Anda di halaman 1dari 85

PROGRAM/SISTEM

PELAYANAN KESEHATAN DI INDONES

TIM KOMUNITAS STIKES BETHESDA


YAKKUM YOGYAKARTA
PENGERTIAN SKN
Pengelolaan kesehatan yang
diselenggarakan oleh semua komponen
bangsa Indonesia secara terpadu da
saling mendukung guna menjamin
ercapainya derajat kesehatan masyaraka
yang setinggi-tingginya.

Berjenjang di Pusat dan Daerah


Memperhatikan otonomi daerah dan otonomi fungsional di bidang kesehatan
Pasal 167 UU 36/2009
• Pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan
oleh Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau
masyarakat melalui pengelolaan
- administrasi kesehatan,
- informasi kesehatan,
- sumber daya kesehatan,
- upaya kesehatan,
- pembiayaan kesehatan,
- peran serta dan pemberdayaan masyarakat,
- ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan, serta
- pengaturan hukum kesehatan.
Siatem Kesehatan Nasional diatur dalam Peraturan Presiden
Pengelolaan Kesehatan dalam SKN
• Berjenjang di Pusat dan Daerah
• Memperhatikan otonomi daerah dan otonomi
fungsional di bidang kesehatan

(Perpres 72/2012 Pasal 1 angka 2)


Tujuan SKN
• Menjadi acuan dalam penyusunan dan pelaksanaan
pembangunan kesehatan yang dimulai dari kegiatan
perencanaan sampai dengan kegiatan monitoring dan
evaluasi; (Pasal 5)
• Terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua
komponen bangsa, baik Pemerintah, Pemerintah
Daerah, dan/atau masyarakat termasuk badan hukum,
badan usaha, dan lembaga swasta secara sinergis,
berhasil guna dan berdaya guna, sehingga terwujud
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
(Butir 96 Lampiran)
HISTORIS SKN
KEPMENKES
131/2004 PERPRES
SKN 2004
disusun 02-03
72/2012
2004 2012
disusun 10-12

SKN 2012

SKN 2009 P 167 (4)


UU 36 / 2009
disusun 08-09 ttg Kesehatan
1982 2009 ditetapkan Presiden 13 Agus 2012
diundangkan Menkumham 17 Okt 2012
SKN 1982 KEPMENKES
Komposisi:
disusun 80-82 .../2009
10 Pasal
KEPMENKES 485 Butir Lampiran
99a/1982
SUB-SISTEM SKN
UPAYA KESEHATAN
LITBANG

PEMBIAYAAN
SUMBER DAYA MANUSIA

FARMASI, ALKES, MAKANAN


MANAJEMEN, INFORMASI, REGULASI

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Gambar 1
ALUR PIKIR
SISTEM KESEHATAN NASIONAL

PARADIGMA NASIONAL
(PANCASILA, UUD 1945,WASANTARA, TANNAS,)

(UU 23/1992 Kesehatan, UU 17/2007 RPJPN)

RPJPK DAN SKN DERAJAT


KESMAS RAKYAT
(Arah, dasar, SEHAT
TUJUAN
YG NASIONAL
bentuk dan cara SETINGGI-
PRODUKTIF

- KETIDAKPASTIAN penyelenggaraan TINGGINYA


HUKUM Bangkes)
- PERILAKU
MASYARAKAT
BURUK
- INGKUNGAN BURUK.
- RAWAN PANGAN
DAN RAWAN GIZI
LINGKUNGAN STRATEGIS:
- AKSES PELAYANAN
PUBLIK BURUK (Ideologi, Politik, Ekonomi Sosial Budaya
- SUMBER DAYA dan Pertahanan Keamanan)
KESEHATAN GLOBAL, REGIONAL, NASIONAL, LOKAL
TERBATAS
PELUANG/KENDALA
PELAKSANAAN SKN (1)
• Oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,
dan/atau masyarakat;
• Secara berkelanjutan, sistematis, terarah,
terpadu, menyeluruh, dan tanggap terhadap
perubahan dengan menjaga kemajuan,
kesatuan, dan ketahanan nasional;
• Berdasarkan standar persyaratan dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku
(Pasal 4)
PELAKSANAAN SKN (2)
• Ditekankan pada peningkatan perilaku dan
kemandirian masyarakat, profesionalisme
sumber daya manusia kesehatan, serta upaya
promotif dan preventif tanpa
mengesampingkan upaya kuratif dan
rehabilitatif.

