Anda di halaman 1dari 102

PPH

(PAJAK PENGHASILAN)
Definisi PPH
 Setiap tambahan kemampuan ekonomis yg diterima /
diperoleh WP.
 Baik yg berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia
 Yg dpt dipakai utk konsumsi atau utk menambah
kekayaan WP yg bersangkutan.
 dgn nama & dlm bentuk apapun, termasuk:
a. Laba Usaha
b. Keuntungan karena penjualan / pengalihan
harta.
c. Penerimaan kembali pembayaran pajak yg tlh
dibebankan sbg biaya.
d. Bunga termasuk premium, diskonto, &
imbalan krn jaminan pengembalian utang.
e. Dividen, dg nama & dlm bentuk apapun
termasuk deviden dr prshn asuransi pd
pemegang polis, & pembagian hasil usaha
koperasi.
f. Royalti.
g. Sewa & penghasilan lain sehub.dg
penggunaan harta.
i. Keuntungan krn pembebasan utang, kecuali sampai dgn
jumlah tertentu yg ditetapkan dg PP.
j. Keuntungan krn selisih kurs mata uang asing.
k. Selisih lebih krn penilaian kembali aktiva.
l. Premi asuransi.
m. Iuran yg diterima/diperoleh perkumpulan dr anggotanya yg
terdiri dr WP yg menjlnkan usaha/pekerjaan bebas.
n. Tambahan kekayaan neto yg berasal dr penghasilan yg
belum dikenakan pajak.
o. penghasilan dari usaha berbasis syariah;
p. imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan
tata cara perpajakan; dan
q. surplus Bank Indonesia.
Dikenakan NON
FINAL OBYEK
(dikecualikan)
Penghasilan
Yang Dikenakan
Pajak Bersifat
Final
Konsekuensi dr Pengenaan
Pajak yg Bersifat Final
 Penghasilan yg diterima/diperoleh tdk dihitung
kembali pajaknya pd saat penghitungan pajak
akhir tahun.
 Pajak yg tlh dibayar/dipotong pd saat perolehan
penghasilan/saat transaksi tdk dpt dikreditkan
dg pajak terutang yg dihitung pd saat
penghitungan pajak akhir thn.
 Biaya-biaya yg dikeluarkan sehub dg perolehan
penghasilan yg dikenakan pajak bersifat final
tdk dpt dikurangkan dr penghasilan sbg dasar
penghitungan pajak terutang.
PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PPH FINAL
Jenis Penghasilan Dasar Hukum Tarif
Bunga Deposito PP 131 Th 2000 20%
Penjualan saham bursa PP 41 Th 1994 stdtd 0,1% dari nilai transaksi
PP 14 Th 1997 0,5% dari nilai saham saat
penawaran perdana

Bunga dan Diskonto PP 6 Th 2002 15% bagi WPDN


Obligasi 20% bagi WPLN
Diskonto SPN PP 27 Tahun 2008 20% dari diskonto
Transaksi Derivatif PP 17 Tahun 2009 2,5% (dua koma lima
berupa kontrak berjangka persen) dari margin awal
Pengalihan hak atas PP 71 Thn 2008 5% dari jumlah bruto.
tanah dan bangunan 1% utk RS/RSS oleh
perush. Real estat
Sewa Tanah dan PP 29 Th 1996 stdtd 10% dari jumlah bruto
Bangunan PP 5 Th 2002
…lanjutan

Jenis Penghasilan Dasar Hukum Tarif


Pengh. Jasa Konstruksi PP 51 Th 2008 jo. Pelaksanaan : 2% , 3%, 4%
PP 40 Th. 2009 Perencanaan: 4%, 6%
Pengawasan : 4%, 6%
Dividen yang diterima oleh PP 19 Tahun 2009 10%
WPOP
Uang Pesangon dan Tebusan PP 68 Th 2009 Pesangon : Pensiun
Pensiun 0-50 jt : 0% 0-50 : 0%
50-100 jt :5% >50 : 5%
100-500 :15%
>500 :25%
Bunga Simpanan Anggota PP 15 Tahun 2009 ≤240 rb : 0%
Koperasi >240 rb : 10%
Hadiah Undian PP 132 Th. 2000 25% dari hadiah
Revaluasi aktiva tetap PMK 10% dari sisa lebih (NP –
132/PMK/03/2000 NB)
Jasa Pelayaran dalam Negeri KMK 1,2% dari jumlah bruto
416/KMK.04/1994
Penghasilan yang
Tidak Termasuk
Obyek Pajak
Penghasilan Bukan Objek PPh– Psl 4 (3)
a. bantuan sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil
zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh
Pemerintah dan para penerima zakat yang berhak; dan harta hibahan
yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan
sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan; sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha,
pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang
bersangkutan;

PMK 245/PMK.03/2008 bahwa:


Harta hibah, bantuan, atau sumbangan yang diterima oleh:
a. keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat;
b. badan keagamaan;
c. badan pendidikan;
d. badan sosial termasuk yayasan dan koperasi; atau
e. orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil,
dikecualikan sebagai objek Pajak Penghasilan.
Ketentuan pengecualian harta hibah, bantuan, atau sumbangan dari objek
Pajak Penghasilan berlaku apabila pihak pemberi hibah, bantuan, atau
sumbangan tidak mempunyai hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan
atau penguasaan dengan penerima hibah, bantuan, atau sumbangan.
Lanjutan……..
Orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan usaha
kecil

adalah orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan usaha kecil yang
memiliki dan menjalankan usaha produktif yang memenuhi kriteria sebagai
berikut :
a. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua
milyar lima ratus juta rupiah).

b. warisan;
c. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b sebagai
pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal;
d. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa
yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan atau
kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah;
e. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi
sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan,
asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;
…lanjutan
f. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan
terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, Badan Usaha Milik
Negara, atau Badan Usaha Milik Daerah, dari penyertaan modal pada
badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia
dengan syarat:
1) dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
2) bagi perseroan terbatas, Badan Usaha Milik Negara dan Badan
Usaha Milik Daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham
pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh
lima persen) dari jumlah modal yang disetor;

Pemegang saham Kepemilika status dividen Witholding Tax


n
PT/BUMN/BUMD < 25% Objek PPh PPh 23 – 15%
PT/BUMN/BUMD ≥ 25% Bukan Objek -
Perorangan DN < 25% Objek PPh Final PPh Final – 10%
Perorangan DN ≥ 25% Objek PPh Final PPh Final – 10%
Koperasi - DN < 25% Bukan Objek -
Koperasi - DN ≥ 25% Bukan Objek -
CV, Yayasan, Firma < 25% Objek PPh PPh 23 – 15%
CV, Yayasan, Firma ≥ 25% Objek PPh PPh 23 – 15%
g. iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang
dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;
h. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun
sebagaimana dimaksud pada huruf g, dalam bidang-bidang
tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;

