Anda di halaman 1dari 26

Ine S.

Ruky

inesruky/kppu/03 1
 The purpose of this subject is to improve
the ability of the participants in
understanding and using knowledge and
analytical tools of microeconomics-industry
organizations to formulate the company's
business strategy.
 Student are able to analyze Economics issues
and their impact on decision making process
 analyze the impact of market structure and
pricing strategy to decision making process

Ine s ruky-MAKSI 2
1. Profit Maximization & Competitive
Supply/market
2. The Analysis of Competitive Markets
3. Market Structure, Power & Concentration.
4. Lerner Index, Concentration Ratio, Herfindahl
Hirschman Index & Dansby-Willig
Performance Index.
5. Pricing with Market Power.

Ine s ruky/MAKSI 3
 Industrial Organization  Aplikasi teori ekonomi
mikro dalam dunia nyata  di dunia nyata,
persaingan adalah tidak sempurna.
 Microeconomics  asumsi perfect competition
 Persaingan tidak sempurna untuk masuk dan
keluar dari industri, perusahaan tidak bebas
sehingga pembeli dan penjual jumlahnya tidak
selalu banyak; barang yang diproduksi tidak selalu
homogen; informasi tidak simetris
 perusahaan tidak semata-mata menjadi penyesuai
terhadap harga pasar, tapi bisa menjadi penentu
harga pasar. Oleh karena itu, perilaku perusahaan
menjadi penentu Persaingan dan kinerja industri.
inesruky/kppu/03 4
• An imperfectly competitive industry is an
industry in which single firms have some
control over the price of their output.

• Market power is the imperfectly competitive


firm’s ability to raise price without losing all
demand for its product

• The ease with which consumers can


substitute for a product limits the extent to
which a monopolist can exercise market
power.
Ine s ruky/MAKSI 5
 Untuk masuk dan keluar dari industri,
perusahaan tidak bebas sehingga pembeli
dan penjual jumlahnya tidak selalu banyak;
barang yang diproduksi tidak selalu
homogen; informasi tidak simetris
perusahaan tidak semata-mata menjadi
penyesuai terhadap harga pasar, tapi bisa
menjadi penentu harga pasar. Oleh karena
itu, perilaku perusahaan menjadi menarik dan
perlu untuk dikaji.

inesruky/kppu/03 6
 Hambatan masuk mencakup skala ekonomi,
biaya modal investasi yang sangat besar,
kemampuan untuk memperoleh modal
(keuangan), akses terhadap bahan baku,
kemampuan perusahaan untuk membujuk
pelanggan agar tetap setia (advertising-
diferensiasi produk) dan keunggulan lain
yang dimiliki perusahaan mapan (Bain, 1930
dalam Stephen Martin, 1993:6., Bain (1956)
dalam Patterson, 1994:189., Bain, 1956
dalam Fishwick, 1993: 40)

inesruky/kppu/03 7
 The model of perfect competition rests on three
basic assumptions:
(1) price taking,
(2) product homogeneity, and
(3) free entry and exit.
 price taker Firm that has no influence over
market price and thus takes the price as given
 When the products of all of the firms in a market
are perfectly substitutable with one another—that
is, when they are homogeneous—no firm can raise
the price of its product above the price of other
firms without losing most or all of its business.

inesruky/kppu/03 8
 prinsip ekonomi pasar disini ada
kepercayaan bahwa pasar terbuka dan
kompetitif merupakan jalan terbaik menuju
efisiensi ekonomi dan kesejahteraan
konsumen
 Pola kebijakan ekonomi berdasarkan
mekanisme pasar lebih mengarahkan
perhatiannya pada upaya pengoreksian
distorsi sinyal harga supaya agen individu
bisa melakukan investasi dan inovasi yang
optimal. (Robert Wade, 1993 :70).

inesruky/kppu/03 9
 Asumsi standar di perekonomian adalah, bila tidak
ada halangan untuk masuk dan/atau keluar, maka
perusahaan tidak akan menghasilkan keuntungan
besar. Mengapa?
 Karena perusahaan lain akan mudah masuk tanpa
biaya dan bisa menawarkan produk yang sama
dengan harga yang lebih rendah. Maka perusahaan
yang berkuasa sebelumnya, akan merespon dengan
menurunkan harga dan seterusnya. Hasilnya, baik
perusahaan yang menguasai pangsa pasar maupun
perusahaan rivalnya tidak akan memperoleh
keuntungan ekonomi normal profit semua
perusahaan akan beroperasi pada keuntungan
ekonomi nol (zero economic profit).
inesruky/kppu/03 10
Ine s ruky/MAKSI 11
Ine s ruky/MAKSI 12
Ine s ruky/MAKSI 13
 In a perfectly competitive industry in
the long-run, price will be equal to
long-run average cost. The market
supply is the sum of all the short-run
marginal cost curves of the firms in
the industry
 Price taker  no market power