(Pasal 6 (1))
PELAKSANAAN SKN (3)
Harus memperhatikan:
a. cakupan pelayanan kesehatan berkualitas, adil, dan merata;
b. pemberian pelayanan kesehatan yang berpihak kepada
rakyat;
c. kebijakan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan dan
melindungi kesehatan masyarakat;
d. kepemimpinan dan profesionalisme dalam pembangunan
kesehatan;
e. inovasi atau terobosan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang etis dan terbukti bermanfaat dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan secara luas, termasuk
penguatan sistem rujukan;

(Pasal 6 (3))
f. pendekatan secara global dengan
mempertimbangkan kebijakan kesehatan yang
sistematis, berkelanjutan, tertib, dan responsif
gender dan hak anak;
g. dinamika keluarga dan kependudukan;
h. keinginan masyarakat;
i. epidemiologi penyakit;
j. perubahan ekologi dan lingkungan; dan
k. globalisasi, demokratisasi dan desentralisasi dengan
semangat persatuan dan kesatuan nasional serta
kemitraan dan kerja sama lintas sektor.
1. SUB-SISTEM UPAYA KESEHATAN
• Upaya kesehatan diselenggarakan oleh
Pemerintah (termasuk TNI dan POLRI),
pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota,
dan/atau masyarakat/swasta melalui upaya
peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
pengobatan, dan pemulihan kesehatan, di
fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
kesehatan
Unsur-Unsur
a. upaya kesehatan;
- promotif sd rehabilitatif
b. fasilitas pelayanan kesehatan;
- Primer, sekunder, tertier
c. sumber daya upaya kesehatan;
- SDM, Faskes, pembiayaan, sarana-prasarana,
farmasi-alkes, manajemen, informasi, regulasi
d. pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan
- standarisasi, sertifikasi, lisensi, akreditasi, dan
penegakan hukum
Prinsip
• a. terpadu, berkesinambungan, dan paripurna;
• b. bermutu, aman, dan sesuai kebutuhan;
• c. adil dan merata;
• d. nondiskriminasi;
• e. terjangkau;
• f. teknologi tepat guna; dan
• g. bekerja dalam tim secara cepat dan tepat.
Pelayanan kesehatan Primer
• Yankes Perorangan Primer
- diselenggarakan berdasarkan kebijakan pelayanan
kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah
dengan memperhatikan masukan dari Pemerintah
Daerah, organisasi profesi, dan/atau masyarakat.
• Yankes Masyarakat Primer
- tanggung jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
dapat didelegasikan kepada Puskesmas, dan/atau
fasilitas pelayanan kesehatan primer lainnya yang
diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah dan/atau masyarakat
2. SUB-SISTEM LITBANG
• Pengelolaan penelitian dan pengembangan
kesehatan terbagi atas
- penelitian dan pengembangan biomedis dan
teknologi dasar kesehatan,
- teknologi terapan kesehatan dan epidemiologi
klinik,
- teknologi intervensi kesehatan masyarakat,
- humaniora, kebijakan kesehatan, dan
pemberdayaan masyarakat
Prinsip
• a. terpadu, berkesinambungan, dan paripurna;
• b. akurat dan akuntabel;
• c. persetujuan setelah penjelasan;
• d. bekerja dalam tim secara cepat dan tepat;
• e. norma agama;
• f. kebenaran ilmiah; dan
• g. perlindungan terhadap subjek penelitian
dan etik.
3. SUB-SISTEM PEMBIAYAAN
• Public good menjadi tanggung jawab
pemerintah, sedangkan untuk pelayanan
kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat
privat, kecuali pembiayaan untuk masyarakat
miskin dan tidak mampu menjadi tanggung
jawab pemerintah.
• Diharapkan akan mencapai universal health
coverage sesuai dengan UU NO 40 /2004
tentang SJSN dan UU No 24 / 2011 tentang BPJS
Unsur
• Dana digali dari sumber Pemerintah,
Pemerintah Daerah, dari masyarakat, maupun
swasta serta sumber lainnya
• Sumber daya dari subsistem pembiayaan
kesehatan, meliputi: sumber daya manusia
pengelola, sarana, standar, regulasi, dan
kelembagaan
• Prosedur/mekanisme pengelolaan
Prinsip
• a. kecukupan;
• b. efektif dan efisien; dan
• c. adil dan transparan
4. SUB-SISTEM SDM KESEHATAN
• Bermutu, Terdistribusi “merata”
• Fokus penting pada pengembangan dan
pemberdayaan sumber daya manusia
kesehatan guna menjamin ketersediaan,
pendistribusian, dan peningkatan kualitas
sumber daya manusia kesehatan.
• Perencanaan, pengadaan, pendayagunaan,
pembinaan dan pengawasan
Hak-Kewajiban
• SDM kesehatan mempunyai hak untuk
memenuhi kebutuhan dasarnya (hak asasi)
sebagai makhluk sosial, wajib memiliki
kompetensi, kewenangan untuk mengabdikan
dirinya di bidang kesehatan, mempunyai etika,
berakhlak luhur, dan berdedikasi tinggi dalam
melakukan tugasnya
Prinsip
• a. adil dan merata serta demokratis;
• b. kompeten dan berintegritas;
• c. objektif dan transparan; dan
• d. hierarki dalam sumber daya manusia
kesehatan
5. SUB-SISTEM SEDIAAN FARMASI, ALKES,
MAKANAN
• Kegiatan untuk menjamin: aspek keamanan,
khasiat/kemanfaatan dan mutu sediaan
farmasi, alat kesehatan, dan makanan;
• Ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan
obat, terutama obat esensial; perlindungan
masyarakat dari penggunaan yang salah dan
penyalahgunaan obat;
• Penggunaan obat yang rasional; serta upaya
kemandirian di bidang kefarmasian melalui
pemanfaatan sumber daya dalam negeri
Unsur
• a. komoditi;
• b. sumber daya;
• c. pelayanan kefarmasian;
• d. pengawasan; dan
• e. pemberdayaan masyarakat
Prinsip
• a. aman, berkhasiat, bermanfaat, dan
bermutu;
• b. tersedia, merata, dan terjangkau;
• c. rasional;
• d. transparan dan bertanggung jawab; dan
• e. kemandirian.
6. SUB-SISTEM MANAJEMEN, INFORMASI
DAN REGULASI KESEHATAN
• Peranan manajemen kesehatan adalah
koordinasi, integrasi, regulasi, sinkronisasi,
dan harmonisasi berbagai subsistem SKN agar
efektif, efisien, dan transparansi dalam
penyelenggaraan SKN
Unsur
• a. kebijakan kesehatan;
• b. administrasi kesehatan;
• c. hukum kesehatan;
• d. informasi kesehatan; dan
• e. sumber daya manajemen kesehatan
Prinsip
• a. inovasi atau kreativitas;
• b. kepemimpinan yang visioner bidang
kesehatan;
• c. sinergisme yang dinamis; dan
• d. kesesuaian dengan sistem pemerintahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
7. SUB-SISTEM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

