Anda di halaman 1dari 34

PERENCANAAN

PERKERASAN
JALAN BETON
SEMEN

Pd T-14-2003
Kementerian Pekerjaan Umum
PERENCANAAN PERKERASAN
JALAN BETON SEMEN
 Pedoman ini Merupakan penyempurnaan
Petunjuk Perencanaan Perkerasan Kaku (Rigid
Pavement) SKBI 2.3.28.1985 yang diterbitkan
Departemen Pekerjaan Umum tahun 1985
 Pedoman ini merupakan adopsi dari
AUSTROADS, Pavement Design, A Guide to
the Structural Design of Pavements (1992)
 Pedoman ini dimaksudkan untuk merencanakan
perkerasan beton semen untuk jalan yang
melayani lalu-lintas rencana lebih dari satu juta
sumbu kendaraan niaga.
STRUKTUR DAN JENIS
PERKERASAN BETON SEMEN
 Perkerasan beton semen dibedakan ke dalam 4
jenis :
 Perkerasan beton semen bersambung tanpa tulangan
 Perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan
 Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan
 Perkerasan beton semen pra-tegang
 Perkerasan beton semen adalah struktur yang
terdiri atas pelat beton semen yang terletak di atas
lapis pondasi bawah atau tanah dasar, tanpa atau
dengan lapis permukaan beraspal
STRUKTUR PERKERASAN
BETON SEMEN

 Pada perkerasan beton semen, daya dukung perkerasan


terutama diperoleh dari pelat beton.
 Sifat, daya dukung dan keseragaman tanah dasar sangat
mempengaruhi keawetan dan kekuatan perkerasan beton
semen.
 Lapis pondasi bawah pada perkerasan beton semen bukan
merupakan bagian utama yang memikul beban, tetapi
merupakan bagian yang berfungsi sebagai berikut :
FUNGSI LAPIS PONDASI
BAWAH
 Mengendalikan pengaruh kembang susut tanah dasar.
 Mencegah intrusi dan pemompaan pada sambungan,
retakan dan tepi-tepi pelat.
 Memberikan dukungan yang mantap dan seragam pada
pelat.
 Sebagai perkerasan lantai kerja selama pelaksanaan.

 Pelat beton semen mempunyai sifat yang cukup kaku serta


dapat menyebarkan beban pada bidang yang luas dan
menghasilkan tegangan yang rendah pada lapisan-lapisan
di bawahnya.
 Bila diperlukan tingkat kenyaman yang tinggi, permukaan
perkerasan beton semen dapat dilapisi dengan lapis
campuran beraspal setebal 5 cm.
PERSYARATAN TEKNIS TANAH
DASAR
 Tebal lapis pondasi bawah minimum yang disarankan dapat
dilihat pada Gambar 2
PERSYARATAN TEKNIS TANAH
DASAR
 CBR tanah dasar efektif didapat dari Gambar 3.
PERSYARATAN TEKNIS
PONDASI BAWAH
 Bahan pondasi bawah dapat berupa :
 Bahan berbutir.
 Stabilisasi atau dengan beton kurus giling padat (Lean Rolled
Concrete)
 Campuran beton kurus (Lean-Mix Concrete).
 Lapis pondasi bawah perlu diperlebar sampai 60 cm diluar
tepi perkerasan beton semen untuk mereduksi prilaku
tanah ekspansif.
 Tebal lapisan pondasi minimum 10 cm yang paling sedikit
mempunyai mutu sesuai dengan SNI No. 03-6388-2000
dan AASHTO M-155 serta SNI 03-1743-1989.
 Bila direncanakan perkerasan beton semen bersambung
tanpa ruji, pondasi bawah harus menggunakan campuran
beton kurus (CBK)
1. Pondasi bawah material
 berbutir
Material berbutir tanpa pengikat harus memenuhi
persya-ratan sesuai dengan SNI-03-6388-2000.
 Persyaratan dan gradasi pondasi bawah harus sesuai
dengan kelas B dengan penyimpangan ijin 3% - 5%.
 Ketebalan minimum lapis pondasi bawah untuk tanah
dasar dengan CBR minimum 5% adalah 15 cm.
 Derajat kepadatan lapis pondasi bawah minimum 100
%, sesuai dengan SNI 03-1743-1989.
2. Pondasi bawah dengan campuran
beton kurus (Lean-Mix Concrete)
 Campuran Beton Kurus (CBK) harus mempunyai kuat
tekan beton karakteristik pada umur 28 hari minimum
5 MPa (50 kg/cm2) tanpa menggunakan abu terbang,
atau 7 MPa (70 kg/cm2) bila menggunakan abu
terbang, dengan tebal minimum 10 cm.
3. Pondasi bawah dengan bahan
pengikat
(Bound Sub-base)
 Pondasi bawah dengan bahan pengikat (BP) dapat
digunakan salah satu dari :
i. Stabilisasi material berbutir dengan kadar bahan
pengikat yang sesuai dengan hasil perencanaan, untuk
menjamin kekuatan campuran dan ketahanan terhadap
erosi.
Jenis bahan pengikat dapat meliputi semen, kapur, serta
abu terbang dan/atau slag yang dihaluskan.
ii. Campuran beraspal bergradasi rapat (dense-graded
asphalt).
iii. Campuran beton kurus giling padat yang harus
mempunyai kuat tekan karakteristik pada umur 28 hari
minimum 5,5 MPa (55 kg/cm2 ).
4. Lapis Pemecah Ikatan
Pondasi Bawah Dan Pelat
 Perencanaan ini didasarkan bahwa antara pelat dengan
pondasi bawah tidak ada ikatan.
 Jenis pemecah ikatan dan koefisien geseknya dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Nilai koefisien gesekan (μ)
Koefisien
No Lapis Pemecah Ikatan Gesekan
(μ)

