Anda di halaman 1dari 32

NAMA KELOMPOK :

Putu Nopradipta ( 18021001 )


Dewa Ayu Widya Antari ( 18021004 )
Ni Nyoman Sri Damayanti ( 18021008 )
Dewa Gede Marta Ekayana ( 18021013 )

D3-AKUNTANSI
PENGAUDITAN SIKLUS

PEMBELIAN DAN
PEMBAYARAN
RUMUSAN MASALAH

1. Apa saja akun – akun dan golongan


transaksi dalam siklus pembelian dan
pembayaran?
2. Bagaimana fungsi dan dokumen serta catatan
dalam siklus pembelian dan pembayaran?
3. Bagaimana metodologi untuk merancang
pengujian pengendalian dan pengujian
substantif golongan transaksi?
4. Bagaimana metodologi untuk perancangan
pengujian rinci saldo untuk utang usaha?
2.1. AKUN-AKUN DAN GOLONGAN TRANSAKSI
DALAM SIKLUS PEMBELIAN DAN
PEMBAYARAN

Tujuan adalah untuk menilai akun-akun yang di pengaruhi oleh


pembelian barang dan jasa serta pengeluaran kas untuk pembelian
barang / jasa telah di sajikan secara wajar sesuai dengan standar
keuangan.

Siklus barang dan jasa :

1)Pembelian barang dan jasa


2)Pengeluaran kas
3)Retur pembelian dan potongan pembelian.
Gambar 15-1 Akun-akun dan Siklus Pembelian dan Pembayaran
Gambaran 15-1 menunjukan bahwa setiap transaksi mempengaruhi
entah pendebetan atau pengkeditan terhadap akun usaha. Karena
banyak perusahaan melakukan pembelian langsung dengan check
atau melalui kas kecil, gambar ini memang sengaja sangat
disederhanakan. Kita berasumsi bahwa pembelian tunai (langsung
dibayar per kas ) diproses dengan cara yang sama dengan pembelian
secara kredit (melalui utang usaha lebih dahulu).
2. FUNGSI-FUNGSI BISNIS DAN DOKUMEN
SERTA CATATAN DALAM SIKLUS
PEMBELIAN DAN PEMBAYARAN

Siklus pembelian dan pembayaran menyangkut pengambilan


keputusan dan proses untuk mendapatkan barang dan jasa untuk
menyelenggarakan suatu bisnis.
Tabel 15-1 Golongan Transaksi, Akun – akun, Fungsi Bisnis, Dokumen serta
Catatan untuk Siklus Pembelian dan Pembayaran

Golongan
Akun Fungsi Bisnis Dokumen & Catatan
Transaksi
Pembelian 1. Persediaan 1. Permintaan pembelian
1. Pembuatan order
2. Properti, peralatan, aset pembelian 2. Order Pembelian
 
tetap lainnya
 
2. Penerimaan Barang & 3. Laporan penerimaan barang &
3. Beban dibayar di muka Jasa jasa
 
4. Beban Pabrik 3. Pengakuan utang 4. Faktur dari penjual
 
  5. Beban Penjualan   5. Memo Debet
6. Beban administrasi   6. Voucher
 
      7. File transaksi pembelian
      8. Jurnal Pembelian
      9. Master file utang usaha
      10. Daftar Utang usah
      11. Laporan dari pemasok
Pengeluaran
1. Pembayaran & 1. Check pembayaran
kas 1. Kas di bank (untuk
pencatatan
  pengeluaran kas)
pengeluaran kas 2. File Transaksi pengeluaran kas
 
  2. Utang usaha   3. Jurnal pengeluaran kas
  3. Potongan Pembelian    
A. PEMBUATAN ORDER PEMBELIAN
Pengajuan permintaan untuk membeli barang
atau jasa oleh pejabat perusahaan klien adalah
kegiatan awal siklus ini.

