Anda di halaman 1dari 28

SEJARAH DAN GERAKAN

KONSERVASI
 Sejarah Konservasi
 Konservasi di Asia
 Konservasi Di Eropa
 Konservasi Di Amerika
 Konservasi Di Indonesia
SEJARAH – MOTIF KONSERVASI
• Konservasi berakar pada budaya berburu kuno
• Konservasi dimotivasi oleh ketakutan tidak
tersalurkannya hobi berburu para raja dan
golongan bangsawan karena populasi satwaliar
berkurang
• Pada saat itu perburuan telah pula dilandasi
dengan peraturan-peraturuan perburuan,
misalnya tidak boleh berburu pada saat musim
berkembang biak
• Dapat dibuktikan bahwa cikal bakal, “ilmu
konservasi “ berasal dari Asia Timur. Beberapa
ilmu lain yang berasal dari Asia diantaranya :
kedokteran dan aljabar
SEJARAH-MOTIF KONSERVASI DI ASIA

• Raja Asoka (252 S.M.) dari India secara resmi


mengumumkan perlindungan satwaliar, ikan
dan hutan.
• Raja Mongolia Kubilai Khan (1259 – 1294
Masehi) menginstruksikan agar melindungi
tempat-tempat perlindungan satwaliar (shelter
protection) bila musim panas tiba, pemberian
makanan tambahan terutama pada musim
dingin (winter feeding) dan pengelolaan
tempat-tempat berlindungnya satwaliar (cover
management).
• Dalam pengertian manajemen satwaliar, cover bisa
berarti nesting cover, roosting cover, feeding cover,
breeding cover, escape cover.
• Shelter protection, winter feeding dan cover
management bagi satwaliar ini bisa dikatakan sebagai
teknik-teknik terawal dari konservasi sumberdaya alam
hayati.
• Gagasan dan teknik-teknik konservasi semasa Kubilai
Khan ini akhirnya menyebar ke Eropa dan Amerika
melalui sorang saudagar ulung pada saat itu yaitu
Marcopolo
SEJARAH – MOTIF KONSERVASI DI EROPA

• Raja William I (1804 Masehi) dari Inggris


memerintahkan penyiapan The Domesday Book,
• Suatu buku yang berisi inventarisasi tanah, hutan,
daerah penangkapan ikan, areal pertanian, taman
buru dan sumberdaya produktif lain milik kerajaan,
• Buku tersebut digunakan sebagai dasar untuk
membuat perencanaan rasional bagi pengelolaan
sumberdaya alam dan pembangunan negara
SEJARAH – MOTIF KONSERVASI DI AMERIKA

