Anda di halaman 1dari 60

LAPORAN KASUS

CEDERA KEPALA SEDANG GCS 10 + FRAKTUR CORPUS


MANDIBULA DEXTRA + FRAKTUR TERBUKA FEMUR DEXTRA 1/3
MEDIAL + FRAKTUR TERTUTUP FEMUR SINISTRA 1/3 DISTAL

Oleh :
Arisda Oktalia, S.Ked 04084821921040
Nur Azizah, S.Ked 04084821921121

Pembimbing:
dr. Wiria Aryanta, Sp.OT(K)Hand, M.Kes

DEPARTEMEN BEDAH
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2019
OUTLINE
 PENDAHULUAN
 STATUS PASIEN
 TINJAUAN PUSTAKA
 ANALISIS KASUS
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN

Fraktur dapat disebabkan karena


Penyakit Muskuloskeletal banyak
adanya cedera, penekanan dan
ditemukan di seluruh dunia, salah
dapat juga terjadi secara
satunya adalah fraktur.
patologis

Terapi awal yang salah pada


fraktur dapat meningkatkan
Fraktur merupakan rusaknya
morbiditas jangka panjang yang
kontinuitas dari struktur tulang
signifikan dan berpotensi
meningkatkan mortilitas
STATUS PASIEN
IDENTIFIKASI
 Nama : An.VA
 Umur : 16 tahun
 Alamat : Ogan Komering Ulu
 Suku : Sumatera
 Bangsa : Indonesia
 Agama : Islam
 Status : Belum Menikah
 Pendidikan : SLTA
 Pekerjaan : Pelajar
 MRS : 12 Oktober 2019
 No. RM : 11144282
 Nama Ibu : Ny. M
 Pekerjaan Ibu : Ibu Rumah Tangga
ANAMNESIS
Keluhan Utama

Penurunan Kesadaran

Riwayat Perjalanan Penyakit

± 4 hari SMRS pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien mengendarai


motor dan mengalami tabrakan dengan mobil, penderita terjatuh dengan
wajah dan kedua tungkai membentur benda keras. Riwayat muntah (+),
pingsan (+),amnesia (+), riwayat memakai helm (-), keluar air daari hidung,
mulut, dan telinga (-). Pasien dirawat di ICU RS Baturaja selama 3 hari lalu
dirujuk ke RS dr. Mohammad Hoesin Palembang.
PEMERIKSAAN FISIK

Primary Survey
 A : Clear
 B : RR 20x/menit
 C : HR 63x/menit
TD 120/70 mmHg, SpO2 99%, Suhu
36,5 0C
 D : GCS E3M5V2, pupil isokor,
Refleks cahaya +/+
PEMERIKSAAN FISIK
SECONDARY SURVEY

Kepala : Normocephali.
 Regio frontal :
I = Vulnus excoriatum di frontalis
 Regio CMF :
I = Deformitas 1/3 wajah bagian tengah (+), hematom (+), depresi malar imminens
sulit dinilai. Tampak luka robek yang sudah dijait
P = Tidak teraba diskontinuitas pada rima orbita superior, rima orbita inferior, os
nasal, os zygoma, dan maxilla. Pada mandibula teraba diskontinuitas di corpus
mandibula. Gliding TMJ sulit dinilai.
Mata : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), visus sulit dinilai, gerakan bola mata
sulit dinilai.
Leher : Pembesaran KGB tidak ada, JVP (5-2) cmH2O
PEMERIKSAAN FISIK
Thorax
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri
Perkusi : Sonor di seluruh lapang dada
Auskultasi : Vesikuler (+/+) Wheezing (-/-), ronkhi (-/-).

Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II (+), murmur sistolik (+),
gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : Cembung
Palpasi : Lemas
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+)
EKSTREMITAS
Regio femoralis sinistra
Regio Femoralis dextra
L = Tampak deformitas (+)warna kulit di
L = Tampak deformitas (+), luka terbuka
distal fraktur normal, perdarahan
ukuran 3 x 1 cm,
aktif (-), memar (+), bengkak (+).
F = Neurovascular Distal (NVD) baik,
F = Neurovasukal Distal (NVD) baik,
akral hangat, nyeri tekan (+)
akral hangat, nyeri tekan (+)
M = ROM aktif dan pasif terbatas
M = ROM aktif dan pasif terbatas
Riwayat Pasien
Riwayat Penyakit Dahulu
Diabetes Melitus (-)
Asma (-)
Hipertensi (-)
Penyakit jantung (+)
Alergi (-)

Riwayat Pengobatan

Riwayat rawat inap di ICU RS Baturaja selama 3 hari


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

Hematologi

Hb 6,9 g/dL 12-14,4 g/dL

RBC 2,38 x 103/m3 4,75-4,85 x 106/m3

WBC 10,37 x 103/m3 4,5-13,5 x 103/m3

Ht 21 % 35-45 %

Trombosit 282 x 103/m3 217 - 497 x 103/m3

Faal Hemostasis

PT + INR

Kontrol 14,7 detik

Pasien 15,4 detik 12 – 18 detik

NR 1,15

APTT

Kontrol 31,4 detik


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kimia Klinik Hati

Bilirubin total 0,7 mg/dL 0,1 – 1,0 mg/dL

Albumin 3,6 g/dL 3,2 – 4,5 g/dL

Metabolisme Karbohidrat

Glukosa sewaktu 99 mg/dL <200 mg/dL

Ginjal

Ureum 41 mg/dL 16,6 – 48,5 mg/dL

Kreatinin 0,62 mg/dL 0,57 – 0,87 mg/dL

Elektrolit

Kalsium (Ca) 8,3 mg/dL 9,2 – 11 mg/dL

Natrium (Na) 150 mEq/L 135 – 155 mEq/L

Kalium (K) 4,3 mEq/L 3,5 – 5,5 mEq/L

Klorida (Cl) 115 mmol/L 96 – 106 mmol/L


PEMERIKSAAN PENUNJANG
CRANIUM AP/LATERAL

Kesan : Fraktur corpus mandibula dextra


PEMERIKSAAN PENUNJANG
CT SCAN 3D KEPALA

Kesan : Fraktur corpus mandibula


dextra
PEMERIKSAAN PENUNJANG
FEMUR DEXTRA FEMUR SINISTRA

Kesan : Fraktur 1/3 medial comminutive Kesan : Fraktur 1/3 medial comminutive
displaced displaced
DIAGNOSIS KERJA
Cedera kepala sedang GCS 10 + fraktur corpus mandibula dextra +
fraktur terbuka femur dextra 1/3 medial + fraktur tertutup femur sinistra
1/3 distal
TATA LAKSANA
 Head up 300
 IVFD D5 = 2 : 1 gtt XX/m
 Mannitol 20% 100cc/6 jam
 O2 10L/m NRM
 Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam
 Inj. Ceftriaxone 1 g /12 jam
 Oral hygiene : sikat gigi 2x/hari, kumur dengan povidone iodine
10% 4x/hari
 Debridement lokal
 Skin traction femur kanan
 Skeletal traction femur kiri
 Pro ORIF elektif
FOLLOW UP
17 Oktober 2019
 S : Pasien gelisah
 O : Sensorium E4M5V3 TD 120/70 mmHg Nadi 84x/m
Napas 18x/m Suhu 36,50 C
Regio femur dextra : Terpasang skin traction beban 4,5 kg
Regio femur sinistra : Terpasang skeletal traction beban 7 kg
 A : Cedera Kepala Sedang GCS 10 + Fraktur Corpus Mandibula Dextra +
FrakturTerbuka Femur Dextra 1/3 Medial + Fraktur Tertutup Femur Sinistra 1/3
Distal
 P : Head up 300 IVFD NaCl 0,9 % gtt XX/m
O2 nasal canule 2L/m Inj. Ceftriaxone 1 g/12 jam IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam Pro ORIF femur sinistra
Pro ORIF mandibula
TINJAUAN PUSTAKA
CEDERA KEPALA

CEDERA KEPALA
(Klasifikasi berdasarkan GCS)

GCS 13 – 15 GCS 8 -12 GCS 3 - 7


Cedera Kepala Ringan Cedera Kepala Sedang Cedera Kepala Berat
CEDERA KEPALA
RINGAN
CEDERA KEPALA SEDANG
CEDERA KEPALA BERAT
ANATOMI MANDIBULA
Anatomi Femur
FRAKTUR

Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari korteks tulang. Fraktur dapat
berhubungan dengan gerakan yag abnormal, cedera jaringan lunak, krepitus
tulang, dan nyeri.
Etiologi Fraktur
 Fraktur akibat trauma

 Fraktur akibat kelelahan atau tekanan berulang – biasanya pada atlet, penari
atau personil militer
 Fraktur Patologik - osteoporosis, osteogenesis imperfekta atau penyakit paget
Fraktur akibat trauma

Direct Force
• Patahnya tulang dan kerusakan pada jaringan soft tissue.
• Patahnya tulang secara transverse atau terbentuk garis patahan seperti kupu-kupu
(butterfly fragmen).

Indirek Force
• Menyebabkan tulang patah pada bagian distal dari arah tekanan
JENIS FRAKTUR

SITE
1. Diafisis 3. Epifisisis
2. Metafisis 4. Intraarticular

EXTENT
1. Komplit
Tulang benar-benar patah menjadi dua fragmen atau lebih.
2. Inkomplit
Tulang terpisah secara tak lengkap dan periosteum tetap menyatu.
JENIS FRAKTUR

CONFIGURATION
1. Transverse 4. Fraktur Buckle
2. Segmental 5. Fraktur Greenstick
3. Spiral
JENIS FRAKTUR
Displacement
1. Displaced
2. Undisplaced

Hubungan Fraktur dengan Dunia Luar


1. Closed (Tertutup)
2. Open (Terbuka)
JENIS FAKTUR
Klasifikasi Tscherne pada Fraktur Tertutup
JENIS FRAKTUR
Klasifikasi Gustilo – Anderson pada Fraktur Terbuka
JENIS FRAKTUR
JENIS FRAKTUR
Hubungan Antar Fragmen Fraktur
1. Shifted 4. Distracted
2. Angulated 5. Overriding
3. Rotated 6. Impacted
Diagnosis
Anamnesis

 Usia
 Mekanisme Trauma
 Lingkungan (tempat kejadian)
 Deformitas ( angulasi, rotasi, diskrepansi)
 Gejala terkait cedera ( nyeri, bengkak, warna kulit, mati rasa)
 Riwayat trauma sebelumnya
 Riwayat kelainan muskuloskeletal
DIAGNOSIS
Pemeriksaan Fisik

LOOK
 Warna dan perfusi ekstremitas (memar, pucat)
 Keadaan Luka (apakah kulit ditembus dan fraktur berkontak dengan kulit)
 Bengkak
 Perdarahan aktif
DIAGNOSIS
Pemeriksaan Fisik

FEEL
 Nyeri tekan (terlokalisir)
 Suhu
 Sensibilitas
 Vaskularisasi di distal trauma (pulsasi dan CRT)
 Pengukuran panjang tungkai
 Menilai krepitasi dan gerakan abnormal tidak dianjurkan

MOVE
 ROM aktif dan pasif
DIAGNOSIS
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan X-ray dengan prinsip Rule Of Two :


 Two Views – AP dan Lateral
 Two Joints – Sendi di atas dan di bawah fraktur
 Two Limbs – terutama pada anak-anak, sebagai pembanding
 Two Injuries – fraktur calcaneum atau femur, perlu dilakukan rontgen pelvis dan
tulang belakang
 Two Occasions - Sebelum dan setelah manajemen fraktur
DIAGNOSIS
Deskripsi

 Garis fraktur (komplit, inkomplit)


 Bentuk garis fraktur ( transversal, oblik, butterfly, spiral, kominutif, segmental)
 Pergeseran ( undisplaced, displaced – translasi, angulasi, shortening, rotasi)
 Terbuka (klasifikasi Gustilo Anderson) atau tertutup (klasifikasi Tscherne)
TATA LAKSANA AWAL
PRIMARY SURVEY
- Airway + C-Spine Control
- Breathing
- Circulation
- Disability
- Exposure/environment
Tatalaksana Fraktur Tertutup

