Anda di halaman 1dari 30

Refleksi Kasus

Manajemen Anestesi Pada Pasien Anak Yang Dilakukan


Debridement dan Pemasangan Gips
Oleh : Indra Tandi
Supervisor: dr. Imtihanah Amri, M.Kes.,Sp.An
PENDAHULUAN

Anestesiologi adalah cabang ilmu


kedokteran yang mendasari berbagai
tindakan meliputi pemberian anestesi,
Definisi Anestesiologi penjagaan keselamatan penderita yang
mengalami pembedahan, pemberian
bantuan hidup dasar, pengobatan intensif
pasien gawat, terapi inhalasi dan
penanggulangan nyeri menahun.

Fraktur merupakan suatu keadaan dimana


terjadi disintegritas tulang, penyebab
Definisi Fraktur terbanyak adalah insiden kecelakaan, tetapi
faktor lain seperti proses degeneratif juga
dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur.
Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan
antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya
perlukaan di kulit. Semua fraktur terbuka harus dianggap
terkontaminasi, sehingga mempunyai potensi untuk terjadi
infeksi.

Tatalaksana

Debridement
Operasi bertujuan untuk membersihkan luka dari benda
asing dan jaringan mati, memberikan persediaan darah
yang baik di seluruh bagian itu.
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama : An. R
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 10 Tahun
Berat Badan : 30 kg Tinggi Badan : 140 cm
IMT : -1 SD (normal)
Agama : Islam
Pekerjaan: Pelajar
Alamat : Jl. Padat Karya, Ds. Lambunu
Tanggal Operasi : 29 / 04/ 2017
Laporan Kasus
RENCANA BEDAH
Diagnosis pra bedah :Open Fracture Pedis Dextra
Jenis Pembedahan : Debridement + pemasangan
gips
Laporan Kasus
ANAMNESIS
Keluhan Utama: Nyeri pada daerah luka di
kaki kanan
Riwayat penyakit sekarang: nyeri pada kaki
kanan dialami sejaak 3 hari yang lalu setelah ter
jatuh dari motor, kaki kanan masuk ke dalam gea
r motor. Luka terbuka dan terlihat tulang. Setelah
jatuh pasien tidak nyeri kepala, tidak pingsan,
tidak mual maupun muntah, atau demam.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat hipertensi (-), riwayat diabetes mellitus (-)
,asma (-), tidak ada riwayat alergi makanan, alergi
minuman (-), riwayat operasi (-), tidak sedang
menggunakan pengobatan tertentu.
Laporan Kasus
PEMRIKSAAN FISIK
B1 (Breath): RR: 28 x/mnt, SP: Vesikuler, Rhonki(-), wh(-),
gurgling/snoring/crowing:-/-/-, Airway : clear. Mallampati
: 1, JMH: 4 cm, Gerak leher : bebas, Riwayat asma (-)
alergi (-), batuk (-), sesak (-)
B2 (Blood): TD : 110/70 mmHg, HR : 80 x/mnt, reguler,
nadi kuat angkat, akral hangat/warna merah/kering.
B3 (Brain): Sens : E4M6V5 (compos mentis), Pupil: isokor
Ø 3 mm / 3mm, RC +/+
B4 (Bladder): BAK (+) spontan, produksi kesan cukup,
warna : kuning jernih
B5 (bowel) Abdomen: peristaltik (+), Mual (-), muntah(-).
B6 Back & Bone : Oedem pretibial (-), open fracture
pedis dextra
Laporan Kasus
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Lab

Parameter Hasil Satuan Range Normal

RBC 3,78 106/mm3 4,50-6,50


Hemoglobin(Hb) 11,2 g/dL 13-17
Hematokrit 33,5 % 40,0-54,0
PLT 217 103/mm3 150-500
WBC 21,4 103/mm3 4,0-10,0
CT 6’ Menit 4-10
BT 3’ Menit 1-5
HbsAg Non Reaktif   Non Reaktif

