Anda di halaman 1dari 40

DISKUSI TOPIK

INFERTILITAS

Oleh:
Maharani Rachma Dhanti Putri
41181396100096

Pembimbing:
dr. Malvin Emeraldi, Sp.OG(K)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
RSUP FATMAWATI
2019
DEFINISI
Fertilisasi adalah pertemuan antara sperma dan ovum
yang menghasilkan zigot dan dapat berkembang menjadi
embrio kemudian menjadi janin atau organisme.

Fertilitas adalah kemampuan seorang istri untuk hamil dan


melahirkan anak hidup oleh suami yang dapat
menghamilinya.
DEFINISI
Infertilitas adalah ketidakmampuan pasangan yang aktif
secara seksual tanpa kontrasepsi untuk mendapatkan
kehamilan dalam satu tahun.

Pasangan usia >35 tahun dikatakan infertil bila tidak


mampu melakukan konsepsi setelah melakukan hubungan
seksual selama 6 bulan.
EPIDEMIOLOGI
• Penelitian di Perancis melaporkan 65% perempuan berumur 25 tahun
akan mengalami kehamilan pada 6 bulan dan secara akumulasi 85%
kehamilan akan didapatkan pada akhir tahun pertama.

• Ini berarti jika terdapat 100 pasangan yang mencoba untuk hamil, 40
pasangan tidak akan hamil setelah enam bulan, dan 15 pasangan
tetap tidak hamil setelah setahun.

• Untuk pasangan dengan umur 35 tahun atau lebih peluang kehamilan


menjadi 60% pada tahun pertama dan 85% pada tahun kedua.

• Kurang lebih 15 persen tetap belum mendapatkan kehamilan setelah


tahun ke-3 perkawinan
EPIDEMIOLOGI
EPIDEMIOLOGI
Primer

Infertilitas Sekunder

Idiopatik
FAKTOR RISIKO

Mengurangi sintesis
testosteron
Konsumsi Mempengaruhi fungsi
alkohol sel leydig Menyebabkan
kerusakan pada
membran basalis
FAKTOR RISIKO
Tingginya kerusakan
Sperma
morfologi

Rokok Oosit Kerusakan oksidatif


bagi mitokondria

Embrio keguguran
FAKTOR RISIKO
Berat badan
• Perempuan yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) >29,
cenderung memerlukan waktu yang lebih lama untuk
mendapatkan kehamilan.

• Upaya meningkatkan berat badan pada perempuan yang


memiliki IMT <19 serta mengalami gangguan haid akan
meningkatkan kesempatan terjadinya pembuahan.
FAKTOR RISIKO
Olahraga
• Olahraga ringan-sedang dapat meningkatkan fertilitas karena
akan meningkatkan aliran darah dan status anti oksidan

• Olahraga berat dapat menurunkan fertilitas


1. Olahraga > 5 jam/minggu, contoh: bersepeda untuk laki-laki
2. Olahraga > 3-5 jam/minggu, contoh: aerobik untuk perempuan
FAKTOR RISIKO
Stress
• Perasaan cemas, rasa bersalah, dan depresi yang berlebihan
dapat berhubungan dengan infertilitas, namun belum didapatkan
hasil penelitian yang adekuat

• Teknik relaksasi dapat mengurangi stress dan potensi terjadinya


infertilitas
FAKTOR RISIKO
Suplementasi Vitamin
• Asam lemak seperti EPA dan DHA (minyak ikan) dianjurkan pada
pasien infertilitas karena akan menekan aktifasi nuclear faktor kappa
B

Beberapa antioksidan yang diketahui dapat meningkatkan kualitas dari


sperma, diantaranya:
• Vit.C dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas semen
• Ubiquinone Q10 dapat meningkatkan kualitas sperma
• Selenium dan glutation dapat meningkatkan motilitas sperma
• Kombinasi asam folat dan zink dapat meningkatkan konsentrasi dan
morfologi sperma
• Kobalamin (Vit B12) penting dalam spermatogenesis
FAKTOR RISIKO
Obat-Obatan
• Spironolakton
• Sulfasalazin
• Kolkisin dan allopurinol
• Antibiotik tetrasiklin, gentamisin, neomisin, eritromisin dan nitrofurantoin
pada dosis yang tinggi
• Simetidin
• Siklosporin