4
5

1 2 3
DANA SASARAN
peserta RETURN
PENSIUN INVESTASI
Iuran pensiun Saham di bursa Indonesia
Obligasi di bursa Indonesia
Deposito di Indonesia NON OBYEK PAJAK
NON OBYEK PAJAK Properti
Lembaga Keuangan
Agrobisnis
Usaha lainnya OBYEK PAJAK
i. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham,
persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi;
CV AB Penghasilan 100.000 Jika ada gaji kepada pemilik,
Biaya 60.000 tdk boleh dikurangkan krn bagi
- bagianlaba Laba Bersih 40.000 Pemilik tidak dikenakan PPh
- Gaji/imbalan PPh 25% 10.000
A B Non Obyek Pajak jika dibagikan
Laba Setelah PPh 30.000
Kepada Pemiliknya
j. dihapus;
k. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura
berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan
menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan
pasangan usaha tersebut:
1) merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan
kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan; dan
2) sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.

l. beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya


diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan;
…lanjutan

m. sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga


nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang
penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi
yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk
sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian
dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat)
tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya
diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan;
Penerimaan 10 milyar
Pengeluaran 8 milyar
Surplus 2 milyar Non Obyek Pajak, jika dalam 4 tahun dapat
dialokasikan dalam sarana/prasarana

n. bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan


Penyelenggara Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu,
yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan
16
Peraturan Menteri Keuangan.
PPH OP
 Cara penghitungan pajak penghasilan atas penghasilan
orang pribadi ada dua pilihan yaitu sebagai berikut:
 Pembukuan (wajib bagi OP dengan penghasilan bruto selama
satu tahun sebesar Rp4,8 Milyar atau lebih)
 Pencatatan (pilihan bagi wajib pajak orang pribadi dengan
penghasilan bruto sebesar kurang dari Rp4,8 Milyar).
Metode pencatatan
 Dengan menggunakan metode
pencatatan, WPOP harus melakukan
pencatatan atas peredaran bruto
usahanya. Kemudian kaitannya dengan
penghitungan besarnya pajak penghasilan
terutang dihitung dengan menggunakan
Norma Penghitungan Penghasilan Neto
(NPPN).
NPPN
 Besar PPh terutang oleh WPOP
Tarif PPh WPOP
PPh terutang WPOP pasal 17 UU PPh PKP

PKP = Penghasilan neto - PTKP


Penghasilan neto = Peredaran bruto x % NPPN

PTKP (Setahun)
WP = 24.300.000
K = 2.025.000
I = 24.300.000
T @ (MAKS 3
Tanggungan) = 2.025.000
Ilustrasi
Penghasilan bruto 4.000.000.000
Penghasilan neto (menurut norma penghitungan penghasilan neto)
Misalnya 20%: 20% x Rp4.000.000.000 800.000.000
Pengurangan:
PTKP (Status kawin dengan satu anak) (K/1)
WP = 24.300.000
K = 2.025.000
I = -
T (1) = 2.025.000
Total 28.350.000 28.350.000
PKP 771.650.000
PPh terutang:
lapis 1 0-50 juta 5% x Rp50 juta 2.500.000
lapis 2 50 jt-250juta 15% x Rp200juta 30.000.000
lapis 3 250 jt-500jt 25% x Rp250juta 62.500.000
lapis 4 >500 Jt 30% x Rp271.650.000 81.495.000
Total PPh terutang 176.495.000
PAKAI NORMA (PASAL 14 AYAT 1)
SYARAT:
1. wajib pakai pencatatan
2. peredaranb bruto setahun < 4,8 milyar
3. hanya untuk WP OP
4. memberitahu ke KPP 3 bulan pertama kegiatan
usahanya
5. rumus norma:

peredaran bruto usaha setahun 500.000.000


(x) tarif norma 30%

penghasilan neto setahun 150.000.000

(-) PTKP setahun (18.225.000) kawin, 3 tanggungan (K/3)

PKP setahun 131.775.000


PPH terutang setahun PKP x tarif PPh pasal 17

5,00% 2.500.000

15,00% 12.266.250

JUMLAH 14.766.250
BACA BETUL PASAL 7
BACA BETUL PASAL 8
pajak menggunakan konsep PENGGABUNGAN PENGHASILAN
artinya penghasilan istri harus digabung dengan penghasilan suami
kecuali istri bekerja pada satu pemberi kerja (istri sebagai karyawati)

suami pengusaha penghasilan


istri karyawan tidak digabung

suami karyawan digabung


istri pengusaha

suami pengusaha digabung


istri pengusaha

suami karyawan tidak digabung


istri karyawan
contoh:
Joko status kawin 3 tanggungan pengusaha bengkel dengan omzet bruto setahun Rp
700 juta
biaya usaha setahun Rp 500 juta, Istri juga sebagai pengusaha salon dengan peredaran
bruto
setahun Rp 300 juta, biaya usaha Rp 150 juta. Tarif norma untuk bengkel = 30%; untuk salon = 40%
HITUNG PPH TERUTANG KEL JOKO
SETAHUN
jawab:

penghasilan neto setahun bengkel 210.000.000

penghasilan neto setahun salon 120.000.000

total penghasilan neto setahn 330.000.000

(-) PTKP setahun ( K/I/3) (54.675.000)

PKP setahun 275.325.000

PPh terutang setahun 38.831.250 5,00% 2.500.000

15,00% 30.000.000

BAGAIMANA JIKA JOKO PISAH HARTA DENGAN ISTRINYA 25,00% 6.331.250


HITUNG KEWAJIBAN PAJAK MASING-
MASING? 38.831.250
JAWAB:

bagi Tuan Joko 24.710.795 (210 juta / 330 juta) x 43.260.000

bagi Istri Joko 14.120.455 (120 juta/330 juta) x 43.260.000

38.831.250
jika PKP dalam bentuk satuan rupih maka untuk menghitung pajak terutang HARUS dibulatkan ke ribuan kebawah

(pasal 17 ayat 4)

contoh:

PKP setahun 325.450.500

PPh terutang

jawab:

PKP setahun pembulatan 325.450.000

PPh terutang:

5% 2.500.000

15% 30.000.000

25% 18.862.500

51.362.500
SUBYEK PAJAK BADAN
Yg dimaksud dg Badan:
sekumpulan orang & atau modal yg merupakan
kesatuan, baik yg melakukan usaha maupun yg
tdk melakukan usaha yg meliputi:
• perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan
lainnya,
• BUMN, BUMD dg nama & bentuk apapun,
• firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan,
perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi
sosial politik/organisasi yg sejenis, lembaga,
• BUT, & bentuk badan lainnya.
FORMULA PENGHITUNGAN
PPh BADAN

TARIF PAJAK X PENGHASILAN NETO


PASAL 17 (PENGHASILAN KENA PAJAK)
ADA APA DENGAN PEMBUKUAN ?..

