Anda di halaman 1dari 22

Asuhan Keperawatan Pada Pasien

Dengan Penyakit Jantung Bawaan


(VSD)

KELOMPOK 1
1. Adi Irawan
2. Dewi Ratnawati
3. Dheki Oktria W
4. Endang Sri Wahyuningsih
5. Meika Ayu Saraswati
6. Taufikkurrohman
Definisi VSD
Vertikel septal defek adalah kelainan
jantung bawaan berupa lubang pada
septum interventrikuler, lubang tersebut
hanya satu atau lebih yang terjadi akibat
kegagalan fungsi septum interventrikuler
semasa janin dalam kandungan.Sehingga
darah bisa menggalir dari ventrikel kiri ke
kanan ataupun sebaliknya (Nanda NIC-
NOC, 2015).
Etiologi
Faktor Prenatal Faktor Genetik

• Ibu menderita penyakit


infeksi : Rubela • Anak yang lahir sebelumnya
menderita PJB
• Ibu alkoholisme
• Ayah/ibu menderita PJB
• Ibu dengan penyakit DM
yang memerlukan insulin • Kelainan kromosom misalnya
dan meminum obat-obatan sindrom down
penenang
Klasifikasi

VSD Besar

• Pada minggu ke 2
dan 3 simtom
VSD sedang mulai timbul
• Sesak nafas saat
• Sering terjadi tidur, kadang
symtom pada bayi tampak sianosis
VSD Kecil karena
• Sesak nafas
kekurangan
• Defek 5-10 mm BB
• Biasanya oksigen
sukar naik sehingga
asimtomatik
tumbuh kembang
• Defek kecil 1-5 mm
terganggu
• Tidak ada gangguan
tumbuh kembang
PATWAY
Manifestasi Klinis Komplikasi

• Takipneu
• Dispneu
• Gagal jantung
• Adanya sianosis dan • Endokarditis
clubbing finger • Insufisiensi aorta
• Tampak sesak nafas pada
saat istirahat • Stenosis pulmonal
• EKG terdapat • Hipertensi pulmonal
peningkatan aktivitas (penyakit pembuluh
ventrikel kanan dan kiri darah paru yang
• Radiology: pembesaran
progresif)
jantung
Pemeriksaan Diagnostik VSD

1. Auskultasi jantung mur-mur pansistolik keras dan kasar


2. Pantau tekanan darah
3. Foto rontgen toraks hipertrofi ventrikel kiri
4. Elektrochardiografi
5. Echocardiogram hipertrofi ventrikel kiri
6. MRI
Penatalaksanaan VSD
1. Non Farmakologis
a. Pembedahan :
- Menutup defek dengan dijahit melalui cardio pulmonary bypass
- Pembedahan pulmonal arteri nunding (pad) atau penutupan defek untuk
mengurangi aliran ke paru.
b. Non pembedahan : menutup defek dengan alat melalui kateterisasi jantung

2. Farmakologi
Pemberian vasopresor atau vasodilator :
 Dopamin (intropin)
Memiliki efek inotropik positipada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung dan
peningkatan tekanan sistolik serta tekanan nadi, sedikit sekali atau tidak ada efeknya pada
tekanan distolik, digunakan untuk gangguan hemodinamika.
 Isopreterenol (isuprel)
Memiliki efek inotropik positif pada miocard, meyebabkan peningkatan curah jantung :
menurunan tekanan distolik dan tekanan rata – rata sambil meningkatkan tekanan sistolik.
ASUHAN KEPERAWATAN
Identitas Klien
Nama Pasien : Ny. E
Usia : 29 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
No Register : 11327721
Alamat : Jln.Sarimun Rt 3 Rw 1 Batu, Malang
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Tgl Masuk : 4 Maret 2020
Tgl Dikaji : 6 Maret 2020
Dx. Medis : VSD,suspek Heart failure,PH severe
type 11
Data Subyektif
 Keluhan Utama:
Sesak nafas
 Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengatakan sesak nafas memberat dalam 1 minggu, kadang
sampai terbatuk-batuk, bisa tidur dengan posisi duduk, demam(-),
bengkak kedua kaki+/+, badan lemas, pasien mengatakan selama 2
minggu terakhir ini sering lupa tidak minum obat.
 Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien mengatakan pertama tahu terkena kelainan jantung pada umur 23
thn, didiagnosa VSD, sejak dari kecil pasien tidak ada keluhan sama
sekali. Rencana akan dilakukan operasi di RS Harapan Kita, tetapi tidak
jadi operasi dikarenakan menurut dokter tidak bisa dilakukan tindakan
operasi.