Foto x-ray pedis dextra:


Kesan fraktur os pedis dextra
Laporan Kasus
KESIMPULAN
Pasien termasuk kategori PS ASA kelas II
 
RENCANA ANESTESI
General anestesi face mask
Laporan Kasus
PERSIAPAN PRE OPERATIF
Di Ruangan
• Surat persetujuan operasi (+), Surat
persetujuan tindakan anestesi (+)
• Puasa 8 jam pre operasi
• IVFD 17 tpm selama puasa
• Persiapan whole blood 1 bag Gol.A+
Laporan Kasus
Di Kamar Operasi
Hal-hal yang perlu dipersiapkan di kamar operasi antara
lain adalah:
• Meja operasi dengan asesoris yang diperlukan
• Mesin anestesi dengan sistem aliran gasnya
• Alat-alat resusitasi (STATICS)
• Obat-obat anestesia yang diperlukan.
• Obat-obat resusitasi, misalnya; adrenalin, atropine,
aminofilin, natrium bikarbonat dan lain-lainnya.
• Tiang infus, plaster dan lain-lainnya.
• Alat pantau tekanan darah, suhu tubuh, dan EKG
dipasang.
• Alat-alat pantau yang lain dipasang sesuai dengan
indikasi, misalnya; “Pulse Oxymeter” dan “Capnograf”.
• Kartu catatan medic anestesia
Laporan Kasus
PROSEDUR ANESTESI GENERAL FACE MASK
– Pasien diposisikan secara supine, infus terpasang di tangan kanan
– Diberikan obat premedikasi
Sulfat atropin 0,25 mg/IV
Midazolam 3 mg
– Diberikan obat induksi dengan teknik general anestesi face mask
Sevoflurane 3 vol%
– Selama operasi diberikan obat maintenance
Ketamin 30 mg/IV
O2 3 lpm via face mask
Propofol 40 mg/IV
Sevoflurane 3 vol%
– Operasi selesai, pasien bernafas spontan, adekuat, hemodinamik s
tabil
– Pasien ditransfer ke recovery room
Laporan Kasus
PERHITUNGAN CAIRAN
Input yang diperlukan selama operasi
Cairan Maintanance (M) : (4x10) + (2x10) + (1x10) = 70 ml/jam
Cairan defisit darah selama 1 jam 5 menit darah = 100 cc = 300 c
c kristaloid
Total kebutuhan cairan selama 1 jam 5 menit operasi = 70 + 300
= 370 ml
Cairan masuk :
Kristaloid RL : 500 ml
Whole blood : -
Total cairan masuk : 500 ml
Keseimbangan kebutuhan:
Cairan masuk – cairan dibutuhkan = 500ml – 370ml = 130 ml
Laporan Kasus
 Perhitungan cairan pengganti darah :

Transfusi + 3x cairan kristaloid = volume perdarahan


0 + 3x = 100
3x=100
X = 100.3 = 300 cc
Untuk mengganti kehilangan darah 100 cc diperlukan ± 300 cairan krist
aloid.
Estimasi Blood Volume
EBV = 80 x BB
= 80 x 30
EBV = 2400 cc
Menghitung derajat pendarahan pada operasi :
% perdarahan =
% pendarahan = 4,17% (grade I)
Laporan Kasus
POST OPERATIF
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
Skor pemulihan pasca anestesi
Pergerakan: Gerak bertujuan (2)
Pernafasan: Batuk, Menangis (2)
Kesadaran : Menangis (2)
Skor Steward (6)
Laporan Kasus
Grafik pengamatan tanda-tanda vital intraoperatif
160

140

120

100

80 Sistol
Diastol
Nadi
60

40

20

0
10.50 10.55 11.00 11.05 11.10 11.15 11.20 11.25 11.30 11.35 11.40 11.45 11.50 11.55 12.00 12.05
PEMBAHASAN
Pasien An. R usia 10 tahun dengan diagnosis pra bedah Fraktur terbuka pedis dan
ankle yang akan dilakukan tindakan pembedahan debridement dan pemasangan gips
pada tanggal 29 April 2017. Dari data anamnesis tidak didapatkan adanya penyulit
berupa gangguan pada sistem organ. Kemudian dari pemeriksaan fisik didapatkan
pada ekstremitas terdapat open fracture pedis dextra. Pada pemeriksaan penunjang
laboratorium darah didapatkan leukosit meningkat 21.000/mm3 yang merupakan
salah satu tanda adanya infeksi.

