Anda di halaman 1dari 60

INDIKATOR KINERJA PROGRAM GIZI

TAHUN 2020 - 2024

Direktorat Gizi Masyarakat


RPJMN RENSTRA TARGET
KINERJA
NO INDIKATOR (PERPRES
IKP IKK GIZI Basedline Target
18/2020)
Prevalensi stunting (pendek dan
1 1 1 2019: 27,7% 2024: 14%
sangat pendek) pada balita
Prevalensi wasting (gizi kurang dan
2 1 1 2019: 7,4% 2024:7%
gizi buruk) pada balita
Jumlah balita yg mendapatkan
3 1 tidak ada 2020: 90.000
suplementasi gizi mikro
Persentase Ibu hamil Kurang
4 1 1 1 2018:17,3% 2024:10%
Energi Kronis (KEK)
Persentase Kabupaten/kota yang
5 1 1 tidak ada 2024:100%
melaksanakan Surveilans gizi
Persentase Puskesmas mampu
6 1 tidak ada 2024:60%
tatalaksana gizi buruk pada balita
Persentase bayi usia kurang dari 6
7 1 1 1 2018:74% 2024:60%
bulan mendapat ASI Eksklusif
8 Persentase balita underweight 1 2019: 16,3%
9 Persentase ibu hamil anemia 1 2018: 48,9%
Persentase bayi dengan berat
10 badan lahir rendah (berat badan < 1
2500 gram)
RPJMN RENSTRA TARGET
KINERJA
NO INDIKATOR (PERPRES
IKP IKK GIZI Basedline Target
18/2020)
Persentase bayi usia 6 bulan
11 1
mendapat ASI Eksklusif
Persentase ibu hamil yang
mendapatkan Tablet Tambah Darah
12 1
(TTD) minimal 90 tablet selama masa
Kehamilan
Persentase ibu hamil Kurang Energi
13 Kronik (KEK) yang mendapat 1
makanan tambahan
Persentase balita gizi kurang yang
14 1
mendapat makanan tambahan
Persentase remaja puteri mendapat
15 1
TTD
Persentase bayi yang baru lahir
16 1
mendapat IMD
Persentase balita yang ditimbang
17 1
berat badannya
Persentase balita mempunyai buku
18 1
KIA/KMS
Persentase balita ditimbang yang
19 1
naik berat badannya
Persentase balita 6-59 bulan
20 1
mendapat kapsul vitamin A
RPJMN RENSTRA TARGET
KINERJA
NO INDIKATOR (PERPRES
IKP IKK GIZI Basedline Target
18/2020)
21 Persentase ibu nifas mendapat kapsul vitamin A 1
Persentase rumah tangga mengonsumsi garam
22 1
beriodium

Persentase anak berusia di bawah lima tahun


23 (balita) gizi buruk yang mendapat pelayanan tata 1
laksana gizi buruk
Penjelasan Indikator RPJMN 2020-2024
INDIKATOR RPJMN TARGET RPJMN 2020-2024
No DEFINISI OPERASIONAL FORMULA SUMBER DATA
2020-2024 2020 2021 2022 2023 2024
1 Prevalensi stunting Balita yang memiliki indeks Balita memiliki • Survey Status 24.1 21.1 18.4 16.0 14.0
(pendek dan panjang badan atau tinggi indeks PB-TB/U <-2 Gizi Indonesia
sangat pendek) badan menurut umur (PB- Standar Deviasi (Balitbangkes)
pada balita TB/U) dengan z-score <-2 dibagi seluruh balita setiap tahun
(persen) Standar Deviasi yang diukur indeks • Operasi
PB-TB/U dikali 100% timbang setiap
Februari dan
Agustus
2 Prevalensi wasting Balita yang memiliki indeks Balita memiliki • Survey Status
(kurus dan sangat berat badan menurut indeks BB/PB-TB <- Gizi Indonesia 8.1 7.8 7.5 7.3 7.0
kurus) pada balita panjang badan atau tinggi 2 Standar Deviasi (Balitbangkes)
(persen) badan (BB/PB-TB) dengan dibagi seluruh balita setiap tahun
z-score <-2 Standar Deviasi yang diukur indeks • Operasi
BB/PB-TB dikali timbang setiap
100% Februari dan
Agustus

Catatan diskusi:
Berdasarkan Permenkes 2 tahun 2020, padanan istilah wasting adalah gizi buruk dan gizi kurang,
apakah akan disesuaikan bunyi indikatornya?
Penjelasan Indikator RPJMN 2020-2024
INDIKATOR RPJMN TARGET RPJMN 2020-2024
No DEFINISI OPERASIONAL FORMULA SUMBER DATA
2020-2024 2020 2021 2022 2023 2024
1 Persentase balita Balita yang dalam kurun Balita yang dipantau • Laporan rutin 60 70 75 80 85
yang dipantau waktu satu tahun pertumbuhan dan tahunan
pertumbuhan dan ditimbang berat badannya perkembangannya • Survey
perkembangannya minimal 8 kali, diukur dibagi dengan
panjang /tinggi badannya seluruh balita yang
minimal 2 kali dan ada dikali 100%
diperiksa
perkembangannya minimal
2 kali
2 Jumlah balita yg Balita yang mendapatkan Jumlah balita yang • Laporan rutin 90.000 140.000 190.000 240.000 290.000
mendapatkan suplementasi gizi mikro mendapat taburia tahunan
multipel mikro adalah anak usia 6-59 di kabupaten/kota
nutrient bulan dengan prioritas usia lokus stunting
6 - 23 bulan dengan
kategori berat badan
kurang (underweight)
berdasarkan indeks Berat
Badan menurut Umur
(BB/U) dengan z-score
kurang dari -2 SD dan tidak
termasuk kategori wasting
Penjelasan Indikator Renstra
INDIKATOR TARGET RPJMN 2020-2024
No DEFINISI OPERASIONAL FORMULA SUMBER DATA
RPJMN 2020-2024 2020 2021 2022 2023 2024
Persentase Ibu Ibu hamil dengan risiko Ibu hamil dengan Laporan Rutin, 16% 14.5% 13% 11.5% 10%
hamil Kurang kurang energi kronis LILA kurang dari Survei
Energi Kronis (KEK) yang ditandai 23,5 cm dibagi
(KEK) dengan ukuran Lingkar jumlah ibu hamil
Lengan Atas (LiLA) yang diperiksa
kurang dari 23,5 cm LiLA
pada pemeriksaan
kehamilan

