Anda di halaman 1dari 43

BETON SEGAR

PERTEMUAN KE 12
Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan
Beton
Persiapan
Penakaran
Pengadukan / Mixing
Pengecoran / Placing
Pemadatan / Vibrating
Penyelesaian Akhir / Finishing
Perawatan / Curing
Persiapan
Semua Peralatan untuk pengadukan dan
pengangkutan harus bersih
Tempat yang akan diisi beton harus bersih
Permukaan dalam acuan dapat dilapisi dengan
bahan khusus
Pasangan bata yang berhubungan dengan beton
harus dibasahi sampai jenuh
Tulangan harus dalam keadaan bersih
Penakaran
Untuk beton dengan f’c  20 MPa penakaran
berdasarkan berat

Untuk beton dengan f’c < 20 MPa penakaran


boleh berdasarkan volume
PENGADUKAN MANUAL
Pasir dan semen dicampur dalam keadaan kering
diatas tempat yang kedap air sampai didapat
warna yang homogen
DItambahkan kerikil dan di campur sampai
didapat warna yang homogen
Tambahkan 75 % kebutuhan air dan aduk hingga
merata
Tambahkan sedikit demi sedikit kebutuhan air
yang tersisa
PENGADUKAN DENGAN
MESIN
Dengan beton molen atau batching plant
Menurut SK SNI waktu pengadukanminimal untuk
campuran beton dengan volume  1 m3 adalah 1.5
menit dan ditambah 0.5 menit untuk setiap
penambahan 1 m3
PENGADUKAN TERLALU
SEBENTAR
Pencampuran bahan kurang merata
Pengikatan agergat dan beton kurang
PENGADUKAN TERLALU LAMA