Permintaan Pembelian
Formulir permintaan pembelian di gunakan untuk meninta barang
dan jasa oleh perusahaan yang diberi kewenangaa untuk mengajukan
permintaan pembelian.

Order Pembelian
Dokumen ini berisi deskripsi, kuantitas, dan informasi lain yang
berhubungan dengan barang dan jasa yang diinginkan perusahaan
untuk dibeli dan sering kali digunakan untuk menunjukkan
persetujuan pembelian.
B. PENERIMAAN BARANG DAN JASA
Penerimaan barang dan jasa oleh perusahaan dari pemasok adalah
saat yang paing kritis dalam siklus ini. Laporan penerimaan adalah
dokumen berupa kertas atau elektronik yang di buat pada saat
barang di terima. Dala laporan tersebut di cantumkan meterangan
mengenai barang, jumlah yang di terima, tanggal penerimaan, serta
data lain yang relevan.

C. PENGAKUAN KEWAJIBAN (UTANG)

Dokumen-dokumen dan catatan yang lazim di gunakan adalah:

a) Faktur dari Pemasok


b) Memo Debet
c) Voucher
d) File Transaksi Pembelian
e) Jurnal Pembelian
f) Master File Utang Usaha
g) Daftar Utang Usaha
h) Laporan dari Pemasok
C. PENGOLAHAN DAN PENCATATAN PENGELUARAN KAS

Pada kebanyakan perusahaan, pembayaran untuk pembelian barang


dan jasa merupakan aktvitas yang dignifikan. Dokumen-dokumen yang
berkaitan dengan proses pembayaran yang akan diperiksa auditor
meliputi:
a). Check
Dokumen ini biasa digunakan untuk pembayar pembelian pada saat
kewajiban jatuh tempo.

b). File Transaksi Pengeluaran


File transaksi pengeluaran adalah file yang dihasilakan komputer
yang mencakup seluruh transaksi pengeluaran kas yang diolah oleh
sistem akuntansi suatu periode tertentu.

c). Jurnal Pengeluaran Kas


Jurnal pengeluaran kas adalah daftar atau laporan yang dihasilkan
oleh file transaksi pengeluaran kas yang mencakup seluruh transaksi
pada suatu periode tertentu.
2.3 METODOLOGI UNTUK PERANCANGAN PENGUJIAN PENGENDALIAN
DAN PENGUJIAN SUBSTANTIF GOLONGAN TRANSAKSI

Pengujian pengendalian dan pengujian subtantif atas transaksi untuk


siklus pembelian dan pembayaran dibagi dalam dua bagian besar
berikut:

1. Pengujian pembelian, yang berkaitan dengan tiga dari empat fungsi


bisnis, yakni: order pembelian, penerimaan barang dan jasa, dan
pengakuan utang.
2. Pengujian pengeluaran kas, meliputi proses bisnis: pengolahan dan
pencatatan pengeluaran kas.

A. PEMAHAMAN PENGENDALIAN INTERNAL


Melaksanakan pengujian mengikuti jejak transaksi pembelian dan
pengeluaran kas. Prosedur untuk mendapatkan pemahaman
pengendalian internal tentang siklus pembelian dan pembayaran.
Gambar 15-2 Metodologi untuk Perancangan Pengujian Pengendalian
dan Pengujian Substantif Transaksi untuk Siklus Pembelian dan
Pembayaran
B. MENILAI RISIKO PENGENDALIAN YANG
DIRENCANAKAN

1. Otorisasi pembelian otorisasi yang tepat untuk melakukan akuisisi


akan memastikan bahwa barang dan jasa yang diperoleh adalah demi
memenuhi tujuan perusahaan yang diotorisasi, dan menghindari
akuisisi item yang berlebihan atau tidak diperlukan.

2. Pemisahan penyimpanan aktiva dari fungsi lainnya sebagian besar


perusahaan meminta departemen penerimaan untuk memulai
membuat laporan penerimaan sebagian bukti penerimaan dan
pemeriksaan barang.