Catatan:
• Sumber data dapat berasal dari laporan rutin setiap triwulan atau survey setiap tahun
• Perlu disepakati kembali apakah IKP dilaporkan setiap triwulan atau setiap bulan?
No Indikator Definisi Operasional Formula Sumber Data Target
2020 2021 2022 2023 2024
1 Persentase kabupaten/kota yang minimal 70% dari Persentase Laporan 51% 70% 80% 100 100
Kabupaten/kota jumlah puskesmas melakukan kegiatan Kabupaten/kota Rutin % %
yang pengumpulan data, pengolahan dan yang
melaksanakan
analisis data, serta diseminasi informasi melaksanakan
Surveilans gizi
a.Pengumpulan data adalah puskesmas di surveilans gizi
wilayah kerja kabupaten/kota melakukan adalah
entry data sasaran balita dan ibu hamil kabupaten/kota
serta data pengukuran melalui Sistem yang
Informasi Gizi Terpadu, rerata setiap melaksanakan
bulan mencapai minimal 60% sasaran ibu surveilans gizi
hamil dan balita dibagi seluruh
b.Pengolahan dan analisis data adalah kabupaten kota
puskesmas di wilayah kerja dikali 100%
kabupaten/kota melakukan konfirmasi dan
identifikasi penyebab kekurangan
giziterutama gizi buruk pada balita 100%
dari kasus
c.Diseminasi informasi adalah puskesmas
di wilayah kerja Kabupaten/Kota
melakukan penyusunan rencana kegiatan
berdasarkan hasil surveilans gizi dan
diupload kedalam sistem setiap triwulan
9
No Indikator Definisi Operasional Formula Sumber Data Target
2020 2021 2022 2023 2024

2 Persentase Puskesmas mampu Puskesmas mampu Laporan Rutin 10% 20% 30% 45% 60%
Puskesmas melakukan tatalaksana gizi tatalaksana gizi
mampu buruk pada balita dengan buruk pada balita
tatalaksana gizi kriteria: adalah puskesmas
buruk pada balita 1. Mempunyai Tim Asuhan mampu tatalaksana
Gizi terlatih, terdiri dari gizi buruk dibagi
dokter, bidan/perawat, jumlah seluruh
dan tenaga gizi puskesmas dikali
2. Memiliki SOP 100%
tatalaksana gizi buruk
pada balita

3 Persentase bayi Bayi umur 0 bulan sampai 5 Persentase bayi usia Laporan Rutin 40% 45% 50% 55% 60%
usia kurang dari 6 bulan 29 hari yang diberi kurang dari 6 bulan
bulan mendapat ASI saja tanpa makanan mendapat ASI
ASI Eksklusif
atau cairan lain kecuali Eksklusif adalah bayi
obat, vitamin dan mineral usia kurang dari 6
dalam 24 jam terakhir tanpa bulan mendapat ASI
riwayat pemberian makan Eksklusif dibagi
seluruh bayi usia
kurang dari 6 bulan
dikali 100% 10
Kebijakan Nasional Perbaikan Gizi
UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJP 2005-2025
Pembangunan pangan dan perbaikan gizi dilaksanakan secara lintas sektor meliputi produksi, pengolahan, distribusi, hingga
konsumsi pangan dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang, serta terjamin keamanannya

UU 36 tahun 2009 tentang Kesehatan


Arah perbaikan gizi adalah MENINGKATNYA MUTU GIZI perorangan dan masyarakat. Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau
masyarakat bersama-sama menjamin tersedianya bahan makanan yang bergizi secara merata dan terjangkau

Perpres No. 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional


Upaya penggalangan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinir untuk percepatan
perbaikan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan.

Permenkes No 23 Tahun 2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi


Pelayanan Gizi dalam siklus kehidupan, Pendidikan gizi, suplementasi gizi, tatalaksana gizi, pelayanan gizi baik di faskes, diluar faskes dan di
masyarakat serta SURVEILANS GIZI

Permenkes 14 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan Teknis Surveilans Gizi


Pelaksanaan Surveilans Gizi melalui Tahapan Pengumpulan data, pengolahan dan analisis serta Aksi
Permenkes Nomor 14 Tahun 2019

Ditetapkan di
Jakarta pada
tanggal
17 Juni 2019

12
Indikator Masalah Gizi dan Kinerja Program Gizi
serta Faktor Risiko Masalah Gizi (pasal 4)

13
MASALAH GIZI
1. Persentase Balita Berat Badan Kurang (Underweight)
Berat Badan Kurang merupakan masalah gizi yang bersifat umum dapat disebabkan
karena masalah kronis ataupun akut, sehingga perlu konfirmasi lebih lanjut.
Masalah Berat Badan Kurang yang terjadi lama akan mengakibatkan gangguan
pertumbuhan pada anak. Indikator ini sebagai indikator outcome yang bertujuan
untuk mengevaluasi dampak dari upaya program gizi yang telah dilakukan

Definisi Operasional
• Balita adalah anak yang berumur dibawah 5 tahun (0 sampai 59 bulan 29 hari)
• Berat Badan Kurang adalah kategori status gizi berdasarkan indeks Berat Badan
menurut Umur (BB/U) dengan Z-score kurang dari -2 SD

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔


% Balita Berat Badan Kurang = 𝑋 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔
2. Persentase Balita Pendek (Stunting)
Balita Pendek merupakan masalah gizi yang bersifat kronis yang disebabkan oleh
banyak faktor baik dari masalah kesehatan maupun di luar kesehatan dan
berlangsung lama. Balita Pendek berdampak pada gangguan kognitif dan risiko
menderita penyakit degeneratif pada usia dewasa. Indikator ini sebagai indikator
outcome yang bertujuan untuk mengevaluasi dampak dari upaya program gizi yang
telah dilakukan.

Definisi Operasional
• Balita adalah anak yang berumur dibawah 5 tahun (0 sampai 59 bulan 29 hari)
• Pendek adalah kategori status gizi berdasarkan indeks Tinggi Badan menurut
Umur (TB/U) dengan z-score kurang dari -2 SD

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑒𝑘


% Balita Pendek = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑖𝑢𝑘𝑢𝑟
3. Persentase Balita Gizi Kurang (Wasting)
Gizi kurang merupakan masalah gizi yang bersifat akut terutama disebabkan oleh
asupan yang kurang atau penyakit infeksi. Gizi kurang berdampak pada gangguan
pertumbuhan pada anak. Indikator ini sebagai indikator outcome yang bertujuan
untuk mengevaluasi dampak dari upaya kinerja gizi yang telah dilakukan

Definisi Operasional
• Balita adalah anak yang berumur dibawah 5 tahun (0 sampai 59 bulan 29 hari)
• Gizi kurang adalah kategori status gizi berdasarkan indeks Berat Badan menurut
Tinggi Badan (BB/TB) dengan z-score kurang dari -2 SD

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝐺𝑖𝑧𝑖 𝐾𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔


% Balita Gizi Kurang = 𝑋 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑢𝑘𝑢𝑟
Mekanisme pelaporan
• Penimbangan dan pengukuran dilakukan pada saat kegiatan Pemantauan
Pertumbuhan setiap bulan yang dilakukan pada seluruh sasaran balita di
wilayah kerja Puskesmas seperti di Posyandu dan fasilitas pendidikan
anak usia dini.
• Laporan hasil penimbangan dan pengukuran dicatat dan di entry ke
dalam ePPGBM oleh Puskesmas. Kategori status gizi dapat dihitung
secara otomatis oleh sistem aplikasi tersebut.
• Frekuensi pelaporan minimal 2 kali dalam setahun (Februari dan
Agustus).
• Apabila penimbangan dan pengukuran tidak dapat dilakukan pada
seluruh sasaran maka indikator ini dapat diperoleh melalui survey
Format Pencatatan
FORMULIR PENCATATAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BALITA DI POSYANDU