Riwayat Penyakit Keluarga


DM dan HT
Pola Kesehatan Fungsional menurut
Gordon
a. Pola Persepsi Kesehatan
 Pasien mengatakan tahu tentang penyakitnya sejak umur 23 tahun,
pasien mengetahui bahwa penyakitnya tidak bisa disembuhkan.
b. Pola Eliminasi
 Sebelum MRS : Pasien mengatakan BAB 2-3x / hari, dan BAK 6-
7x /hari
 Selama MRS: Pasien mengatakan belum BAB, dan pasien BAK
terpasang DC produksi 2100cc /7jam dengan warna kuning jernih.
c. Pola Aktivitas
 Sebelum MRS : Pasien mengatakan pasien aktivitas sehari-hari
sebagai ibu rumah tangga dan selama sakit pasien sudah tidak mampu
bekerja .
 Selama MRS: Pasien mengatakan sesak dan badannya lemah sekali
sampe hanya bisa tidur di tempat tidur semua aktifitas dibantu oleh
perawat dan keluarga.
d. Pola Istirahat dan Tidur
 Sebelum MRS : Pasien mengatakan tidur jam 21.00 dan bangun pukul 04.00,
selama seminggu ini tidur sering terbangun karena sesak.
 Selama MRS : Pasien mengatakan selama di rumah sakit tidak bisa tertidur
nyenyak dikarenakan sesak nafas dan kadang batuk dan pasien bisa tidur dengan
posisi setengah duduk
e. Pola Konsep Diri
 Gambaran diri : Pasien mengatakan sudah terbiasa dengan keadaannya yang
tidak bisa bekerja lagi hanya bisa jalan di dalam rumah.
 Ideal diri : Pasien mengatakan menerima keadaan fisiknya saat ini dan sadar
kalau tidak bisa memiliki anak karena kehamilan akan membahayakan pasien
dan calon bayinya. Sebelumnya pasien pernah hamil dan mengalami keguguran
sebanyak 2 kali. Meskipun demikian pasien masih punya keinginan memiliki
anak.
 Harga diri : Pasien mengatakan meskipun kondisinya seperti ini tapi masih
bahagia karena memiliki suami yang setia dan orang tua yang menyayangi.
 Peran diri : Pasien mengatakan tidak bisa secara maksimal melakukan perannya
sebagai istri.
 Identitas diri : Pasien merasa kurang percaya diri karena belum bisa
membahagiakan suaminya dengan memberikannya anak.
f. Pola Peran dan Hubungan
 1. Peran Dalam Keluarga : Sebagai istri
 2. Kesulitan Dalam Keluarga : Tidak ada kesulitan dalam
berumah tangga, pasien mengatakan belum mempunyai anak
 3. Masalah Tentang Peran/Hubungan dengan Keluarga :
 Selama MRS : Pasien mengatakan Suaminya selalu menjaga
dan menemani pasien.
g. Pola Seksual Reproduksi
 Pasien mengatakan belum mempunyai keturunan dan sudah
pernah keguguran 2x
h. Pola Toleransi Koping Stres
 Sebelum MRS : Setiap ada masalah pasien selalu berunding
dengan suami dan orang tuanya.
 Selama MRS : Pasien mengatakan cemas akan kondisi pada
saat ini
Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Pasien tampak lemah, terpasang infus di


tangan ka/ki
 Kesadaran : GCS 456
 Tanda-tanda Vital :
 TD : 135/74 mmHg
 HR : 124x/menit
 TB/BB :165cm /80kg
 S :36,6°C
 RR :24x/menit
 SPO2 : 80% dengan O2 melalui masker NRBM 10 lpm
Kepala dan Leher

Kepala : Tidak terdapat benjolan, rambut hitam


lurus
Mata : Sklera tidak ikterik, reflek pupil +/+,
konjungtiva normal
Hidung : Tidak terdapat polip, tampak adanya pch
saat pasien bicara
Mulut : Tampak pucat, mukosa bibir kering dan pecah-
pecah.
Telinga : Bentuk normal dan simetris antara kanan
dan kiri
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
Thorax Dada
 Jantung

Inspeksi : Ictus Cordis(+), pulsasi (+)