3. Pencatatan yang tepat waktu dan review independen atas transaksi


dalam beberapa perusahaan, pencatatan kewajiban atas akuisisi
dibuat atas dasar penerimaan barang dan jasa.
4. Otorisasi pembayaran pengendalian yang paling penting terhadap
pengeluaran kas termasuk:

a) Penandatanganan cek oleh individu yang memiliki wewenang yang


tepat.
b) Pemisahan tanggung jawab untuk menandatangani cek dan
melaksanakan fungsi utang usaha.
c) Pemeriksaan yang cermat atas dokumen pendukung oleh si
penandatangan cek pada saat cek ditandatangani.

C. MENENTUKAN LUASNYA PENGUJIAN PENGENDALIAN


Apabila auditor bermaksud untuk mengandalkan pada pengendalian
untuk mendukung penilaian risiko pengendalian pendahuluan di bawah
maksimum, auditor melakukan pengujian penegndalian untuk
mendapatkan bukti bahwa pengendalian telah beroperasi denga efektif.
Dengan telah beroperasinya pengendalian secara efektif yang didukung
dengan tambahan pengujian pengendalian, auditor akan bisa
menurunkan pengujian substantifnya.
D. MERANCANG PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN
PENGUJIAN SUBSTANTIF GOLONGAN TRANSAKSI
UNTUK PEMBELIAN
Tabel 15-2, meringkas pengendalian internal kunci, pengujian
pengendalian yang lazim dilakukan, dan pengujian substantif
golongan transaksi yang biasa dilakukan untuk setiap tujuan audit
transaksi.

Dalam memahami Tabel 15-2 dibawah ini, anda harus:


a) Menghubungkan setiap pengendalian dengan tujuan audit transaksi
b) Menghubungkan pengujian pengendalian dengan pengendalian
internal
c) Menghubungkan pengujian substantif golongan transaksi dengan
tujuan audit transaksi setelah mempertimbangkan pengendalian
dan defisiensi dalam sistem

Efisiensi audit yang signifikan akan tercapai dalam audit apabila


pengendalian beroperasi secara efektif. Empat dari enam tujuan audit
golongan transaksi pantas untuk mendapatkan perhatian khusus oleh
karena itu akan dibahas lebih dalam dibawah ini.
Tabel 15-2 Ikhtisar Tujuan Audit Golongan Transaksi, Pengendalian Kunci,
Pengendalian Internal dan Pengujian Substantif Golongan Transaksi untuk pembelian
1. Pembelian terbukukan adalah untuk barang dan jasa yang diterima
(keterjaadian)
Apabila auditor puas bahwa pengendalian cukup untuk tujuan ini,
pengujian untuk memeriksa adanya transaksi yang tidak tepat dan
pencatatan transaksi yang tidak pernah terjadi bisa sangat dikurangi.
2. Pembelian yang Terjadi telah Dibukukan (Kelengkapan)
Kegagalan mencatat pembelian barang dan jasa yang diterima
menyebabkan utang usaha kurang saji dan mengakibatkan laba bersih
dan ekuitas lebih saji. Maka dari itu, auditor harus memandang hal ini
sebagai tujuan yang penting
3. Pembelian Dicatat dengan Akurat (Ketelitian)
Luas pengujian rinci pada kebanyakan akun neraca dan akun beban
bergantung pada evaluasi auditor tentang efektivitas pengendalian
internal atas ketelitian pencatatan transaksi pembelian
4. Pembelian Digolongkan dengan Benar (Penggolongan)
Pengujian rinci akun individual tertentu dapat dikurangi apabila
auditor yakin bahwa pengendalian internal mencukupi untuk dapat
memberikan keyakinan yang memadai mengenai penggolongan yang
benar dalam jurnal pembelian
E. PERANCANGAN PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN
PENGUJIAN SUBSTANTIF GOLONGAN TRANSAKSI UNTUK
PENGELUARAN KAS
Untuk pengendalian dan prosedur-prosedur audit ini kita berasumsi
bahwa terdapat jurnal khusus pembelian dan pengeluaran kas.
Auditor biasanya melaksanakan pengujian pembelian dan
pengeluaran kas pada saat yang sama