Obat-obat Herbal
Penelitian yang dilakukan di California menemukan bahwa konsumsi obat-
obatan herbal dalam jumlah minimal seperti ginko biloba, dicurigai
menghambat fertilisasi, mengubah materi genetik sperma, dan mengurangi
viabilitas sperma.
FAKTOR RISIKO
Pekerjaan
FAKTOR RISIKO
Pekerjaan
ETIOLOGI
ETIOLOGI
Gangguan Ovulasi

Gangguan ovulasi terjadi pada sekitar 15% pasangan infertilitas


dan menyumbang sekitar 40% infertilitas pada perempuan.

Gangguan ovulasi: seperti SOPK, gangguan pada siklus haid,


insufisiensi ovarium primer Infertilitas yang disebabkan oleh
gangguan ovulasi dapat diklasifikasikan berdasarkan siklus
haid, yaitu amenore primer atau sekunder.

Namun tidak semua pasien infertilitas dengan gangguan ovulasi


memiliki gejala klinis amenorea, beberapa diantaranya
menunjukkan gejala oligomenorea.
ETIOLOGI
Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV
Kegagalan pada Gangguan fungsi Kegagalan ovarium Hiperprolaktinemia
hipotalamus ovarium (hipergonadotropin
hipofisis (normogonadotropin hipogonadism)
(hipogonadotropin normogonadism)
hipogonadism) Karakteristik:
Karakteristik: 1. Gonadotropin
Karakteristik: 1. Kelainan pada tinggi
1. Gonadotropin gonadotropin 2. Estradiol rendah
rendah 2. Estradiol normal
2. Prolaktin normal Kelainan ini terjadi
3. Estradiol rendah Kelainan ini terjadi sekitar 4-5% dari
sekitar 85% dari seluruh kelainan
Kelainan ini terjadi seluruh kelainan ovulasi
sekitar 10% dari ovulasi
seluruh kelainan
ovulasi
ETIOLOGI
Gangguan Tuba dan Pelvis

• Kerusakan tuba dapat disebabkan oleh infeksi (Chlamidia, Gonorrhoea, TBC)


maupun endometriosis.

• Endometriosis merupakan penyakit kronik yang umum dijumpai. Gejala yang sering
ditemukan pada pasien dengan endometriosis adalah nyeri panggul, infertilitas dan
ditemukan pembesaran pada adneksa.

• Endometriosis terdapat pada 25%-50% perempuan, dan 30% sampai 50% mengalami
infertilitas.

• Mekanisme : pada endometriosis seperti terjadinya perlekatan dan distrorsi anatomi


panggul yang dapat mengakibatkan penurunan tingkat kesuburan. Perlekatan pelvis
pada endometriosis dapat mengganggu pelepasan oosit dari ovarium serta
menghambat penangkapan maupun transportasi oosit.
ETIOLOGI
Grade I Grade II Grade III
1. Oklusi tuba proksimal 1. Kerusakan tuba berat 1. Kerusakan tuba berat
tanpa adanya fibrosis unilateral bilateral
atau oklusi tuba distal
tanpa ada distensi 2. Fibrosis tuba luas

2. Mukosa tampak baik 3. Distensi tuba >1,5 cm

3. Perlekatan ringan 4. Mukosa tampak


(perituba-ovarium) abnormal

5. Oklusi tuba bilateral

6. Perlekatan berat dan


luas
ETIOLOGI
Gangguan Uterus

• Mioma submukosum
• polip endometrium
• Leiomyoma
• Sindrom asherman
ETIOLOGI
Faktor Laki-Laki