Provinsi : Nama Posyandu :


Kabupaten/Kota : Bulan :
Puskesmas/Kecamatan : Tahun :
Desa/Kelurahan
Panja
Kepemili Cara BB (kg) ASI EksklusifF1=YA, 2=Tidak Perkembangan
NIK ng
Berat Panjang kan Ukur
Jenis (Nomor IMD Nama NIK No Tlp/ Tgl Badan Vitamin
Anak Tanggal No Kartu Nama Badan Badan Buku 1=Telent LiLA 6 - Lingkar
No Kelami Induk 1=YA, Orang orang HP orang Alamat RT RW Pengu / A 1=YA umur umur 2 umur 3 umur umur umur 6 KPSP Buku KIA Tindak
Ke Lahir Keluarga Anak (BB) lahir KIA/KMS ang Ds/Dm/ Lanjut 59 bulan Kepala
n Kependu 2=Tidak tua tua tua kuran Tinggi 2=Tidak 1 bln bln bln 4 bln 5 bln bln S/TS
Lahir (cm) 1=YA, 2=Berdir Dp SL/SU/R
dukan) Badan
2=Tidak i
(cm)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) (29) (30) (31) (32) (33)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Keterangan
- Kolom 11 : Jika ayah tidak ada, maka diisikan nama ibu
- Kolom 12 : Jika ayah tidak ada, maka diisikan NIK
ibu
- Kolom 13 : Jika ayah tidak ada, maka diisikan No Telp/Hp
ibu
- Kolom 29 : Jika Pemantauan perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembanan (SDIDTK), diisi Ds (sesuai), jika skor KPSP = 9 - 10, Dm (meragukan) Jika skor KPSP =7 - 8 , diisi Dp
(kemungkinan penyimpangan) jika skor <7
- Kolom 30 : Jika Pemantauan perkembangan menggunakan ceklist buku KIA, diisi S jika jawaban ya untuk seluruh pertanyaan, diisi TS jika ada satu atau lebih jawaban tidak
untuk seluruh pertanyaan
- Kolom 31 : diisi SL (lanjutkan stimulasi dan jadwalkan kunjungan berikutnya) jika hasil pemeriksaan KPSP atau ceklist buku KIA
menghasilkan sesuai (S)
diisi SU (Stimulasi Ulang selama 2 minggu) jika hasil pemeriksaan melalui KPSP menghasilkan skor
Meragukan (M)
diisi R (Rujuk) jika hasil pemeriksaan melalui KPSP menghasilkan Penyimpangan (P) atau jika pemeriksaan melalui buku KIA
menghasilkan Tidak Sesuai (TS)
4. Persentase Remaja Puteri Anemia
Anemia pada remaja putri berdampak buruk terhadap penurunan imunitas,
konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran dan produktivitas. Dampak yang lebih
serius akan terjadi karena mereka adalah calon ibu yang akan hamil dan melahirkan
bayi yang berisiko terhadap kematian ibu melahirkan dan bayi lahir prematur serta
BBLR. Anemia sebagai indikator rendahnya kualitas kesehatan dan gizi

Definisi Operasional
• Remaja putri adalah remaja putri yang berusia 12-18 tahun yang bersekolah di
SMP/SMA atau sederajat.
• Remaja putri anemia adalah remaja putri dengan kadar Hb kurang dari 12,0 g/dl

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑅𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖 𝐴𝑛𝑒𝑚𝑖𝑎


% Remaja Putri Anemia = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑅𝑒𝑚𝑎𝑗𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎 𝐻𝑏
Mekanisme pelaporan
• Melakukan pengukuran Hb baik di pelayanan kesehatan atau pada saat
kegiatan penjaringan kesehatan anak sekolah dan mencatat hasil pengukuran
Hb kedalam register.
• Mengkategorikan status anemia atau normal.
• Frekuensi Pelaporan minimal 1 kali dalam setahun

PERSENTASE REMAJA PUTRI ANEMIA

Jumlah Sasaran TAHUNAN


No Puskesmas Proyeksi Remaja Jumlah Remaja Jumlah Remaja Putri % Remaja Putri
Putri Putri Periksa Hb Anemia Anemia

JUMLAH
5. Persentase Ibu Hamil Anemia
Anemia pada ibu hamil menjadi salah satu penyebab terjadinya bayi BBLR dan
pendarahan pada saat persalinan yang berujung pada kematian ibu. Anemia
sebagai indikator rendahnya kualitas kesehatan dan gizi

Definisi Operasional
• Ibu hamil anemia adalah ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 g/dl.
• Persentase ibu hamil anemia adalahjumlah ibu hamil anemia terhadap jumlah ibu
hamil yang diperiksa dikali 100%

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐼𝑏𝑢 𝐻𝑎𝑚𝑖𝑙 𝐴𝑛𝑒𝑚𝑖𝑎


% Ibu Hamil Anemia = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐼𝑏𝑢 𝐻𝑎𝑚𝑖𝑙 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎 𝐻𝑏 𝑋100%
𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑙𝑖
Mekanisme pelaporan
• Melakukan pengukuran Hb ibu hamil yang dilakukan saat pemeriksaan
kehamilan pertama kali (K1)
• Mengkategorikan status anemia atau normal.
• Frekuensi Pelaporan minimal 1 kali dalam sebulan
FORMAT PENCATATAN DAN PELAPORAN PERSENTASE IBU HAMIL ANEMIA

JANUARI FEBRUARI MARET - DESEMBER TAHUNAN


Jumlah
Sasaran Jumlah Ibu Jumlah Ibu Jumlah Ibu Jumlah Ibu Jumlah Ibu Jumlah Ibu Total Ibu Total Ibu
No Puskesmas % Ibu Hamil % Ibu Hamil % Ibu Hamil % Ibu Hamil
Proyeksi Ibu Hamil Hamil Hamil Hamil Hamil Hamil Hamil Hamil
Hamil Anemia Anemia Anemia Anemia
Periksa Hb Anemia Periksa Hb Anemia Periksa Hb Anemia Periksa Hb Anemia

JUMLAH
6. Persentase Ibu Hamil Kurang Energi Kronik (KEK)
Kurang Energi Kronik adalah kurangnya asupan energi yang berlangsung relatif
lama. Keadaan KEK pada ibu hamil jika tidak segera ditangani akan menyebabkan
gangguan kesehatan bagi ibu dan janin yang dilahirkan seperti keguguran, bayi
BBLR bahkan kematian. Sehingga wajib dilakukan pengukuran status gizi pada ibu
hamil untuk dapat menentukan tindakan segera

Definisi Operasional
Ibu hamil KEK adalah ibu hamil risiko KEK dengan Lingkar Lengan Atas (LiLA) kurang
dari 23,5 cm dari pemeriksaan kehamilan