Recognize Reduction Retaining Rehabilitation

Dapat dinilai Mengembalikan Tindakan Latihan otot


dari jaringan atau mempertahankan dilakukan untuk
anamnesis, fragmen ke hasil reposisi meminimalkan
pemeriksaan posisi semula. dengan fiksasi atrofi dan
fisik, dan Restorasi (imobilisasi fraktur). meningkatkan
pemeriksaan fragmen Hal ini akan peredaran
penunjang. dilakukan untuk menghilangkan darah.
mendapatkan spasme otot pada
posisi sefisiologis ektremitas yang
mungkin. sakit
TATA LAKSANA FRAKTUR TERTUTUP
Reduksi Reduksi
Tertutup Terbuka

(1) ketika reduksi tertutup gagal, baik


karena kesulitan dalam
mengendalikan fragmen atau
karena jaringan lunak berada di
antara fragmen;
(2) fragmen artikular besar yang
membutuhkan penentuan posisi yang
akurat; atau
(3) fraksi traksi (avulsi) di mana
fragmen terletak terpisah. ,
TATA LAKSANA FRAKTUR TERTUTUP
Retaining / Imobilisasi

1. Traksi Kontinu
 Traksi oleh gravitasi  khusus ekstremitas atas, c/: arm sling
 Traksi Kulit  beban maks. 4-5 kg
 Traksi Rangka  Kawat atau pin dimasukkan - biasanya di belakang
tuberkulum tibialis untuk cedera pinggul, paha dan lutut, Traksi langsung pada
tulang dengan kekutan tarikan besar (9-14 kilogram)
TATA LAKSANA FRAKTUR TERTUTUP
Retaining / Imobilisasi

2. Cast Splinting/Gips – pada pemsangan harus waspada terhadap gips terlalu ketat,
penekanan luka, dan kekakuan pada sendi.
3. Cast Fungsional – mencegah kekakuan sendi sementara masih memungkinkan reduksi
pada area fraktur. Digunakan 3 – 6 minggu setelah fiksasi konvensional.
4. Fiksasi Internal - Fragmen tulang diperbaiki dengan sekrup, pelat logam yang
terpasang dengan sekrup, long intramedullary rod or nail (with or without interlocking
screws), circumferential bands atau kombinasi dari seluruh metode ini.
5. Fiksasi Eksternal - Fiksasi eksternal dilakukan dengan meletakkan screw yang
menembus tulang di atas dan di bawah area fraktur dan terpasang ke bingkai eksternal
TATA LAKSANA FRAKTUR TERTUTUP
Rehabilitasi

Mengembalikan aktivitas fungsional dari anggota gerak yang sakit agar dapat
berfungsi semaksimal mungkin. Latihan otot dilakukan untuk meminimalkan atrofi
dan meningkatkan peredaran darah. Partisipasi dalam aktifitas sehari-hari
diusahakan untuk memperbaiki kemandirian fungsi dan harga diri.
TATA LAKSANA FRAKTUR TERBUKA
Tata Laksana Fraktur Terbuka
1. Sterilitas dan Antibiotik
2. Debridement
3. Penutupan luka
4. Stabilisasi fraktur
PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR
 Penyembuhan dengan Penyambungan Tulang Langsung ( Primer ) Formasi
tulang baru osteoblastik terjadi langsung di antara fragmen.

 Penyembuhan dengan Pembentukkan Kalus ( Sekunder )


Penyembuhan dengan pembentukan kalus. Pada keadaan tanpa fiksasi rigid,
penyembuhan tulang sekunder terdiri dari lima tingkatan :
ANALISIS KASUS
ANALISIS KASUS
Dari alloanamnesis pasien an. VA didapatkan keluhan utama adalah Penurunan
kesadaran, ± 4 hari SMRS pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien
mengendarai motor dan mengalami tabrakan dengan mobil, penderita terjatuh
dengan wajah dan kedua tungkai membentur benda keras. Riwayat muntah (+),
pingsan (+),amnesia (+), riwayat memakai helm (-), keluar air dari hidung, mulut, dan
telinga (-). Pasien dirawat di ICU RS Baturaja selama 3 hari lalu dirujuk ke RS dr.
Mohammad Hoesin Palembang. Diketahui dari alloanamnesis bahwa pasien
mengalami cedera kepala. Berdasarkan primary survey, didapatkan airway,
breathing, dan circulation dalam batas normal dan pada disability didapatkan GCS
E3M5V2 yang mengindikasikan cedera kepala sedang.
ANALISIS KASUS
 Secondary survey pada wajah didapatkan vulnus excoriatum di frontal dan
deformitas 1/3 wajah bagian tengah (+), hematom (+), Pada mandibula teraba
diskontinuitas di corpus dekstra mandibula yang mengarah ke fraktur
mandibula. Pada x-ray cranium AP serta CT-scan cranium didapatkan kesan
Fraktur corpus mandibula dextra.