Palpasi : Teraba denyut jantung pada apek jantung (ICS 5
midclavicula sinistra)
Perkusi : Batasatas kanan jantung (ICS II Linea Sternalis
Dextra), batas atas kiri (ICS II Linea Sternalis
Sinistra), batas bawah pinggang (ICS IV Linea Sternalis
Sinistra), batas bawah Apek jantung (ICS V Midclavicula
sinistra).
Auskultasi : Terdengar suara S1S2 tunggal reguler, murmur
sistolik (+), gallop (-)
Paru-paru
Inspeksi: Bentuk dada pigeon chest
Palpasi : Tidak teraba adanya masa
Perkusi : Terdengar suara sonor
Auskultasi : ronkhi +/+ whezing -/-

Ekstremitas
Terdapat bengkak pada ekstremitas bawah
Data Subjektif Diagnosa Etiologi

DS: Pasien mengatakan sesak nafas Penurunan curah Kebocoran septum


  jantung ventrikel
DO:
Domain : 4
K.U lemah
Nafas spontan dengan O2 nasal 4 Kelas : 4 Tekanan ventrikel
lpm, SPO2 80%, adanya pernafasan Kode diagnosis : kanan meningkat
cuping hidung saat pasien 00029
berbicara, ronchi -/-, wheezing -/- Hipertrofi otot
Posisi semifowler ventrikel kanan
TD: 135/74 mmHG
HR: 124x/menit
RR: 24x/menit Atrium kanan tidak
Bunyi jantung S1,S2 tunggal, dapat mengimbangi
murmur sistolik (+), peningkatan beban
gallop (-), kerja
S: 36,6 C
Sianosis (-), GCS 4,5,6, DC (+),
Urine Produksi 900cc/7 jam, bentuk Pembesaran atrium
jari tabuh (+) kanan
Hasil echo :EF 53,6%
Gejala CHF (murmur,
distensi vena
jugularis,
edema,hepatomegali)

Penurunan curah
Data Subjektif Diagnosa Etiologi
DS: pasien mengatakan sesak Gangguan Kebocoran septum
DO: pertukaran gas ventrikel
KU lemah Domain: 4 ↓
Nafas spontan dengan O2 nasal 4 lpm, SPO2 Kelas: 4 Tekanan ventrikel
80%, adanya pernafasan cuping hidung saat
pasien berbicara, ronchi +/+, wheezing -/- Kode diagnosis: meningkat
TTV: 00092 ↓
TD: 135/74 mmHG Aliran darah ke paru
HR: 124x/menit
RR: 24x/menit meningkat
Bunyi jantung S1,S2 tunggal, murmur ↓
sistolik (+),gallop (-), Volume ke Paru
S: 36,6 °C
Sianosis (-), GCS 4,5,6, DC (+), Urine meningkat
Produksi 900cc/7 jam,bentuk jari tabuh + ↓
AGD:
pH 7,18
Hipertensi Pulmonal
pCO2 79,5 ↓
pO2 55,1 Perubahan
HCO3 29,7
BE 1,1
permeabilitas di
SO2 78,2 membran alveoli ke
Hb 16,7 kapiler
Suhu 37 °C
Asidosis respiratorik terkompensasi ↓
sebagian Difusi O2 dan CO2 di
alveoli terganggu

Takipneu, sesak nafas

DS : Pasien mengatakan Keputusasaan Domain: 6 Ungkapan tentang situasi
tidak bisa secara
maksimal melakukan Kelas: 1 kehidupan tanpa harapan
perannya sebagai istri Kode diagnosis: ↓
dikarenakan kondisi
fisiknya yang sakit tidak 00124 Jarang berkomunikasi
mampu bekerja dan tidak ↓
bisa melayani suami
  Kontak mata kurang
DO: ↓
Keadaan umum lemah
Pola tidur pasien belum Nampak murung
teartur ( tidur 5jam) ↓
Kurang adanya kontak
mata Keputusasaan
Nafsu makan kurang
(habis seperempat porsi
makan RS)
Sering melamun
Diagnosa Berdasar
Prioritas
No. Dx Tanggal Muncul Diagnosa Keperawatan

1. 6-03-2020 Penurunan curah jantung


    berhubungan dengan
adanya defek jantung
     
2. 6-03-2020 Gangguan pertukaran gas
    berhubungan dengan
    ketidakseimbangan perfusi
– ventilasi
     
3. 6-03-2020 Keputusasaan berhubungan
  dengan adanya kelemahan
tubuh dalam jangka lama