Anda di halaman 1dari 20

SURVEILANS PERILAKU

LATAR BELAKANG

 Terdapat 42 juta kasus HIV/AIDS di dunia Sebagai


penyebab kematian tertinggi di Amerika Serikat pada
kelompok umur 15-24 tahun (Tucker, 2004).
 Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, melaporkan
sampai Maret 2008 terdapat 11.868 kasus HIV &
AIDS di Indonesia
 HIV di Indonesia sudah pada tahap yang
mengkhawatirkan.
 Jika tidak dilakukan upaya pencegahan dan
penanggulangan --- mendatang menjadi seperti di
Sub Sahara Afrika (3 dari 10 penduduk terinfeksi HIV)
(http://www.depkes.go.id.2008)
 Penyebaran infeksi HIV & AIDS di Indonesia
terkonsentrasi di 6 Provinsi yaitu : DKI Jakarta,
Papua, Jawa Timur, Bali, Jawa Barat dan Riau.

 Pemerintah daerah tersebut bersama Komisi


Penanggulangan AIDS mengadakan rapat
koordinasi yang menghasilkan Kesepakatan
Sentani - sebagai landasan Gerakan Nasional
untuk membendung penyebaran epidemi
HIV & AIDS.
 Perkembangan surveilans epidemiologi menjadi
surveilans kesehatan, menjadikan faktor risiko
mengarah pada penyakit merupakan hal penting
yang harus dipantau.

 Salah satu faktor risiko untuk terjadinya penyakit


adalah perilaku.
Sistem surveilans perilaku yang sudah berkembang di
Indonesia adalah Survei Surveilans Perilaku (SSP):

mementingkan penggunaan data tentang perilaku


untuk mendapatkan informasi dan menjelaskan trend
HIV pada populasi
Data perilaku juga dibutuhkan untuk merencanakan
dan mengevaluasi dampak dari HIV.
Tujuan :

 melakukan pemantuan terhadap perilaku seksual dari


kelompok berisiko dari waktu ke waktu

 menyediakan informasi guna menilai efektifitas dari upaya


pencegahan yang telah dilakukan

 mengembangkan program selanjutnya.


Peranan Survei Surveilans perilaku

 sebagai sistem peringatan dini,

 perencanaan suatu program pencegahan dan


penanggulangan

 membantu evaluasi program

 membantu menjelaskan perubahan suatu prevalensi.


Prinsip dari pelaksanaan Survei
Surveilans perilaku

surveilans perilaku = surveilans HIV

survei yang dilakukan berulang untuk mengumpulkan data


tentang perilaku terhadap populasi berisiko tertular seperti
PSK, waria, pengguna NAPZA suntik dll.
SSP di Indonesia

 Prop: Sumut, Riau, DKI, Jabar, Sulut,


Papua, Sumsel, Jateng, Maluku dan Jatim
(Kota Surabaya)
 Populasi: Pria & wanita risiko tinggi HIV
 Sasaran: WPS (langsung & tdk langsung),
Sopir & kernetnya, pelaut & nelayan, remaja
 Mendekati surv generasi kedua
 “Unlinked Anonymous”
 Survei dan Surveilans IMS
 Survei dan surveilans perilaku
INDIKATOR KUNCI SSP
 % pernah mendengar HIV/AIDS
 % mengetahui cara pencegahan dengan kondom
 % pernah berhubungan seks dengan WPS dalam setahun
terakhir
 % mempunyai lebih dari 1 pasangan seks dalam setahun
terakhir
 Rata-rata jumlah tamu/pelanggan yang dilayani dalam
seminggu terakhir
 % menggunakan kondom pada seks komersial terakhir
 % selalu menggunakan kondom pada seks komersial dalam
setahun terakhir untuk pria dan seminggu terakhir untuk WPS
 % pernah menggunakan narkoba suntik
 % yang mengalami gejala IMS dalam setahun terakhir
 % berobat ke petugas kesehatan bagi yang mengalami gejala
PMS dalam setahun terakhir
SURVEILANS HIV/AIDS
 Surveilans Biologis
– Sentinel serosurvei pada sub
populasi
– Screening HIV pada darah donor
– Screening HIV pada pekerja
– Screening HIV pada populasi umum
– Screening HIV pada populasi khusus