 regio femoralis dekstra didapatkan dengan luka terbuka ukuran 3 x 1 cm


disertai bengkak dan memar, keadaan Neurovascular Distal (NVD) baik, akral
hangat, dan didapati nyeri tekan, ROM aktif dan pasif terbatas, hasil
pemeriksaan fisik tersebut mengarah ke fraktur terbuka dari dari femur dekstra.
x-ray AP/lateral femur dekstra menunjukkan kesan fraktur femur 1/3 medial
comminutive displaced
ANALISIS KASUS
 Regio femoralis sinistra didapatkan deformitas, warna kulit di distal fraktur
normal, disertai bengkak dan memar, keadaan Neurovascular Distal (NVD) baik,
akral hangat, dan didapati nyeri tekan, ROM aktif dan pasif terbatas, hasil
pemeriksaan fisik tersebut mengarah ke fraktur tertutup dari dari femur sinistra.
x-ray AP/lateral femur sinistra didapatkan kesan fraktur femur 1/3 distal
comminutive displaced.

 Diagnosis  Cedera Kepala Sedang GCS 10 + Fraktur Corpus Mandibula


Dextra + Fraktur Terbuka Femur Dextra 1/3 Medial cominutive displaced
grade IIIA + Fraktur Tertutup Femur Sinistra 1/3 Distal cominutive displaced.

ANALISIS KASUS
Tatalaksana
 Fraktur tertutup femur sinistra 1/3 distal  tindakan reduksi tertutup
dilanjutkan dengan pemasangan skeletal traksi dengan beban 7kg untuk
imobilisasi.

 Terakhir adalah rehabilitation yaitu mengembalikan aktivitas fungsional dari


anggota gerak yang sakit agar dapat berfungsi semaksimal mungkin. Latihan
otot dilakukan untuk meminimalkan atrofi dan meningkatkan peredaran darah.
Lampiran
Daftar Pustaka
1. Solomon Louis, Warwick David, Nayagam Selvadurai. Apley’s System of Orthopaedics and Fractures.
9th ed. London: Hodder Arnold; 2010.
2. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 (diunduh 20 Agustus 2018). Tersedia dari: http://www.
depkes.go.id/resources/download/general/ HasilRiskesdas 2013.
3. Singh S. K., Indra S. N., dan Lusia H. 2015. Angka Kejadian Korban Kecelakaan Lalu Lintas
Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Luar Visum Et Repertum di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Tahun 2011-2013. Available from https://ejournal.unsri.ac.id/index.php/mks/article/view/2752
4. Buckley Richard. General Principles of Fracture Care. Medscape. 2015 Jan 25. Available from
https://emedicine.medscape.com/article/1270717-overview
5. Jonas T. Johnson, Clark A. Rosen. Mandibular Fracture in Bailey′s Head and Neck Surgery.Fifth Edition.
2014. P.1229-1241. 4. Robert E. Lincoln. Pratical Diagnosis and Management of Mandibular and
Dentoalveolar Fracture in Facial Plastic, Reconstructive and Trauma Surgery. 2004. P.597-627.
6. Paulsen F & Waschke J, 2010; Sobotta Atlas Anatomi Manusia, Jilid 1, Edisi 23, EGC, Jakarta
7. Salter Robert B. Textbook of the Disorders and Injuries of the Musculosceletal System. 3rd ed.
Pennsylvania: Lippincott William and Wilkins; 1999.
8. American College of Surgeons. 2018. Advanced Trauma Life Support (ATLS) 10th Edition. United
States of America
9. Ruedi TP, Buckley R, Moran C. AO Principles of Fracture Management. 3rd ed. New York: Thieme;
2017.
TERIMA KASIH
Laporan Kasus
dr. Wiria Aryanta, Sp.OT(K)Hand, M.Kes