• Upaya pemberdayaan perorangan, keluarga


dan masyarakat akan berhasil pada
hakekatnya apabila kebutuhan dasar
masyarakat sudah terpenuhi.
• Pemberdayaan masyarakat dan upaya
kesehatan pada hakekatnya merupakan fokus
dari pembangunan kesehatan.
Unsur
• a. penggerak pemberdayaan;
• b. sasaran pemberdayaan;
• c. kegiatan hidup sehat; dan
• d. sumber daya.
Prinsip
• a. berbasis masyarakat;
• b. edukatif dan kemandirian;
• c. kesempatan mengemukakan pendapat dan
memilih pelayanan kesehatan; dan
• d. kemitraan dan gotong royong
CARA PENYELENGGARAAN SKN
• Pengelolaan kesehatan mencakup kegiatan
perencanaan, pengaturan, pembinaan dan
pengawasan serta evaluasi penyelenggaraan
upaya kesehatan dan sumber dayanya secara
serasi dan seimbang dengan melibatkan
masyarakat
• Memperhatikan nilai Prorakyat, inklusif,
responsif, efektif, bersih
• Berjenjang: Pusat Daerah,
mempertimbangkan komitmen global
GERMAS DAN STRATEGI
INTERVENSI KEP KOMUNITAS
GERMAS
Permasalahan kesehatan yang timbul saat ini merupakan akibat dari perilaku hidup yang tidak sehat ditambah sanitasi
lingkungan serta ketersediaan air bersih yang masih kurang memadai di beberapa tempat.