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐼𝑏𝑢 𝐾𝐸𝐾


% Ibu Hamil KEK = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐼𝑏𝑢 𝐻𝑎𝑚𝑖𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎 𝐿𝑖𝐿𝐴
Mekanisme pelaporan
• Melakukan pengukuran LiLA ibu hamil yang dilakukan saat pemeriksaan
kehamilan pertama kali (K1)
• Mengkategorikan status KEK atau normal.
• Frekuensi Pelaporan minimal 1 kali dalam sebulan
FORMAT PENCATATAN DAN PELAPORAN PERSENTASE IBU HAMIL KEK

JANUARI FEBRUARI MARET - DESEMBER TAHUNAN


Jumlah
Sasaran Jumlah Ibu Jumlah Ibu Jumlah Ibu Total Ibu
No Puskesmas Jumlah Ibu % Ibu Hamil Jumlah Ibu % Ibu Hamil Jumlah Ibu % Ibu Hamil Total Ibu % Ibu Hamil
Proyeksi Ibu Hamil Hamil Hamil Hamil
Hamil Hamil KEK KEK Hamil KEK KEK Hamil KEK KEK Hamil KEK KEK
Periksa LiLA Periksa LiLA Periksa LiLA Periksa LiLA

JUMLAH
7. Persentase Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor
determinan terjadinya masalah pendek. Indikator ini sebagai indikator outcome
dari kondisi gizi ibu selama kehamilan

Definisi Operasional
Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram.

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑖 𝐵𝐵𝐿𝑅


% Bayi BBLR = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑖 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑙𝑎ℎ𝑖𝑟 ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔
Mekanisme pelaporan
• Melakukan penimbangan berat badan bayi baru lahir
• Mengkategorikan status berat badan bayi rendah atau normal.
• Frekuensi Pelaporan minimal 1 kali dalam sebulan

FORMAT PENCATATAN DAN PELAPORAN PERSENTASE IBU HAMIL ANEMIA

JANUARI FEBRUARI MARET - DESEMBER TAHUNAN


Jumlah
Sasaran Bayi Jumlah Bayi Jumlah Bayi Jumlah Bayi Total Bayi
No Puskesmas
Baru Lahir Baru lahir Jumlah bayi % Ibu Bayi Baru lahir Jumlah bayi % Ibu Bayi Baru lahir Jumlah bayi % Ibu Bayi Baru lahir Total bayi % Ibu Bayi
hidup hidup BBLR BBLR hidup BBLR BBLR hidup BBLR BBLR hidup BBLR BBLR
ditimbang ditimbang ditimbang ditimbang

JUMLAH
Kinerja Program Gizi
8. Persentase Bayi Usia Kurang dari 6 Bulan Mendapat ASI Eksklusif
Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan memiliki banyak manfaat bagi bayi dan ibu.
Indikator ini bertujuan untuk mengetahui penurunan persentase ASI Eksklusif
berdasarkan kelompok umur sehingga dapat merencanakan edukasi gizi pada saat
yang tepat bagi ibu hamil dan menyusui

Definisi Operasional
• Bayi usia kurang dari 6 bulan adalah seluruh bayi umur 0 bulan 1 hari sampai 5
bulan 29 hari
• Bayi mendapat ASI Eksklusif kurang dari 6 bulan adalah bayi kurang dari 6 bulan
yang diberi ASI saja tanpa makanan atau cairan lain kecuali obat, vitamin dan
mineral berdasarkan recall 24 jam

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑖<6 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝐴𝑆𝐼 𝐸𝑘𝑠


% Bayi < 6 bulan mendapat 𝐴𝑆𝐼 𝐸𝐾𝑠 = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑖<6 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑟𝑒𝑐𝑎𝑙𝑙
Mekanisme pelaporan
• Menetukan umur anak dalam bulan
• Mencatat hasil recall ASI Eksklusif pada bayi umur 0 sampai 6 bulan kedalam
KMS atau buku bantu setiap bulan.
• Merekap KMS seluruh balita umur 0 sampai 6 bulan kedalam register
posyandu setiap bulan Februari dan Agustus.
• Merekap jumlah bayi dan kategori pemberian ASI (ASI Eksklusif/Tidak ASI
Ekskusif) berdasarkan kelompok umur 0 sampai 5 bulan.
Pencatatan dan Pelaporan
Tabel Registrasi Pencatatan Pemberian ASI Eksklusif Bayi Umur Kurang dari 6 Bulan di Posyandu
Umur Bayi (Bulan)
Nama Anak
0 1 2 3 4 5
Raihan √ A √ X X X
Iqbal √ X X X X X
Milea √ √ √
Veronica √ √ √ √ √ √
Arsy √ A
Gaby - - - - √
Tabel Rekapitulasi Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi Kurang dari 6 Bulan di Desa

Jumlah seluruh bayi N = √ + X + A


Jumlah seluruh bayi di recall n = √ + X
Pencatatan dan Pelaporan
Contoh Rekapitulasi Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi Kurang dari 6 Bulan di Puskesmas
0 bulan 1 bulan 2 bulan 3 bulan 4 bulan 5 bulan < 6 bulan
No Nama Desa/Kel N
n v % n v % n v % n v % n v % n v % n v %
1 Tanjung Duren 249 36 28 77.8 37 26 70.3 35 25 71.4 40 23 57.5 40 20 50.0 37 14 37.8 225 136 60.4
2 Petamburan 267 38 30 78.9 41 30 73.2 36 23 63.9 44 24 54.5 35 18 51.4 40 18 45.0 234 143 61.1
3 Tomang 250 32 25 78.1 34 24 70.6 41 26 63.4 35 21 60.0 43 21 48.8 39 16 41.0 224 133 59.4
4 Jelambar 200 29 20 69.0 35 25 71.4 38 26 68.4 23 16 69.6 21 10 47.6 23 10 43.5 169 107 63.3
5 Wijaya kusuma 195 25 19 76.0 36 23 63.9 34 27 79.4 26 15 57.7 28 15 53.6 22 11 50.0 171 110 64.3
Grogol
6 1161 160 122 76.3 183 128 69.9 184 127 69.0 168 99 58.9 167 84 50.3 161 69 42.9 1023 629 61.5
Petamburan

Berdasarkan contoh diatas, maka persentase


pemberian ASI Eksklusif kurang dari 6 bulan adalah
= (√ / n) *100
 kelompok umur 0 bulan = (122/160)*100 = 76,3%
 kelompok umur 1 bulan = (128/183)*100 = 69,9%
 kelompok umur 2 bulan = (127/184)*100 = 69,0%
 kelompok umur 3 bulan = (99/168)*100 = 58,9%
 kelompok umur 4 bulan = (84/167)*100 = 50,3%
 kelompok umur 5 bulan = (69/161)*100 = 42,9%
Pencatatan dan Pelaporan
FORMAT PENCATATAN DAN PELAPORAN PERSENTASE BAYI < 6 BULAN MENDAPAT ASI EKSKLUSIF

