Anda di halaman 1dari 48

REFLEKSI KASUS

“Asma Bronchial”
Oleh:
Salomo Galih Nugroho/ 42170196

PEMBIMBING
DR. FELIX NATHAN TRISNADI, M.SC, SP.A
I. Indentitas Pasien
Nama : An. Joko Prasetyo

No. RM : 00470855

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tanggal Lahir : 01-08-2017

Usia : 1 Tahun,6 Bln, 14 Hari

Alamat : Blimbing, Kandangan, Temanggung

Masuk Bangsal : 17 Februari 2019

Ruang Perawatan : R. Mawar 3C


II. Anamnesis
Tempat dan Tanggal
Rumah Kristen Ngesti Waluyo Parakan pada hari Minggu, 17 Februari 2019
Keluhan Utama
Sesak nafas pada hari Minggu, Batuk (+), Pilek (+) Sebelumnya demam
SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang
a) SMRS: Pada tanggal 16 Februari 2019 OS demam pada malam hari,
disertai batuk (+), pilek (+), dan kemudian OS dibawa ke IGD RSK
keesokan harinya. Ibu OS mengatakan bahwa OS sudah diberikan obat
penurun panas dan obat batuk. pada 17 Februari 2019 OS kemudian
dibawa menuju IGD RSK Ngesti Waluyo.
b) 2 Hari di RS: Batuk (+) masih grok-grok, pilek (+), Muntah (-), demam (-)
Riwayat Penyakit
Dahulu
Riwayat keluhan serupa : (-)
Riwayat kejang (dengan/tanpa demam) : (-)
Riwayat batuk pilek : (+)
Riwayat asma, PKTB : (-)
Riwayat alergi : (-)
Riwayat trauma : (-)
Pasien belum pernah rawat inap di rumah sakit sebelumnya.
Pasien tidak pernah meminum obat yang harus rutin dikonsumsi
sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga dan
Sosial
Keluarga keluhan serupa: (+) Ibu Asma, Saudara sepupu Batuk-Pilek
Riwayat atopi / alergi : (+) Ibu,
Riwayat TB : (+) Ibu
Riwayat asma : (+)
Tetangga dekat rumah tidak ada yang mengalami keluhan serupa
Riwayat Kehamilan
dan Persanilan
Masa kehamilan
 Ibu rutin melakukan pemeriksaan kehamilan setiap bulannya ke
dokter kandungan (>4 kali)
 Pada saat hamil ibu tidak ada keluhan
 Riwayat Hipertensi (-), DM (-), Kejang (-), Infeksi (-)
Masa persalinan
Bayi lahir cukup bulan (aterm), usia kehamilan 37 Minggu. Pasien lahir
dengan SC a/i sungsang di RSK Ngesti Waluyo. Berat badan lahir 3000
gram, Panjang badan 48 cm. Setelah lahir keadaan bayi sehat kulit
kemerahan, menangis kuat, gerak aktif dan air ketuban jernih.
Riwayat menyusui
dan pemberian
MPASI
Usia 0-6 bulan : ASI Eksklusif
Usia 6 bulan-1 tahun: ASI dengan makanan tambahan
Pertumbuhan dan
Status Gizi

  Pertumbuhan
BB Lahir : 3 Kg
BB Sekarang : 9,5 Kg
Status Gizi (Waterlow)
Perkiraan BB (1-6Tahun):
Berat Balita Ideal = 2n +8
N = (1,6)
2(1,6)+ 8 kg= 11,2 kg

