Anda di halaman 1dari 17

LI SGD 2

RIZKI PUJIASIH (30901800152)


OBESITAS
1. Komplikasi Obesitas pada anak?
• tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kadar lipid dalam darah yang
abnormal dan resistensi insulin.
• sesak napas yang membuat olahraga atau aktifitas fisik lebih sulit dan
dapat memperburuk gejala dan menyebabkan terjadinya asma.
• gangguan hati dan penyakit kandung empedu.
• Obesitas pada anak dapat menyebabkan gesekan sehingga membuat kulit
menjadi lecet, anak merasa gerah atau panas dan disertai biang keringat
serta jamur pada lipatan kulit.
• mengenai jantung. Anak-anak yang mengalami obesitas cenderung
mengakibatkan hipertensi(tekanan darah tinggi) pada masa pubertas
• mengenai ginjal. Anak yang mengalami obesitas memiliki resiko terkena
diabetes dengan komplikasi sakit ginjal di kemudian hari.
• Komplikasi psikologikal pada anak obesitas seperti ansietas, depresi,
kurang percaya diri, tanda-tanda depresi, memburuknya prestasi sekolah,
isolasi sosial, masalah dengan intimidasi atau ditindas (Kliegman, n.d;
Chung, Chiou dan Chen, 2015).

• Anak obesitas memiiki risiko tinggi mengalami prediabetes, dislipidemia,


steatosis hati, dan hipertensi.
 
• Journal (Komplikasi Obesitas Pada Anak dan Upaya Penanganannya Aulia
Agristika Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung.
2. Hubungan penyakit ayah dm dengan penyakit yang diderita pasien
• Prenatal fatness merupakan faktor risiko genetik yang berperan besar. Bila kedua orang tua
obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas, bila salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas
menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi menjadi 14%.
• Obesitas merupakan faktor risiko yang berperan penting terhadap penyakit Diabetes Melitus,
Melitus (Suyono, 2012). Apabila tubuh gemuk lebih sulit dalam menggunakan insulin yang
dihasilkan (resistensi insulin).
• Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Rosadi (2013), diperoleh bahwa orang yang obesitas
berdasarkan Indeks Masa Tubuh (IMT) berisiko terkena DM sebanyak 2,51 kali kali lebih besar
dibandingkan dengan yang tidak obesitas.
• Jika dilihat dari RPK (ayah dengan DM) —> Parental  fatness —> faktor  genetik —> bila
kedua  orang  tua obesitas,  80%  anaknya menjadi  obesitas;  bila salah  satu  orang  tua
obesitas,  kejadian obesitas menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi
menjadi 14%.

(Sumber ; Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kesehatan, dan Ilmu Kesehatan ISSN 2579-6402 (Versi
Cetak) Vol. 2, No. 1, April 2018: hlm 240-246 ISSN-L 2579-6410 (Versi Elektronik))
3. Cara mengitung IMT dan interpretasinya

46 kg 46
IMT : 1,16 cm x 1,16
= m = 34,32
1,34
Kriteria CDC
Kriteria WHO
Klasifikasi (Standar Deviasi IMT) (Persentil IMT)

<5
Underweight 2 SD dibawah rata-rata
Normoweight 2 SD dibawah sampai 1 SD diatas rata- 5-85
rata
Overweight >1 SD diatas rata-rata
85-95