praktik hidup sehat merupakan salah satu wujud Revolusi Mental. GERMAS mengajak masyarakat untuk membudayakan
hidup sehat

Pencanangan GERMAS menandai puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52 yang jatuh pada 12
November 2016
KEMENKES RI, 2017
Gerakan masyarakat hidup sehat

INSTRUKSI PRESIDEN RI
NO1 th 2017
GERMAS

UPAYA PROMOTIF DAN PREVENTIF,MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PENDUDUK DAN MENURUNKAN BIAYA PELKES AKBT SAKIT
INSTRUKSI PRESIDEN RI NO1 th 2017 GERMAS
Penyediaan pangan sehat dan
percepatan perbaikan gizi;
Peningkatan pencegahan dan deteksi
dini penyakit

Peningkatan kualitas lingkungan,


Peningkatan perilaku Germas Peningkatan edukasi hidup sehat
hidup sehat

Meningkatkat aktivitas fisik


bentuk pelayanan profesional yg merupakan
bagian integral dari yankes yg didasarkan pada
Pelayanan ilmu & kiat Keperawatan ditujukan kepada
Keperawatan individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat,
baik sehat maupun sakit

Praktik pelayanan yang diselenggarakan oleh Perawat


Keperawatan dalam bentuk Asuhan Keperawatan

Asuhan rangkaian interaksi Perawat dengan Klien &


Keperawatan lingkungannya untuk mencapai tujuan
pemenuhan kebutuhan & kemandirian Klien
dlm merawat dirinya

Kementerian Kesehatan RI
3 level pencegahan penyakit
Primer:
Promkes secara umum: seperti nutrisi, hygoene, ecercise, proteksi lingkungkang
Promes spesifik: imunisasi, penggunaan alat proteksi diri

Sekunder: deteksi awal dari penyakit dan pengobatan awal agar tdk terjadi sakit
lebih lanjut
Cth: skrining hiperetnsi, tes mantux, tes audiometri, pengobatan awal
ps pnykt2 infeksi : PMS

Tersier: pemulihan setelah sakit


Aktivitas fisik terapi pd ps stroke, ecercise program pd psi jantung,
konseling lanjut pd ps gganguan jiwa atau masalah menta.
STRATEGI INTERVENSI Promkes tdr:
• Desiminasi informasi: penkes

KEPERAWATAN KOMUNITAS
Promosi
memunculkan kesadaran
masyrakat thd perilaku
kesehatan
• Modifikasi gaya hidup
kesehatan • Penataan lingkungan

Pemberdayaan:
Proses kelompok: Keg. kep.komunitas dg melibatkan
melibatkan peran serta masy, sec aktif u/ menyelesaikan
masyrakat melalui peer maslh komunitas , masy sbgi
subyek dlm menyelesaikan
group, support group masalah

Kerjasama dpt melibatkan


pemerintah,
Kemitraan : hub. (kelurahan,dinkes, dinas
Kerjasama antara pendidikan, LSM dan pihak
dua pihak atau lebih Swasta
PEMBERDAYAAN MELALUI
PARTISIPASI KOMUNITAS
• Partisipasi komunitas merupakan proses sosial yang melibatkan orang-
orang dari wilayah geografis spesifik yang berbagi nilai dalam
mengidentifikasi kebutuhan komunitas/ masyarakat.
• Rifkin (1986 dalam Anderson & Mc. Farlane (2011) menggambarkan 3
pendekatan partisipasi komunitas dalam program kesehatan yaitu
a. Pendekatan medis  fokus pada pengobatan penyakit
b. Pendekatan pelayanan kesehatan  menggerakkan warga
untuk aktif berperan dalam memanfaatkan faskes dalam
memodifikasi perilaku tidak sehat
c. Pendekatan pengembangan komunitas  masyarakat
dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan untuk
meningkatkan kesehatan.
3 pendekatan partisipasi komunitas