F. SAMPLING ATRIBUT UNTUK PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN


PENGUJIAN SUBSTANTIF GOLONGAN TRANSAKSI
 Mengingat pentingnya pengujian pengendalian dan pengujian
golongan transaksi untuk pembelian dan pembayaran, maka
penggunaan sampling atribut menjadi sangat lazim dilakukan.
Pendekatan serupa dengan yang digunakan untuk pengujian
pengendalian dan pengujian substantif golongan transaksi penjualan.
Tabel 15-3 Ikhtisar Tujuan Audit Golongan Transaksi, Pengendalian Kunci, Pengujian Pengendalian, dan Pengujian Substantif
Golongan Transaksi Pengeluaran Kas
Ada tiga hal yang berbeda pada siklus pembelian dan pembayaran
dibandingkandengan siklus lainnya :
 Siklus ini menyangkut banyak akun, baik yang berupa akun-akun
laba rugi, maupun akun neraca.
 Dalam siklus ini sangat lazim diperlukan pertimbangan yang
signifikan, kebutuhan atas pertimbangan ini meningkatkan
kemungkinan terjadinya kesalahan penyajian.
 Jumlah rupiah untuk transaksi individual, seringkali berjumlah
sangat besar. Akibatnya, auditor menggabungkan unsur-unsur yang
besar dan tidak biasa seperti itu dan mengujinya 100%.
2.4. METODOLOGI UNTUK PERANCANGAN PENGUJIAN RINCI SALDO
UNTUK UTANG USAHA

Utang usaha adalah kewajiban yang belum dibayar yang timbul


akibat pembelian barang dan jasa yang telah diterima dalam
kegiatan normal perusahaan. Kebanyakan utang usaha dapat juga
diidentifikasi melalui keberadaan faktur dari penjual yang
menunjukkan kewajiban perusahaan. Utang usaha harus dibedakan
dari utang biaya dan kewajiban utang bunga.
Gambar 15-3 di bawah ini merupakan metodologi untuk perancangan pengujian rinci utang
usaha.

Apabila pengujian pengendalian dan pengujian substantif golongan transaksi


menunjukkan bahwa pengendalian internal beroperasi secara efektif, dan prosedur
analitis menunjukkan hasil yang memuaskan, auditor pada umumnya akan menurunkan
pengujian rinci saldo. Namun, karena pada kebanyakan perusahaan, utang usaha
cenderung menjadi material, auditor hampir selalu melakukan pengujian rinci saldo.
A. MENGINDETIFIKASI RISIKO BISNIS KLIEN YANG MEMENGARUHI
UTANG USAHA (TAHAP 1)
Upaya-upaya untuk merampingkan pembelian dan pembayaran
barang dan jasa, termasuk lebih meningkatkan pembelian persedian
secara just in time, meningkatkan berbagai informasi dan e-commerce
untuk transaksi bisnis, telah mengubah semua aspek siklus pembelian
dan pembayaran pada banyak perusahaan.
B. MENETAPKAN MATERIALITAS KINERJA DAN MENILAI RISIKO
INHEREN (TAHAP 1)
Sejumlah besar transaksi bisa memengaruhi utang usaha. Saldo
seringkali berjumlah besar dan meliputi sejumlah pemasok dan
biasanya akan mahal bial harus mengaudit semua akun tersebut.
C. MENILAI RESIKO PENGENDALIAN DAN MERANCANG SERTA
PELAKSANAKAN PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN
PENGUJIAN SUBSTANTIF GOLONGAN TANSAKSI (TAHAP I
DAN II)
Pengujian substantif yang dilakukan auditor pada akhirnya akan
tergantung pada efektivitas pengendalian internal yang berkaitan
dengan utang usaha. Oleh karena itu, auditor harus memiliki
pemahaman yang dalam tentang pemahaman yang dalam tentang
bagaimana pengendalian yang berhubungan dengan utang usaha
D. MERANCANG DAN MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS
(TAHAP III)
Prosedur analitis untuk akun-akun neraca dan akun-akun Iaba-rugi
dalam siklus pembelian dan pembayaran yang berguna untuk
menemukan area-area yang memerlukan investigasi tambahan.