Sebelum diputuskannya anestesi, hendaknya sebelumnya dilaku


kan penentuan standar kesehatan pasien sesuai American Society
of Anesthesia. Dengan keadaan tersebut di atas, pasien termasuk
dalam kategori ASA II
PEMBAHASAN
KASUS TEORI

Alasan pemilihan teknik anestesi


Setelah penentuan ASA, tersebut adalah sesuai dengan
kemudian ditentukan indikasi anestesi inhalasi, yaitu:
pilihan anestesi. Pada sevofluran digunakan terutama
pasien ini, pilihan sebagai komponen hipnotik
dalam pemeliharaan anestesi
anestesi yang dilakukan umum. Disamping efek hipnotik,
adalah jenis general juga mempunyai efek analgetik
anestesi inhalasi face mask. ringan dan relaksasi otot ringan.
Dan dipilih obat anestesi Pada bayi dan anak-anak yang
sevoflurane tidak kooperatif, sangat baik di
gunakan untuk induksi.
PEMBAHASAN
Pada pasien ini, sebelumnya telah dilakukan informed
consent terkait tindakan yang akan diberikan beserta
konsekuensinya. Pemeriksaan lain yang perlu dilakuka
n adalah pemeriksaan hematologi untuk mengetahui
ada tidaknya gangguan perdarahan. Pada pasien ini, p
emeriksaan fisik ataupun laboraturium tidak menunju
kkan adanya gangguan yang dapat menjadi kontraindi
kasi, sehingga anestesi inhalasi dapat menjadi pilihan
dalam tindakan debridement pada kasus ini.
PEMBAHASAN
Setelah penilaian prabedah selesai dengan menghasilkan antara l
ain penentuan status fisik pasien, langkah berikutnya ialah mene
ntukan macam premedikasi yang akan digunakan. Tujuan utama
dari pemberian obat premedikasi adalah :7
1. Meredakan kecemasan dan ketakutan
2. Memperlancar induksi anestesia
3. Mengurangi sekresi kelenjaar ludah dan bronkus
4. Meminimalkan jumlah obat anastetik
5. Mengurangi mual-muntah pasca bedah
6. Menciptakan amnesia
7. Mengurangi isi cairan lambung
8. Mengurangi refleks yang membahayakan
PEMBAHASAN
KASUS TEORI
Hal ini tidak sesuai dengan teori,
seharusnya dosis atropin sulfat
pada anak 0,015 mg/kg dan
berat pasien adalah 30 kg,
sehingga dosis yang seharusnya
Obat premedikasi yang di di berikan pada pasien ini
gunakan pada pasien ini adalah 0,45 mg, obat ini
adalah sulfat atropin 0,25 merupakan jenis
mg. antikolinergik yang ber
fungsi untuk mengurangi sekresi
kelenjar,mencegah spasme laring
dan bronkus, mencegah bradi
kardi, dan mengurangi motilitas
usus.
PEMBAHASAN
KASUS TEORI

• Selanjutnya diberikan • hal ini sesuai teori karena


midazolam 3 mg midazolam merupakan
golongan obat
• Selanjutnya diberikan
sedatif/tranquilizer yang
propofol 40 mg saat berfungsi untuk mencegah
pembedahan pasien cemas.
berlangsung • hal ini sudah sesuai teori
karena pada anak-anak
dosis lebih rendah dari
dosis dewasa yang 2,0-2,5
mg/kgBB.
PEMBAHASAN
Tahapan anestesi umum:
Induksi : mulai masuknya obat anestesi sampai hilangnya kes
adaran, dapat diberikan secara parenteral maupun inhalasi.
Maintenance: tahapan anestesi dimana pembedahan dapat b
erlangsung dengan baik (untuk para ahli bedah)
Pengakhiran anestesi : diusakan penderita sadar bila pembed
ahan selesai.7
PEMBAHASAN
KASUS TEORI