• Pedekatan Medis Menekankan


Pelayanan Primer
(Primary Care)

• Pendekatan Pelayanan
Kesehatan
Menekankan Pelayanan
Kesehatan Primer (Primary
• Pendekatan Pengembangan Health Care)
Komunitas
KOMPONEN PENTING PARTISIPASI
KOMUNITAS

Komponen
Partisipasi
Komunitas

Mekanisme untuk
memobilisasi komunitas
untuk mengenalkan
kebutuhan

Berbagi kesadaran Kerangka kerja untuk


oleh anggota mendefinisikan
masyarakat komunitas
ELEMEN PENTING PEMBERDAYAAN
KOMUNITAS

Elemen
pemberdayaa
n

Partisipasi efektif
(Keputusan
diimplementasikan)

Melibatkan pilihan Proses aktif (tidak


(hak untuk membuat menghakimi,
keputusan) mutualitas)
PENYEMBUHAN KOMUNITAS`
• Holisme adalah dasar hubungan yang penting dari pikiran-tubuh-
jiwa untuk mencapai penyembuhan hakiki
• Penyembuhan adalah proses dinamisasi energi yang saling
berinteraksi secara mutual dalam diri manusia sehingga memiliki
integritas pemahaman tentang keutuhan hubungannya dengan diri
sendiri, orang lain, dan lingkungan.
• Proses penyembuhan mencakup fisik dan mental yang
memungkinkan pemulihan kondisi seseorang atau komunitas dari
masalah dan menikmati potensi dalam dirinya sebagai manusia yang
utuh.

Penyembuhan
1. Fisik
2. Mental
Sistem Pelayanan Kesehatan Biomedis
• Sistem Pengobatan-Sakit
• Dominasi Model Yankes
• Tidak memaksimalkan Potensi manusia
• Hasil yang dapat diprediksi

Tidak ada hubungan yang tepat

Perawat Komunitas
• Membantu Komunitas untuk menjadi
Kesatuan yang utuh Hubungan yang tepat
• Mengubah Komunitas melalui
• Keterkaitan Komunitas
pemberdayaan dan Penyembuhan
• Aktualisasi diri Komunitas
• Menganut Teori Kompleksitas

Pemberdayaan dan Penyembuhan Komunitas


• Hubungan Harmonis yg seimbang
• Keutuhan Model Pemberdayaan dan
• Kemungkinan Multidimensi Penyembuhan Komunitas
• Hasil yg kreatif dan tidak dapat diprediksi
• Komunikasi
antarindividu kunci Keyakinan Dalam diri
Harapan dalam perubahan pemberdayaan
positif yang masyarakat
mengntungkan komunitas
yang utuh

Karakteristik
Komunitas yang
diberdayakan

Mendiskusikan Kepercayaan
Pemikiran Kritis tanpa Terbentuk Melalu
takut berbenturan Dialog
dengan pemegang
Kekuasaan
Pemberdayaan Komunitas melalui
Penyembuhan
Komponen Penyembuhan Hubungan yang Tepat
• Harapan (Perhatian Bersama)
• Kepercayaan
• Keyakinan

Dialog

Berpikir Kritis
Pemberdayaan
Cara Meningkatkan Kesadaran
Penyembuhan
Hubungan yang Tepat
• Harapan
• Kepercayaan Pendidi
kan
• Keyakinan
• Pemikiran Kritis

Kesadaran
Penyembuhan og
Dial
Komunitas

Kebangkitan
Spiritual
TAHAP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Tahap persiapan (SDM/ tenaga pemberdaya, sarana/
lapangan)
Tahap pengkajian (menggunakan metode FGD, curah pendapat atau
nominal group process)  masy dilibatkan secara aktif agar
permasalahan yang dirasakan dari masy sendiri