AKTIVITAS PENCATATAN
TRANSAKSI USAHA ………

NERACA LAP. RUGILABA LAP. ARUSKAS

POSISI KEKAYAAN KINERJA USAHA PER Perubahan / mutasi


PERUSAHAAN PER PERIODE TERTENTU KAS/SETARA KAS
SAAT TERTENTU mis: periode tahun 2005 per periode tertentu
mis: 31-12-2005
USAHA DI LUAR USAHA DI LUAR
POKOK USAHA POKOK POKOK USAHA POKOK

Harga Pokok- Bunga Pinjaman


Penjualan Sepatu •Bunga Deposito
Penjualan Rugi Kebakaran
•Sewa Bangunan
•Laba Selisih Kurs Rugi Selisih Kurs
Biaya Usaha: Rugi Jual Aktiva
•Laba Jual Aktiva
- Administrasi
- Marketing
LAPORAN RUGILABA
- PENJUALAN 1.000.000.000
- HARGA POKOK PENJUALAN 700.000.000

LABA KOTOR 300.000.000


- BIAYA USAHA 230.000.000
70.000.000
LABA USAHA
- PENGHASILAN DARI LUAR USAHA 30.000.000
(70.000.000)
- BIAYA DARI LUAR USAHA
LABA BERSIH 30.000.000

KESIMPULAN:
PENGHASILAN
• Penjualan 1.000.000.000
• Penghasilan dari Luar Usaha 30.000.000 ..…… 1.030.000.000
BIAYA
• Harga Pokok Penjualan 700.000.000
• Biaya Usaha 230.000.000
• Biaya dari Luar Usaha 70.000.000 …… 1.000.000.000
LABA BERSIH ………………………….. 30.000.000
BAGAIMANA MENGHITUNG DASAR PENGENAAN PAJAK ..?

OBYEK PAJAK UMUM


PENGHASILAN
PENGHASILAN OBYEK PAJAK FINAL obyek pajak umum
Rp. 1.030.000.000 Rp. 1.010.000.000
NON OBYEK PAJAK

DEDUCTIBLE BIAYA
BIAYA-BIAYA deductible
Rp. 1.000.000.000 NON DEDUCTIBLE Rp. 860.000.000

LABA BERSIH
LABA BERSIH PROSES REKONSILIASI Rp 150.000.000
Rp 30.000.000
REKONSILIASI LAPORAN RUGILABA
untuk penghitungan PPh Badan
PERKIRAAN LAP. KOREKSI LAP.
KOMERSIAL FISKAL
Penjualan 1.000.000.000 0 1.000.000.000
Harga Pokok Penj. 700.000.000 25.000.000 675.000.000
LABA KOTOR 300.000.000 0 325.000.000
Biaya Usaha 230.000.000 100.000.000 130.000.000
LABA USAHA 70.000.000 125.000.000 195.000.000
Penghs. Luar Usaha 30.000.000 (20.000.000) 10.000.000
Biaya Luar Usaha (70.000.000) 15.000.000 (55.000.000)
LABA BERSIH 30.000.000 120.000.000 150.000.000
MENGAPA DILAKUKAN
KOREKSI …??
PERKIRAAN KOREKSI

Penjualan 0

Harga Pokok Penj. 25.000.000 NON DEDUCTIBLE

LABA KOTOR 0

Biaya Usaha 100.000.000 NON DEDUCTIBLE


LABA USAHA 125.000.000

PENGHASILAN FINAL
Penghs. Luar Usaha (20.000.000) PENGHASILAN NON OBYEK PAJAK

Biaya Luar Usaha 15.000.000 NON DEDUCTIBLE


LABA BERSIH 120.000.000
Mekanisme penghitungan PPh Badan

PENGHASILAN NETO (LABA BERSIH) FISKAL 150.000.000


………………..

KOMPENSASI KERUGIAN (maksimal 5 tahun sebelumnya) 80.000.000


( …..……………)

70.000.000
PENGHASILAN KENA PAJAK …………………

PAJAK PENGHASILAN TERUTANG:


• 25% x 70.000.000 17.000.000
Deductible Expenses
Pasal 6 UU PPh:
a. biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan
dengan kegiatan usaha;
b. penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta
berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh
hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih
dari 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
dan Pasal 11A;

Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara


penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu)
tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus, melainkan
dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A UU PPh.
(Pasal 9 ayat (2) UU PPh)
Deductible Expenses

c. iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah


disahkan oleh Menteri Keuangan;
d. kerugian karena penjualan atau pengalihan harta
yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau
yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan;
e. kerugian selisih kurs mata uang asing;
f. biaya penelitian dan pengembangan perusahaan
yang dilakukan di Indonesia;
g. biaya beasiswa, magang, dan pelatihan
Deductible Expenses
Pasal 6 UU PPh:
h. piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat
1. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
2. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat
ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak;
3. telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri
atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau
adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan
piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang
bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum
atau khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya
telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu;
4. syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk
penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf k;
i. sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional
yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;

37
Deductible Expenses
Pasal 6 UU PPh:
j. sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang
dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah;
k. biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya
diatur dengan Peraturan Pemerintah;
l. sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur
dengan Peraturan Pemerintah;
m. sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang
ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;

38
BIAYA-BIAYA LAINNYA
Pasal 6 dan 9 UU No. 36/2008 tentang Pajak Penghasilan
 Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak
dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan
berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan,
 Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan didapat
kerugian, kerugian tersebut dikompensasikan dengan
penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut
sampai dengan 5 (lima) tahun.
 Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat
lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk
dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui
penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 11 atau Pasal 11A.
Pengurang Penghasilan Bruto
Biaya Penyusutan

Kelompok Harta Masa Tarif Penyusutan


Berwujud/ Tidak Manfaat
Berwujud
Garis Lurus Saldo Menurun

Bukan Bangunan dan Harta


Tidak Berwujud
Kelompok 1 4 thn 25 % 50 %
Kelompok 2 8 thn 12,5 % 25 %
Kelompok 3 16 thn 6,25 % 12,5 %
Kelompok 4 20 thn 5% 10 %
Bangunan
Permanen 20 thn 5% Tidak ada
Tidak Permanen 10 thn 10 % Tidak ada
PENYUSUTAN FISKAL
Akuntansi: Fiskal
- Metode: Boleh pilih - Metode: GL/SM
- Fixed Asset: All Depr. - Fixed Asset: 3M
- n bulan: Dibulatkan ke atas - n bulan: Dibulatkan ke atas
atau ke bawah
- Masa Manfaat: ditetapkan
- Masa Manfaat: justifikasi
- Materialitas: Tdk Kenal
- Materialitas
- Residual Value: Tdk ada
- Residual Value: minimal Rp 1
- Taat Azas
- SM method, NSB akhir tahun
disusutkan sekaligus
- Kelompok: KMK 520/2000 jo KMK
138/2002
AMORTISASI (PASAL 11A)
Pengurang Penghasilan Bruto
Cadangan Piutang Tidak Tertagih

