Anda di halaman 1dari 20

DERMATOPHYTOSI

S
in Cat
Kelompok 7
1. Febyana Sidabutar 1709511051

2. Putu Prema Candrayani 1709511052

3. Martin Pedro Krisenda Resman 1709511053

4. An’nisafitri Lutviana 1709511054

5. Aditia Pratanto 1709511055

6. I Gusti Ayu Mirah Afsari Dewi 1709511057


Sifat Agen
Dermatofita adalah jamur kompleks yang tumbuh sebagai hifa dan membentuk
miselium.

Sekitar 40 spesies yang termasuk dalam genus Microsporum, Trichophyton dan


Epidermophyton dianggap sebagai dermatofita.

Lebih dari 90% kucing kasus dermatofitosis di seluruh dunia disebabkan oleh
Microsporum canis

Semua agen ini menghasilkan enzim proteolitik dan keratolitik yang memungkinkan
mereka untuk memanfaatkan keratin sebagai satu-satunya sumber nutrisi setelah
kolonisasi dalam jaringan keratin yang mati, bagian keratinisasi dari jaringan epidermis
(kebanyakan stratum korneum dan rambut, kadang-kadang kuku).
Sifat Agen
Dermatofita menghasilkan artrospora.
◦ Sangat resisten

◦ Bertahan di lingkungan kering selama 12 bulan atau lebih [kadar


EBM III].
◦ Lingkungan yang lembab, arthospora berumur pendek.

◦ Suhu tinggi (100 ° C) menghancurkan mereka dengan cepat.

◦ Arthrospores sangat melekat pada keratin.


Epidemiologi
Dermatofitosis adalah infeksi jamur pada kucing yang paling umum. Bersifat zoonosis.

M canis adalah dermatofit zoofilik yang khas.


◦ Secara umum dianggap bahwa infeksi subklinis sangat umum pada kucing, terutama pada
hewan berbulu panjang berumur lebih dari 2 tahun.

◦ Dalam banyak kelompok prevalensi relatif rendah

◦ Arthrospores ditularkan melalui kontak dengan hewan yang sakit atau terinfeksi subklinis,
terutama kucing, tetapi juga anjing atau spesies lainnya.

◦ Hewan yang sakit, poros rambut yang terinfeksi rapuh dan fragmen rambut yang
mengandung artrospora sangat efisien dalam menyebarkan infeksi
Epidemiologi
Kucing yang tidak terinfeksi dapat membawa arthrospora secara pasif
ke rambut mereka, sehingga dapat bertindak sebagai sumber infeksi.

Kucing yang di luar ruangan, terutama di daerah pedesaan, dapat


terpapar dengan menggali M gypseum, jamur geofilik yang hidup di
tanah. Kucing dapat terinfeksi T mentagrophytes atau T quinckeanum
melalui kontak dengan tikus kecil, dan dengan T verrucosum melalui
kontak dengan ternak.
Patogenesis
• Predisposisi utama yaitu lingkungan tidak bersih/higienis.

• Masa inkubasi 1-3 minggu.

• Selama inkubasi, hifa tumbuh di batang rambut dan terbentuk


spora.

• Rambut akan terlihat normal namun pada bagian dekat kulit akan
mudah rapuh sehingga rontok.

• Terbentuk lesi menyerupai cincin.


Imunitas
Aktivasi sel Th2 dan sitokin menyebabkan pembentukan antibodi
yang diikuti dengan penyakit kronis. Aktivasi sel Th1 akan
menstimulasi respons berperantara sel, ditandai dengan interferon-
γ dan interleukin 12 dan 2, sehingga terjadi kesembuhan

Reinfeksi mungkin terjadi, namun akan membutuhkan lebih banyak


jumlah spora, dan baisanya infeksi lanjutan ini akan lebih cepat
dihilangkan.
Gejala Klinis
Alopecia
regular dan Deskuamasi Eritematosa Papula
circular

