Anda di halaman 1dari 12

SWAMEDIKASI

WIWIK DWI SETYAWATI A.R


PENGERTIAN
• Upaya masyarakat untuk mengobati dirinya sendiri dikenal dengan
istilah swamedikasi.
• Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan -
keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat,
seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag,
kecacingan, diare,penyakit kulit dan lain-lain.
• Swamedikasi  erat kaitannya dengan Obat  membutuhkan tenaga yang
Kompeten yaitu Tenaga Kefarmasian (Apoteker dan Asisten Apoteker)

• Perlu diperhatikan adanya batasan-batasan dalam upaya berswamedikasi


• Diatur dalam PMK 919 tahun 1993 tentang
• Untuk menetapkan jenis obat yang dibutuhkan perlu diperhatikan : Gejala
atau keluhan penyakit, kondisi khusus misalnya hamil, menyusui, bayi, lanjut
usia, diabetes mellitus dan lain-lain. Pengalaman alergi atau reaksi yang tidak
diinginkan terhadap obat tertentu.
• Nama obat, zat berkhasiat, kegunaan, cara pemakaian, efek samping dan
interaksi obat yang dapat dibaca pada etiket atau brosur obat. Pilihlah obat
yang sesuai dengan gejala penyakit dan tidak ada interaksi obat dengan obat
yang sedang diminum. Untuk pemilihan obat yang tepat dan informasi yang
lengkap, tanyakan kepada Apoteker.
Prisip/Kriteria Obat Yang Digunakan Untuk Pengobatan Sendiri
 Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak dibawah usia 2 tahun dan
orang tua diatas 65 tahun.
 Tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit.
 Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga
kesehatan.
 Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.
 Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk
pengobatan sendiri.

(Permenkes No. 919, Tahun 1993)


Kriteria Penggunaan Obat Rasional
 Tepat “diagnosis”,
Apoteker/farmasis dituntut untuk mengenal berbagai gejala (“lebih spesifik”) penyakit yang masuk dalam batasan penyakit yang dapat
dilakukan upaya pengobatan sendiri.
 Tepat indikasi penyakit
Apoteker/farmasis dituntut untuk mampu memprediksikan penyebab penyakit dinilai dari gejala yang teramati saat konsultasi sehingga dapat
lebih mengupayakan kesembuhan pasien.
 Tepat pemilihan obat
Obat yang dipilih harus memiliki efek terapi sesuai dengan penyakit.
 Tepat dosis (Tepat Jumlah, Tepat cara pemberian, Tepat interval waktu pemberian, Tepat lama pemberian)
Jumlah obat yang diberikan harus mencukupi selama proses pengobatan sendiri (untuk mengatasi nyeri gigi sanmol 1 strip@4 tablet??)
Cara pemberian harus tepat (antasida harus dikunyah baru ditelan)
Interval waktu pemberian (Antibiotik tiap 8 jam 1 tablet, apa bedanya jika pagi, siang malam?)
Lama pemberian (zink untuk diare selama 10 hari)
 Tepat penilaian kondisi pasien
Penggunaan obat disesuaikan dengan kondisi pasien, antara lain harus memperhatikan: kontraindikasi obat, komplikasi,
kehamilan, menyusui, lanjut usia atau bayi
 Waspada terhadap efek samping
Obat dapat menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi,
seperti timbulya mual, muntah, gatal-gatal, dan lain sebagainya.
 Efektif, aman, mutu terjamin, tersedia setiap saat, dan harga terjangkau
Untuk mencapai kriteria ini obat dibeli melalui jalur resmi.
 Tepat tindak lanjut (follow up)
Apabila pengobatan sendiri telah dilakukan, bila sakit berlanjut konsultasikan ke dokter.
“Harus mampu menilai sakit berlanjut dengan masa proses recovery”
 Tepat penyerahan obat (dispensing)
Dipersiapkan sesuai dengan Good Pharmaceutical Practice dan penyerahan disertai dengan informasi yang tepat
 Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang diberikan
Ketidakpatuhan minum obat terjadi pada keadaan berikut :
Jenis sediaan obat beragam, Jumlah obat terlalu banyak, Frekuensi pemberian obat per hari terlalu sering, Pemberian
obat dalam jangka panjang tanpa informasi, Pasien tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai cara
menggunakan obat, dan Timbulnya efek samping.

“Dituntut mampu memanage agar obat yang diberikan sesuai kebutuhan tetapi kesannya tidak terlalu banyak”.
• Asisten Apoteker  apakah Boleh memberikan Pelayanan Swamedikasi?
Praktikum

• 1 kelompok berisi 10 Orang ( dibagi secara acak)


• Diberi waktu 10 menit untuk berdikusi sesama anggota kelompok tentang tentang
swamedikasi
• Per kelompok mempresentasikan dan mempraktikan kasus yang dipilih  5 menit
• Kelompok lainnya memberikan penilaian ( misalkan kelompok A memberikan
penilaian terhadap kelompok B, dst)  waktu maksimal 5 menit
• Kegiatan ini menjadi penilaian Praktikum
Tugas

• Carilah Kasus Swamedikasi


• Presentasikan
• Praktekan cara berswamedikasi terhadap kasus tersebut ( ada yang berperan
sebagai Asiten Apoteker dan Pasien)

• Selamat bekerja