• Pada pasien ini diberi • hal ini sudah sesuai teori


kan sevoflurane karena dosis induksi
inhalasi 3% volume sevoflurane adalah
sampai pasien tidak 3,0-5,0% bersama-sama
sadar lagi. dengan N2O
• Kemudian ditambah • hal ini sudah sesuai teori
kan ketamin 30 mg karena dosis ketamin
intravena hidroklorida adalah 1-2
mg/kgBB, dimana berat
badan pada pasien ini
adalah 30 kg.
PEMBAHASAN
• Obat anestesi sevoflurne pada pasien ini merupaka
n halogenasi eter, dikemas dalam bentuk cairan, tid
ak berwarna, tidak eksplosif, tidak berbau dan tidak
iritatif sehingga baik untuk induksi inhalasi. Proses i
nduksi dan pemulihannya paling cepat dari semua
obat-obat anestesia inhalasi yang ada pada saat ini.
PEMBAHASAN
Efek Sevoflurane

SISTEM SARAF PUSAT

SISTEM KARDIOVASKULAR

SISTEM RESPIRASI

SISTEM URINARI

SISTEM SARAF PUSAT


PEMBAHASAN
Kontraindikasi Sevoflurane
Pada pemberian induksi sevoflurane hati-hati pada pasie
n yang sensitif terhadap “drug induced hyperthermia”, h
ipovolemik berat dan intrakranial.
Keuntungan Sevoflurane
Keuntungannnya adalah induksi cepat dan lancar, tidak i
ritatif terhadap mukosa jalan nafas, pemulihannya palin
g cepat dibandingkan dengan agen volatil yang lain.
Kerugian Sevoflurane
Kelemahannya adalah batas keamanan sempit (mudah t
erjadi kelebihan dosis) analgesia dan relaksasinya kuran
g sehingga harus dikombinasikan dengan obat lain.
PEMBAHASAN
Pada pasien ini mulai operasi pukul 10.5
5 sampai selesai pada pukul 12.00, seda
ngkan anestesinya mulai 10.35 selesai p
ada pukul 12.05. Kemudian dengan peng
hitungan skor steward (6) pasien dipinga
hkan ke recovery room. Pada proses ope
rasi berjalan lancar tanpa terjadi komplik
asi apapun.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
1. Purmono A., 2015. Buku Kuliah Anastesi. EGC : Jakarta.
2. Latief S A, Suryadi K A, Dachlan M R,. Anestetik Inhalasi dalam buk
u: Petunjuk Praktis Anestesiologi edisi kedua, hal 48-64, penerbit B
agian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI , Jakarta, 2002.
3. Joenoerham J, Latief S A, Anestesi Umum dalam buku : Anestesiolo
gi, editor: Muhiman M, Thaib R M, Sunatrio S, Dahlan R, hal 93-10
2, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI Jakarta, 1989.
4. Mangku G, Diktat Kumpulan Kuliah Buku I, penerbit Bagian Anestes
iologi dan Reanimasi FK UNUD, hal 74-84, Denpasar, 2002.
5. Mangku G, Anestesi Inhalasi dalam buku Standar Pelayanan dan Ta
talaksana Anestesia-Analgesia dan Terapi Intensif, hal 28, penerbit
Bagian Anestesiologi dan Reanimasi FK UNUD/RSUP Sanglah Denp
asar, 2000.
6. Barash P G, Cullen B F, Stoelting R K, Inhalation Anesthesia on: Clini
cal Anesthesia, 2002.
TERIMA KASIH

ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLAH
I WABARAKATUH