1 Lapis resap ikat aspal di atas permukaan pondasi bawah 1,0

2 Laburan parafin tipis pemecah ikat 1,5

3 Karet kompon (A chlorinated rubber curing compound) 2,0


PERSYARATAN TEKNIS BETON
SEMEN
 Kekuatan beton dinyatakan dalam kuat tarik lentur
(flexural strength) umur 28 hari, yang didapat dari
hasil pengujian balok dengan pembebanan tiga
titik (ASTM C-78) yang besarnya secara tipikal
sekitar 3 – 5 MPa (30 - 50 kg/cm2).
 Kuat tarik lentur beton yang diperkuat dengan
bahan serat penguat seperti serat baja, aramit atau
serat karbon, harus mencapai kuat tarik lentur 5 –
5,5 MPa (50 - 55 kg/cm2).
 Kekuatan rencana harus dinyatakan dengan kuat
tarik lentur karakteristik yang dibulatkan hingga
0,25 MPa (2,5 kg/cm2) terdekat.
PERSYARATAN TEKNIS BETON
 Hubungan antara kuat SEMEN
tekan karakteristik dengan kuat tarik-
lentur beton dapat didekati dengan rumus berikut :
fcf = K (fc’)0,50 dalam MPa atau .…….. (1)
fcf = 3,13 K (fc’)0,50 dalam kg/cm2 .…….. (2)
Dengan pengertian :
fc’ : kuat tekan beton karakteristik 28 hari (kg/cm2)
fcf : kuat tarik lentur beton 28 hari (kg/cm2)
K : konstanta, 0,7 untuk agregat tidak dipecah dan 0,75
untuk agregat pecah.
 Kuat tarik lentur dapat juga ditentukan dari hasil uji kuat
tarik belah beton menurut SNI 03-2491-1991 sbb :
fcf = 1,37.fcs, dalam MPa atau ..…... (3)
fcf = 13,44.fcs, dalam kg/cm2 ..…... (4)
Dengan pengertian :
fcs : kuat tarik belah beton 28 hari
BEBAN LALU LINTAS
 Beban lalu-lintas rencana untuk perkerasan beton semen,
dinyatakan dalam jumlah sumbu kendaraan niaga
(commercial vehicle), sesuai dengan konfigurasi sumbu
pada lajur rencana selama umur rencana.
 Lalu-lintas harus dianalisis berdasarkan hasil perhitungan
volume lalu-lintas dan konfigurasi sumbu, menggunakan
data terakhir atau data 2 tahun terakhir.
 Kendaraan yang ditinjau untuk perencanaan perkerasan
beton semen adalah yang mempunyai berat total ≥ 5 ton.
 Konfigurasi sumbu untuk perencanaan terdiri atas 4 jenis
kelompok sumbu sebagai berikut :
 Sumbu tunggal roda tunggal (STRT).
 Sumbu tunggal roda ganda (STRG).
 Sumbu tandem roda ganda (STdRG).
 Sumbu tridem roda ganda (STrRG).
1. Lajur Rencana Dan Koefisien
 Distribusi
Lajur rencana merupakan salah satu lajur lalu lintas dari suatu
ruas jalan raya yang menampung lalu-lintas kendaraan niaga
terbesar.
 Jika jalan tidak memiliki tanda batas lajur, maka jumlah lajur dan
koefsien distribusi (C) kendaraan niaga dapat ditentukan dari
lebar perkerasan sesuai Tabel 2.
Tabel 2 Jumlah lajur berdasarkan lebar perkerasan dan koefisien
distribusi (C) kendaraan niaga
Koefisien distribusi
Lebar perkerasan Jumlah lajur Kendaraan Niaga (C)
(Lp) (nl)
1 Arah 2 Arah