JANUARI FEBRUARI MARET - DESEMBER TAHUNAN


Jumlah
Sasaran Bayi Jumlah Bayi Jumlah bayi % Bayi Jumlah Bayi Jumlah bayi % Bayi Jumlah Bayi Jumlah bayi % Bayi Total Bayi Total bayi % Bayi
No Puskesmas
Baru Lahir Umur < 6 mendapat ASI mendapat ASI Umur < 6 mendapat ASI mendapat ASI Umur < 6 mendapat ASI mendapat ASI Umur < 6 mendapat ASI mendapat ASI
hidup bulan Eks Eks bulan Eks Eks bulan Eks Eks bulan Eks Eks

JUMLAH
9. Persentase Bayi Usia Kurang dari 6 Bulan Mendapat ASI Eksklusif
Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu
Eksklusif mengamanatkan bahwa setiap ibu yang melahirkan harus memberikan
ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya selama enam bulan pertama agar
mencapai pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan yang optimal, selanjutnya,
mereka harus memberi makanan pendamping yang bergizi dan terus menyusui
hingga bayi berusia dua tahun atau lebih

Definisi Operasional
• Bayi usia 6 bulan adalah seluruh bayi yang telah mencapai umur 5 bulan 29 hari
• Bayi mendapat ASI Eksklusif 6 bulan adalah bayi sampai usia 6 bulan yang diberi
ASI saja tanpa makanan atau cairan lain kecuali obat, vitamin dan mineral sejak
lahir

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑖 6 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝐴𝑆𝐼 𝐸𝑘𝑠


% Bayi 6 bulan mendapat 𝐴𝑆𝐼 𝐸𝐾𝑠 = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑖 6 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
Mekanisme pelaporan
• Menetukan umur anak dalam bulan
• Mencatat hasil recall ASI Eksklusif pada bayi umur 0 sampai 6 bulan kedalam
KMS atau buku bantu setiap bulan.
• Merekap KMS seluruh balita umur 6 bulan kedalam register posyandu setiap
bulan
• Merekap jumlah bayi dan kategori pemberian ASI (ASI Eksklusif/Tidak ASI
Ekskusif)
FORMAT PENCATATAN DAN PELAPORAN PERSENTASE BAYI MENDAPAT ASI EKSKLUSIF

JANUARI FEBRUARI MARET - DESEMBER TAHUNAN


Jumlah
Sasaran Bayi Jumlah Bayi Jumlah bayi % Bayi Jumlah Bayi Jumlah bayi % Bayi Jumlah Bayi Jumlah bayi % Bayi Total Bayi Total bayi % Bayi
No Puskesmas
Baru Lahir Umur 6 mendapat mendapat Umur 6 mendapat mendapat Umur 6 mendapat mendapat Umur 6 mendapat mendapat
hidup bulan ASI Eks ASI Eks bulan ASI Eks ASI Eks bulan ASI Eks ASI Eks bulan ASI Eks ASI Eks

JUMLAH
10. Persentase Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Tambah Darah (TTD)
Minimal 90 Tablet Selama Masa Kehamilan
Pemberian TTD merupakan satu intervensi untuk mencegah terjadinya anemia
pada ibu selama proses kehamilan. Sebaiknya ibu hamil mulai mengonsumsi TTD
sejak konsepsi sampai akhir trimester III. Indikator ini sebagai evaluasi kinerja
apakah TTD sudah diberikan kepada seluruh sasaran

Definisi Operasional
TTD adalah tablet yang sekurangnya mengandung zat besi setara dengan 60 mg
besi elemental dan 0,4 mg asam folat yang disediakan oleh pemerintah maupun
diperoleh sendiri

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 min 90 𝑇𝑇𝐷


% Ibu H𝑎𝑚𝑖𝑙 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 90 𝑇𝑇𝐷 = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑑𝑎
Mekanisme pelaporan
• Mencatat jumlah TTD yang diberikan kepada ibu setiap kali melakukan kunjungan
pemeriksaan kehamilan kedalam kohort ibu
• Merekap jumlah ibu hamil yang sudah mendapat TTD minimal 90 tablet setiap bulan

FORMAT PENCATATAN DAN PELAPORAN PERSENTASE IBU HAMIL MENDAPAT 90 TTD

JANUARI FEBRUARI MARET - DESEMBER TAHUNAN


Jumlah Ibu Jumlah Ibu Jumlah Ibu Jumlah Ibu Total Ibu
No Puskesmas Hamil Tahun Jumlah Ibu Hamil
% Ibu Hamil Jumlah Ibu
Hamil
% Ibu Hamil Jumlah Ibu
Hamil
% Ibu Hamil Total Ibu
Hamil
% Ibu Hamil
ini Hamil Bulan Mendapat 90 Hamil Bulan Mendapat 90 Hamil Bulan Mendapat 90 Hamil Bulan Mendapat 90
Mendapat 90 Mendapat 90 Mendapat 90 Mendapat 90
ini TTD ini TTD ini TTD ini TTD
TTD TTD TTD TTD

JUMLAH
11. Persentase Ibu Hamil Kurang Energi Kronik (KEK) mendapat Makanan
Tambahan (MT)
Ibu hamil di Indonesia masih mengalami defisit asupan energi dan protein.
Berdasarkan hal tersebut pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil sangat
diperlukan untuk mencegah bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Definisi Operasional
• Ibu hamil KEK adalah Ibu hamil dengan Lingkar Lengan Atas (LiLA) kurang dari
23,5 cm
• Makanan Tambahan adalah makanan yang dikonsumsi sebagai tambahan asupan
zat gizi diluar makanan utama dalam bentuk makanan tambahan pabrikan atau
makanan tambahan bahan pangan lokal.
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 𝐾𝐸𝐾 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑀𝑇
% Ibu H𝑎𝑚𝑖𝑙 𝐾𝐸𝐾𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑀𝑇 = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑏𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑖𝑙 𝐾𝐸𝐾
Mekanisme pelaporan
• Melakukan pengukuran LiLA ibu hamil yang dilakukan saat pemeriksaan kehamilan pertama
kali (K1)
• Mengkategorikan status KEK atau normal.
• Memberikan makanan tambahan pada ibu hamil KEK
• Mencatat Jumlah makanan tambahan yang diberikan

FORMAT PENCATATAN DAN PELAPORAN PERSENTASE IBU HAMIL KEK MENDAPAT MAKANAN TAMBAHAN

JANUARI FEBRUARI MARET - DESEMBER TAHUNAN


Jumlah Ibu Jumlah Ibu % Ibu Hamil Jumlah Ibu % Ibu Hamil Jumlah Ibu % Ibu Hamil Total Ibu % Ibu Hamil
No Puskesmas Hamil Tahun Jumlah Ibu Hamil KEK KEK Jumlah Ibu Hamil KEK KEK Jumlah Ibu Hamil KEK KEK Total Ibu Hamil KEK KEK
ini Hamil KEK Mendapat Mendapat Hamil KEK Mendapat Mendapat Hamil KEK Mendapat Mendapat Hamil KEK Mendapat Mendapat
MT MT MT MT MT MT MT MT

