Anda di halaman 1dari 15

Pemeriksaan Bite Mark

• Pemeriksaan Awal ( Inspeksi )


Gigitan biasanya tampak sebagai luka oval atau melingkar
disertai goresan, abrasi, kadang-kadang laserasi, indentasi,
dan avulsi. Sering kali tampak sebagai bentuk busur ganda
atau kadang goresan tidak terpola. Paling sering bekas gigitan
berasal dari enam gigi depan atas atau enam gigi depan
bawah, kadang juga terdapat juga bekas gigitan yang berasal
dari gigi geraham belakang.
Dalam kasus bekas gigitan, gigi yang keras meninggalkan bekas
berupa abrasi, laserasi, dan indentasi atau luka trauma yang
lain pada permukaan kulit yang halus pada lokasi yang digigit.
Menurut odontologi, bekas sirkuler atau melingkar di
kulit yang terdiri dari beberapa laserasi kecil dengan
area pusat berupa ekimosis merupakan
karakteristik utama dari gigitan. Odontologi juga
bisa membedakan dimensi dari goresan, abrasi, dan
laserasi sehingga dapat membantu membedakan
bekas gigitan tersebut merupakan gigitan manusia
atau bukan. Jika informasi yang tersedia minimal,
jenis luka atau pola luka kadang tidak dapat
diidentifikasi.
• Pemeriksaan Khusus
1. Pemeriksaan Bekas Gigitan Pada Korban
Pengenalan dini dan pengawetan bekas gigitan adalah hal yang terpenting
sehingga sangat penting untuk mempunyai protokol penanganan
bekas gigitan. Protokol standart yang disetujui oleh hampir seluruh
kedokteran forensik meliputi swab saliva pada luka bekas gigitan,
fotografi luka, dan membuat model permukaan gigi dengan
mengambil impressi dari kulit. Pada kasus di mana korban meninggal,
juga dapat dilakukan pengambilan kulit pada luka bekas gigitan.
Setelah foto, swab, impressi, dan bahan lain diambil dari korban, dokter
gigi forensik harus pula membuat catatan detail mengenai prosedur
dan bahan yang digunakan bersama dengan batas tanggal akhir
berlakunya dan nomor seri pabrik yang membuatnya. Sebagai contoh,
mencatat waktu diambilnya impressi gigi, oleh siapa, bagaimana
prosedurnya, jumlah bahan yang dipakai, berat dan tipe batu gigi yang
digunakan.
• Salivary Trace Evidence (Bukti Jejak Saliva)
Pada penampilan luka yang meragukan, penemuan enzim amilase
pada luka dapat memastikan bahwa luka tersebut merupakan
bekas gigitan. Sebagai tambahan, penelitian terakhir menunjukkan
bahwa saliva juga mengandung sel sel epitel dari permukaan
dalam bibir dan mukosa mulut, serta leukosit dari cairan atau
jaringan gusi. Sel-sel ini dapat menjadi sumber bukti DNA.
Sebelum tubuh korban dibersihkan dilakukan swab secara hati-hati
pada area gigitan dengan menggunakan kapas swab yang agak
basah untuk mengambil saliva dan atau sel-sel mukosa permukaan
kulit serta dipastikan terlebih dahulu bahwa sebelumnya tidak ada
yang menyentuh korban.
• Fotografi
Daerah luka harus difoto dengan menggunakan film
berwarna dan film hitam-putih. Dala interval 24 jam
dalam periode 3-5 hari telah terbukti efektif untuk
merekam fenomena kematangan luka memar.
Kegunaan fotografi ini secara umum adalah merekam
lokasi gigitan pada tubuh korban sehubungan dengan
letak anatomis. Fotografi close-up bertujuan untuk
merekam hal-hal spesifik dari bekas gigitan tersebut.
• Cetakan Permukaan Kulit
Suatu cetakan akurat permukaan kulit dapat diperoleh dengan
menggunakan bahan-bahan impresi gigi. Kekakuan dan stabilitas
adalah kriteria utama bahan ideal mengingat kegunaannya untuk
mempertahankan kontur anatomis impresi ketika dilepaskan dari
kulit. Bahan-bahan seperti dental laboratory stone, acrylic dental
tray material, thermoplastic tray material, dan thermoplastic
orthopedic mesh adalah yang secara luas dipakai.
• Pelepasan Jaringan
Pada kasus yang melibatkan korban meninggal, kulit korban dapat
diambil dan diawetkan. Hal ini sangat penting untuk mempertahakan
kulit dalam bentuk anatomis aslinya dan menghindari distorsi. Para
dokter gigi forensik, menyetujui bahwa penggunaan cincin acrylic
dapat mempertahankan bentuk anatomis tubuh pada area sehingga
meminimalisasi pengerutan dan distorsi kulit
2. Pemeriksaan Pada Tersangka
• Pemeriksaan Fisik
Beberapa hal yang dilakukakan pada pemeriksaan fisik dimana diantaranya
pengamatan dan rekaman dari jaringan keras dan lunak yang signifikan, dinamika
gigitan dari tersangka atau kemampuan untuk membuka mulut atau menggerakkan
rahang seperti keadaan temporo mandibular junction, asimetris dari wajah dan
tonus otot, dan massa otot mungkin cukup signifikan. Pembukaan maksimal dari