Infertilitas dapat juga disebabkan oleh faktor laki-laki, dan setidaknya


sebesar 30-40% dari infertilitas disebabkan oleh faktor laki-laki
Sehingga pemeriksaan pada laki-laki penting dilakukan sebagai
bagian dari pemeriksaan infertilitas.
Di Inggris, jumlah sperma yang rendah atau kualitas sperma yang
jelek merupakan penyebab utama infertilitas pada 20% pasangan.
Kualitas semen yang terganggu, azoospermia dan cara senggama
yang salah, merupakan faktor yang berkontribusi pada 50% pasangan
infertilitas.
Infertilitas laki-laki idiopatik dapat dijelaskan karena beberapa faktor,
termasuk disrupsi endokrin yang diakibatkan karena polusi
lingkungan, radikal bebas, atau kelainan genetik
ANAMNESIS
• Riwayat menstruasi (frekuensi, durasi, hot flushes, dismenore)
• Riwayat KB
• Frekuensi koitus
• Durasi infertilitas
• Riwayat endometriosis sebelumnya
• Kista ovarium berulang
• Leiomioma
• STD
• PID
• Gejala hiperprolaktinemia
• Riwayat kemoterapi
• Obat-obatan (NSAID, pengobatan herbal)
• Merokok, alkohol
ANAMNESIS
• Abnormalitas selama perkembangan pubertas
• Disfungsi ereksi
• Masalah ejakulasi
• Hipospadia
• STD, epididimitis, prostatitis
• Riwayat cryptorchidism, torsio testis, trauma testis
• Varikokel
• Riwayat kemoterapi
• Obat-obatan (simetidin, eritromisin, gentamisin, tetrasiklin,
spironolakton)
PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Ovulasi

Ovulasi Cadangan Ovarium


Riwayat menstruasi Kadar AMH
Progesteron serum Hitung folikel antral
USG transvaginal FSH dan estradiol hari ke 3
Temperatur basal
LH urin
Biopsi endometrium
PEMERIKSAAN
Penilaian Kelainan Uterus

HSG USG-TV SIS Histeroskopi


Sensitivitas dan Dapat PPV dan NPV Metode definitif
PPV rendah mendeteksi tinggi, untuk invasif
untuk patologi mendeteksi
mendeteksi endometrium intravakum uteri
patologi dan miometrium
intravakum uteri
PEMERIKSAAN
Penilaian Lendir Serviks Pasca Senggama

- Penilaian ini dapat dilakukan pada pasien dengan


infertilitas di bawah 3 tahun
- Tidak dianjurkan untuk menyelidiki masalah fertilitas
karena tidak dapat meramalkan terjadinya kehamilan
PEMERIKSAAN
Penilaian Kelainan Tuba
Teknik Keuntungan Kelemahan
HSG Visualisasi seluruh - Paparan radiasi
panjang tuba dapat - Reaksi terhadap zat
menggambarkan kontras
patologi seperti - Peralatan dan staf
hidrosalping dan SIN khusus
efek terapeutik - Kurang dapat
menggambarkan
adhesi pelvis
Saline Infusion Visualisasi ovarium, - pelatihan khusus
Sonography uterus, dan tuba - Efek terapeutik belum
terbukti
Laparoskopi kromotubasi Visualisasi langsung - Invasif
seluruh organ genitalia - Biaya tinggi
interna
PEMERIKSAAN
Morfologi
Jumlah Spermatozoa
No Nomenklatur Motil (%) Spermatozoa normal
(juta/ml)
(%)