JUMLAH
12. Persentase Balita Gizi Kurang yang Mendapat Makanan Tambahan (MT)
Di banyak negara, kurang dari seperempat anak balita usia 6-23 bulan dengan frekuensi
makan dan kriteria keragaman makanannya sesuai untuk usianya. Berdasarkan data Survei
Diet Total (SDT) tahun 2014 diketahui bahwa lebih dari separuh balita (55,7%) mempunyai
asupan energi yang kurang dari Angka Kecukupan Energi (AKE) yang dianjurkan. Pemberian
makanan tambahan khususnya bagi kelompok rawan merupakan salah satu strategi
suplementasi dalam mengatasi masalah gizi

Definisi Operasional
• Balita gizi kurang adalah anak usia 6 bulan 0 hari sampai dengan 59 bulan 29 hari dengan
status gizi kurang (BB/PB atau BB/TB -3 SD sampai dengan kurang dari -2 SD).
• Makanan Tambahan adalah makanan yang dikonsumsi sebagai tambahan asupan zat gizi
diluar makanan utama dalam bentuk makanan tambahan pabrikan atau makanan
tambahan bahan pangan local

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑀𝑇


% Balita Gizi Kurang Mendapat MT = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔
Mekanisme pelaporan
• Melakukan pengukuran berat badan dan panjang/tinggi badan balita pada saat pemantaun
pertumbuhan
• Menghitung status gizi balita berdasarkan indeks BB/TB
• Memberikan makanan tambahan pada balita dengan status gizi kurang
• Mencatat Jumlah makanan tambahan yang diberikan

FORMAT PENCATATAN DAN PELAPORAN PERSENTASE BALITA GIZI KURUS MENDAPAT MAKANAN TAMBAHAN

JANUARI FEBRUARI MARET - DESEMBER TAHUNAN


Jumlah Jumlah balita % balita gizi Jumlah balita % balita gizi Jumlah balita % balita gizi Total balita % balita gizi
No Puskesmas Balita 6 – 59 Jumlah Jumlah Jumlah
gizi kurang kurang gizi kurang kurang gizi kurang kurang Total balita gizi kurang kurang
bulan balita gizi balita gizi balita gizi
Mendapat Mendapat Mendapat Mendapat Mendapat Mendapat gizi kurang Mendapat Mendapat
kurang kurang kurang
MT MT MT MT MT MT MT MT

JUMLAH
13. Persentase Remaja Putri (Rematri) mendapat Tablet Tambah Darah (TTD)
Remaja putri anemia akan mengalami gangguan kehamilan jika tidak segera
ditangani. Pemberian TTD pada rematri usia 12-18 tahun sebagai upaya
pencegahan anemia sejak dini. Pemberian TTD rematri yang diikuti dengan KIE gizi
dan kesehatan diharapkan akan memperbaiki masalah-masalah pada periode
berikutnya. Perlu dilakukan monitoring pemberian TTD, untuk mengetahui
pemenuhan kebutuhan TTD pada remaja putri

Definisi Operasional
• Remaja Putri adalah remaja putri yang berusia 12-18 tahun yang bersekolah di SMP/SMA
atau sederajat
• TTD adalah tablet yang sekurangnya mengandung zat besi setara dengan 60 mg besi
elemental dan 0,4 mg asam folat yang disediakan oleh pemerintah maupun diperoleh
secara mandiri
• Remaja putri mendapat TTD adalah jumlah remaja putri yang mendapat TTD secara rutin
setiap minggu sebanyak 1 tablet.

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑅𝑒𝑚𝑎𝑡𝑟𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑇𝑇𝐷


% Rematri 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑇𝑇𝐷 = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑟𝑒𝑚𝑎𝑡𝑟𝑖 𝑑𝑖𝑠𝑒𝑘𝑜𝑙𝑎ℎ
Mekanisme pelaporan
• Siswi mencatat TTD yang didapat di sekolah maupun diperoleh secara mandiri
melalui kartu suplementasi remaja putri
• Merekap jumlah TTD yang diterima dan diminum (angka 1) serta jumlah minggu yang
dilalui siswi sejak bersekolah ditempat tersebut atau memasuki usia 12 tahun
berdasarkan formulir pemantauan program TTD rematri
• Menghitung persentase jumlah tablet yang diterima terhadap jumlah minggu yang
dilalui dan persentase jumlah tablet yang diminum terhadap jumlah minggu yang
dilalui. Perhitungan ini dilakukan setiap 3 bulan (triwulan)
• Menentukan kategori persentase rematri menerima TTD dan persentase rematri
minum TTD terhadap seluruh remaja putri yang ada/terdaftar disekolah tersebut
• Laporan tahunan menggunakan laporan triwulan ke 4
Pencatatan dan Pelaporan
Contoh Formulir Pemantauan Program TTD Remaja Putri di Sekolah Triwulan 1 Tahun 2017

Pemantauan TTD Jumlah Jumlah


Nomor Januari Februari Maret Jumlah TTD di TTD di
No Nama Siswi NIK
Induk Siswi 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Minggu Terima Minum
T M T M T M T M T M T M T M T M T M T M T M T M T M T M T M (T) (M)
1 Aila 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
1 1 1 1 1 1 13 13 13
2 Nina 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1
0 0 1 1 1 0 13 8 6
3 Evi 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0
1 1 1 1 1 1 13 13 10
4 Caca 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1
1 0 0 0 1 1 13 12 8
5 Febri 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0
1 1 1 1 1 1 13 13 12
6 Ica 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
1 1 1 1 1 1 8 8 8
7 Dian 1 1 1 1 1 1 3 3 3
8 Siska 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 13 9 9
9 Nia 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 13 11 10
10 Wati 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 13 8 6
Pencatatan dan Pelaporan
Contoh Formulir 1 Pemantauan Program TTD Remaja Putri di Puskesmas Triwulan 1 Tahun 2017
TW 1 TW 1 - TW 2

Jumlah % TTD % TTD Jumlah % TTD % TTD


minggu Jumlah TTD di Terima di Minum minggu Jumlah TTD di Terima di Minum
No. Nama Remaja Putri NIK Jumlah TTD Jumlah TTD
yang dilalui di Terima (kolom (kolom yang dilalui di Terima (kolom (kolom
di Minum di Minum
dari Januari - (T) (5)/kolom (7)/kolom dari Januari - (T) (10)/kolom (12)/kolom
Maret (4)*100%) (4)*100%) Juni (9)*100%) (9)*100%)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Aila 13 13 100.0 13 100.0
2 Nina 13 8 61.5 6 46.2
3 Evi 13 13 100.0 10 76.9
4 Caca 13 12 92.3 8 61.5
5 Febri 13 13 100.0 12 92.3
6 Ica 8 8 100.0 8 100.0
7 Dian 3 3 100.0 3 100.0
8 Siska 13 9 69.2 9 69.2
9 Nia 13 11 84.6 10 76.9
10 Wati 13 8 61.5 6 46.2
Pencatatan dan Pelaporan
Contoh Formulir 2 Pemantauan Program TTD Remaja Putri di Puskesmas Triwulan 1 Tahun 2017

