di dunia, terutama yang menyebabkan
kebutaan. Kelainan refraksi (0,14%) merupakan penyebab utama kebutaan ketiga setelah katarak (0,78%) dan
glaukoma (0,20%).
• Kelainan refraksi adalah keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada retina, dimana terjadi ketidakseimbangan
sistem penglihatan pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur.
• Salah satu jenis kelainan refraksi, yaitu miopia. Miopia adalah suatu kelainan refraksi di mana sinar cahaya
paralel yang memasuki mata secara keseluruhan dibawa menuju fokus di depan retina.

Miopia, yang umum disebut sebagai kabur jauh (nearsightedness), merupakan salah satu dari lima besar penyebab
kebutaan di seluruh dunia. Dikatakan bahwa pada penderita miopia, tekanan intraokular mempunyai keterkaitan
yang cenderung meninggi pada tingkat keparahan miopia.
Tinjauan Pustaka
ANATOMI MATA
a. Kornea  jendela paling depan dari mata dimana sinar masuk dan difokuskan ke

dalam pupil.

b. Iris  menghalangi sinar masuk ke dalam mata dengan cara mengatur jumlah

sinar masuk ke dalam pupil melalui besarnya pupil.

c. Pupil  mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata.

d. Badan siliar  akomodasi dan menghasilkan cairan mata.

e. Lensa  membiaskan sinar 20% atau 10 dioptric, saat melihat dekat atau

berakomodasi.

f. Retina  mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya dan terletak

di belakang pupil.

g. Saraf optik yang keluar dari polus posterior bola mata membawa 2 jenis serabut

saraf, yaitu: saraf penglihat dan serabut pupilomotor.


FISIOLOGI MATA
• Mata secara optik dapat disamakan dengan sebuah kamera fotografi. Mata mempunyai sistem lensa, sistem apertura yang dapat berubah-ubah (pupil), dan

retina yang dapat disamakan dengan film.

• Sistem lensa mata terdiri atas empat perbatasan refraksi, yaitu:

• perbatasan antara permukaan anterior kornea dan udara;

• perbatasan antara permukaan posterior kornea dan humor aquosus;

• perbatasan antara humor aquosus dan permukaan anterior lensa mata; dan

• perbatasan antara permukaan posterior lensa dan humor vitreous.

Dikenal beberapa titik di dalam bidang refraksi, seperti Pungtum Proksimum merupakan titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan

jelas. Pungtum Remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas, titik ini merupakan titik dalam ruang yang

berhubungan dengan retina atau foveola bila mata istirahat.


FISIOLOGI MATA
Proses melihat bermula dari masuknya seberkas cahaya dari benda yang diamati ke dalam mata

melaui lensa yang kemudian dibiaskan pada retina (makula). Terjadi perubahan proses sensasi cahaya

menjadi impuls listrik yang diteruskan ke otak melalui saraf optik untuk kemudian diinterpretasikan.

Kemampuan seseorang untuk melihat tajam (fokus) atau disebut juga tajam penglihatan (acies visus)

tergantung dari media refraktif di dalam bola mata.


DEFINISI
• Miopia adalah anomali refraksi pada mata
dimana bayangan difokuskan di depan retina,
ketika mata tidak dalam kondisi
berakomodasi.
• Miopia adalah keadaan pada mata dimana
cahaya atau benda yang jauh letaknya jatuh
atau difokuskan didepan retina.
• Supaya objek atau benda jauh tersebut dapat
terlihat jelas atau jatuh tepat di retina
diperlukan kaca mata minus.
Epidemiologi
SLIDE 8
• Diperkirakan bahwa 2,3 miliar orang di
seluruh dunia mengalami kelainan
refraksi.
• Sebagian besar memiliki kelainan refraksi
yang dapat dikoreksi dengan kacamata,
tetapi hanya 1,8 miliar orang yang
melakukan pemeriksaan dan koreksiyang
terjangkau.
• Saat ini, myopia masih menjadi masalah
kesehatan masyarakat yang utama
terutama di negara negara Asia, seperti
Taiwan, Jepang, Hongkong dan Singapura.
• Prevalensi dari miopia dipengaruhi oleh
usia dan beberapa faktor lain.
ETIOLOGI