BB/TB%:
Riwayat Imunisasi
Orang tua menyatakan rutin membawa anakanya sesuai jadwal untuk
mendapatkan imunisasi
BCG : 1 kali (usia 1 bulan)
DPT : 3 kali (usia 2, 4, 6 bulan)
Polio : 3 kali (usia 2, 4, 6 bulan)
Hepatitis B : 3 kali (usia 0, 1, 6 bulan)
Campak : 1 kali (usia 12 bulan)
Kesan : Imunisasi dasar yang diberikan lengkap
III. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos Mentis (E4 V5 M6)
Vital Sign
HR : 150x/mnt
Suhu : 39,5oC
RR : 30x/mnt
Status Lokalis
1. KEPALA
•Kepala : Normocephali
•Mata : Pupil isokor, refleks cahaya (+/+), Sklera ikterik (-/-), CA (-/-),
mata cekung (+), hematom (-)
•Hidung : Nafas cuping hidung (-), discharge hidung (-), jejas/massa (-)
•Mulut : Mukosa oral basah, Sianosis (-), bibir kering (-), lidah kotor (-)
Faring hiperemis (-), Tonsil T1-T2
•Telinga : Kelainan anatomi (-), edema (-), discharge telinga (-)
2. LEHER
Pembesaran KGB (-), nyeri tekan KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
3. THORAKS (PULMO)
•Inspeksi : Gerakan dada simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi
interkosta (-), jejas (-)
•Palpasi : Nyeri tekan (-), benjolan (-), ketinggalan gerak (-),
krepitasi (-)
•Perkusi : Sonor kedua lapang paru
•Auskultasi : Suara paru vesikuler (+/+), RBH (+/+), wheezing (+/+).
4. THORAKS (JANTUNG)
•Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
•Auskultasi : Suara jantung murni, S1-S2 tunggal reguler, Bising
jantung (-)
5. ABDOMEN
•Inspeksi : Jejas (-), distensi (-).
•Auskultasi : Peristaltik usus (+), bising usus (+)
•Perkusi : Timpani, pembesaran hepar (-), pembesaran limpa (-).
•Palpasi : Pembesaran hepar (-), pembesaran limpa (-), nyeri tekan (-)
turgor dan elastisitas kulit baik.
6. Ekstremitas : Teraba hangat, capillary refill <2 detik, edema (-)

Ekstremitas Superior Inferior

-/- -/-
Edema

Hangat/hangat hangat/hangat

Rabaan

< 2 detik < 2 detik


Capillary refill
Resume
Dari hasil anamnesis didapatkan hasil:

Anak laki-laki berusia 1 Tahun dirawat di R. Mawar 3C dengan keluhan


sesak nafas, batuk dan pilek.

Pada pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum baik, kesadaran


compos mentis, vital sign didapatkan suhu 39,5°C, nadi 150 x/menit,
respirasi 30x /menit, pada pemeriksaan thorax didapatkan suara
wheezing.
IV. Diagnosis Banding
1. Asma
• Asma bronkial
• Bronkopnemonia
• Bronkitis

2. Batuk
ISPA
V. Planning
Observasi vital sign
Pemeriksaan darah lengkap
Tatalaksana pemberian oksigen dan terapi farmakologi
Penunjang
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai rujukan
Leukosit 5,83 10^3/uL 3.98-10.04
Eritrosit 5,82 10^6/uL 3.6-5.2
Hemoglobin 13,5 g/dL 10.7-13.1
Hematokrit 41,0 % 35-43
MCV 70.4 fL 74-102
MCH 23.2 pg 23-31
MCHC 32,9 g/dL 28-32
Trombosit 301 10^3/uL 229-553
RDW-CV 17,7 % 11.7-14.4
RDW-SD 43,3 fL 36.4-46.3
PDW 10,1 fL 6.9-12.9
MPV 9.6 fL 8.5-12.4
P-LCR 21,5 % 9.3-27.9
NRBC# 0.0 10^3/uL 0.0-0.0
NRBC% 0.0 % 0.1-0.2
VI. Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai rujukan
NEUT# 0,59 10^3 /ul 1,8-8
LYMPH# 4,4 10^3 /ul 1,32-3,57
MONO# 0,81 10^3 /ul 0,30-0,82
EOS# 0,01 10^3 /ul 0,04-0,054
BASO# 0,02 10^3 /ul 0,01-0,08
Netrofil Segmen 10 % 34-68
Limfosit 76 % 25-40
Monosit 14 % 2-%
Eosinofil 0 % 1-3
Basofil 0 % 0-1
Ig# 0.00
Ig% 0.00 0,16 – 0,62
VI. Pemeriksaan
Penunjang
VII.Diagnosis Kerja
•Asma Bronkial
VIII.Terapi
Cairan
Kebutuhan cairan BB: 9,5 kg (Menggunakan Rumus Holiday Segar)
Untuk 10 kg pertama : 100 ml/kgBB  100 x 9,5= 950 ml
Kebutuhan total cairan adalah 950 ml/hari
Tetes mikro = 1/3x Kebutuhan cairan x factor tetes = 1/3 x 950 ml x 60 = 13,1 (13) tpm