Naiknya suhu beton


Keausan pada agregat
Terjadinya kehilangan air
Bertambahnya nilai slump
PENUANGAN BETON
 Dihindarkan terjadinya segregasi dan bleeding
 Campuran yang akan dituangkan harus ditempatkan
sedekat mungkin dengan cetakan untuk mencegah
segregasi
 Tinggi jatuh maksimum 1.5 meter. Jika lebih harus
menggunakan pipa atau tremie
 Kecepatan penuangan diatur agar beton dapat mengalir
mengisi lokasi lokasi yang sulit
 Penuanganharus dilakukan tanpa berhenti sampai dengan
posisi yang diijinkan dalam pelaksanaan (siar
pelaksanaan / construction joint
 Permukaan beton pada siar pelaksanaan harus bersih dan
dibasahi sebelum pengecoran.
 Sia pelaksanaan biasanya dipilih pada lokasi dimana
momen = 0.
 Beton yang dituangharus dipadatkan secara maksimal agar
dapat mengisi semua rongga.
 Tebal penuangan maksimum 30 -45 cm agar dapat
PEMADATAN BETON
Pemadatan dilakukan setelah beton di tuang
dan sebelum terjadinya initial setting
Indikasi innitial setting belum terjadi jika
beton dengan mudah dapat ditusuk sampai 10
cm
Untuk volumebeton yang kecil pemadatan
dilakukan dengan menusukkan batang besi
Untuk volume beton yang besar pemadatan
dengan vibrator
Dapat berupa tongkat yang bergetar atau
dengan menggetarkan cetakan
PERAWATAN BETON
Dilakukan setelah betonmengalami final setting
Fungsi perawatan agar proses hidrasi tidak
mengalami gangguan yang disebabkan oleh
kehilangan air
Kehilangan air banyak terjadi pada saat setting
time serta penguapan pada hari-hari pertama
akibat beda suhu yang besar dengan
lingkungan
Untuk beton normal perawatan dilakukan
selama minimal 7 hari, sedangkanuntuk beton
dengan kekuatan awal tinggi selama 3 hari.
Tujuan akhirnya adalah agar didapat beton
yang awet, kedap air dan kuat
sifat­Sifat Beton Segar
Dalam pengerjaan beton segar, tiga sifat
penting yang harus di perhatikan adalah
kemudahan pengerjaan,segregation(sarang
kerikil) dan bleeding (naiknya air)
Kemudahan Pengerjaan Beton
Segar (Workability)
Kemudahan dapat dilihat dari nilai slump
yang identik dengan tingkat keplastisan
beton, semakin mudah pengerjaannya
artinya semakin slumnya tinggi maka
semakin mudah beton segar di tuangkan.
Test beton segar
Tes Beton Segar Unsur­unsur yang
mempengaruhi antara lain
(1) Jumlah air pecampur Semakin banyak air semakin
mudah untuk dikerjakan
(2) Kandungan semen Jika FAS tetap, semakin banyak
semen semakin berarti semakin banyak kebutuhan
air sehingga keplastisannyapun akan lebih tinggi.
(3) Gradasi campuiran pasir­krikil Jika memenuhi
syarat dan sesuai dengan standar, akan lebih mudah
di kerjakan.
(4) Bentuk butiran agregat kasar Agregat berbentuk
bulat­bulat lebih mudah untuk di kerjakan
(5) Butiran maksimum
(6) cara pemadatan dan alat pemadat.
Slump test
Pecobaan slump dilakukan untuk mengetahui
tingkat kemudahan pengerjaan. Percoban ini
dilakukan dengan alat berbentuk kerucut
terpancung, yang daimeter atasnya 10cm dan
dimeter bawahnya 20cm dan tinggi 30cm,
dilengkapi dengan kuping untuk mengangkat
beton segar dan tongkat pemadat diameter 16
mm sepanjang minimal 60 cm. Langkah
percobaan adalah sebagaai berikut.
Uji Slump adalah suatu uji empiris/metode
yang digunakan untuk menentukan
konsistensi/kekakuan (dapat dikerjakan atau
tidak) dari campuran beton segar (fresh
concrete) untuk menentukan tingkat
workability nya. 
Kekakuan dalam suatu campuran beton
menunjukkan berapa banyak air yang
digunakan. Untuk itu uji slump menunjukkan
apakah campuran beton kekurangan,
kelebihan, atau cukup air. Dalam suatu
adukan/campuran beton, kadar air sangat
diperhatikan karena menentukan tingkat
workability nya atau tidak.
Campuran beton yang terlalu cair akan
menyebabkan mutu beton rendah, dan lama
mengering. Sedangkan campuran beton yang
terlalu kering menyebabkan adukan tidak
merata dan sulit untuk dicetak.Uji Slump
mengacu pada SNI 1972-2008 dan ICS
91.100.30
Slump dapat dilakukan di laboratorium
maupun di lapangan (biasanya ketika ready
mix sampai, diuji setiap kedatangan). Hasil
dari Uji Slump beton yaitu nilai slump. Nilai
yang tertera dinyatakan dalam satuan
internasional (SI) dan mempunyai standar.
Tipe slump
gambar 1 : Collapse / runtuhKeadaan ini
disebabkan terlalu banyak air/basah sehingga
campuran dalam cetakan runtuh sempurna.
Bisa juga karena merupakan campuran yang
workabilitynya tinggi yang diperuntukkan
untuk lokasi pengecoran tertentu sehingga
memudahkan pemadatan,
Gambar 2 : Shear Pada keadaan ini bagian
atas sebagian bertahan, sebagian runtuh
sehingga berbentuk miring, mungkin terjadi
karena adukan belum rata tercampur.Gambar
Gambar 3 : True Merupakan bentuk slump
yang benar dan ideal.Jika pada sat uji slump
bentuk yang dihasilkan adalah collapse atau
shear, maka tidak perlu membuat campuran
baru terburu-buru. Cukup ambil sample beton
segar yang baru dan mengulang
pengujian.Standar nilai slump yang biasa
dipakai (wikipedia.com)0-25 mm untuk jalan
raya10-40 mm untuk pondasi (low
workability)50-90 mm untuk beton bertulang
normal menggunakan vibrator (medium
workability)>100 mm untuk high workability
TAHAPAN UJI SLUMP
Basahi cetakan kerucut dan plat dengan kain basah
Letakkan cetakan di atas platIsi 1/3 cetakan dengan beton segar,
padatkan dengan batang logam sebanyak merata dengan
menusukkannya.
Lapisan ini penusukan bagian tepi dilakukan dengan besi
dimiringkan sesuai dengan dinding cetakan.
 Pastikan besi menyentuh dasar. Lakukan 25-30 x tusukan.Isi 1/3
bagian berikutnya (menjadi terisi 2/3) dengan hal yang sama
sebanyak 25-30 x tusukan.
Pastikan besi menyentuh lapisan pertama.Isi 1/3 akhir seperti
tahapan nomor 4Setelah selesai dipadatkan, ratakan permukaan
benda uji, tunggu kira-kira 1/2 menit.
 Sambil menunggu bersihkan kelebihan beton di luar cetakan
dan di plat.Cetakan diangkat perlahan TEGAK LURUS ke atas
Ukur nilai slump dengan membalikkan kerucut di sebelahnya
menggunakan perbedaan tinggi rata-rata dari benda uji.Toleransi
nilai slump dari beton segar  ±  2 cm Jika nilai slump sesuai
dengan standar, maka beton dapat digunakanPemadatan
Uji slump
Segregation (Pemisahan
kerikil)
kecenderungan butir butir kasar untuk lepas
dari campuran beton dinamakan segregasi.
Hal ini akan menyebabkan sarang kerikil
yang pada akhirnya akan menyebabkan
keropos pada beton. segregasi ini disebabkan
oleh beberapa hal. pertama, campuran kurus
atau kurang semen. kedua, banyak air.
ketiga, besar ukuran agregat maksimum
lebih dari 40 mm. keempat, permukaan butir
agregat; semakin kasar permukaan butir
agregat, semakin mudah terjadi segregasi.
Bleeding
Kecendrungan Air untuk naik kepermukaan pada
beton yang baru dipadatkan dinamakan Bleeding. Air
yang naik ini membawa semen dan butir­butir halus
pasir, yang pada saat beton mengeras nantinya akan
membentuk selaput (laitance).
Sifat Beton Segar Bleeding ini dipengaruhi oleh :
1. Susunan Butir Agregat Jika komposisinya sesuai,
kemungkinan untuk terjadinya Bleeding kecil.
2. Banyaknya Air Semakin banyaknya air berarti
semakin besar pula kemungkinan terjadinya
Bleeding.
3. Kecepatan Hidrasi Semakin Cepat Beton mengeras,
semakinkecil kemungkinan terjadinya Bleeding.
Bleeding
4. Proses Pemadatan Pemadatan yang
Berlebihan akan menyebabkan terjadinya
Bleeding
Bleeding ini dapat dikurangi dengan cara :
1. Memberi lebih banyak Semen
2. Menggunakan Air sedikit mungkin.
3. Menggunakan Butir halus lebih banyak.
4. Memasukan sedikir udara dalam adukan
untuk beton Khusus
SPESIFIKASI TEKNIS
SNI 03-3976-1995. Standar Nasional Indonesia. Tata cara
pengadukan dan pengecoran beton
5) Penakaran Agregat