Tahap perencanaan kegiatan diskusi mengenai alternatif program


dan tujuan yang ingin dicapai. Perawat sebagai fasilitator berdiskusi
tentang rencana program

Tahap implementasi  dilandasi kerjasama yang baik antara perawat


dengan masy maupun antar masy agar rencana yg telah disusun
tercapai

Tahap evaluasi  proses pengawasan terhadap program yg


sedang dijalankan. Evaluasi diharapkan dapat memberikan
feedback bagi perbaikan program

Tahap terminasi pemutusan hub secara


formal kr masyarakt telah mampu mandiri.
Terminasi dilakukan secara bertahap, jk
program belum diselesaikan dengan baik maka
kontak tetap dilakukan namun tdk rutin dan
dikurangi perlahan
PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR

TIM TEACHING KOMUNITAS STIBETH


PEMBERANTASAN PENYAKIT
MENULAR(P2M)

Adalah : Menghilangkan atau merubah cara berpindahnya penyakit


menular dan /infeksi


Penularan lansung dari manusia ke manusia,misalnya TB dan penyakit kelamin

Penularan tidak langsung

Perantara benda/yang kotor(ada kumannya) misalnya: perjalanan najis ke mulut ,biasanya kolera dan disentri

Perantara serangga atau gigitan binatang,misalnya malaria,filaria,dengue demam berdarah dan rabies

Cara-cara penularan penyakit menular:


 Puskesmas dapat banyak sekali
mengurangi kejadian (incidence)penyakit
menular
a) Wabah: peningkatan kejadian
kesakitan/kematian yang telah meluas secara
tepat baik jumlah kasus maupun luas daerah
terjangkit
b) KLB: timbulnya suatu kejadian/kematian dan
atau meningkatnya suatu kejadian yang
bermakna secara epidemiologis pada suatu
kelompok penduduk dalam kurun waktu
tertentu
Penyakit penyakit menular
yang dilaporkan

Kelompok penyakit menular


Penyakit karantina/penyakit wabah penting: kholera, pes, difteri

Penyakit potensial wabah/klb yang menjalar dalam waktu cepat atau
mempunyai mortalitas tinggi,dan memerlukan tindakan segera: campak, rabies,
diare

Penyakit potensial wabah/klb dan beberapa penyakit penting: malaria,
hepatitis, enchepalitis, frambusia, tifus abdominalis, tetanus, influenza

Penyakit menular yang tidak berpotensi wabah tapi telah diprogramkan:
cacing, lepra, tubercolosa, sifilis, gonorhea
 Untuk peny menular, prioritas mash tertuju pd
peny HIV/ AIDS, Tuberculosis, Malaria, DBD,
Influenza dan Flu burung dan blm berhasil
mengendalikan peny neglected diseases seperti
kusta, filariasis, leptospirosis,dll.
 Prevalensi HIV/ AIDS cenderung meningkat
0.16% (2009) menjadi 0,43% (2013)
 Angka kematian DBD menurun 41.3%
Sumber : Kemenkes 2015
• Indonesia sdg mengalami double burden
penyakit, yaitu peny menular dan peny tidak
menular sekaligus.
• Penyakit tidak menular: hipertensi,
DM,KANKER, dan PPOK.
• Jumlah kematian akibat rokok terus meningkat
dari 41,75% (1995) menjadi 59.7% (2007)
• Penduduk miskin menghabiskan 12,6%
penghasilannya unt konsumsi rokok

Sumber : Kemenkes 2015


Tujuan
Pemberantasan Penyakit Menular

Mencegah terjadinya penularan penyakit

Mengurangi kesakitan

Mengurangi kematian
Langkah langkah pemberantasan
penyakit menular

Pengama ●
Mengumpulkan dan menganalisa data tentang

tan dan
penyakit

Melaporkan penyakit menular

Menyelidiki dilapangan untuk melihat benar atau

pembera
tidaknya laporan yang masuk untuk menemukan
kasus kasus lagi dan untuk mengetahui sumber
penularan

ntasan

Tindakan permulaan untuk menahan
penjalarannya(containment)

Menyembuhkan penderita,hingga ia tidak lagi

terdiri
menjadi sumber infeksi

Pengebalan( imunisasi)