1 Normozoospermia > 20 > 50 > 50

2 Oligozoospermia < 20 > 50 > 50

3 Ekstrim Oligozoospermia < 5 > 50 > 50

4 Astenospermia > 20 < 50 > 50

5 Teratospermia > 20 > 50 < 50

6 Oligo-astenozoospermia < 20 < 50 > 50

7 Oligo-asteno-teratozoospermia < 20 < 50 < 50

8 Oligo-teratozoospermia < 20 > 50 < 50

9 Asteno-teratozoospermia > 20 < 50 < 50

10 Polizoospermia > 250 > 50 > 50

11 Azoospermia - - -

12 Nekrozoospermia Jika semua spermatozoa tan viabel

13 Kriptozoospermia Adalah spermatozoa yang tersembunyi

14 Aspermia Apabila tidak ada sperma


1. Azoospermia: Dalam ejakulat tidak terdapat/ditemukan sperma
2. Aspermatogenesis: Tidak terjadi pembuatan spermatozoa di dalam testis.
3. Aspermia: Tidak terdapat ejakulat
4. Normospermia: Jumlah volume sperma 2-5 ml.
5. Hypospermia: Volume ejakulat kurang dari 1 ml
6. Hyperspermia: Volume ejakulat lebih dari 6 ml
7. Hypospermatogenesis: Proses pembentukan spermatozoa sangat sedikit didalam testis.
8. Oligospermia: Jumlah spermatozoa di bawah kriteria normal (di bawah 20 juta tiap ml sperma)
9. Normozoospermia: Jumlah spermatozoa dalam batas normal berkisar antara 40-200 juta/ml.
10. Asthenospermia: Jumlah spermatozoa yang bergerak dengan baik di bawah 50%.

11. Necrospermia: Semua spermatozoa dalam keadaan mati.

12. Extrem oligospermia: Jumlah spermatozoa di bawah 1 juta untuk tiap 1 ml ejakulat.

13. Asthenozoospermia: Spermatozoa yang lemah sekali gerak majunya.

14. Teratozoospermia: Bentuk spermatozoa yang abnormal lebih dari 40%.

15. Nekrozoospermia: Bila semua spermatozoa tidak ada yang bergerak atau hidup.

16. Kriptozoospermia: Bila ditemukan spermatozoa yang tersembunyi yaitu bila ditemukan dalam sedimen sentrifugasi
sperma.
17. Polizoospermia: Bila jumlah spermatozoa lebih dari 250 juta per ml sperma

18. Leukospermia: Warna sperma putih keruh serupa susu karena terdapat leukosit yang banyak.

19. Hemospermia: Warna sperma kemerahan karena terdapat erythrosit yang banyak.

20. Residual Body: Sisa sitoplasma yang melekat pada spermatozoa yang belum matur.
PEMERIKSAAN
Pemeriksaan Fungsi Endokrinologi

- Dilakukan pada pasien dengan jumlah sperma <10 juta/ml


- Bila secara klinik ditemukan bahwa pasien menderita
kelainan endokrinologi
TATA LAKSANA
Gangguan Ovulasi
Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV
- Peningkatan - Pemberian - Konseling yang - Pemberian agonis
berat badan golongan obat baik perlu dopamin
menjadi normal pemicu ovulasi dilakukan (bromokriptin atau
pada perempuan golongan anti sampai kabergolin) dapat
IMT <19 estrogen kemungkinan membuat pasien
- Kombinasi (klomifen sitrat), tindakan adopsi hiperprolaktinemia
rekombinan tindakan drilling anak menjadi
FSH, ovarium, atau normoprolaktinemia
rekombinan LH, penyuntikan
hMG atau hCG gonadotropin
- Menggunakan
insulin sensitizer
TATA LAKSANA
Infertilitas Idiopatik

- Manajemen ekspektatif
- Klomifen sitrat
- Inseminasi intrauterin
Pelayanan Infertilitas Tingkat Primer
• Pada tingkat ini, tujuannya adalah untuk mengetahui
penyebab infertilitas dari kedua belah pihak serta
menentukan apakah pasangan tersebut perlu
mendapatkan pelayanan di tingkat yang lebih tinggi.
• Biasanya diberikan dalam kondisi:
1. Lama infertilitas <24 bulan
2. Pasangan perempuan <30 tahun
3. Tidak ada faktor risiko patologi pelvis dan kelainan
sistem reproduksi laki-laki
4. Pasangan telah menjalani terapi <4 bulan tanpa
keberhasilan terapi
Stratifikasi Sistem Rujukan Infertilitas