Lp < 5,50 m 1 lajur 1 1


5,50 m ≤ Lp < 8,25 m 2 lajur 0,70 0,50
8,25 m ≤ Lp < 11,25 m 3 lajur 0,50 0,475
11,23 m ≤ Lp < 15,00 m 4 lajur - 0,45
15,00 m ≤ Lp < 18,75 m 5 lajur - 0,425
18,75 m ≤ Lp < 22,00 m 6 lajur - 0,40
2. Umur Rencana
 Umur rencana perkerasan jalan ditentukan atas
pertimbangan :
 klasifikasi fungsional jalan,
pola lalu-lintas serta
nilai ekonomi jalan yang bersangkutan,
 yang dapat ditentukan antara lain dengan metode
Benefit Cost Ratio,
Internal Rate of Return,
kombinasi dari metode tersebut atau
 cara lain yang tidak terlepas dari pola pengembangan wilayah.
 Umumnya perkerasan beton semen dapat
direncanakan dengan umur rencana (UR) 20 tahun
sampai 40 tahun.
3. Pertumbuhan Lalu Lintas
 Volume lalu-lintas akan bertambah sesuai dengan umur
rencana atau sampai tahap di mana kapasitas jalan dicapai
denga faktor pertumbuhan lalu-lintas yang dapat ditentukan
berdasarkan rumus sebagai berikut :

............... (5) R
 1  i  1
UR

i
 Dengan pengertian :
R : Faktor pertumbuhan lalu lintas
i : Laju pertumbuhan lalu lintas per tahun dalam %.
UR : Umur rencana (tahun)
 Faktor pertumbuhan lalu-lintas ( R ) dapat juga ditentukan
berdasarkan Tabel 3
Tabel 3 Faktor Pertumbuhan Lalu-lintas ( R)
Laju Pertumbuhan (i) per tahun (%)
Umur Rencan
(Tahun) 0 2 4 6 8 10

5 5 5,2 5,4 5,6 5,9 6,1


10 10 10,9 12 13,2 14,5 15,9
15 15 17,3 20 23,3 27,2 31,8
20 20 24,3 29,8 36,8 45,8 57,3
25 25 32 41,6 54,9 73,1 98,3
30 30 40,6 56,1 79,1 113,3 164,5
35 35 50 73,7 111,4 172,3 271
40 40 60,4 95 154,8 259,1 442,6

 Apabila setelah waktu tertentu (URm tahun) pertumbuhan lalu-lintas


tidak terjadi lagi, maka R dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