Pustula Pruritus Kerak


Diagnosa

Pemeriksaan
Wood’s Lamp
Mikroskopis Langsung

Kultur Media SDA PCR


Manajemen Penyakit

Pada kucing yang imunokompeten, lesi yang terisolasi menghilang secara


spontan setelah 1-3 bulan dan mungkin tidak memerlukan pengobatan

Perawatan topikal umumnya kurang efektif pada kucing

Dengan demikian, langkah-langkah terapeutik harus mencakup kombinasi


pengobatan sistemik dan topical sampai 10 minggu

Secara umum, kucing harus dirawat tidak hanya sampai lesi benar-benar
hilang, tetapi sampai dermatofit tidak lagi dapat dikultur dari rambut
Manajemen Penyakit
 Infeksi dermatofita sangat sulit diberantas dan juga memakan waktu dan
mahal. Kedisplinan sang pemilik sangatlah penting.

 Diperlukan program perawatan dan pemisahan hewan yang terinfeksi dan


tidak terinfeksi serta dekontaminasi lingkungan yang intensif.

 Ketika menangani hewan yang terinfeksi harus memperhatikan keamanan


dan kebersihan untuk mencegah infeksi pada manusia.
Terapi Topikal
 Pada kucing yang memiliki lesi yang terbatas, rambutnya harus
potong(clipping)

 Rambut harus dipotong dengan lembut untuk menghindari penyebaran


infeksi karena mikrotrauma.

 Pada kucing berbulu panjang, clipping kucing berguna untuk membuat


terapi topikal lebih mudah dan memungkinkan penetrasi

 Seluruh rambut, termasuk kumis, harus dipotong dengan lembut dan


semua rambut yang terinfeksi harus dibungkus dan didesinfeksi sebelum
dibuang.
Terapi Topikal
 Rambut kucing tidak boleh dipotong di klinik hewan untuk menghindari
kontaminasi lingkungan.

 Salah satu prosedur yang paling efektif adalah perawatan seluruh tubuh
dengan larutan enilconazole 0,2% dilakukan dua kali seminggu.

 Pemberian 2 % miconazole dengan atau tanpa 2% chlorhexidine sebagai


sampo tubuh dalam dua kali seminggu.
Terapi Sistemik
1. Itraconazole ( Efektif )
Pemberian melalu IV : 5 mg/kg BB
Efek Samping : Anoreksia ( jarang )
2. Terbinafine
Pemberian melalui oral : 30-40 mg/kg BB ( 1x/hari )
Efek Samping : Muntah dan pruritus pada wajah
3. Ketoconazole
Pemberian melalui oral : 2,5-5 mg/kg BB ( 2x /hari )
Efek Samping : toksisitas hati, anoreksia, muntah, diare dan penekanan
sintesis hormon steroid
Terapi Sistemik
4. Griseofulvin

Pemberian melalui oral : 25-50 mg/kg BB selama 4 - 6 minggu

Efek Samping : anoreksia, muntah, diare dan penekanan sumsum tulang.

VAKSINASI

Vaksinasi untuk pencegahan deratofitosis belum ada dan masih dalam


penelitian.
Pilihan Lain
Terapi Immuno dengan Anti-dermatofit
• Mengurangi lesi dan mempercepat hilangnya lesi
• Belum banyak dipakai.
Dekontaminasi Lingkungan
 Melakukan vacuuming dan membersihkan bulu kucing secara menyeluruh.

 Desinfeksi di shelter atau penitipan hewan. Disinfektan berlabel 'antijamur'

adalah fungicidal anti mycelial bentuk dermatofit atau makrokonidia tetapi

tidak terhadap artrospora.

 Melawan arthrospora

1:33 kapur-belerang, enilconazole 0,2%, dan 1:10 sampai 1: 100 pemutih

klorin rumah tangga. Semua permukaan harus dibersihkan dengan salah satu

solusi ini.
TERIMAKASIH