Waktu (jam x menit) 24 x 60


Tetes makro = 1/3x Kebutuhan cairan x factor tetes = 1/3 x 950 ml x 20 = 4,39 (4) tpm
Waktu (jam x menit) 24 x 60
- Bronkodilator
Ventolin sebagai bronkodilator diberikan secara nebulisasi 2x/hari. Dosis 0,3 – 0,5
mg/kgBB per kali pemberian.
- Kortikosteroid
Triamcinolone 3x4 mg
- Antihistamin
Dosis cetirizine 0,25mg/kgBB/kali
0,25 mg x 9,5 kg = 2,375 mg/ kali
Cetirizine 1x ¾ cth
- Antibiotik
Dosis eritromisin 30-50mg/kgbb/hari dibagi 3 dosis.
30mg x 9,5kg = 285 mg : 3 = 95 mg/kali
Eritromisin 100 mg, 3x/hari selama 7 hari.
IX. EDUKASI
- Jaga higienitas anak dan pengasuh
- Anak dijauhkan dari paparan polusi udara
- Bagi anggota keluarga yang tinggal serumah di edukasi untuk tidak
merokok
- Jika anggota keluarga ada yang sedang batuk untuk mengenakan
masker
- Cukup kebutuhan nutrisi anak dengan makanan bergizi
- Pastikan Ventilasi rumah memadai
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Asma adalah keadaan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan
elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas
yang menimbulkkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa
berat, dan batuk – batuk terutama malam dan atau dini hari. Episodik tersebut
berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali
bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan.
PATOGENESIS
Gambaran khas yang menunjukan adanya inflamasi saluran respiratorik

adalah aktivasi eosinofil, sel mast, makrofag, dan sel limfosit T pada

mukosa dan lumen saluran respiratorik. Perubahan ini dapat terjadi

meskipun asma tidak bergejala secara klinis. Kemunculan sel-sel

tersebut berhubungan secara luas dengan derajat beratnya secara

klinis.
a. Obstruksi saluran
nafas
Inflamasi saluran respiratorik sebagai penyebab obstruksi saluran nafas. Respon saluran nafas
yang berlebih terhadap pemicu bronkokonstriksi. Batuk diduga disebabkan akibat rangsangan
sayaraf sensorik saluran nafas oleh mediator inflamasi.

Penyempitan saluran nafas dapat disebabkan oleh banyak faktor. Penyebab utama adalah
kontraksi otot polos bronkial yang di provokasi mediator agonis yang di keluarkan sel inflamasi.
Mediator tersebut antara lain Histamin, triptase, Prostaglandin D2, leukotrein C4 yang
dikeluarkan oleh sel mast; neuropeptidase yang dikeluarkan saraf eferen local dan asetilkolin
yang berasal dari saraf eferen post ganglionic.

Akibat kontraksi otot polos terjadilah hyperplasia kronik pada otot polos , pembuluh darah
serta terjadi deposisi matriks pada dinding saluran nafas.
b. Hiperreaktivasi saluran
respiratori
Asma hampir selalu berhubungan dengan mudahnya saluran nafas mengalami
penyempitan dan respon berlebihan terhadap factor pencetus.