Pemberantasan vektor (pembawa penyakit )

dari:

Pendidikan Kesehatan
RIWAYAT
ALAMIAH Tingkat pencegahan
PENYAKIT

1. PRE
PATOGENESIS BEAGLEHOLE
2. INKUBASI LEAVEL & (WHO 1930)
(PATOGENESIS)
3. TAHAP CLARK
PENYAKIT DINI
1. PRIMORDIAL
4. TAHAP 1. HEALTH PROMOTION PREVENTION (awal
PENYAKIT
2. GENERAL & SPESIFIK preptogenesis)
LANJUT
PROTECTION 2. PRIMARY PREVENTION
5. TAHASP
3. EARLY DIAGNOSIS & ( 1 +2 )
PENYAKIT AKHIR
PROMPT TREATMENT 3. SECONDARY
:
4. DISSABILITY LIMITSTION PREVENTION ( 3)
a. sembuh
4. TERTIARY PREVENTION
sempurna 5. REHABILITAION
(4)
b. sembuh cacat
c. karier
d. kronis
e. meninggal
USAHA PENCEGAHAN

1. CONTROL THD SUMBER ATAU


RESERVOIR INFEKSI.

2. MEMUTUSKAN RANTAI
PENULARAN

3. PROTEKSI PD KELOMPOK
PENDUDUK RENTAN
CONTROL SUMBER INFEKSI

1. Diagnosis dini
2. Notifikasi / pemberitahuan kpd
semua pihak
3. Isolasi
4. Terapi
5. Karantina
6. Surveilans epidemiologi
7. Desinfeksi
MEMUTUS RANTAI
PENULARAN
1. Vechile (pembawa) transmission
2. Vektor (perantara) transmission
3. Air born transmission
4. Contact transmission
PROTEKSI KELOMPOK
RENTAN
1. Imunisasi aktif
2. Imunisasi pasif
3. Kemo propilaksi
4. Pendidikan kesehatan
DEMAM BERDARAH
 Demam berdarah(dengue haemorrhagic
fever=DHF) : suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengan dan ditularkan melalui
nyamuk aedes aegepti,terutama menyerang anak-
anak dan dapat menyebabkan kematian.

 Tanda tanda dan gejala:


1. Hari ke1: timbul panas mendadak (suhu badan 38-40),
badan lemah dan lesu
2. Hari ke2: petechie pada kulit,muka,lengan,paha
3. Kadang terjadi perdarahan hidung
4. Hari ke 4-7. Bila keadaan parah penderita gelisah, keringat
banyak, ujung - ujung kaki dan tangan dingin
a) Pemeriksaan laboratorium
1. Trombositopenia (100.000/mm atau kurang)
2. Nilai Hct meningkat:
x 10 % = 26%
b) Diagnosa
adanya 2 atau 3 kriteria klinik yang pertama disertai
adanya trombocitopenia sudah cukup menegakan
diagnosa

c) Cara penularan /penyebaran ditularkan


oleh nyamuk aedes agepty
 TUJUAN

Tujuan pemberantasan demam berdarah dengue adalah mengusahakan


penurunan angka kematian dan insidensi demam berdarah dengue
serendah mungkin

 KEGIATAN

a) Pengamatan Epidemiologi dan tindakan pemberantasa


1. Surveilance epidemilogi
2. Surveilance vektor
3. Pemberantasan vektor
4. Pertolongan terhadap penderita

b) Penyuluhan dan pengarahn masyarakat untuk PSN


c) Pelaporan penderita dan pelaporan kegiatan
TUBERCOLOSIS PARU

 Tubercolosis: penyakit menular yang bersifat


menahunoleh kuman Mycobacterium
tubercolosis,penyakit ini menyerang paru paru.