• Pada awal-awal sejarah negara Amerika Serikat, para


pemimpin negaranya (George Washington, Thomas
Jefferson, Patrick henry, Jared Elliot, dan George
Perkins Marsh) telah menyatakan kekhawatirannya
tentang penipisan dan pemusnahan sumberdaya alam.
• Perhatian terbesar terhadap konservasi sumberdaya
alam baru dimulai pada abad 19, kira-kira mulai pada
tahun 1901.
• Bangsa Amerika Serikat memiliki tiga
gelombang gerakan konservasi (Owen,
O.S., 1980).
o Gelombang I : periode 1901 – 1909 dibawah
kepemimpinan Theodore Roosevelt dan
Gifford Pinchot (seorang penyair);
o Gelombang II : periode 1933 – 1941 dibawah
kepemimpinan Franklin D. Roosevelt;
o Gelombang III : periode sekitar 1962
dibawah kepemimpinan John F. Kennedy
sampai sekarang
Gelombang I (1901-1909)
• Theodore Roosevelt membuat pernyataan untuk
Kongres pada 1907 sebagai berikut : ”Penggunaan
sumberdaya alam disamping berguna untuk
meningkatkan manfaatnya ternyata telah mengotori air
dan udara, merusak sumber alam, membuka dan
menghabiskan lahan, juga akan menimbulkan
kekurangan barang tambang serta mengurangi
kemakmuran bagi generasi mendatang. Seharusnya kita
mengelola dan mengembangkannya untuk mereka”.
• Hasil Konferensi gedung Putih tahun 1908 (hadir para
Gubernur, ilmuwan, para pemimpin Kongres,
olahragawan dan ahli-ahli asing) adalah terbentuknya
Komisi Konservasi Nasional (beranggotakan para
ilmuwan, negarawan, olahragawan, dan para pengusaha)
yang diketuai oleh Gifford Pinchot.
• Mendorong pembentukan Badan Konservasi di
negara-negara bagian oleh para Gubernur.
• Komisi Konservasi nasional berhasil menyelesaikan
inventarisasi sumberdaya alam nasional yang
pertama.
• Berdasarkan hasil inventarisai sumberdaya alam
pertama, Theodore Roosevelt menarik 200 juta
are lahan-lahan umum dari penghunian menjadi
“cagar” permanen milik masyarakat,
penambahan hutan nasional seluas 148 juta are,
dan 105 juta are sebagai “cagar” daerah aliran
sungai.
Gelombang II (1933 – 1941)
• Pemerintahan Presiden F.D. Roosevelt berhasil dalam
menciptakan lapangan pekerjaan dan pemecahan
masalah sumberdaya alam.
• Dibawah Public Works Administration (PWA) yang
dibentuk tahun 1933, beberapa program
pengembangan sumberdaya dibuat dengan bantuan
badan-badan negara bagian seperti Badan Reklamasi
dan Korp Insinyur.
• Salah satu program PWA adalah Prairie State Forestry
Project, tujuannya membangun jalur pelindung dari
pepohonan untuk mengurangi pengaruh merusak dari
angin pada tanah-tanah pertanian.
• National Resource Board yang ditunjuk oleh F.D.
Roosevelt menyelesaikan inventarisasi sumberdaya
alam kedua pada tahun 1934.
• Melaui usaha dari National Resource Board, yang
diganti menjadi Komite Sumberdaya Nasional (1935),
berkembang dukungan perlunya perencanaan bagi
sumberdaya masa datang atas dasar sumberdaya masa
kini.
• Kebanyakan negara bagian juga membentuk Badan
Perencana Sumberdaya sebagai hasil dorongan dari
Komite Sumberdaya nasional.
• Civilian Conservation Corp (1933-1949), melibatkan
hampir 2,5 juta anak muda. Korp ini diorganisir dalam
2.652 kamp, masing-masing 200 orang, beberapa
berlokasi di taman-taman nasional. Mereka
membangun atau mengerjakan : saluran pencegah
kebakaran, menghilangkan bahaya-bahaya kebakaran,
memadamkan kebakaran hutan, pengendalian hama dan
penanaman berjuta-juta pohon, perbaikan danau dan
sungai, mengendalikan banjir, dll.
• Soil Erosion Service (1933) yang menjadi Soil
Conservation Service (1935) melakukan demonstrasi
teknik pengendalian erosi kepada para petani,
• Pada tahun 1936, F.D. Roosevelt mengadakan
Konferensi North American Wildlife and Resources yang
pertama. Dihadiri oleh para ahli pengelolaan
margasatwa, olahragawan, pejabat pemerintah, dengan
tujuan (1) survai sumberdaya satwaliar, (2) pernyataan
masalah-masalah konservasi satwaliar, (3) teknik dan
kebijakan yang digunakan untuk memecahkan masalah-
masalah tersebut.
• Melalui Peraturan Restorasi Margasatwa tahun
1937, negara bagian diberi bantuan keuangan
untuk meningkatkan keterampilan dan
pengembangan tanah-tanah yang cocok untuk
margasatwa (seperti padang rumput untuk
ayam, tanah rawa untuk unggas, dll.).
Gelombang III (1962 - sekarang)
• Gambaran utama program jaman J.F. Kennedy adalah :
• pengawetan daerah-daerah hutan rimba,
• pengembangan sumberdaya kelautan,
• pencadangan pantai yang dapat digunakan untuk
umum,
• perluasan daerah rekreasi,
• peningkatan penyediaan air tawar melalui
desalinasi,
• penertiban tata ruang daerah perkotaan,
• perumusan rencana pengembangan sumberdaya
air dari seluruh DAS,
• meningkatkan pencegahan semua bentuk
pencemaran,
• meningkatkan gairah para ilmuwan dan ahli
teknknologi untuk mengembangkan
sumberdaya alternatif dalam waktu singkat,
• mengorganisir perkumpulan konservasi para
pemuda untuk dapat melakukan berbagai
programnya
• Pada saat Presiden Johnson banyak peraturan
yang diundangkan, meliputi :
 peningkatan sumberdaya manusia,
 pengawasan pencemaran udara dan air,
 pengawetan daerah-daerah rimba,
 Keindahan lingkungan.
• Konservasi sumberdaya alam dan peningkatan
lingkungan hidup manusia dilaksanakan secara baik
selama dekade 1970-an dibawah pemerintahan
Nixon, Ford, dan Carter.
• Senjata pergerakan para ahli konservasi sumberdaya
dan lingkungan di Amerika Serikat adalah undang-
undang Kebijaksanaan Lingkungan Nasional tahun
1970. Inti dari undang-undang ini adalah bahwa
integritas lingkungan tidaklah harus
dikorbankan di atas apa yang disebut kemajuan
ekonomi dan teknologi.
• Selama tahun 1970-an, sejumlah undang-undang
penting telah dikeluarkan :