Menurut Ilyas (2006) miopia disebabkan karena terlalu kuat pembiasan sinar di
dalam mata untuk panjangnya bola mata akibat :
1. Kornea terlalu cembung
2. Lensa mempunyai kecembungan yang kuat sehingga bayangan dibiaskan kuat
3. Bola mata terlalu panjang
PATOFISOLOGI
• Miopia dapat terjadi karena ukuran sumbu bola mata yang relatif panjang dan disebut sebagai miopia aksial. Dapat juga
karena indeks bias media refraktif yang tinggi atau akibat indeks refraksi kornea dan lensa yang terlalu kuat. Dalam hal
ini disebut sebagai miopia refraktif
• Miopia degeneratif atau miopia maligna biasanya apabila miopia lebih dari - 6 dioptri(D) disertai kelainan pada fundus
okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil
disertai dengan atrofi korioretina.
• Atrofi retina terjadi kemudian setelah terjadinyaatrofi sklera dan kadang-kadang terjadi ruptur membran Bruch yang
dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi subretina.
• Pada miopia dapat terjadi bercak Fuch berupa hiperplasi pigmen epitel dan perdarahan, atropi lapis sensoris retina luar
dan dewasa akan terjadi degenerasi papil saraf optik (6).
KLASIFIKASI
Menurut Ilyas (2009) dikenal beberapa bentuk miopia seperti :
• Miopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumessen dimana
lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan miopia bias atau myopia indeks,
miopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.
• Miopia aksial, miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan kelengkungan kornea dan lensa yang
normal.

Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam :


a. Miopia ringan, dimana miopia kecil daripada 1 -3 dioptri
b. Miopia sedang, dimana miopia lebih antara 3 -6 dioptri
c. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 dioptri
KLASIFIKASI
Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk :
a. Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah
dewasa
b. Miopia progresif, miopia yang bertamb ah terus
pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola
mata
c. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif,
yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan
kebutaan atau sama dengan myopia pernisiosa =
miopia maligna = miopia degeneratif.
FAKTOR RISIKO

faktor faktor
herediter atau lingkungan,
keturunan, dan gizi
GEJALA KLINIS DAN TANDA
Gejala klinis pada miopia antara lain adalah : Tanda-tanda:

1. Menurunnya penglihatan bahkan dengan koreksi refraksi


Status Segmen
2. Penderita merasa tidak nyaman ketika menggunakan lensa Status refraksi
okulomotor anterior
koreksi, dimana kacamata untuk miopia tinggi biasanya berat
Perubahan
dengan distorsi yang bermakna di tepi lensa, lapang pandangan
Lensa Vitreus pada diskus
juga terbatas optikus
3. Dijumpai degenerasi vitreus, dimana vitreus ini lebih cair dan Perubahan
mempunyai prevalensi yang tinggi untuk pelepasan vitreus pada retina Sklera Koroid
perifer
posterior (PVD)
Perubahan
pada area
makula
DIAGNOSIS
1. Riwayat pasien
Komponen utama dari riwayat pasien yaitu identifikasi masalah dan keluhan-keluhan utama seperti keluhan visual,
okular, dan riwayat kesehatan umum pasien, riwayat keluarga dan perkembangan, dan alergi obat -obatan.

2. Pemeriksaan Kelainan Refraksi


• Refraksi subjektif
Memeriksa kelainan pembiasan mata pasien dengan memperlihatkan kartu optotipi Snellen dan memasang lensa yang
sesuai dengan hasil pemeriksaan bersama pasien.
• Refraksi Objektif
Melakukan pemeriksaan kelainan pembiasan mata pasien dengan alat tertentu tanpa perlunya kerjasama dengan
pasien. Pemeriksaan objektif dipakai alat :
Refrationometer apa yang disebut pemeriksaan dengan komputer
Streak retinoskopi

3. Pemeriksaan Tambahan
Untuk mengidentifikasi kondisi yang berkaitan dengan perubahan retina pada pasien dengan miopia degeneratif.
Pemeriksaan tambahan tersebut dapat berupa : Fotografi fundus, Ultrasonografi A- dan B-scan, Lapangan pandang, Tes
seperti gula darah puasa (misalnya untuk mengidentifikasi penyebab dari miopia yang didapat) (American Optometric
Association, 2006).
TATALAKSANA
Koreksi refraksi