a) Seluruh komponen beton harus ditakar menurut beratnya. Bila digunakan semen
kemasan dalam zak, kuantitas penakaran harus sedemikian sehingga kuantitas
semen yang digunakan adalah setara dengan satu satuan atau kebulatan dari
jumlah zak semen. Agregat harus diukur beratnya secara terpisah. Ukuran setiap
penakaran tidak boleh melebihi kapasitas alat pencampur.

b) Sebelum penakaran, agregat harus dibasahi sampai jenuh dan dipertahankan


dalam kondisi lembab, pada kadar yang mendekati keadaan jenuh-kering
permukaan, dengan menyemprot tumpukan agregat dengan air secara berkala.
Pada saat penakaran, agregat harus telah dibasahi paling sedikit 12 jam sebe-
lumnya untuk menjamin pengaliran yang memadai dari tumpukan agregat.
6) Pencampuran

a) Beton harus dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis dari jenis
dan ukuran yang disetujui sehingga dapat menjamin distribusi yang merata dari
seluruh bahan.

b) Pencampur harus dilengkapi dengan tangki air yang memadai dan alat ukur yang
akurat untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang digunakan dalam
setiap penakaran.

c) Pertama-tama alat pencampur harus diisi dengan agregat dan semen yang telah
ditakar, dan selanjutnya alat pencampur dijalankan sebelum air ditambahkan.

d) Waktu pencampuran harus diukur pada saat air mulai dimasukkan ke dalam
campuran bahan kering. Seluruh air yang diperlukan harus dimasukkan sebelum
waktu pencampuran telah berlangsung seperempat bagian. Waktu pencampuran
untuk mesin berkapasitas ¾ m3 atau kurang haruslah 1,5 menit; untuk mesin
yang lebih besar waktu harus ditingkatkan 15 detik untuk tiap penambahan 0,5
m3.