Secara umum cadangan tidak diperkenankan


Pasal 9 ayat (1) huruf c UU PPh, kecuali untuk:
 Bank, Sewa guna usaha dengan hak opsi, pembiayaan, anjak
piutang,
 Asuransi, termasuk LPJS,
 Pertambangan (biaya reklamasi)
 Penjaminan (LPS),
 Pembuangan limbah industri,
 Penanaman kembali kehutanan.
BIAYA CADANGAN KERUGIAN PIUTANG
(PPAP)
Permenkeu No. 81/PMK.03/2009
Tanggal 22 April 2009
Besarnya cadangan piutang tak tertagih untuk bank perkreditan rakyat
ditetapkan sebagai berikut :

a. 0,5% (setengah persen) dari piutang dengan kualitas LANCAR tidak


termasuk Sertifikat Bank ;
b. 10% (sepuluh persen) dari piutang dengan kualitas KURANG LANCAR
setelah dikurangi dengan nilai agunan;
c. 50% (lima puluh persen) dari piutang dengan kualitas DIRAGUKAN
setelah dikurangi dengan nilai agunan; dan
d. 100% (seratus persen) dari piutang dengan kualitas MACET setelah
dikurangi dengan nilai agunan.

Besarnya nilai agunan yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang pada


cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling tinggi adalah :
- 100% (seratus persen) dari nilai agunan yang bersifat likuid; dan
- 75% (tujuh puluh lima persen) dari nilai agunan lainnya atau sebesar
nilai yang ditetapkan perusahaan penilai.
PPAP……lanjutan
 Jumlah piutang yang digunakan sebagai dasar untuk
membentuk dana cadangan adalah pokok pinjaman
yang diberikan oleh bank perkreditan rakyat.
 Kerugian yang berasal dari piutang yang nyata-nyata
tidak dapat ditagih dibebankan pada perkiraan cadangan
piutang tak tertagih.
 Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih
seluruhnya atau sebagian tidak dipakai untuk menutup
kerugian piutang yang nyata-nyata tak dapat ditagih,
cadangan tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan.
 Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih dipakai
untuk menutup kerugian piutang namun tidak
mencukupi, jumlah kekurangan cadangan tersebut
diperhitungkan sebagai kerugian.
Permenkeu No. 105/PMK.03/2009 Tanggal 10 Juni 2009
PIUTANG YANG NYATA-NYATA TIDAK DAPAT DITAGIH YANG
DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO
 Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih adalah
piutang yang timbul dari transaksi bisnis yang wajar
sesuai dengan bidang usahanya, yang nyata-nyata tidak
dapat ditagih meskipun telah dilakukan upaya-upaya
penagihan yang maksimal atau terakhir oleh Wajib Pajak.
 piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih yang timbul
di bidang usaha bank, lembaga pembiayaan, industri,
dagang dan jasa lainnya dapat dibebankan sebagai biaya
dalam menghitung penghasilan kena pajak.
 Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih
sebagaimana dimaksud di atas tidak termasuk piutang
yang berasal dari transaksi bisnis dengan pihak-pihak
yang memiliki hubungan istimewa dengan Wajib Pajak.
Piutang yang nyata-nyata, tidak dapat ditagih sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 dapat dibebankan sebagai pengurang
penghasilan bruto, sepanjang memenuhi persyaratan :
 Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang nyata-nyata tidak
dapat ditagih tersebut kepada Direktorat Jenderal Pajak;
dan
 Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut telah diserahkan
perkara perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau
instansi pemerintah yang menangani piutang negara, atau
terdapat perjanjian tertulis mengenai penghapusan
piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur atas piutang
yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut, atau
telah dipublikasikan dalam penerbitan umum dan khusus, atau
adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan
untuk jumlah utang tertentu.

Persyaratan diatas tidak berlaku untuk piutang yang nyata-nyata tidak dapat
ditagih kepada debitur kecil atau debitur kecil lainnya.
DEBITUR KECIL
Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih kepada debitur kecil
adalah piutang debitur kecil yang jumlahnya tidak melebihi
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah), yang merupakan
gunggungan jumlah piutang dari beberapa kredit yang diberikan
oleh suatu institusi bank/lembaga pembiayaan dalam negeri
sebagai akibat adanya pemberian:
 Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra);
 Kredit Usaha Tanu (KUT),
 Kredit Pemilikan Rumah Sangat Sederhana (KPRSS),
 Kredit Usaha Kecil (KUK);
 Kredit Usaha Rakyat (KUR),
 Kredit kecil lainnya dalam rangka kebijakan perkreditan Bank
Indonesia dalam mengembangkan usaha kecil dan koperasi.

DEBITUR KECIL LAINNYA


• piutang debitur kecil lainnya yang jumlahnya tidak melebihi Rp
5.000.000,00 (lima juta rupiah).
Besarnya Cadangan Piutang Tak Tertagih – Perpajakan
PMK 81/PMK.03/2009

Bank Umum BPR Dasar


Lancar 1% 0,5% Piutang
Perhatian Khusus 5% - Piutang - Agunan

Kurang Lancar 15% 10% Piutang - Agunan


Diragukan 50% 50% Piutang - Agunan
Macet 100% 100% Piutang - Agunan

Besarnya nilai agunan yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang pada


cadangan paling tinggi adalah:
•100% (seratus persen) dari nilai agunan yang bersifat likuid; dan
•75% (tujuh puluh lima persen) dari nilai agunan lainnya atau sebesar nilai
yang ditetapkan perusahaan penilai.
Persediaan
Biaya Promosi
• Biaya Promosi adalah biaya yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak
dalam rangka memperkenalkan, mempromosikan, dan/atau
menganjurkan pemakaian suatu produk baik langsung maupun
tidak langsung untuk mempertahankan dan/atau meningkatkan
penjualan.
• Biaya Promosi dan/atau Biaya Penjualan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1 yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
harus memenuhi kriteria berikut :
a. untuk mempertahankan dan atau meningkatkan penjualan;
b. dikeluarkan secara wajar;
c. menurut adat kebiasaan pedagang yang baik;
d. dapat berupa barang, uang, jasa, dan fasilitas; dan
e. diterima oleh pihak lain.
DAFTAR NOMINATIF BIAYA PROMOSI
Nama : …PT ARTHA…
NPWP : …01.345.678.8-541.000
Alamat : …JL. ASEM 20, YOGYAKARTA…
Tahun Pajak : ..2010..
Pemotongan
DATA PENERIMA
PPh
No Nama NPWP Alamat Tgl Bentuk & Jml. Ket. Jml No.
Jenis Biaya Rp. PPh Bukpot

1. CV A 02…. Jl. ABC 2/1/10 Iklan media 10 jt -- 200 rb 8/I/10


2. PT C 01…. Jl. XYZ 3/2/10 Cetakan 12 jt -- -- --
3. ….dst

Wajib Pajak wajib membuat daftar nominatif atas pengeluaran Biaya


Promosi yang dikeluarkan kepada pihak lain.