Ine s ruky/MAKSI 14
• Four-Firm Concentration Ratio
 The sum of the market shares of the top four firms in the defined
industry. Letting Si denote sales for firm i and ST denote total industry
sales
• Herfindahl-Hirschman Index (HHI)
 The sum of the squared market shares of firms in a given industry,
multiplied by 10,000: HHI = 10,000  S wi2, where wi = Si/ST.

 HHI dianggap lebih akuat karena dapat


menunjukkan distrubusi market share perusahaan
di industri  jika distribusinya simetris HHI lebih
kecil  pasar tidak terkonsentrasi

inesruky/kppu/03 15
• The Lerner Index
L = (P - MC) / P
 A measure of the difference between price and
marginal cost as a fraction of the product’s price.
 The index ranges from 0 to 1.
• When P = MC, the Lerner Index is zero; the
firm has no market power.
• A Lerner Index closer to 1 indicates relatively
weak price competition; the firm has market
power.
inesruky/kppu/03 16
• From the Lerner Index, the firm can determine the
factor by which it should over MC. Rearranging the
Lerner Index

• The markup factor is 1/(1-L).


 When the Lerner Index is zero (L = 0), the markup factor is 1 and P = MC.
 When the Lerner Index is 0.20 (L = 0.20), the markup factor is 1.25 and the
firm charges a price that is 1.25 times marginal cost.

inesruky/kppu/03 17
 .CR ratio hanya mencakup beberapa perusahaan
terbesar di industri, sementara HHI didasarkan
pada market share seluruh perusahaan di
industri.HHI memberikan bobot yg lebih besar
pada firms dengan market shareyg besar,
dibandingkan CR indeks (based on squared market
shares)
 Pasar yg kecil hanya mampu menampung sedikit
perusahaan harus ada ruang yg cukup untuk
perusahaan mampu memncapai skala ekonomi yg
efisien.

inesruky/kppu/03 18
 Relative to a competitively organized
industry, a monopolist restricts output,
charges higher prices, and earns positive
profits

Ine s ruky/MAKSI 19
 Monopoli tidak diinginkan  terkait dengan efisiensi
alokatif dan produktif  monopoli tidaklah dikecam
secara universal posisi monopoli terkadang
diperlukan untuk menghasilkan laba yang mendukung
aktivitas inovasi yang sangat beresiko.
 Monopoli terkadang tidak dapat dihindarkan  untuk
menghasilkan skala ekonomi  monopoli alami  lebih
murah jika hanya ada satu perusahaan yang
memproduksi daripada membagi produksi di antara
dua perusahaan atau lebih.
 Monopoli alami juga memungkinkan pencapaian
efisensi ‘economy of scope”
 Prinsip dasar toleransi terhadap monopoli  jika
mampu memproduksi barang pada harga yang
kompetitif  bisa didorong dengan berbagai kontrol
regulasi dan skema insentif.