e) Bila tidak memungkinkan penggunaan mesin pencampur, Direksi Pekerjaan


dapat menyetujui pencampuran beton dengan cara manual, sedekat mungkin
dengan tempat pengecoran. Penggunaan pencampuran beton dengan cara manual
harus dibatasi pada beton non-struktural.
3) Pengecoran

a) Kontraktor harus memberitahukan Direksi Pekerjaan secara tertulis paling sedikit


24 jam sebelum memulai pengecoran beton, atau meneruskan pengecoran beton
bilamana pengecoran beton telah ditunda lebih dari 24 jam. Pemberitahuan harus
meliputi lokasi, kondisi pekerjaan, mutu beton dan tanggal serta waktu
pencampuran beton.

Direksi Pekerjaan akan memberi tanda terima atas pemberitahuan tersebut dan
akan memeriksa acuan, dan tulangan dan dapat mengeluarkan persetujuan
tertulis maupun tidak untuk memulai pelaksanaan pekerjaan seperti yang
direncanakan. Kontraktor tidak boleh melaksanakan pengecoran beton tanpa
persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan.

b) Tidak bertentangan dengan diterbitkannya suatu persetujuan untuk memulai


pengecoran, pengecoran beton tidak boleh dilaksanakan bilamana Direksi
Pekerjaan atau wakilnya tidak hadir untuk menyaksikan operasi pencampuran
dan pengecoran secara keseluruhan.

c) Segera sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan air atau
diolesi minyak di sisi dalamnya dengan minyak yang tidak meninggalkan bekas.

d) Tidak ada campuran beton yang boleh digunakan bilamana beton tidak dicor
sampai posisi akhir dalam cetakan dalam waktu 1 jam setelah pencampuran, atau
dalam waktu yang lebih pendek sebagaimana yang dapat diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan berdasarkan pengamatan karakteristik waktu pengerasan
(setting time) semen yang digunakan, kecuali diberikan bahan tambah (aditif)
untuk memperlambat proses pengerasan (retarder) yang disetujui oleh Direksi.
a) Pengecoran beton harus dilanjutkan tanpa berhenti sampai dengan sambungan
konstruksi (construction joint) yang telah disetujui sebelumnya atau sampai
pekerjaan selesai.

b) Beton harus dicor sedemikian rupa hingga terhindar dari segregasi partikel kasar
dan halus dari campuran. Beton harus dicor dalam cetakan sedekat mungkin
dengan yang dapat dicapai pada posisi akhir beton untuk mencegah pengaliran
yang tidak boleh melampaui satu meter dari tempat awal pengecoran.

c) Bilamana beton dicor ke dalam acuan struktur yang memiliki bentuk yang rumit
dan penulangan yang rapat, maka beton harus dicor dalam lapisan-lapisan
horisontal dengan tebal tidak melampuai 15 cm. Untuk dinding beton, tinggi
pengecoran dapat 30 cm menerus sepanjang seluruh keliling struktur.

d) Beton tidak boleh jatuh bebas ke dalam cetakan dengan ketinggian lebih dari 150
cm. Beton tidak boleh dicor langsung dalam air.

Bilamana beton dicor di dalam air dan pemompaan tidak dapat dilakukan
dalam waktu 48 jam setelah pengecoran, maka beton harus dicor dengan
metode Tremi atau metode drop-bottom-bucket, dimana bentuk dan jenis yang
khusus digunakan untuk tujuan ini harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi
Pekerjaan.
Tremi harus kedap air dan mempunyai ukuran yang cukup sehingga memung-
kinkan pengaliran beton. Tremi harus selalu diisi penuh selama pengecoran.
Bilamana aliran beton terhambat maka Tremi harus ditarik sedikit dan diisi
penuh terlebih dahulu sebelum pengecoran dilanjutkan.