 Persentase rematri yang menerima TTD sebanyak ≤50% tablet dari yang seharusnya mereka dapat adalah 7,4%(115/1550 X 100%).
 Persentase rematri yang menerima TTD sebanyak 51-80% tablet dari yang seharusnya mereka dapat adalah 51,0% (115/1550X 100%).
 Persentase rematri yang menerima TTD sebanyak 81-99 % tablet dari yang seharusnya mereka dapat adalah 31,9%(790/1550X 100%).
 Persentase rematri yang menerima TTD sebanyak ≥100% tablet dari yang seharusnya mereka dapat adalah 9,7%(150/1550 X 100%)
14. Persentase Bayi Baru Lahir yang Mendapat Inisiasi Menyusu Dini
(IMD)
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam waktu 1 jam setelah kelahiran,
melindungi bayi yang baru lahir dari tertular infeksi dan mengurangi
angka kematian bayi baru lahir. IMD merupakan salah satu indikator
keberhasilan pelayanan kesehatan pada ibu hamil

Definisi Operasional
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses menyusu dimulai segera setelah lahir.
IMD dilakukan dengan cara kontak kulit ke kulit antara bayi dengan ibunya segera
setelah lahir dan berlangsung minimal 1 (satu) jam

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑖 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑙𝑎ℎ𝑖𝑟 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝐼𝑀𝐷


% Bayi Baru Lahir mendapat IMD = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑖 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑙𝑎ℎ𝑖𝑟 ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝
Mekanisme pelaporan
• Mencatat seluruh bayi baru lahir hidup dan menentukan kategori IMD
atau tidak IMD ke dalam kohort bayi
• Merekap jumlah bayi baru lahir dan kategori IMD

FORMAT PENCATATAN DAN PELAPORAN PERSENTASE BAYI BARU LAHIR MENDAPAT INISIASI MENYUSU DINI (IMD)

JANUARI FEBRUARI MARET - DESEMBER TAHUNAN


Jumlah bayi Jumlah bayi Jumlah bayi Jumlah bayi Total bayi
baru lahir Jumlah bayi baru lahir % bayi baru % bayi baru % bayi baru % bayi baru
No Puskesmas Jumlah bayi baru lahir Jumlah bayi baru lahir Total bayi baru lahir
hidup Tahun baru lahir lahir hidup lahir hidup lahir hidup lahir hidup
hidup baru lahir hidup baru lahir hidup baru lahir hidup
ini mendapat mendapat mendapat mendapat
hidup mendapat hidup mendapat hidup mendapat hidup mendapat
IMD IMD IMD IMD
IMD IMD IMD IMD

JUMLAH
15. Persentase Balita Yang Ditimbang Berat Badannya (D/S)
Balita yang ditimbang berat badannya menggambarkan tingkat
keberlangsungan pemantauan pertumbuhan sebagai bentuk partisipasi
masyarakat sekaligus menilai kinerja tenaga kesehatan dalam
mengedukasi masyarakat untuk melakukan pemantauan pertumbuhan

Definisi Operasional
• Balita adalah anak yang berumur di bawah 5 tahun (0-59 bulan 29 hari)
• S Balita adalah jumlah seluruh sasaran (S) balita yang ada di suatu wilayah.
• D Balitaadalah jumlah balita yang ditimbang (D) di suatu wilayah

D 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎


% balita ditimbang berat badannya ( ) = 𝑋100%
S 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑑𝑎
16. Persentase Balita mempunyai Buku Kesehatan Ibu Anak (KIA)/Kartu
Menuju Sehat (KMS)
KMS digunakan sebagai media untuk merekam pemantauan pertumbuhan
anak. Sebaiknya seluruh balita mempunyai KMS didalam buku KIA agar dapat
terus diikuti pertumbuhannya dari waktu ke waktu

Definisi Operasional
• Balita adalah anak yang berumur di bawah 5 tahun (0-59 bulan 29 hari).
• Buku KIA adalah buku yang berisi catatan kesehatan ibu (hamil, bersalin dan nifas) dan
anak (bayi baru lahir, bayi dan anak balita) serta berbagai informasi cara memelihara dan
merawat kesehatan ibu serta grafik pertumbuhan anak yang dapat dipantau setiap bulan.
• Kartu Menuju Sehat (KMS) adalah kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak
berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur yang dibedakan
berdasarkan jenis kelamin. KMS digunakan untuk mencatat berat badan, memantau
pertumbuhan balita setiap bulan dan sebagai media penyuluhan gizi dan kesehatan

K 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎𝑖 𝐾𝑀𝑆


% balita mempunyai KMS ( ) = 𝑋100%
S 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑑𝑎
17. Persentase Balita ditimbang yang Naik Berat Badannya (N/D)
Pemantauan pertumbuhan yang dilakukan setiap bulan dapat memberikan
gambaran tingkat keberhasilan program dalam kegiatan upaya perbaikan gizi
masyarakat di posyandu melalui informasi persentase balita yang naik berat
badannya

Definisi Operasional
• Balita adalah anak yang berumur di bawah 5 tahun (0-59 bulan 29 hari)
• Balita ditimbang (D) adalahanakumur0-59 bulan 29 hari yang ditimbang.
• Berat badan naik (N) adalah hasil penimbangan berat badan dengan grafik berat badan
mengikuti garis pertumbuhan atau kenaikan berat badan sama dengan kenaikan berat
badan minimum atau lebih. Kenaikan berat badan ditentukan dengan membandingan
hasil penimbangan bulan ini dengan bulan lalu.
• Balita tidak ditimbang bulan lalu (O) adalah balita yang tidak memiliki catatan hasil
penimbangan bulan lalu
• Balita baru (B) adalah balita yang baru datang ke posyandu dan tidak terdaftar
sebelumnya

N 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑛𝑎𝑖𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎


% balita naik berat badannya ( ) = 𝑋100%
D 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔
18. Persentase Balita ditimbang yang Naik Berat Badannya (N/D)
Balita yang tidak naik berat badannya selama 2 bulan berturut turut harus segera
dirujuk ke puskesmas untuk mendapat pemeriksaan lanjut. Setelah diketahui
penyebabnya maka tenaga kesehatan akan memberikan intervensi yang sesuai.