Daftar nominatif tersebut dilaporkan sebagai lampiran saat Wajib Pajak


menyampaikan SPT. Tahunan PPh Badan.

Dalam hal ketentuan ini tidak dipenuhi, Biaya Promosi tidak dapat
dikurangkan dari penghasilan bruto. 58
Biaya Perjamuan/Entertainment
SE-Dirjen Pajak No.27/PJ.22/1986 tanggal 13 Juni 1986

 Biaya "entertainment", representasi, jamuan dan sejenisnya untuk


mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan pada dasarnya
dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-undang Pajak Penghasilan.
 Wajib Pajak harus dapat membuktikan, bahwa biaya-biaya tersebut
telah benar-benar dikeluarkan (formal) dan benar ada hubungannya
dengan kegiatan perusahaan untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan perusahaan (materiil).
 Oleh karena itu, Wajib Pajak yang mengurangkan biaya-biaya
tersebut dari penghasilan brutonya, sejak tahun pajak 1986 agar
melampirkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan daftar nominatif
seperti terlampir yang berisi :
 Nomor urut., Tanggal "entertainment”, Nama tempat , Alamat,
Jenis "entertainment”, Jumlah (Rp);
 Relasi usaha yang diberikan "entertainment“(- Nama, Posisi,
Nama perusahaan, Jenis usaha)
Biaya dalam bentuk Natura/Kenikmatan
Permenkeu No.83/PMK.03/2009 tanggal 22 April 2009:

• Pemberian natura dan kenikmatan yang dapat dikurangkan dari


penghasilan bruto pemberi kerja dan bukan merupakan penghasilan
bagi Pegawai yang menerimanya adalah :
a. Pemberian atau penyediaan makanan dan/atau minuman bagi
seluruh Pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.
- pemberian makanan dan/atau minuman yang disediakan oleh
pemberi kerja di tempat kerja, atau
- pemberian kupon makanan dan/atau minuman bagi Pegawai yang

karena sifat pekerjaannya tidak dapat memanfaatkan pemberian


makan ditempat kerja, meliputi Pegawai bagian pemasaran,
bagian transportasi, dan dinas luar lainnya.
Biaya dalam bentuk Natura/Kenikmatan
Lanjutan ………….

b. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang


diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu
dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong
pembangunan di daerah tersebut.
- sarana tempat tinggal, termasuk perumahan bagi Pegawai dan
keluarganya;
- sarana pelayanan kesehatan;
- sarana pendidikan bagi Pegawai dan keluarganya;
- sarana peribadatan;
- sarana pengangkutan bagi Pegawai dan keluarganya;
- sarana olahraga bagi Pegawai dan keluarganya tidak termasuk golf,
power boating, pacuan kuda, dan terbang layang,
sepanjang sarana dan fasilitas tersebut tidak tersedia, sehingga
pemberi kerja harus menyediakannya sendiri.
Biaya dalam bentuk Natura/Kenikmatan
Lanjutan ………….
Daerah tertentu adalah daerah yang secara ekonomis mempunyai
potensi yang layak dikembangkan tetapi keadaan prasarana ekonomi pada
umumnya kurang memadai dan sulit dijangkau oleh transportasi umum,
baik melalui darat, laut maupun udara, sehingga untuk mengubah potensi
ekonomi yang tersedia menjadi kekuatan ekonomi yang nyata, penanam
modal menanggung risiko yang cukup tinggi dan masa pengembalian yang
relatif panjang, termasuk daerah perairan laut yang mempunyai kedalaman
lebih dari 50 (lima puluh) meter yang dasar lautnya memiliki cadangan
mineral.

c. Pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam


pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena sifat
pekerjaan tersebut mengharuskannya.
Meliputi pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja, pakaian seragam
petugas keamanan (satpam), sarana antar jemput Pegawai, serta
penginapan
untuk awak kapal, dan yang sejenisnya.
Non Deductible Expenses
Pasal 9 UU PPh:
a. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti
dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan
asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil
usaha koperasi;
b. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan
pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota;
c. pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali cadangan
piutang tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha
dengan hak opsi, cadangan untuk usaha asuransi, dan
cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, yang
ketentuan dan syarat-syaratnya ditetapkan dengan Keputusan
Menteri Keuangan;
d. premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa,
asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, yang dibayar oleh
Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi
kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi
Wajib Pajak yang bersangkutan;
63
Non Deductible Expenses
Pasal 9 UU PPh:
e. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau
jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan,
kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh
pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura
dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan
pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan dengan Keputusan
Menteri Keuangan;
f. jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada
pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai
hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan
pekerjaan yang dilakukan;
g. harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf
b, kecuali zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan
oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan atau
Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk
agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat
yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah;
h. Pajak Penghasilan;
Non Deductible Expenses
Pasal 9 UU PPh:
i. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan
pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya;
j. gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau
perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham;
k. sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta
sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan
pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan.
Non Deductible Expenses
Pasal 4 Peraturan Pemerintah No. 138/2000:
a. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak;
b. biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final;
c. biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 14 dan Norma Penghitungan Khusus sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 UU PPh;
d. Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi penghasilan,
kecuali pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 26 ayat (1) UU PPh tetapi tidak termasuk dividen
sepanjang Pajak Penghasilan tersebut ditambahkan dalam
penghitungan dasar untuk pemotongan pajak; dan
e. kerugian dari harta atau utang yang tidak dimiliki dan tidak
dipergunakan dalam usaha atau kegiatan untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan Objek
Pajak.
KOMPENSASI KERUGIAN
Kompensasi 5 Tahun
Contoh:
PT ABC dalam tahun 2005 menderita kerugian fiskal sebesar Rp
1.200.000.000,00. Dalam 5 (lima) tahun berikutnya rugi laba fiskal
PT ABC sebagai berikut:
• 2006 : laba fiskal Rp 200.000.000,00
• 2007 : rugi fiskal (Rp 300.000.000,00)
• 2008 : laba fiskal Rp N I H I L
• 2009 : laba fiskal Rp 100.000.000,00
• 2010 : laba fiskal Rp 800.000.000,00

Pasal 6 (2) UU PPh


Tahun Laba Kena Pajak Sisa Kompensasi Th
depan
2006 Laba 200 jt Sisa Rugi 2005 1.000 jt
Rugi 05 200 jt
PKP nihil

2007 Rugi 300 jt Sisa Rugi 2005 1.000 jt


Rugi 2007 300 jt
2008 Laba Nihil Sisa Rugi 2005 1.000 jt
Rugi 2007 300 jt
2009 Laba 100 jt Sisa Rugi 2005 900 jt
Rugi 05 100 jt Rugi 2007 300 jt
PKP nihil
2010 Laba 800 jt Rugi 2007 300 jt
Rugi 05 800 jt
PKP nihil
Tarif PPh Badan
Ketentuan Pasal 17 UU 36/2008:
 Tarif umum PPh Pasal 17 UU PPh untuk Wajib Pajak Badan tahun
pajak
 2009 adalah 28% dan
 mulai tahun 2010 adalah 25%.