mulut juga harus dicatat, begitu juga beberapa deviasi pada saat membuka atau
menutup mulut secara oklusi. Adanya luka pada wajah atau bekas pembedahan
sebelumnya dan keadaan bulu-bulu wajah juga harus dicatat.
Pada rongga mulut, ukuran dan fungsi lidah harus dicatat, begitu juga abnormalitas
dari gerakannya, kesehatan jaringan sekitar gigi yang berhubungan gigi yang
goyang, daerah meradang atau hipertrofi, dan gigi yang lepas juga harus dicatat.
Gigi yang patah juga harus dicatat secara akurat untuk mengetahui berapa lama
kondisi itu telah terjadi.
• Saliva swab
Jika saliva swab telah diambil dari luka gigitan, odontologist
perlu untuk mengambil sampel saliva dari pelaku.
Gunakan cotton swab steril. Langkah yang terbaik yang
bisa dilakukan adalah dengan memutar swab di dalam
vestibulum dan sepanjang mukosa pada daerah buccal
dengan tekanan yang cukup untuk mengambil saliva dan
melepas sel epitel. Jika dilakukan dengan benar, saliva dan
DNA dari saliva pelaku dapat dibandingkan (dianalisa)
dengan hasil swab yang diambil dari luka gigitan pada
korban.
• Fotografi
Fotografi serial pada tersangka yang ideal adalah merekam posisi gigi dan dagu
dalam berbagai sudut, ketajaman dan kontur gigi. Foto pertama adalah foto
seluruh wajah dan profil dari tersangka. Selanjutnya semua foto harus diambil
sesuai dengan referensi skala yang ada dan disesuaikan dengan informasi yang
ada. Skala yang digunakan adalah referensi skala ABFO no. 2.
Dengan menggunakan retraktor bibir dan foto close-up dari lateral, foto dari gigi
diambil dari tiap sisi dalam keadaan gigi menutup pada posisi menggigit secara
normal. Kemudian prosedur pengambilan foto dari frontal untuk gigi bagian
anterior dalam keadaan oklusi normal dan dalam posisi permukaan masing-
masing gigi bersentuhan, seolah-olah sedang menggigit dengan kuat.
Pengambilan foto lengkung gigi atas untuk memperlihatkan tepi gigi bagian atas.
Untuk melengkapi foto dilakukan pengambilan lengkung gigi bagian bawah
dengan cara yang sama. Dengan menggunakan permukaan cermin bagian depan
dapat membantu untuk mendapatkan foto dari sudut yang lain.
• Impresi Gigi (Dental Impression)
Impresi gigi bagian atas dan bawah secara menyeluruh harus diperoleh
menggunakan bahan impresi yang paling akurat dan stabil. Bahan Vinyl
PolySiloxane (VPS) menghasilkan model gigi yang sangat akurat. Bahan ini
seharusnya digunakan jika memungkinkan karena pemakaian VPS membutuhkan
waktu lama, khususnya untuk tersangka yang tidak kooperatif, sebaiknya
digunakan bahan lain yang penggunaannya lebih cepat, contohnya Alginate,
bahan ini dapat digunakan dengan cepat sehingga dapat menggantikan VPS.
Tiga model gigi harus dibuat. Model pertama dibuat sebagai arsip. Model kedua
digunakan sebagai analisa gigitan dan model yang ketiga digunakan sebagai
cadangan. Dengan menggunakan VPS dapat dibuat beberapa model sekaligus.,
sendangkan dengan Alginate hanya dapat untuk satu model. Jika dipilih bahan
ini, tiga set impresi gigi atas dan bawah harus dibuat untuk membuat tiga set
model.
Analisis Bite Marks dengan Adobe Photosop
dan Dental print
• Prosedur software analisis
Sebuah foto dari bitemark dibuka dengan software pengolah
gambar, dan daerah yang diinginkan dipilih .
Setalah pemilihan, ditambahkan warna untuk
daerah abu-abu yang berbeda dari gambar. Untuk
mempertegas gambar pemeriksa dapat
menambahkan warna abu abu untuk
menghasilkan perbedaan bekas gigit dan daerah
yang tidak terkena gigitan. Hal ini dapat
memudahkan untuk membedakan daerah
intensitas pixel yang termasuk bagian dari
bitemarks dan mana yang tidak. Dengan
menghilangkan intensitas pixel pada daerah
tertentu,dapat mengisolasi wilayah gambar yang
menunjukkan bitemark.
Setelah didapat sebuah gambar bitemark yg detail
Resolusi gambar tersebut kemudian diubah menjadi kompatibel
dengan resolusi asli foto. Kebanyakan gambar bitemarks
dipindai menggunakan scanner berkepadatan 300dpi. Bagian
dari skala ABFO No.2 harus terlihat pada penempatan gambar.
Gambar bitemarks yang telah diwarnai kini ditempatkan pada
layer diatas foto gigitan mark asli menggunakan Photoshop ®
dari Adobe Systems ®
Opocity tiap layer dapat ditingkatkan atau diturunkan sesuai
dengan kebutuhan. Gambar tersebut sekarang dapat
digunakan untuk membandingkan dengan hasil gigitan pada
korban. Dengan bantuan teknik informatika dapat membantu
untuk membedakan aspek yang sebelumnya tak terlihat pada
gambar tersebut.