Modifikasi lingkungan

Tindakan operatif

Fotokoagulasi laser

Pengawasan Tekanan Intra Okule r (TIO)

Pendidikan penderita
PROGNOSIS
• Prognosis untuk koreksi miopia sederhana sangat baik. Pasien memiliki lapangan pandang yang lebih
jauh dengan koreksi. Bergantung dengan derajat miopia, astigmatismat, anisometropia, dan daya
akomodasi pasien,
• Prognosis pada miopia nokturnal adalah baik.
• Prognosis untuk pseudomiopia biasanya baik tapi biasanya waktu yang dibutuhkan untuk koreksi
lebih lama.
• Prognosis pada pasien dengan miopia degeneratif bervariasi tergantung pada perubahan retina dan
okuler.
• Pada kasus miopia didapat, baik prognosis maupun pemeriksaan berkala dilakukan berdasarkan ada
atau tidaknya kondisi yang menjadi pemicu terjadinya miopia
KOMPLIKASI
• Floaters  Kekeruhan badan kaca yang disebabkan proses pengenceran dan organisasi, sehingga menimbulkan
bayangan pada penglihatan.
• Skotoma  Defek pada lapang-pandangan yang diakibatkan oleh atrofi retina.
• Trombosis koroid dan perdarahan koroid  Sering terjadi pada obliterasi dini pembuluh darah kecil. Biasanya
terjadi di daerah sentral, sehingga timbul jaringan parut yang mengakibatkan penurunan tajam penglihatan.
• Ablasio retina  Merupakan komplikasi yang tersering. Biasanya disebabkan karena didahului dengan timbulnya
hole pada daerah perifer retina akibat proses -proses degenerasi di daerah ini.
• Glaukoma sederhana  Komplikasi ini merupakan akibat atrofi menyeluruh dari koroid.
• Katarak  Merupakan komplikasi selanjutnya dari miopia degeneratif, terjadi setelah usia 40 tahun. Biasanya
adalah tipe pole posterior. Sering dihubungkan pula dengan adanya degenerasi koroid (9)
Kesimpulan
KESIMPULAN

Miopia adalah anomali refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di depan retina, ketika mata tidak

dalam kondisi berakomodasi. Miopia dapat diakibatkan terjadinya perubahan indeks bias dan kelainan panjang

sumbu bola mata.

Miopia dapat dengan mudah dideteksi, diobati dan dievaluasi dengan pemberian kaca mata. Namun demikian

miopia menjadi masalah serius jika tidak cepat ditanggulangi. Oleh karena itu setiap pasien wajib dilakukan

pemeriksaan visus sebagai bagian dari pemeriksaan fisik mata umum.


DAFTAR PUSTAKA
1. American Academy of Ophthalmology. 2009. Basic Clinical Science and Course 2005-2006. New York: American
Academy of Ophthalmology;
2. Charman, N, 2011, Myopia: Its Prevalence, Origins, and Control, Ophthalmic and Physiological Optics, 31: 3–6.
doi: 10.1111/j.1475-1313.2010.00808.x
3. Guyton, A.C, 2007, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Jakarta: EGC
4. Curtin, B.J, 2012, The Myopia, The Philadelphia Harper & Row: pp 348
5. Ilyas, S, 2006, Kelainan Refraksi dan Kacamata, Jakarta: Balai Penerbit FKUI
6. Ilyas, S, 2009, Ilmu Penyakit Mata, Jakarta: Balai Penerbit FKUI
7. Sloane, A.E, 2008, Manual of Refraction, USA: Brown and Company, pp 39-47
8. Woo, W, Lim, K, Yang, H, 2004, Refractive Errors in Medical Students in Singapore, Medical Journal Vol 45(10):470
www.sma.org.sg/smj/4510/4510al.pdf>
9. Vaughan, D, Asbury, T, 2009, Oftalmologi Umum, Jakarta: EGC
TERIMAKASIH