Baik Tremi atau Drop-Bottom-Buckret harus mengalirkan campuran beton di


bawah permukaan beton yang telah dicor sebelumnya

a) Pengecoran harus dilakukan pada kecepatan sedemikian rupa hingga campuran


beton yang telah dicor masih plastis sehingga dapat menyatu dengan campuran
beton yang baru.

b) Bidang-bidang beton lama yang akan disambung dengan beton yang akan dicor,
harus terlebih dahulu dikasarkan, dibersihkan dari bahan-bahan yang lepas dan
rapuh dan telah disiram dengan air hingga jenuh. Sesaat sebelum pengecoran
beton baru ini, bidang-bidang kontak beton lama harus disapu dengan adukan
semen dengan campuran yang sesuai dengan betonnya

c) Air tidak boleh dialirkan di atas atau dinaikkan ke permukaan pekerjaan beton
dalam waktu 24 jam setelah pengecoran.
4) Sambungan Konstruksi (Construction Joint)

a) Jadwal pengecoran beton yang berkaitan harus disiapkan untuk setiap jenis
struktur yang diusulkan dan Direksi Pekerjaan harus menyetujui lokasi
sambungan konstruksi pada jadwal tersebut, atau sambungan konstruksi tersebut
harus diletakkan seperti yang ditunjukkan pada Gambar. Sambungan konstruksi
tidak boleh ditempatkan pada pertemuan elemen-elemen struktur terkecuali
disyaratkan demikian.

b) Sambungan konstruksi pada tembok sayap harus dihindari. Semua sambungan


konstruksi harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang dan pada umumnya
harus diletakkan pada titik dengan gaya geser minimum.

c) Bilamana sambungan vertikal diperlukan, baja tulangan harus menerus melewati


sambungan sedemikian rupa sehingga membuat struktur tetap monolit.

d) Lidah alur harus disediakan pada sambungan konstruksi dengan ke dalaman


paling sedikit 4 cm untuk dinding, pelat dan antara telapak pondasi dan dinding.
Untuk pelat yang terletak di atas permukaan, sambungan konstruksi harus
diletakkan sedemikian sehingga pelat-pelat mempunyai luas tidak melampaui 40
m2, dengan dimensi yang lebih besar tidak melampaui 1,2 kali dimensi yang
lebih kecil.
a) Kontraktor harus menyediakan pekerja dan bahan tambahan sebagaimana yang
diperlukan untuk membuat sambungan konstruksi tambahan bilamana pekerjaan
terpaksa mendadak harus dihentikan akibat hujan atau terhentinya pemasokan
beton atau penghentian pekerjaan oleh Direksi Pekerjaan.

b) Atas persetujuan Direksi Pekerjaan, bahan tambah (aditif) dapat digunakan untuk
pelekatan pada sambungan konstruksi, cara pengerjaannya harus sesuai dengan
petunjuk pabrik pembuatnya.

c) Pada air asin atau mengandung garam, sambungan konstruksi tidak


diperkenankan pada tempat-tempat 75 cm di bawah muka air terendah atau 75
cm di atas muka air tertinggi kecuali ditentukan lain dalam Gambar.
5) Konsolidasi

a) Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari luar yang
telah disetujui. Bilamana diperlukan, dan bilamana disetujui oleh Direksi
Pekerjaan, penggetaran harus disertai penusukan secara manual dengan alat yang
cocok untuk menjamin pemadatan yang tepat dan memadai. Penggetar tidak
boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain
di dalam cetakan.

b) Harus dilakukan tindakan hati-hati pada waktu pemadatan untuk menentukan


bahwa semua sudut dan di antara dan sekitar besi tulangan benar-benar diisi
tanpa pemindahan kerangka penulangan, dan setiap rongga udara dan gelembung
udara terisi.

c) Penggetar harus dibatasi waktu penggunaannya, sehingga menghasilkan pema-


datan yang diperlukan tanpa menyebabkan terjadinya segregasi pada agregat.

d) Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurang-kurang-


nya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg, dan boleh diletakkan di
atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang merata.
a) Alat penggetar mekanis yang digerakkan dari dalam harus dari jenis pulsating
(berdenyut) dan harus mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 5000 putaran
per menit apabila digunakan pada beton yang mempunyai slump 2,5 cm atau
kurang, dengan radius daerah penggetaran tidak kurang dari 45 cm.

b) Setiap alat penggetar mekanis dari dalam harus dimasukkan ke dalam beton
basah secara vertikal sedemikian hingga dapat melakukan penetrasi sampai ke
dasar beton yang baru dicor, dan menghasilkan kepadatan pada seluruh keda-
laman pada bagian tersebut. Alat penggetar kemudian harus ditarik pelan-pelan
dan dimasukkan kembali pada posisi lain tidak lebih dari 45 cm jaraknya. Alat
penggetar tidak boleh berada pada suatu titik lebih dari 30 detik, juga tidak boleh
digunakan untuk memindah campuran beton ke lokasi lain, serta tidak boleh
menyentuh tulangan beton.

c) Jumlah minimum alat penggetar mekanis dari dalam diberikan dalam Tabel
7.1.4.(5).