c. Otot polos saluran respiratori


. Peningkatan kontraktilitas otot pada pasien asma berhubungan dengan peningkatan
kecepatan pemendekan otot. Proses ini disertai dengan pertumbuhan otot dan atau
perubahan pada fenotipe sel otot polos yang disebabkan oleh interaksi dengan
inflamasi saluran nafas. Mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel mast, dapat
meningkatkan respon otot polos untuk berkontraksi
d. Keterbatasan aliran udara
irreversibel
Penebalan saluran nafas, yang merupakan karakteristik asma, terjadi pada bagian
kartilago dan membranosa dari saluran nafas. Bersamaan dengan perubahan
pada bagian elastic dan hilangnya hubungan antara saluran nafas dengan
parenkim disekitarnya, penebalan dinding saluran nafas dapat menjelaskan
mekanisme timbulnya penyempitan saluran nafas yang gagal untuk kembali
normal dan terjadi terus menerus pada subgroup asma.
e. Abnormalitas gas darah
Asma memperngaruhi proses pertukaran udara pada saat serangan berat terjadi.
Gejala hipoksemi arteri berhubungan dengan beratnya obstruksi seringkali paru
tertutup total. Ketidakcocokan antara ventilasi dan prefusi menyebabkan
perbedaan oksigen arteri dan alveolus. PCo2 menggambarkan beratnya
obstruksi. Adanya peningkatan PCO2 arteri menyebabkan hambatan usaha otot
pernafasan dan usaha bernafas yang berujung pada gagal nafas.
FAKTOR RISIKO
Adapun faktor risiko terjadinya asma merupakan interaksi antara faktor penjamu
(host factor) dan faktor lingkungan.
•Faktor penjamu
◦ Atopi
◦ Hiperresponsif saluran pernapasan
◦ Jenis kelamin (prevalensi laki-laki 1,5-2 kali dibanding perempuan)

•Faktor lingkungan (mempengaruhi berkembangnya asma pada individu dengan


predisposisi asma)
◦ Alergen dalam ruangan
◦ Mite domestic, alergen binatang, jamur (fungi mold, veast)
◦ Alergen di luar ruangan
◦ Tepung sari bunga, jamur (fungi mold, veast), bahan di lingkungan kerja, asap rokok,
polusi udara, infeksi pernapasa, infeksi parasit, status sosioekonomi, diet dan obat,
obesitas

•Faktor Lingkungan (mencetuskan eksaserbasi dan atau menyebabkan gejala-


gejala asma menetap)
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala yang bervariasi dari normal samapai didapatkan
kelainan. Tanda yang paling sering didapati adalah mengi (Wheezing), tetapi pada sebagian
tidak di dapati mengi di luar serangan. Pada asma yang berat didapati silent chest dan
pasien dalam keadaan sianosis serta kesadaran menurun. Berikut hal yang biasa didapati
pada pemeriksaan fisik pasien asma :

Inspeksi : pasien terlihat gelisah, sesak (Napas Cuping hidung, Nafas cepat, Retraksi sela iga,
retraksi epigastrium, retraksi suprasternal)

Palpasi ; biasanya tidak ada kelainan yang nyata

Perkusi : biasa tidak di dapati kelainan yang nyata

Auskultasi : Ekspirasi memanjang, wheezing


Faal Paru
Pemeriksaan Penunjang
Pengukuran faal paru digunakan untuk menilai obstruksi jalan napas, reversibiliti kelainan
faal paru, variabiliti faal paru sebagai penilaian tidak langsung hiperesponsif jalan napas.
Banyak parameter dan metode menilai faal paru, tetapi yang telah diterima secara luas
(standar) dan mungkin dilakukan adalah pemeriksaan spirometri dan arus puncak ekspirasi
(APE).
Spirometri
Pengukuran volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan kapasitas vital paksa (KVP)
diakukan dengan manuver ekspirasi paksa. Pemeriksaan ini tergantung pada kemampuan
pasien mengikuti instruksi dan kooperatif pasien.
Uji provokasi bronkus
Untuk menilai adanya hipereaktivitas bronkus.
Uji alergi
Untuk mencari faktor pencetus
Foto thorax
Untuk menyingkirkan penyebab lain selain asma.
Pemeriksaan Penunjang
APE
Nilai APE diperoleh melalui alat peak flow meter. Manfaat APE dalam diagnosis
asma adalah:
◦ Reversibiliti, yaitu perbaikan nilai APE 15% setelah inhalasi bronkodilator (uji
bronkodilator) atau bronkodilator oral 10 – 14 hari atau respon terapi kortikosteroid
(inhalasi/oral) 2 minggu.

Variabiliti, menilai APE harian selama 1 – 2 minggu. Variabiliti juga dapat


digunakan untuk menilai derajat berat penyakit.
Nilai APE tidak selalu korelasi dengan pengukuran faal paru lain dan derajat berat
obstruksi. Sebaiknya nilai APE dibandingkan dengan nilai terbaik sebelumnya,
bukan nilai prediksi normal, kecuali tidak diketahui nilai terbaik pasien. Cara
pemeriksaan variabiliti APE harian adalah diukur pagi hari untuk mendapat nilai
terndah, dan malam hari untuk mendapat nilai tertinggi.
Pemeriksaan Penunjang
Rata-rata APE dapat diperoleh dengan 2 cara, yaitu:
1. Bila sedang menggunakan bronkodilator, diambil perbedaan nilai APE pagi hari
sebelum bronkodilator dan nilai APE malam hari sebelumnya sesudah
bronkodilator. Nilai >20% dipertimbangkan sebagai asma.