Ine s ruky/MAKSI 20
 Differentiated product  signifikansi persaingan dari merek produk
apapun tergantung dari besarnya celah yang memisahkannya dari
merek lain yang dianggap konsumen sebagai pengganti keputusan
membeli  preferensi konsumen  target perusahaan segmen dari
ruang produk yang memuaskan selera konsumen.
 Penjual akan menekankan persaingan non-harga (iklan, kualitas
produk, teknik penjualan) harga akan mengandung biaya penjualan
lambahan ini  output akan lebih sedikit dari persaingan sempurna,
dan rata-rata biaya akan lebih tinggi.
 Teori persaingan monopolistik merupakan langkah penting dalam
memahami perilaku monopolistik. menunjukkan bagaimana elemen
monopolistik dalam industri dapat mengarah kepada produksi di
suatu titik dimana output terbatas dan biaya lebih dari skala yang
paling efisien walaupun perusahaan dalam industri hanya
memperoleh “return” yang “normal”.
 Perfect competition tidak realistik karena mengasumsikan barang
homogen dan semua perusahaan memiliki kurva biaya dan
permintaan yang identik  monopolistic competition dapat
menguntungkan konsumen dengan memberikan variasi produk lebih
banyak, mengurangi “searching cost”
Ine s ruky/MAKSI3 21
 Subject antitrust Law
 Sedikit penjual, interdependensi diantara perusahaan
ketika menetapkan output dan harga setiap penjual
memperhitungkan reaksi pesaingnya  harga dan
keputusan output dibuat dengan mempertimbangkan
reaksi pesaingnya.
 oligopolist tidak akan menurunkan harga untuk
meningkatkan pangsa pasar  keuntungan yang
diperoleh akan hilang seketika ketika penjual
saingannya membalas dengan menurunkan harga yang
sama.
 Kolusi? tidak otomatis terjadi tidak mudah 
struktur biaya diantara perusahaan bisa berbeda, dan
perusahaan yang lebih efisien memiliki insentif untuk
terlibat dalam pemotongan harga yang samar (diatas
MC namun dibawah harga pasar)
Ine s ruky/MAKSI 22
 Model Conjectural variation (Augustin Qournot dan
Joseph Bertrand)
 Conjectural variation (variasi terkaan)  terkaan dan
prediksi perusahaan setelah mempertimbangkan reaksi
pesaingnya  dalam menentukan strategi, perusahaan
berekasi terhadap strategi pesaing  berdasarkan
variasi terkaannya (tentang reaksi pesaing), setiap
perusahaan membuat keputusan (menentukan pricing
dan output strategy ) untuk memaksimumkan laba.
 Game theory gagal menghasilkan ekuilibrium yang
unikpotensial menghasilkan ekuilbrium yang tidak
terbatas, atau tidak tercapai ekuilibrium sama sekali 
Nash Equilibrium.
 Game theory memberikan pemahaman yang lebih kaya
tentang bagaimana perusahaan memberikan sinyal atas
keinginan mereka untuk bekerjasama dengan pesaing.

Ine s ruky/MAKSI 23
 Dalam kondisi tertentu, struktur pasar oligopoli dan monopoli jelas
tidak dapat dihindarkan. Hambatan untuk masuk, asimetri
informasi, keterbatasan akses terhadap teknologi dan minimum
efficiency of scale, sunk cost  faktor-faktor yang mempengaruhi
mengapa hanya sedikit pelaku usaha yang mampu memasuki
industri dan kebanyakan yang lain terhambat (Martin,
Stephen,1993:180, 205). Dari sisi pasar, permintaan domestik yang
terbatas, cenderung hanya mampu mendukung efisiensi sedikit
perusahaan.

 Industri yang memiliki ciri increasing returns, juga tidak tepat jika
dilarang untuk berkembang dengan ciri alamiahnya yang
cenderung ke bentuk industri dengan struktur pasar yang
terkonsentrasi/oligopoli  pembatasan jumlah pelaku di sektor
industri yang scale-intensive, hanyalah sebagai mekanisme kontrol
ketat terhadap pencapaian skala ekonomis untuk mengantisipasi
potensi kerugian karena kurangnya efisiensi yang disebabkan
ketidakmampuan perusahaan untuk mencapai skala ekonomis dan
merupakan sebuah upaya agar eksternalitas dan learning process
dapat dioptimalkan. Selain itu juga dimaksudkan untuk
mendorong terciptanya pengelolaan infrastruktur R&D di industri-
industri yang ditargetkan (Wade, 1994 : 73).
Ine s ruky/MAKSI 24
Perusahaan yang telah lama ada dan mempunyai
posisi kuat di pasar, cenderung suka menahan
perusahaan lain masuk ke bisnis yang sama.
Bagaimana caranya? Ini beberapa caranya (Edward
E.Zajac, 1995: 30):
 Mendapatkan paten, copyright atau trade secrets

 Mengerahkan skala ekonomi, yaitu mengurangi


biaya rata-rata dengan beroperasi dalam jumlah
yang lebih besar
 Investasi dalam kapasitas berlebih

 Meminta pemerintah meregulasi dalam bentuk


regulasi yang tidak memperbolehkan perusahaan
lain masuk ke bisnis anda.
inesruky/MAKSI
 Mengembangkan teknologi superior yang
membutuhkan waktu lama untuk menirunya.
 Mengembangkan strategi marketing dan
periklanan yang superior.
 Berada dalam bisnis dimana ‘belajar dengan
melakukan’ (learning by doing) merupakan hal
yang penting, dengan kata lain, melakukan
penurunan biaya seiring dengan meningkatnya
kemampuan dalam bisnis sebelum orang lain
punya kesempatan masuk.
 Berbisnis di bidang yang akan mahal bagi
konsumen anda bila mereka pindah ke penjual
lain.

Ine s ruky/MAKSI 26