........... (6) R
 1  i
UR
 UR  URm  1  i 
UR m
 1
i
Dengan pengertian :
R : Faktor pertumbuhan lalu lintas
i : Laju pertumbuhan lalu lintas per tahun dalam %.
URm : Waktu tertentu dalam tahun, sebelum UR selesai.
4. Lalu-lintas Rencana
 Lalu-lintas rencana adalah jumlah kumulatif sumbu kendaraan
niaga pada lajur rencana selama umur rencana, meliputi
proporsi sumbu serta distribusi beban pada setiap jenis sumbu
kendaraan.
 Beban pada suatu jenis sumbu secara tipikal dikelompokkan
dalam interval 10 kN (1 ton) bila diambil dari survai beban.
 Jumlah sumbu kendaraan niaga selama umur rencana dihitung
dengan rumus berikut :
JSKN = JSKNH x 365 x R x C …………. (7)
Dengan pengertian :
JSKN : Jumlah total sumbu kendaraan niaga selama umur rencana .
JSKNH : Jumlah total sumbu kendaraan niaga per hari pada saat jalan dibuka.
R : Faktor pertumbuhan komulatif dari Rumus (5) atau Tabel 3 atau
Rumus (6), yang besarnya tergantung dari pertumbuhan lalu lintas
tahunan dan umur rencana.
C : Koefisien distribusi kendaraan (Tabel 2)
5. Faktor Keamanan Beban
 Pada penentuan beban rencana, beban sumbu dikalikan
dengan faktor keamanan beban (FKB).
 Faktor keamanan beban ini digunakan berkaitan adanya
berbagai tingkat realibilitas perencanaan seperti telihat pada
Tabel 4.
Tabel 4 Faktor keamanan beban (FKB)
Nilai
No Penggunaan FKB
Jalan bebas hambatan utama (major freeway) dan jalan berlajur banyak,
yang aliran lalu lintasnya tidak terhambat serta volume kendaraan niaga
yang tinggi.
1 Bila menggunakan data lalu-lintas dari hasil survai beban (weight-in-
1,2
motion) dan adanya kemungkinan route alternatif, maka nilai faktor
keamanan beban dapat dikurangi menjadi 1,15.
Jalan bebas hambatan (freeway) dan jalan arteri dengan volume
2 kendaraan niaga menengah.
1,1
3 Jalan dengan volume kendaraan niaga rendah. 1,0
BAHU
 Bahu dapat terbuat dari bahan lapisan pondasi bawah
dengan atau tanpa lapisan penutup beraspal atau lapisan
beton semen.
 Perbedaan kekuatan antara bahu dengan jalur lalu-lintas
akan memberikan pengaruh pada kinerja perkerasan.
 Hal tersebut dapat diatasi dengan bahu beton semen,
sehingga akan meningkatkan kinerja perkerasan dan
mengurangi tebal pelat.
 Yang dimaksud dengan bahu beton semen dalam
pedoman ini adalah bahu yang dikunci dan diikatkan
dengan lajur lalu-lintas dengan lebar minimum 1,50 m,
atau bahu yang menyatu dengan lajur lalu-lintas selebar
0,60 m, yang juga dapat mencakup saluran dan kereb.
SAMBUNGAN
 Sambungan pada perkerasan beton semen ditujukan
untuk :
 Membatasi tegangan dan pengendalian retak yang disebabkan
oleh penyusutan, pengaruh lenting serta beban lalu-lintas.
 Memudahkan pelaksanaan.
 Mengakomodasi gerakan pelat.
 Pada perkerasan beton semen terdapat beberapa jenis
sambungan antara lain :
 Sambungan memanjang
 Sambungan melintang
 Sambungan isolasi
 Semua sambungan harus ditutup dengan bahan penutup
(joint sealer), kecuali pada sambungan isolasi terlebih
dahulu harus diberi bahan pengisi (joint filler).
1. Sambungan Memanjang Dengan
Batang Pengikat (Tie Bars)
 Sambungan memanjang ditujukan untuk mengendalikan terjadinya
retak memanjang.
 Jarak antar sambungan memanjang sekitar 3 - 4 m.
 Sambungan memanjang harus dilengkapi dengan batang ulir dengan
mutu minimum BJTU-24 dan berdiameter 16 mm.
 Ukuran batang pengikat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
At = 204 x b x h dan
l = (38,3 x Ø) + 75
Dengan pengertian :
 At = Luas penampang tulangan per meter panjang sambungan (mm2).
 b = Jarak terkecil antar sambungan atau jarak sambungan dengan tepi perkerasan (m).
 h = Tebal pelat (m).
 l = Panjang batang pengikat (mm).
 Ø = Diameter batang pengikat yang dipilih (mm).
 Jarak batang pengikat yang digunakan adalah 75 cm.
 Tipikal sambungan memanjang diperlihatkan pada Gambar 4
2. Sambungan Pelaksanaan
Memanjang

Gambar 4 Tipikal sambungan memanjang


 Sambungan pelaksanaan memanjang umumnya dilakukan
dengan cara penguncian.
2. Sambungan Pelaksanaan

Memanjang
Bentuk dan ukuran penguncian dapat berbentuk trapesium
atau setengah lingkaran sebagai mana diperlihatkan pada
Gambar 5.