 Ciri ciri khas:


- Biasanya ditemukan melalui pemeriksaan tubekculine
test(hal yang penting bagi anak dibawah 5 tahun)
dan dengan sinar tembusan x
-Tingkat lanjut ditemukan mycobacterium dalam
dahak,gejala klinis :batuk,terkadang darah dalam
dahak,demam,BB menurun
- Mengganas pada bayi dan anak kecil
• Tujuan pemberantasan tubercolosis
paru adalah mengurangi kesakita
tubercolosis paru serendah mungkin
dan mencegah penyebaran penyakit
dengan BTA positif
Kegiatan

a) Pengamatan epidemiologi dan tindakan


pemberantasan
 Penderita TB paru yang ditemukan baik pada
kunjungan dalam gedung maupun luar gedung
puskesmas harus dicatat dan dialporkan
 Penderita tersangka TB paru yang berumur 15
tahun ke atas harus diperiksa dahaknya
sebanyak tiga kali berturut- turutalam
 Bila dalam dahaknya ditemukan BTA,berikan
penjelasan tentang pengobatanyang harus
dijalani
Panduan obat TB dan dosisnya

NAMA OBAT FASE INTENSIF FASE INTERMITEN DUA

  SETIAP HARI MINGGU KALI SEMINGGU

KE1 -4 MINGGU KE 5 -26

Rifampisin 450 mg (1 Tablet TB 4) 600 mg (1 Kaplet TB 6)

     

Etambutol LOOOmg (2 tablet TB 2) —

     

I.N.H. 400 mg (1 tablet TB 4 700 mg (1 tablet TB 4

  yang mengandung Vit B6 dan 1 tablet TB 3)

10 mg)
Kegiatan
a. Penilaian Pengobatan
b. Rujukan Penderita
Penderita yang mengalami kegagalan
pengobatan disertai dengan kekebalan
kuman terhadap salah satu atau beberapa
obat anti TB yang perna dipakai
c. Penyuluhan kesehatan
d. Vaksinasi B.C.G
Sasaran
1. Anak anak:3-14 tahun
2. Anak anak:6-7 tahun(usia
masuk
sekolah)
3. Anak anak: 13- 14 tahun(usia
keluar SD)
PENYAKIT TIDAK MENULAR
KARAKTERISTIK PTM

1. tidak melalui rantai penularan tertentu


2. masa inkubasi panjang
3. berlangsungnya penyakit berlarut-larut (kronik)
4. kesulitan mendiagnosis
5. variasi luas
6. penanggulangan biaya tinggi
7. multikausal
PENYAKIT - PENYAKIT TIDAK MENULAR YANG BERSIFAT KRONIS

Penyakit yang termasuk di dalam


penyebab utama kematian, yaitu :
• Ischaemic Heart Disease
• Cancer
• Cerebrovasculer Disease
• Chronic Obstructive Pulmonary
Disease
• Cirrhosis
• Diabetes Melitus
• Penyakit yang termasuk dalam special –
interest, banyak menyebabkan masalah
kesehatan tapi jarang frekuensinya
(jumlahnya), yaitu :
• Osteoporosis
• Penyakit Ginjal kronis
• Mental retardasi
• Epilepsi
• Lupus Erithematosus
• Collitis ulcerative
Penyakit yang termasuk akan menjadi
perhatian yang akan datang, yaitu :
• Defisiensi nutrisi
• Akloholisme
• Ketagihan obat
• Penyakit-penyakit mental
• Penyakit yang berhubungan dengan
lingkungan pekerjaan.
FAKTOR RISIKO
• Faktor resiko untuk timbulnya penyakit tidak menular
yang bersifat kronis belum ditemukan secara
keseluruhan,
• Untuk setiap penyakit, faktor resiko dapat berbeda-
beda (merokok, hipertensi, hiperkolesterolemia)
• Satu faktor resiko dapat menyebabkan penyakit yang
berbeda-beda, misalnya merokok, dapat menimbulkan
kanker paru, penyakit jantung koroner, kanker larynx.
• Untuk kebanyakan penyakit, faktor-faktor resiko yang
telah diketahui hanya dapat menerangkan sebagian
kecil kejadian penyakit, tetapi etiologinya secara pasti
belum diketahui
• Faktor-faktor resiko yang telah diketahui ada kaitannya dengan
penyakit tidak menular yang bersifat kronis antara lain :
• Tembakau
• Alkohol
• Kolesterol
• Hipertensi
• Diet
• Obesitas
• Aktivitas
• Stress
• Pekerjaan
• Lingkungan masyarakat sekitar
• life style
TERIMA KASIH