 Psl 17 ayat (2b): Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk
perseroan terbuka yang paling sedikit 40% (empat puluh persen)
dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di
bursa efek di Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya
dapat memperoleh tarif sebesar 5% (lima persen) lebih rendah
daripada tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan
ayat (2a) yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Pemerintah.
Dalam PP No. 81/PMK.03/2007 : ditambahkan syarat kepemilikan
saham publik adalah minimal 300 pihak.
FASILITAS PASAL 31E
Bagi WP Badan dengan Peredaran Bruto ≤ 50 Milyar

 pengurangan tarif sebesar 50% dengan syarat:


 WP badan DN;
 Omzet tidak lebih dari 50 Miliar
Diberikan hanya atas batasan PKP dari peredaran usaha sampai dengan Rp 4.8 Miliar

Note: PKP = Penghasilan Kena Pajak

Contoh 1:
Peredaran bruto PT Y dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp4.500.000.000,00 dgn PKP
sebesar Rp500.000.000,00
Penghitungan PPh yang terutang:
Seluruh PKP yang diperoleh dari peredaran bruto tersebut dikenai tarif sebesar 50% (lima
puluh persen) dari tarif Pajak Penghasilan badan yang berlaku karena jumlah peredaran
bruto PT Y tidak melebihi Rp4.800.000.000,00.
Pajak Penghasilan yang terutang:
(50% x 28%) x Rp500.000.000,00 = Rp70.000.000,00
Contoh 2:
Peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2009 sebesar
Rp30.000.000.000,00 dengan PKP sebesar Rp3.000.000.000,00.

Penghitungan PPh yang terutang:


1. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang
memperoleh fasilitas:
(Rp4.800.000.000,00 : Rp30.000.000.000,00) x Rp3.000.000.000,00
= Rp480.000.000,00

2. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang


tidak memperoleh fasilitas:
Rp3.000.000.000,00 - Rp480.000.000,00 = Rp2.520.000.000,00

PPh yang terutang:


- (50% x 28%) x Rp480.000.000,00 = Rp 67.200.000,00
- 28% x Rp2.520.000.000,00 = Rp705.600.000,00
Jumlah PPh yang terutang = Rp772.800.000,00

Note: Tarif PPh Badan Tahun 2010 dst. sebesar 25%


PPH PASAL 24
PAJAK PENGHASILAN PASAL 24
Pajak Penghasilan Pasal 24.
- Merupakan besarnya pajak atas penghasilan dari luar negeri
yang dapat dikreditkan terhadap penghasilan WPDN
- Pajak terhutang WPDN bersumber dari seluruh penghasilan
( penghasilan DN dan LN)

Penggabungan Penghasilan luar negeri.


- Penghasilan usaha : diakui pada saat diperolehnya penghasilan
tersebut (acrrual basis)
- Penghasilan diluar usaha : diakui pada saat diterimanya
penghasilan tersebut (Cash Basis)
- Penghasilan dividen yang diperjualbelikan di Bursa Efek diakui
pada saat ditetapkannya oleh Keputusan Menteri Keuangan
PAJAK PENGHASILAN PASAL 24
PT.Serba Usaha menerima dan memperoleh penghasilan neto dari

luar negeri dalam tahun 2009 sebagai berikut :


1. Hasil usaha di negeri Jerman dalam tahun 2009 sebesar
Rp.700.000.000  sebagai penghasilan tahun 2009 (accrual basis)
2. Dividen dari Belanda untuk kepemilikan sahamn di”ABX Corp”
sebesar Rp.500.000.000 yaitu berasal dari keuntungan tahun 2007
yang ditetetapkan RUPS tahun 2008 dan dibayarkan tahun 2009
sebagai penghasilan tahun 2009 (cash basis)
3. Penghasilan Bunga semester II tahun 2009 sebesar Rp.350.000.000
dari Bankok Bank di Thailand, bunga tersebut baru akan dibayar awal
Januari 2010 sebagai penghasilan tahun 2010 (cash basis)
4. Dividen dari Inggris atas kepemilikan saham di”DEF Corp” yang
diperjual belikan di Bursa Efek sebesar Rp.600.000.000 yaitu berasal
dari keuntungan tahun 2007 berdasarkan keputusan Menteri
Keuangan tahun 2009  sebagai penghasilan tahun 2009 (Kep.
Menkeu)
PAJAK PENGHASILAN PASAL 24
Batas Maksimum Kredit Pajak adalah nilai yang terendah dari unsur 3
perhitungan berikut :
1. Jumlah pajak yang terhutang/dibayar diluar negeri
2. Jumlah pajak yang terhutang untuk seluruh penghasilan
3. (Penghasilan luar negeri : Seluruh Penghasilan Kena Pajak) X PPh
terhutang atas seluruh penghasilan (tarif pasal 17 UU PPh)

Ilustrasi-1

PT.Cemara memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2009 sebagai


berikut :
1. Penghasilan luar negeri Rp.500.000.000 dengan tarif pajak 40%
2. Penghasilan usaha di Indonesia Rp.750.000.000,-

Besarnya Penghasilan Kena Pajak adalah Rp.1.250.000.000,--


PAJAK PENGHASILAN PASAL 24
Penghitungan Kredit Pajak Yang Diperbolehkan (PPh Pasal 24 )

1. PPh dibayar/terutang diluar negeri :


40% X Rp.500.000.000 = Rp.200.000.000,-
2. PPh terhutang sesuai tarif psl 17 :
28% X Rp.1.250.000.000 = Rp.350.000.000,-
3. PPh berdasarkan perbandingan :
500.000.000 : 1.250.000.000 X Rp.350.000.000,- = Rp.140.000.000

Besarnya kredit pajak (psl 24) adalah Rp.140.000.000,--


PAJAK PENGHASILAN PASAL 24
Dalam hal penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara, maka
besarnya batas maksimum kredit pajak dihitung untuk masing-masing
negara (per country limitation).