 Surveilans Perilaku SURVEILANS


– Survei cross-sectional pada populasi GENERASI KEDUA
umum
– Survei cross-sectional pada populasi
khusus (populasi berisiko)

 Sumber Data lain


– Surveilans HIV dan AIDS
– Data kematian
– Surveilans penyakit menular seksual,
surveilans TB
Dasar Hukum dalam
pelaksanaan surveilans
 U. U. No. 4 Tahun 1984 tentang
wabah penyakit menular
 U.U No.23 Tahun 1992 tentang
kesehatan
 P.P.No.25 tahun 2000 tentang
kewenangan Propinsi sebagai Daerah
Otonomi.
 DLL.
Pengembangan Program
Surveilans Generasi Kedua

 Surveilans generasi kedua merupakan


penggabungan dari surveilans biologis dan
surveilans perilaku I (KHUSUS PERILAKU)

 Informasi penting yg didapatkan dari surveilans


generasi kedua ini adalah perilaku suatu populasi
yang berisiko tertular HIV sebagai system
kewaspadaan dini, kemudian mengambil informasi
dari perilaku populasi berisiko tinggi untuk
membuat suatu program agar terpusat dan tepat
pada sasaran, serta mendapatkan informasi
terhadap perilaku apa saja yang bisa di ubah untuk
mencegah penularan
Tujuan
Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP)
dilaksanakan untuk mendapatkan gambaran besaran
masalah, faktor risiko, pengetahuan dan cakupan
program, sehingga dapat diketahui dinamika epidemi
HIV di Indonesia.

STBP 2011 dilakukan di 23 kota/kabupaten di 11 provinsi,


dimana sebagian besar kota/kabupaten terpilih sama
dengan kabupaten/kota (lokasi) STBP 2007.
Pengumpulan data
Data yang dikumpulkan pada STBP 2011 meliputi data
perilaku dan biologis.
- Data perilaku dikumpulkan dari seluruh populasi survei.

Data biologis dikumpulkan dari populasi paling


berisiko, dibedakan menjadi dua yaitu :
1). Pengambilan darah vena WPSL, WPSTL dan waria
serta pengambilan darah perifer, pada Pria Potensial
Risti, WBP, LSL untuk pemeriksaan HIV dan sifilis
(2).Pengambilan sediaan apus vagina (WPSL dan
WPSTL), dan sediaan apus anus (waria dan LSL) di
beberapa kota untuk pemeriksaan gonore dan
klamidia.
Ruang lingkup STBP 2011
 Ruang lingkup STBP 2011 meliputi pengukuran
perilaku dan biologis.

Pengukuran perilaku meliputi demografi, perilaku


pencegahan, perilaku berisiko, cakupan intervensi,
dan tingkat pengetahuan.

Pengukuran biologis meliputi pemeriksaan HIV,


sifilis, gonore dan klamidia pada WPSL, WPSTL, waria,
dan LSL.
Pemeriksaan HIV dan sifilis dilakukan pada Penasun,
Narapidana dan Pria Potensial Risti.
Pemeriksaan biologis tidak dilakukan pada remaja.
DATA SURVELANS EPIDEMIOLOGI

 Pencacatan laporan Kematian


 Laporan penyakit
 Laporan KLB/WABAH
 Hasil Pemeriksaan Laboratorium
 Penyelidikan Kasus
 Penelidikan KLB
 Survei khusus
Analisa dan Interpretasi
data
 Analisis dan kajian data dilakukan terhadap
data surveilans yang dapat dihimpun oleh
unit surveilans serta data yang diperoleh
dari program pemberantasa penyakit yang
ada.
 Perlu dibentuk TIM Epidemiologi pada setiap
jenjang administrasi kesehatan untuk
melaksanakan manajemen penanggulangan
masalah kesehatan masyarakat.
Surveilans memiliki
substansi dasar sbb:
 Jaringan kerja yang berkesinambungan
 Definisi kasus yang jelas dan mekanisme
pelaporannya.
 Sistem komunikasi yang efektif
 Pengetahuan epidemiologi dasar
 Dukungan Laboratorium
 Umpan balik dan respon yang cepat dan
efektif.
TERIMA KASIH