1. UU Pembersihan Udara (1970)


2. UU Pengawasan Kebisingan (1972)
3. UU Pengawasan pencemaran Air (1972)
4. UU jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa Langka (1973)
5. UU Pengamanan Air Minum (1974)
6. UU Pengawasan Bahan Pengganti Beracun (1976)
7. UU Pemasangan Jalur Minyak (1977)
8. UU Lingkungan (1978)
GERAKAN KONSERVASI
DI INDONESIA

• Sebuah cagar alam seluas 6 ha di Depok (Bogor) telah


ada sejak tahun 1714.
• Cagar alam di Depok merupakan salah satu perwakilan
ekosistem hutan hujan dataran rendah.
• Secara resmi diakui bahwa cagar alam pertama di
Indonesia adalah Cagar Alam Cibodas (Gunung Gede)
seluas 280 ha yang ditetapkan pada tahun 1889 (sekitar
175 tahun setelah Cagar Alam Depok).
• Cagar Alam Cibodas merupakan perwakilan ekosistem
hutan hujan pegunungan karena letaknya pada sekitar
2.000 m dpl.
• Periode 1910 – 1940 merupakan periode
awal perhatian yang besar bagi
konservasi alam di Indonesia

• Perkembangan konservasi alam di


Indonesia tercatat maju pesat Setelah
berdirinya Perhimpunan Konservasi
Alam (Society of Nature Conservation)
Pada tahun 1912 yang diketuai seorang
Rimbawan Belanda , Dr Koorders.
• Tokoh-tokoh konservasi alam pada periode 1910-1940
adalah Dr Koorders, F.J. Appelman (rimbawan dan
propagandaist), dan Dr K.W. Dammerman (sebagai
Ketua Perhimpunan Konservasi Alam yang
menggantikan Dr Koorders).
• Pada periode 1910-1940 kegiatan konservasi alam telah
didukung oleh beberapa peraturan perundang-undanga
penting, khususnya menyangkut : perlindungan
satwaliar, perburuan (khusus berlaku untuk Jawa
dan Madura), Larangan ekspor kulit binatang dan bulu
(Burung Cendrawasih), dan perlindungan alam
• Secara kronologis kelembagaan dalam bidang
konservasi alam di Indonesia sejak tahun 1909 adalah
sebagai berikut (disamping peraturan-peraturan-
peraturan pemerintah penjabarannya):

1. undang-undang perlindungan satwaliar tahun 1909


2. undang-undang suaka alam tahun 1916
3. undang-undang perburuan tahun 1924
4. undang-undang tahun 1931 pengganti uu.
Perburuan tahun 1924
5. undang-undang tahun 1931 pengganti uu.
perlindungan satwaliar tahun 1909
6. undang-undang cagar alam dan suaka margasatwa
7. undang-undang perburuan tahun 1940, pengganti
undang-undang perburuan tahun 1931
8. undang-undang perlindungan alam tahun 1941,
pengganti undang-undang cagar alam dan suaka
margasatwa tahun 1931
9. 1965 – 1973 dibentuk Dinas Perlindungan dan
Pengawetan Alam di bawah Direktorat Pembinaan
Hutan
10. undang-undang tentang pokok-pokok kehutanan
tahun 1967
11. 1974 – 1980 dibentuk Direktorat Perlindungan dan
Pengawetan Alam (PPA), Ditjen Kehutanan, Dept.
Pertanian
12. 1980 dibentuk Ditjen Perlindungan Hutan dan
Pelestarian Alam (PHPA) Dept. Kehutanan
13. undang-undang tentang pokok-pokok pengelolaan
lingkungan hidup tahun 1982
14. undang-undang tentang konservasi sumberdaya alam
hayati dan ekosistemnya tahun 1990
15. 1997 Ditjen PHPA berganti nama menjadi
Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam (PHKA)
16. undang-undang tentang pengelolaan
lingkungan hidup tahun 1997, pengganti
undang-undang tahun 1982
17. undang-undang tahun 1999 tentang
Kehutanan, pengganti uu. tentang pokok-pokok
kehutanan tahun 1967
TERIMA
KASIH