Ilustrasi-2

PT.Dianawati memperoleh penghasilan dalam tahun 2009 sbb :


1. Negara A, memperoleh penghasilan Rp.400.000.000,-- dengan
tarif pajak 20%.
2. Negara B, memperoleh penghasilan Rp.500.000.000,-- dengan
tarif pajak 15%
3. Penghasilan usaha di Indonesia Rp.350.000.000,--

Penghitungan Kredit Pajak Yang Diperbolehkan (PPh Pasal 24 ) :


a. Penghasilan kena pajakRp.1.250.000.000,--
b. PPh terhutang (sesuai tarif pasal 17)
28% X Rp.1.250.000.000 Rp.350.000.000,--
PAJAK PENGHASILAN PASAL 24

c. Batas maksimum kredit pajak (pph psal 24) masing-masing negara :


- Negara A :
- PPh terhutang di negara A : 20% X Rp.400.000.000 = Rp. 80.000.000,-
- (400.000.000/1.250.000.000 X Rp.350.000.000) = Rp.112.000.000,-
Besarnya PPh pasal 24 di negara A adalah Rp.80.000.000,--

- Negara B :
- PPh terhutang di negara B : 15% X Rp.500.000.000 = Rp. 75.000.000,-
- (500.000.000/1.250.000.000 X Rp.350.000.000) = Rp.140.000.000,-
Besarnya PPh pasal 24 di negara B adalah Rp.75.000.000,--

Total PPh pasal 24 adalah sebesar Rp.155.000.000,-


PAJAK PENGHASILAN PASAL 24
Dalam hal usha di luar negeri menderita kerugian , maka kerugian tersebut
tidak dapat diperhitungkan dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena
Pajak.

Ilustrasi-3
PT.Faisal memperoleh penghasilan dalam tahun 2009 sbb :
1. Negara A, memperoleh penghasilan Rp.400.000.000,-- dengan
tarif pajak 20%
2. Negara B, memperoleh penghasilan Rp.500.000.000,-- dengan
tarif pajak 15%
3. Negara C, merugi sebesar Rp.150.000.000,-
4. Penghasilan usaha di Indonesia Rp.350.000.000,-

Penghitungan Kredit Pajak Yang Diperbolehkan (PPh Pasal 24 ) :


a. Penghasilan kena pajakRp.1.250.000.000,--
b. PPh terhutang (sesuai tarif pasal 17)
28% X Rp.1.250.000.000 Rp.350.000.000,--
PAJAK PENGHASILAN PASAL 24

c. Batas maksimum kredit pajak (pph psal 24) masing-masing negara :


- Negara A :
- PPh terhutang di negara A : 20% X Rp.400.000.000 = Rp. 80.000.000,-
- (400.000.000/1.250.000.000 X Rp.350.000.000) = Rp.112.000.000,-
Besarnya PPh pasal 24 di negara A adalah Rp.80.000.000,--

- Negara B :
- PPh terhutang di negara B : 15% X Rp.500.000.000 = Rp. 75.000.000,-
- (500.000.000/1.250.000.000 X Rp.350.000.000) = Rp.140.000.000,-
Besarnya PPh pasal 24 di negara B adalah Rp.75.000.000,--

- Negara C : Nihil

Total PPh pasal 24 adalah sebesar Rp.155.000.000,-


PAJAK PENGHASILAN PASAL 24
Dalam hal usaha didalam negeri merugi , maka kerugian dapat diperhitungkan
dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak.

Ilustrasi-4

PT.Findia memperoleh penghasilan dalam tahun 2009 sbb :


1. Negara A, memperoleh penghasilan Rp.800.000.000,-- dengan
tarif pajak 30%
2. Negara B, memperoleh penghasilan Rp.600.000.000,-- dengan
tarif pajak 30%
3. Negara C, merugi sebesar Rp.150.000.000,- tarif pajak 25%
4. Kerugian usaha di Indonesia Rp.150.000.000,-

Penghitungan Kredit Pajak Yang Diperbolehkan (PPh Pasal 24 ) :


a. Penghasilan kena pajakRp.1.250.000.000,--
b. PPh terhutang (sesuai tarif pasal 17)
28% X Rp.1.250.000.000 Rp.350.000.000,--
PAJAK PENGHASILAN PASAL 24

c. Batas maksimum kredit pajak (pph psal 24) masing-masing negara :


- Negara A :
- PPh terhutang di negara A : 30% X Rp.800.000.000 = Rp.240.000.000,-
- (800.000.000/1.250.000.000 X Rp.350.000.000) = Rp.224.000.000,-
Besarnya PPh pasal 24 di negara A adalah Rp.224.000.000,--

- Negara B :
- PPh terhutang di negara B : 30% X Rp.600.000.000 = Rp.180.000.000,-
- (600.000.000/1.250.000.000 X Rp.350.000.000) = Rp.168.000.000,-
Besarnya PPh pasal 24 di negara B adalah Rp.168.000.000,--

- Negara C : Nihil

Total PPh pasal 24 adalah sebesar Rp.392.000.000,-


PAJAK PENGHASILAN PASAL 24

Dalam hal penghasilan dalam negeri merupakan pendapatan yang pajaknya


bersifat final, maka penghasilan tersebut tidak dapat diperhitungkan dalam
menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak.

Ilustrasi-5

PT.Findia memperoleh penghasilan dalam tahun 2009 sbb :


1. Negara A, memperoleh penghasilan Rp.800.000.000,-- dengan tarif pajak
30%
2. Negara B, memperoleh penghasilan Rp.600.000.000,-- dengan tarif pajak
30%
3. Negara C, merugi sebesar Rp.150.000.000,- tarif pajak 25%
4. Keuntungan usaha di Indonesia Rp.250.000.000,-(termasuk pendapatan
bunga deposito Rp.100.000.000)
Penghitungan Kredit Pajak Yang Diperbolehkan (PPh Pasal 24 ) :
a. Penghasilan kena pajakRp.1.550.000.000,--
b. PPh terhutang (sesuai tarif pasal 17)
28% X Rp.1.550.000.000 Rp.434.000.000,--
PAJAK PENGHASILAN PASAL 24

c. Batas maksimum kredit pajak (pph psal 24) masing-masing negara :


- Negara A :
- PPh terhutang di negara A : 30% X Rp.800.000.000 = Rp.240.000.000,-
- (800.000.000/1.550.000.000 X Rp.434.000.000) = Rp.224.000.000,-
Besarnya PPh pasal 24 di negara A adalah Rp.224.000.000,--

- Negara B :
- PPh terhutang di negara B : 30% X Rp.600.000.000 = Rp.180.000.000,-
- (600.000.000/1.550.000.000 X Rp.434.000.000) = Rp.168.000.000,-
Besarnya PPh pasal 24 di negara B adalah Rp.168.000.000,--

- Negara C : Nihil

Total PPh pasal 24 adalah sebesar Rp.392.000.000,-


PAJAK PENGHASILAN PASAL 24

Cara melaksanakan kredit pajak luar negeri adalah WP menyampaikan


permohonan kepada Direktur Jendral Pajak bersamaan dengan penyampaian
SPT tahunan PPh dengan melampirkan :

1. Laporan keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri


2. Foto copy Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan diluar negeri
3. Dokumen pembayaran pajak diluar negeri
PAJAK PENGHASILAN PASAL 25
- PPh Pasal 25 adalah besarnya angsuran pajak bulanan yang harus dibayar
sendiri oleh Wajib Pajak dalam tahun berjalan.
- Cara pembayaran pajak dalam tahun berjalan :
a. Pemotongan/pemungutan oleh pihak ketiga (PPh psl 21,22,23 dan 24)
b. Dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ( PPh psl 25)

