Anda di halaman 1dari 17

Teori-Teori

Perkembangan
Oleh kelompok 1:
Ardiansyah
Ayu Novita Anggelina
Erna Erviana
Rina
Teori Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan kognitif dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang
psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan
banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan
berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi
Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan
dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang
berdasar pada kenyataan. Dibagikan menjadi empat periode utama yang
berkorelasi dengan semakin canggih seiring bertambahnya usia
1. Periode sensorimotor (usia 0-2 tahun),
dibagi menjadi enam sub tahapan:
1) Sub-tahapan skema reflex
2) Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer
3) Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder
4) Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder
5) Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier
6) Sub-tahapan awal representasi simbolik
2. Periode praoperasional (usia 2-7 tahun)
Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan
objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat
egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain.
Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti
mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau
mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Tetapi
seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain
semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan
menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
3. Periode operasional konkrit (usia 7-11 tahun)
Mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting
selama tahapan ini adalah
1. Pengurutan
2. Klasifikasi
3. Decetering
4. Reversibility
5. Konservasi
6. Penglihatan sifat Egosentrisme
4. Periode operasional formal (usia 11 tahun
sampai dewasa)
Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan
terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah
diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara
logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia, seseorang
dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai.Namun
Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap
ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang
dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Teori Perkembangan Psikoseksual
Dalam psikologi Freudian , perkembangan psikoseksual adalah elemen
sentral dari teori dorongan seksual psikoanalitik, bahwa manusia, sejak
lahir, memiliki libido instingtual (energi seksual) yang berkembang dalam
lima tahap. Ditandai oleh zona sensitif seksual yang merupakan sumber
dari penggerak libidinal. Tidak puas pada tahap tertentu dapat
menyebabkan fiksasi.
1. Fase Oral (Usia 0 – 1 tahun)
2. Fase Anal (Usia 1 – 2/3 tahun)
3. Fase Falis (Usia 2/3 – 5/6 tahun)
4. Fase Laten (Usia 5/6 – 12/13 tahun)
5. Fase Genital
Teori Perkembangan Psikososial
Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori terbaik dalam
psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian
berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen penting dari
teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan Ego.
Persamaan ego adalah perasaan sadar yang kita kembangkan melalui
interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu berubah
berdasarkan pengalaman dan informasi dari yang kita dapatkan dalam
berinteraksi dengan orang lain.
1. Tahap Kepercayaan dan
Ketidakpercayaan (Trust vs Mistrust)
Tahap ini berlangsung pada masa kira kira terjadi pada umur 0-18 bulan
(Bayi). Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan
dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan
untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan.
1. Indikator Positif, Pada tahap ini bayi belajar untuk mempercayai
orang lain. Pemenuhan kepuasan dari pengasuh (orang tua) tentang
kebutuhan
2. Indikator Negatif, Jika kebutuhan tidak terpenuhi, maka bayi merasa
tidak percaya,takut, dan curiga ditandai dengan eliminasi buruk,
tidur.
2. Tahap Otonomi dan Perasaan Malu
dan Ragu-ragu (Otonomy vs Shame and