Gambar 5 Ukuran standar penguncian sambungan


memanjang
 Sebelum penghamparan pelat beton di sebelahnya,
permukaan sambungan pelaksanaan harus dicat dengan
aspal atau kapur tembok untuk mencegah terjadinya ikatan
beton lama dengan yang baru.
3. Sambungan Susut Memanjang
 Sambungan susut memanjang dapat dilakukan dengan
salah satu dari dua cara ini, yaitu
 menggergaji atau membentuk pada saat beton masih
plastis dengan kedalaman sepertiga dari tebal pelat.

4. Sambungan Susut dan


Sambungan Pelaksanaan
Melintang
 Ujung sambungan ini harus tegak lurus terhadap sumbu
memanjang jalan dan tepi perkerasan.
 Untuk mengurangi beban dinamis, sambungan melintang
harus dipasang dengan kemiringan 1 : 10 searah perpu-
taran jarum jam.
5. Sambungan susut melintang
 Kedalaman sambungan kurang lebih mencapai seperempat dari
tebal pelat untuk perkerasan dengan lapis pondasi berbutir atau
sepertiga dari tebal pelat untuk lapis pondasi stabilisasi semen
sebagai mana diperlihatkan pada Gambar 6 dan Gambar7.
5. Sambungan Susut Melintang
 Jarak sambungan susut melintang untuk perkerasan
beton bersambung tanpa tulangan sekitar 4 - 5 m,
sedangkan untuk perkerasan beton bersambung dengan
tulangan 8 - 15 m dan untuk sambungan perkerasan
beton menerus dengan tulangan sesuai dengan
kemampuan pelaksanaan.
 Sambungan ini harus dilengkapi dengan ruji polos
panjang 45 cm, jarak antara ruji 30 cm, lurus dan bebas
dari tonjolan tajam yang akan mempengaruhi gerakan
bebas pada saat pelat beton menyusut.
 Setengah panjang ruji polos harus dicat atau dilumuri
dengan bahan anti lengket untuk menjamin tidak ada
ikatan dengan beton.
5. Sambungan susut melintang
 Diameter ruji tergantung pada tebal pelat beton sebagaimana
terlihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Diameter ruji

No Tebal pelat beton, h (mm) Diameter ruji (mm)

1 125 < h < 140 20

2 140 < h < 160 24

3 160 < h < 190 28

4 190 < h < 220 33

5 220 < h < 250 36


6. Sambungan Pelaksanaan
 Melintang
Sambungan pelaksanaan melintang yang tidak direncanakan
(darurat) harus menggunakan batang pengikat berulir,
sedangkan pada sambungan yang direncanakan harus
menggunakan batang tulangan polos yang diletakkan di tengah
tebal pelat.
 Tipikal sambungan pelaksanaan melintang diperlihatkan pada
Gambar 8 dan Gambar 9.
6. Sambungan Pelaksanaan
Melintang

 Sambungan pelaksanaan tersebut di atas harus


dilengkapi dengan batang pengikat berdiameter 16 mm,
panjang 69 cm dan jarak 60 cm, untuk ketebalan pelat
sampai 17 cm.
 Untuk ketebalan lebih dari 17 cm, ukuran batang pengikat
berdiameter 20 mm, panjang 84 cm dan jarak 60 cm.
7. Sambungan Isolasi
 Sambungan isolasi memisahkan perkerasan dengan
bangunan yang lain, misalnya manhole, jembatan, tiang
listrik, jalan lama, persimpangan dan lain sebagainya.
 Contoh persimpangan yang membutuhkan sambungan
isolasi diperlihatkan pada Gambar 10.
 Sambungan isolasi harus dilengkapi dengan bahan
penutup (joint sealer) setebal 5 – 7 mm dan sisanya diisi
dengan bahan pengisi (joint filler) sebagai mana
diperlihatkan pada Gambar 11.
7. Sambungan Isolasi