E. MERENCANG DAN MELAKSANAKAN PENGUJIAN RINCIAN


SALDO AKUN UTANG USAHA (Tahap III)
Tujuan audit atas utang usaha secara keseluruhan adalah untuk
menentukan apakah saldo utang usaha telah dinyatakan secara wajar
dan diungkapkan secaraa layak. Nilai realisasi tidak dapat diterapkan
pada kewajiban. Penekanan yang penting dalam audit atas kewajiban
dan aktiva. ketika memverifikasi aktiva auditor menekankan lebih saji
melalui verifikasi dengan konfirmasi, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan dokumen pendukung.auditor tidak boleh mengabaikan
kemungkinan aktiva mengalami kurang saji tetapi lebih
memperhatikan lebih saji
Tabel 15-5 Tujuan Audit Saldo dan Pengujian Rinci Saldo atas Saldo Utang Usaha
1. Pengujian Liabilitas sesudah Tanggal Neraca
Karena penekanan audit pada kurang saji dalam akun-akun
liabilitas,pengujian sesudah tanggal neraca sangat penting artinya bagi
utang usaha
a. Periksalah Dokumen Pendukung Untuk Pengeluaran Kas Sesudah
Tanggal Neraca
b. Periksalah Dokumen Pendukung Untuk Faktur Tagihan Yang
Belum Dibayar Sampai Beberapa Minggu Setelah Akhir Tahun
c. Telusur Laporan Penerimaan Barang yang Diterbitkan Sebelum
Akhir Tahun dengan Faktur Penjual yang Bersangkutan
d. Telusur Laporan dari Pemasok yang Menunjukkan Saldo Terutang
ke Daftar Saldo Utang Usaha
e. Pengiriman Konfirmasi kepada Pemasok yang Memiliki Hubungan
Bisnis dengan Klien
2. Pengujian Pisah Batas
Utang usaha dilakukan untuk menentukan apakah transaksi yang
dibukukan beberapa hari sebelum dan beberapa hari sesudah tanggal
neraca telah dibukukan pada periode yang tepat
a. Hubungan Antara Pisah Batas Dengan Ofservasi Fisik Persediaan
b. Persediaan Dalam Perjalanan ( Inventory Transit )

F. KEANDALAN BUKTI
Auditor harus memahami keandalan relatif tiga tipe utama bukti yang
biasa digunakan untuk memeriksa utang usaha, yaitu faktur
penjualan, laporan dari penjualan ( pemasok ) dan konfirmasi.
1. Perbedaan antara Faktur dari Penjual dengan Laporan dari
Penjual
2. Perbedaan anatara Laporan dari Penjual dengan Konfirmasi
Contoh suatu jenis konfirmasi utang usaha dapat dilihat di gambar 15-4 berikut :

Gambar 15-4 Permintaan Konfirmasi Utang Usaha


G. UKURAN SAMPEL
Ukuran sampel dalam pengujian utang usaha sangat
bervariasi,tergantung pada berbagai faktor seperti ; materialitas utang
usaha,jumlah akun yang ada, hasil penilaian risiko pengendalian, dan
hasil audit tahun yang lalu. Apabila pengendalian internal klien lemah,
yang tidak jarang dijumpai pada utang usaha, hamper seluruh populasi
harus diperiksa. Dalam situasi yang lain hanya sebagaian kecil
dipandang perlu untuk diperiksa.
SESI TANYA
JAWAB
TERIMAKASI
H