Tabel 7.1.4.(5) Jumlah Minimum Alat Penggetar Mekanis dari Dalam

Kecepatan Pengecoran Beton (m3 / jam) Jumlah Alat


4 2
8 3
12 4
16 5
20 6
4) Perawatan Dengan Pembasahan

a) Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi dari pengeringan dini, tempe-
ratur yang terlalu panas, dan gangguan mekanis. Beton harus dijaga agar
kehilangan kadar air yang terjadi seminimal mungkin dan diperoleh temperatur
yang relatif tetap dalam waktu yang ditentukan untuk menjamin hidrasi yang
sebagaimana mestinya pada semen dan pengerasan beton.

b) Beton harus dirawat, sesegera mungkin setelah beton mulai mengeras, dengan
menyelimutinya dengan bahan yang dapat menyerap air. Lembaran bahan
penyerap air ini yang harus dibuat jenuh dalam waktu paling sedikit 3 hari.
Semua bahan perawat atau lembaran bahan penyerap air harus dibebani atau
diikat ke bawah untuk mencegah permukaan yang terekspos dari aliran udara.

Bilamana digunakan acuan kayu, acuan tersebut harus dipertahankan basah pada
setiap saat sampai dibongkar, untuk mencegah terbukanya sambungan-sam-
bungan dan pengeringan beton. Lalu lintas tidak boleh diperkenankan melewati
permukaan beton dalam 7 hari setelah beton dicor.

c) Lantai beton sebagai lapis aus harus dirawat setelah permukaannya mulai
mengeras dengan cara ditutup oleh lapisan pasir lembab setebal 5 cm paling
sedikit selama 21 hari.

d) Beton yang dibuat dengan semen yang mempunyai sifat kekuatan awal yang
tinggi atau beton yang dibuat dengan semen biasa yang ditambah bahan tambah
(aditif), harus dibasahi sampai kekuatanya mencapai 70 % dari kekuatan
rancangan beton berumur 28 hari.
5) Perawatan dengan Uap

a) Beton dirawat dengan uap untuk maksud mendapatkan kekuatan yang tinggi
pada permulaannya. Bahan tambah (aditif) tidak diperkenankan untuk dipakai
dalam hal ini kecuali atas persetujuan Direksi Pekerjaan.

b) Perawatan dengan uap harus dikerjakan secara menerus sampai waktu dimana
beton telah mencapai 70 % dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari.
Perawatan dengan uap untuk beton harus mengikuti ketentuan di bawah ini:

i) Tekanan uap pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi
tekanan di luar.

ii) Temperatur pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi
380C selama sampai 2 jam sesudah pengecoran selesai, dan kemudian
temperatur dinaikkan berangsur-angsur sehingga mencapai 65 0C dengan
kenaikan temperatur maksimum 14 0C / jam secara ber-sama-sama.

iii) Beda temperatur yang diukur di antara dua tempat di dalam ruang uap
tidak boleh melampaui 5,5 0C.
i) Penurunan temperatur selama pendinginan tidak boleh lebih dari 11 0C per
jam.

ii) Temperatur beton pada saat dikeluarkan dari penguapan tidak boleh 11 0C
lebih tinggi dari temperatur udara di luar.

iii) Setiap saat selama perawatan dengan uap, di dalam ruangan harus selalu
jenuh dengan uap air.

iv) Semua bagian struktural yang mendapat perawatan dengan uap harus
dibasahi selama 4 hari sesudah selesai perawatan uap tersebut.

a) Kontraktor harus membuktikan bahwa peralatannya bekerja dengan baik dan


temperatur di dalam ruangan perawatan dapat diatur sesuai dengan ketentuan dan
tidak tergantung dari cuaca luar.

b) Pipa uap harus ditempatkan sedemikian atau balok harus dilindungi secukupnya
agar beton tidak terkena langsung semburan uap, yang akan menyebabkan
perbedaan temperatur pada bagian-bagian beton.
Pembuatan benda uji
TERIMA KASIH