Definisi Operasional
• Tidak naik berat badannya (T) adalah hasil penimbangan berat badan dengan
grafik berat badan mendatar atau menurun memotong garis pertumbuhan
dibawahnya atau kenaikan berat badan kurang dari kenaikan berat badan
minimum.
• Balita 2T adalah balita tidak naik berat badannya dua kali berturut-turut dalam 2
bulan

2T 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑛𝑎𝑖𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 2 𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑡𝑢𝑟𝑢𝑡−𝑡𝑢𝑟𝑢𝑡


% balita tidak naik berat badannya 2 kali = 𝑋100%
D 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔
Mekanisme pelaporan
• Mencatat seluruh hasil kegiatan pemantauan pertumbuhan
• Merekap jumlah sasaran balita (S), jumlah balita mempunyai KMS (K), jumlah balita
ditimbang (D), jumlah balita naik berat badannya (N).
• Menghitung persentase D/S, K/S, N/D dan 2T/D
PERSENTASE PEMANTAUAN PERTUMBUHAN (SKDN)

JANUARI
Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah
Jumlah
Jumlah Jumlah Jumlah Balita tidak balita balita naik balita tidak
Kode Desa Sasaran Jumlah
Balita % D/S Balita % K/S Balita Baru ditimbang ditimbang berat % N/D' naik berat % 2T/D'
Balita Balita
Ditimbang punya KMS (B) bulan lalu terkoreksi badannya badannya
(O) (D') (N) 2 kali (2T)

JUMLAH
19. Persentase balita 6-59 bulan mendapat kapsul Vitamin A
Vitamin A merupakan zat gizi esensial yang dibutuhkan oleh tubuh dan asupan vitamin A
dari makanan sehari-hari umumnya masih kurang. Kekurangan Vitamin A (KVA) di dalam
tubuh yang berlangsung lama menimbulkan berbagai masalah kesehatan yang berdampak
pada meningkatnya risiko kesakitan dan kematian. Mempertahankan status vitamin A pada
bayi dan anak balita dapat mengurangi masalah kesehatan masyarakat seperti kecacingan
dan campak

Definisi Operasional
• Bayi umur 6-11 bulan adalahbayi umur 6-11 bulan yang ada di suatu wilayah kabupaten/kota
• Balita umur 12-59 bulan adalah balita umur 12-59 bulan yang ada di suatu wilayah
kabupaten/kota
• Balita 6-59 bulanadalah balita umur 6-59 bulan yang ada di suatu wilayah kabupaten/kota
• Kapsul vitamin Aadalahkapsul yang mengandung vitamin A dosis tinggi, yaitu 100.000 Satuan
Internasional (SI) untuk bayi umur 6-11 bulan dan 200.000 SI untuk anak balita 12-59 bulan

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 6 −59 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑘𝑎𝑝𝑠𝑢𝑙 𝑣𝑖𝑡𝑎𝑚𝑖𝑛 𝐴


% balita mendapat kapsul Vit A = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 6 −59 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
Mekanisme pelaporan
• Mencatat balita umur 6 – 59 bulan
• Merekap balita yang menerima Vitamin A berdasarkan kelompok umur

PERSENTASE BALITA 6 – 59 BULAN MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A

FEBRUARI

Jumlah Jumlah bayi Jumlah balita Jumlah balita


Kode Desa % bayi 6 - 11 Jumlah % balita 12-59 Jumlah % balita 6-59
sasaran balita Jumlah Bayi 6-11 bulan 12-59 bulan 6-59 bulan
bulan dapat Balita 12-59 bulan dapat Balita 6-59 bulan dapat
6-11 bulan dapat Vitamin dapat Vitamin dapat Vitamin
Vitamin A bulan Vitamin A bulan Vitamin A
A A A

JUMLAH
20. Persentase Rumah Tangga Mengonsumsi Garam Beriodium
Zat iodium berfungsi untuk membantu tubuh memproduksi hormon tiroid.
Hormone tiroid berfungsi mengatur keberlangsungan proses metabolisme tubuh
dan fungsi organ lainnya. Umumnya asupan makanan sumber iodium di masyarakat
masih rendah, sehingga untuk mencegah defisiensi iodium, WHO menganjurkan
fortifikasi pada garam yang digunakan untuk bumbu masakan di rumah tangga

Definisi Operasional
• Garam konsumsi beriodium adalah produk bahan makanan yang komponen utamanya Natrium
Klorida (NaCl) dengan penambahan Kalium Iodat(KIO3).
• Alat Tes Cepat Garam Beriodium (larutan uji garam beriodium) adalah larutan yang digunakan
untuk menguji kandungan Iodium dalam garam secara kualitatif yang dapat membedakan
ada/tidaknya Iodium dalam garam melalui perubahan warna menjadi ungu.
• Rumah tangga yang mengonsumsi garam beriodium adalah seluruh anggota rumah tangga yang
mengonsumsi garam beriodium.

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑅𝑇 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑖𝑢𝑚


% RT mengonsumsi Garam Beriodium = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑅𝑇 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎
Mekanisme pelaporan
• Mencatat balita umur 6 – 59 bulan
• Merekap balita yang menerima Vitamin A berdasarkan kelompok umur
21. Persentase Gizi Buruk Mendapat Perawatan
Gizi buruk secara langsung disebabkan karena kekurangan asupan dan adanya
penyakit infeksi. Gizi buruk yang berlangsung lama akan menyebabkan gangguan
pertumbuhan dan perkembangan anak. Berdasarkan Permenkes Nomor
347/Menkes/IV/2008 semakin aktif surveilans gizi, maka semakin banyak kasus
yang ditemukan dan dirujuk, karena setiap gizi buruk yang ditemukan harus segera
mendapat perawatan. Indikator ini untuk melihat kinerja akses pelayanan
kesehatan

Definisi Operasional
• Balita adalah anak yang berumur di bawah 5 tahun (0-59 bulan 29 hari).
• Kasus balita gizi buruka dalah balita dengan tanda klinis gizi buruk atau indeks Berat Badan
menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) dengan nilai Z-
score kurang dari-3 SD atau Lingkar Lengan Atas <11,5cm bagi balita 6 – 59 bulan
• Kasus balita gizi buruk yang mendapat perawatan adalah balita gizi buruk yang dirawat inap
maupun rawat jalan di fasilitas pelayanan kesehatan dan masyarakat sesuai dengan tata laksana
gizi buruk

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝑏𝑢𝑟𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛


% balita gizi buruk mendapat perawatan = 𝑋100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎 𝑔𝑖𝑧𝑖 𝑏𝑢𝑟𝑢𝑘
Mekanisme pelaporan
• Mencatat balita umur 6 – 59 bulan
• Merekap balita yang menerima Vitamin A berdasarkan kelompok umur

0-5 bulan 6-59 bulan 0-59 bulan


% gizi
jumlah
gizi gizi buruk gizi buruk buruk % gizi
% gizi jumlah gizi Total
buruk gizi buruk (BB/PB < - mendapat mendapat buruk
NO Puskesmas buruk gizi buruk buruk Total mendap total
(BB/PB mendapa mening sem 3SD atau perawatan perawata mening sembu Drop mendap mening sembu Dropo
mendapa dengan Dropout dengan Gizi at gizi
< -3SD t rawat gal buh klinis atau (rawat jalan n (rawat gal h out at gal h ut
t rawat penyakit penyakit Buruk perawat buruk
atau inap LiLA <11,5 atau rawat jalan atau perawa
inap penyerta penyert an
klinis) cm) inap) rawat tan
a
inap)

Jumlah
TERIMA KASIH