2. Nilai terendah APE pagi sebelum bronkodilator selama pengamatan 2 minggu,


dinyatakan dengan persentase dari nilai terbaik (nilai tertinggi APE malam
hari).
Alur Diagnosa Asma
asma
Penilaian derajat sxerangan asma
TATA LAKSANA
• Medikamentosa :
Bronkodilator :
-Beta adrenergic kerja pendek (Short acting) Stimulasi pada resptor – reseptor
Beta adrenergic menyebabkan perubahan ATF menjadi cyclic – AMP sehingga
timbul relaksasi otot polos jalan napas. Efek lain juga terjadi seperti peningkatan
klirens mukosillier, penurunan permeabilitas vascular, berkurangnya pelepasan
mediator dari sel mast.
Contoh obat : Epinefrin, b2 agonis selektif (Salbutamol, Fenoterol). Pada kasus
serangan asma berat pemberian b2 agonis intravena diperlukan karena obat
inhalasi sulit masuk ke saluran nafas bagian distal. Dosis salbutamol: 0,05 – 0,1
mg/kgBB/kali setiap 6 – 8 jam. Dosis salbutamol 2,5 mg/kali nebulisasi bisa
diberikan setiap 4 jam.
Beta adrenergic kerja panjang (Long acting)
Digunakan sebagai kontroler.
Contohnya Salmeterol dan formeterol. Jika obat ini diberikan inhalasi bersama
kortikosteroid maka penyerapan kortikosteroid meningkat menjadi 2 kali lipat.
TATA LAKSANA
Antikolinergik

-Ipatroprium bromide

Pemberian kombinasi b2 agonis dengan antikolinergik memberikan efek bronkodilatasi lebih


baik. Pemberian kombinasi ini diberikan jika pemberian b2 agonis inhalasi saja tidak cukup.
Dosis yang di gunakaan < 6 tahun 4-10 tetes dalam inhalasi nebulizer atau 0,1 ml /kg bb.

Kortikosteroid

Kortikosteroid sistemik mempercepat perbaikan serangan asma dan pemberiannya merupakan


tatalaksana asma, kecuali pada serangan riangan. Methylprednisolone memiliki kemampuan
penetrasi ke jaringan paru lebih baik. Dosis IV adalah 1 mg/kg bb, diberikan tiap 4-6 jam.pada
serangan berat kortikosteroid dapat diberikan lewat nebulasi. Dosis metilprednisolon 0,3
mg/kgbb/kali 3 kali sehari secara oral atau deksametason 0,3 mg/kgbb/kali IV/oral 3 kali sehari
pemberian selama 3 – 5 hari.
TATA LAKSANA
Antibiotik

Antibiotik tidak diberikan secara rutin untuk asma atau anak asma yang bernapas
cepat tanpa disertai demam. Antibiotik diindikasikan bila terdapat infeksi bakteri.

Terapi supportif

Oksigen

Oksigen diberikan pada penderita asma serangan ringan dan berat. Saturasi
sebaiknya di pertahankan diatas 95 % pada bayi dan anak kecil.
Alur Tatalaksana Serangan Asma pada anak
Tata laksana asma jangka panjang
Daftar obat-obat asma jangka panjang
DAFTAR PUSTAKA
 
Pudjiadi, Antonius H, dkk. 2017. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Indonesia.
Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Markum. 2017. Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta: Percetakan Infomedika.
Heda Melinda. Diagnosis Asma pada Anak. Dalam: Buku Ajar Respirologi Anak.
Edisi 1. Jakarta: IDAI. 2010
DEPKES RI. 2009. Pedomann Pengendalian Penyakit Asma. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI
Heru S, Sukamto. Asma Bronkial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam PAPDI.
Editor: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, dkk. FK-UI. Jakarta; 2006. hal. 247-252.
World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah
Sakit.Switzerland : Geneva; 2009.