Cara Perhitungan Besarnya PPh Pasal 25 :


- Pajak Penghasilan Terhutang (sesuai SPT Tahunan) Rp…………..
- Pajak yang dipotong/dipungut oleh pihak ketiga :
a. PPh pasal 21 Rp…………….
b. PPh pasal 22 Rp…………….
c. PPh pasal 23 Rp…………….
d. PPh pasal 24 Rp……………. + Rp…………… -
Pajak yang harus dibayar sendiri………………………………… Rp……………
- Besarnya PPh Pasal 25 : 1/12 X Pajak yang harus dibayar sendiri
PAJAK PENGHASILAN PASAL 25
Ilustrasi 25-1

Jumlah Pajak Terhutang (sesuai SPT 2009) Rp.30.000.000


PPh dipotong/dipungut pihak ketiga selama thn 2009 :
- PPh pasal 21 Rp.5.000.000
- PPh Pasal 22 Rp.2.000.000
- PPh Pasal 23 Rp.2.000.000
- PPh pasal 24 Rp.3.000.000 + Rp.12.000.000
PPh yang harus dibayar sendiri Rp.18.000.000
Besarnya PPh psl 25 than 2010 : 1/12 X Rp.18.000.000 Rp. 1.500.000

Ilustrasi 25-2

Berdasarkan ilustrasi 25-1 jika diketahui besarnya PPh pasal 25 tahun 2009 adalah sebesar
Rp.1.000.000 per bulan maka PPh pasal 29 tahun 2009 adalah :

Jumlah Pajak Terhutang (sesuai SPT 2009) Rp.30.000.000


PPh dipotong/dipungut pihak ketiga selama thn 2009 Rp.12.000.000 -
PPh yang harus dibayar sendiri Rp.18.000.000
PPh psl 25 than 2009 : 12 X Rp.1.000.000 Rp.12.000.000 –
PPh pasal 29 tahun 2009 Rp. 6.000.000
PAJAK PENGHASILAN PASAL 25
PERHITUNGAN BESARNYA PPH PSL 25 DALAM HAL-HAL TERTENTU :
a. Sebeleum Batas Waktu Penyampaian SPT Tahunan
- Berdasarkan angsuran pajak untuk bulan terakhir dari tahun pajak yang lalu

Ilustrasi 25-2
PT.Amanah menyampaikan SPT Tahunan PPh Tahun 2009 pada Maret 2010 dan berdasarkan
perhitungan besarnya PPh Psl 25 tahun 2010 adalah sebesar Rp.3.000.000 . PPh pasal 25
Desember 2009 adalah sebesar Rp.2.500.000

Besarnya PPh Psl 25 Januari dan Februari 2010 masing-masing sebesar Rp.2.500.000

b. Jika dalam tahun berjalan, diterbitkan SKP untuk pajak tahun lalu
- Berdasarkan SKP dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan SKP
- Besarnya SKP dapat menghasilkan Pajak Terhutang sama, lebih besar dan lebih kecil

Ilustrasi 25-3
Berdasarkan SPT Tahunan tahun 2008 yang disampaikan oleh PT.Amanah pada Maret 2009,
besaarnya PPh besarnya PPh Psl 25 tahun 2009 adalah sebesar Rp.3.000.000 . Pada bulan Mei
2009 terdapat pemeriksaan dan diterbitkan SKP untuk tahun pajak 2008 tertanggal 15 Juni 2009
dengan jumlah pajak terhutang yang harus dibayar sendiri sebesar Rp.24.000.000

Besarnya PPh Psl 25 terhitung mulai Juli 2009 adalah sebesar Rp.2.000.000
PAJAK PENGHASILAN PASAL 25
PERHITUNGAN BESARNYA PPH PSL 25 DALAM HAL-HAL TERTENTU :
c. Jika terdapat kerugian yang belum dikompensasi
- Berdasarkan Penghasilan Kena Pajak setelah diperhitungkan kompensasi kerugian

Ilustrasi 25-4
Penghasilan Kena Pajak PT. Diva Tahun 2009 sebesar Rp.200.000.000, sisa kerugian tahun
2006 yang belum dikompensasi sebesar Rp.50.000.000. PPh yang dipotong/dipungut pihak
ketiga (PPh Psl 23) sebesar Rp.7.500.000 dan PPh Psl 25 yang telah dibayar tahun 2009 setiap
bulannya sebesar Rp.1.500.000.

Besarnya PPh Psl 25 tahun 2010 adalah :


- Penghasilan Kena Pajak (sebelum kompensasi kerugian) Rp.200.000.000
- Kompensasi kerugian tahun 2006 Rp. 50.000.000 –
Penghasilan Kena Pajak (setelah kompensasi kerugian) Rp.150.000.000
PPh Terhutang (28% X Rp.150.000.000) Rp. 42.000.000
PPh dipungut/dipotong pihak ketiga Rp. 7.500.000 –
PPh yang harus dibayar sendiri Rp. 34.500.000

PPh Psl 25 tahun 2010 ( 1/12 X Rp.34.500.000) Rp. 2.875.000


KOMPENSASI KERUGIAN
- Kerugian dapat dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai
dengan 5 (lima) tahun.
Ilustrasi 25-5
PT.Amanda dalam tahun 2003 menderita kerugian fiskal sebesar Rp.1.200.000.000 . Dalam 5 tahun
berikutnya laba (rugi) fiskal PT.Amanda sebagai berikut :
Tahun 2004 : laba fiskal Rp.200.000.000
Tahun 2005 : rugi fiskal (Rp.300.000.000)
Tahun 2006 : laba fiskal NIHIL
Tahun 2007 : laba fiskal Rp.100.000.000
Tahun 2008 : laba fiskal Rp.800.000.000

Kompensasi kerugian dilakukan sbb :


Rugi fiskal tahun 2003 (Rp.1.200.000.000)
Laba fiskal tahun 2004 Rp. 200.000.000 +
Sisa Rugi Fiskal tahun 2003 (Rp.1.000.000.000)
Rugi Fiskal Tahun 2005 ( Rp. 300.000.000) DK BLH DIKOMPENSASI 2009
Sisa Rugi Fiskal tahun 2003 ( Rp.1.000.000.000)
Laba Fiskal Tahun 2006 NIHIL NIHIL +
Sisa Rugi Fiskal tahun 2003 ( Rp.1.000.000.000)
Laba Fiskal Tahun 2007 Rp. 100.000.000 +
Sisa Rugi Fiskal tahun 2003 ( Rp. 900.000.000)
Laba Fiskal Tahun 2008 Rp. 800.000.000 +
Sisa Rugi Fiskal tahun 2003 ( Rp. 100.000.000) TDK DPT DKOMPENSASI 2009
PPH PASAL 25
PPH PASAL 25
PPH PASAL 25
PPH PASAL 25
LANJUTAN
LANJUTAN
LANJUTAN
LANJUTAN
LANJUTAN
LANJUTAN
PPH PASAL 25
SEKIAN