Duobt)
Pada tahap kedua atau masa ini biasanya disebut masa balita yang
berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 tahun (Toodler). Pada masa
ini, kemandirian diperlukan untuk memperkecil perasaan malu dan ragu-
ragu, jika orang tua salah dalam mengasuh anaknya ketika bersikap salah
maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-
ragu.
1. Indikator Positif, Pada tahap ini anak mulai mengembangkan
kemandirian pada saat peningkatan kontrol fungsi tubuh terhadap
kegiatan
2. Indikator negatif, Jika anak di buat merasa buruk saat melakukan
kesalahan, anak akan menjadi malu, kurang kemauan, dan
ketidakpatuhan, serta jika anak tidak berhasil melakukanya akan merasa
tidak cukup dan ragu – ragu terhadap diri sendiri.
3. Tahap Prakarsa dan Rasa Bersalah (Initiative vs G
Tahap ini pada saat periode tertentu saat anak menginjak usia 3-5 tahun
(Prasekolah) dan tugas yang harus diemban seorang anak pada masa ini ialah
untuk belajar punya gagasan (Inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan
kesalahan.
1. Indikator positif, Pada tahap ini anak mengembangkan inisiatif pada saat
merencanakan dan mencoba hal-hal baru seperti berimajinatif. Mampu
menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan dunia melalui permainan
langsung dan interaksi sosial lainnya.
2. Indikator negatif, Anak merasa kurang percaya diri,pesimis, takut membuat
kesalahan, perasaan bersalah,perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif.
Kendali dan pembatasan aktivitas diri berlebihan.
4. Tahap Kerajinan dan Rasa Redah Diri
(Industry vs Inferiority)
Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini adalah dengan
mengambangkan kemampuan kerja keras dan menghindari perasaan rasa
rendah diri.
1. Indikator positif, Melalui interaksi sosial, anak mulai mengembangkan
perasaan bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka yang
didukung dan di arahkan oleh orang tua dan guru membangun
perasaan kompeten dan percaya dengan keterampilan yang dimilikinya
2. Indikator negatif, Anak yang sedikit atau tidak sama sekali dukungan
dari orang tua,guru, atau teman sebaya akan merasa ragu akan
kemampuanya untuk berhasil,merasa diri biasa-biasa saja, menarik diri
dari sekolah dan teman sebaya, putus harapan.
5. Tahap Keintiman dan Isolasi (Intimacy vs
Isolation)
Ketika tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka
setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya, yaitu pada masa
dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun (dewasa muda)
1. Indikator Positif
Memiliki hubungan yang intim dengan orang lain. Memiliki
komitmen terhadap pekerjaan dan hubungan
2. Indikator Negatif
Hubungan impersonal, menghidari komitmen dalam hubungan,
karier atau gaya hidup. Seseorang yang tidak bersedia atau tidak
mampu untuk berbagi mengenai diri sendiri akan merasa sendiri
6. Tahap Generativitas dan Stagnasi
(Generativity vs Stagnation)
Pada tahap ini seseorang akan memasuki tahap mengabdikan diri guna
menjaga keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu ( Generativitas )
dengan tidak berbuat apa-apa ( Stagnasi ) dan tahap ini dimuali dari usia
40 – 50 tahun (dewasa tengah).
1. Indikator Positif
Generativitas adalah keinginan untuk merawat dan membimbing orang
lain. Mereka membangun hidupnya berfokus terhadap karir dan keluarga.
Mengekspresikan kepedulian pada dunia di masa yang akan datang.
Contoh : Pada tahap ini seseorang sudah memiliki kematangan pemikiran
dan mental sehingga dalam penyaluran hasrat lebih fokus terhadap
keluarga, karir bekerja dan mampu mengkoordinasikan keluarga dan
kerja dengan baik.
2. Indikator Negatif
Stagnasi adalah perhatian yang berlebihan pada dirinya atau perilaku
merusak tidak anaknya dan masyarakat. Mereka yang gagal melalui
tahap ini, akan merasa tidak produktif dan tidak terlibat di dunia ini.
7. Tahap Integritas dan Keputusasaan
(Integrity vs Despair)
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja. Yang diawali
dari usia 65 tahun sampai seseorang itu tutup usia. Tahap ini merupakan tahap
yang sulit dilewati menurut pandangan sebagian orang, dikarenakan mereka
sudah merasa terasing dalam lingkungan kehidupannya, karena seseorang pada
usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna lagi
1. Indikator Positif
Cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa lalu, penerimaan akan
kematian.
2. Indikator Negatif
Mereka yang tidak berhasil pada fase ini, akan merasa bahwa hiupnya percuma
dan mengalami banyak penyesalan
Teori Perkembangan
Psikomoral
Perkembangan moral merupakan proses perkembangan kepribadian
siswa selaku anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain,
sebab prilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam
bertingkahlaku social. Teori Perkembangan moral dalam psikologi umum
menurut Kohlberg terdapat 3 tingkat dan 6 tahap pada masing-masing
tingkat terdapat 2 tahap diantaranya sebagai berikut :
• Tingkat Satu : Moralitas Prakonvensional (Preconventional Morality)
• Tahap I : Orientasi hukuman dan ketaatan (Punishment and obedience
orientation)
• Tahap II : Tujuan instrumental, individualisme dan pertukaran (kebutuhan
dan keinginan (Individualism, instrumental purpose, and exchange)
• Tahap II : Tujuan instrumental, individualisme dan pertukaran (kebutuhan
dan keinginan (Individualism, instrumental purpose, and exchange)
• Tahap III : Tahap harapan, hubungan dan penyesuaian antarpribadi (Mutual
interpersonal expectation, relationship, and interpersonal conformity)
• Tahap IV : Sistem sosial dan hati nurani (Social system and
conscience (law and Order)
• Tingkat Tiga : Moralitas Pascakonvensional (Postconventional
Morality or Principled)
• Tahap V : Hak-hak masyarakat vs hak-hak individual (Social
contract or utility and individual right)
• Tahap VI : Prinsip-prinsip Etis Universal (Universal ethical
principles)

Beri Nilai