Obesitas >2 SD diatas rata-rata >95


4. Pemeriksaan penunjang pada pasien obesitas?
• pemeriksaan  antropometri  tujuan  yang  hendak  dicapai adalah:
• 1)   Penapisan   status   gizi,   yang   diarahkan   untuk   orang   dengan
  keperluan khusus.
• 2)   Survei status gizi, yang ditujukan untuk memperoleh gambaran
status gizi masyarakat pada saat tertentu serta faktor yang berkaitan.
• 3)   Pemantauan  status  gizi,  yang  digunakan  untuk  memberikan  g
ambaran perubahan status gizi dari waktu ke waktu.
• Pemeriksaan  antropometri  dilakukan  dengan  mengukur  ukuran  fis
ik,  seperti tinggi badan, berat badan serta lingkar beberapa bagian
tubuh tertentu.
Pemeriksaan diagnostic
• 1. DEXA (dual energy X-ray absorptiometry), menyerupai skening
tulang. Sinar X digunakan untuk menentukan jumlah dan lokasi dari
lemak tubuh.
• 2. BOD POD merupakan ruang berbentuk telur yang telah
dikomputerisasi. Setelah seseorang memasuki BOD POD, jumlah udara
yang tersisa digunakan untuk mengukur lemak tubuh.
• 3. Jangka kulit, ketebalan lipatan kulit di beberapa bagian tubuh
diukur dengan jangka (suatu alat terbuat dari logam yang menyerupai
forseps).
• Bioelectric impedance analysis (analisa tahanan bioelektrik), penderita
berdiri diatas skala khusus dan sejumlah arus listrik yang tidak
berbahaya dialirkan ke seluruh tubuh lalu dianalisa.
Pemeriksaan laboratorium
• Test Darah
Selama pemeriksaan fisik, dokter akan mengeluarkan tes darah untuk
memeriksa kondisi banyak termasuk diabetes, kolesterol tinggi,
masalah jantung, dan gangguan hati. Dengan tes darah, dokter
mungkin dapat menangkap dan merawat kondisi tertentu sebelum
mereka menjadi masalah.
• Journal MAKALAH DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
OBESITAS PADA ANAK 
5. Penatalaksaan pada obesitas?
 Penatalaksanaan
a. Merubah gaya hidup
• Diawali dengan merubah kebiasaan makan. Mengendalikan kebiasaan
ngemil dan makan bukan karena lapar tetapi karena ingin menikmati
makanan dan meningkatkan aktifitas fisik pada kegiatan sehari-hari.
b. Terapi Diet
• Mengatur   asupan   makanan   agar   tidak   mengkonsumsi   makanan
dengan jumlah kalori yang berlebih, dapat dilakukan dengan diet yang
terprogram secara benar.
Jenis diet, Tatanan diet,  Pola makan
c. Aktifitas Fisik
• d. Terapi perilaku
Untuk mencapai penurunan berat badan dan mempertahankannya,
diperlukan suatu  strategi  untuk  mengatasi  hambatan  yang  muncul pada
saat terapi diet dan aktifitas fisik. Strategi yang spesifik meliputi pengawasan
mandiri terhadap kebiasaan makan dan aktifitas fisik, manajemen stress,
stimulus control, pemecahan masalah, contigency management, cognitive
restructuring dan dukungan sosial (Sugondo,2008).
• e. Farmakoterapi
Sirbutramine ditambah diet rendah kalori dan aktifitas fisik efektif
menurunkan berat badan dan mempertahankannya. Orlistat menghambat
absorpsi lemak sebanyak
30   persen.  Dengan   pemberian   orlistat,   dibutuhkan   penggantian
vitamin  larut  lemak karena  terjadi  malabsorpsi  parsial  (Sugondo,2008).
• Journal KONSEP ASUHAN KEPERAWATANOBESITAS PADA ANAK
6. Hormon apa yang menyebabkan obesitas sebut dan jelaskan?
• Cortisol
Hormon yang satu ini bertanggung jawab atas pemicu stres yang dialami
tubuh. Seperti yang diketahui, stres bisa memicu peningkatan berat
badan. Untuk mengurangi kadar hormon cortisol, cobalah berolahraga
secara teratur agar berat badan juga bisa dikontrol.
• Melatonin
Tubuh memiliki hormon yang memberi 'perintah' bahwa Anda butuh
istirahat dan tidur, yaitu melatonin. Produksi hormon ini meningkat di
ruangan yang lebih gelap. Itulah sebab kenapa ketika tidur, lampu
sebaiknya dimatikan. Kekurangan hormon melatonin sering dikaitkan
dengan obesitas, diabetes, dan kanker.
• Oxytocin
Hormon cinta atau oxytocin muncul saat tubuh bersentuhan dengan orang yang Anda suka,
bercinta, atau makan cokelat. Namun jika Anda sedang sakit hati, jumlah oxytocin cenderung
menurun dan hormon cortisol otomatis malah meningkat. Sehingga tubuh pun berisiko mengalami
kegemukan.
• Tiroid
Hormon tiroid memegang peranan penting dalam metabolisme yang membakar lemak dan
menyalurkan energi ke seluruh tubuh. Jika Anda stres, kurang gizi, dan menderita inflamasi,
hormon tiroid jumlahnya bisa menurun. Pada akhirnya, tubuh berisiko mengalami peningkatan
berat badan.
• Estrogen dan progesteron
Kedua hormon tersebut dimiliki wanita dan dihasilkan oleh ovarium. Estrogen dan progesteron
pun memengaruhi berat badan, entah itu menurunkan atau meningkatkan. Maka dari itu
menopause dan pubertas sering dikaitkan dengan berat badan dan perubahan bentuk tubuh.
• Testosteron
Baik pria maupun wanita sama-sama memiliki hormon ini. Testosteron juga memberi pengaruh
terhadap berat badan, karena fungsinya adalah menjaga kekuatan otot yang memicu metabolisme
dalam membakar lemak. Jika jumlahnya menurun, berat badan bisa meningkat.
• Leptin dan ghrelin
Kedua hormon tersebut bisa dibilang sebagai hormon nafsu makan.
Sebab keduanya berperan dalam memberi pesan pada otak bahwa
Anda sedang lapar. Kurang tidur bisa memengaruhi kinerja hormon
leptin, sehingga nafsu makan biasanya akan sulit dikontrol dan
membuat berat badan membengkak.
• Serotonin
Hormon gembira ini memiliki kontrol terhadap suasana hati dan
ingatan. Jumlahnya harus dijaga agar tetap seimbang sehingga berat
badan mampu dikontrol. Sebab kurang serotonin bisa memicu rasa
cemas yang berujung pada stres.
Diagnosa Kep dalam kasus tsb ?

• Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b.d intake makanan


berlebih
• Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen/gaya monoton
Intervensi dari Diagnosa yang di
ambil
• Dx 1 :
- Dorong pasien untu merubah kebiasaan makanan ringan
- Diskuri pada pasien mengenai kebiasaan, gaya hidup, dan faktor yang
dapat mempengaruhi BB pasien
- Hitung perkiraan BB ideal pasien
- Beri diet yang rendah kalori dan tinggi serat
• Dx 2 :
- Bantu pasien untuk mengidentifikasi aktifitas yang diinginkan dan
yang mampu dilakukan
- Bantu pasien untuk mengidentifikasi aktifitas yang tidak bisa
dilakukan pasien
- Beri semangat pasien
- Monitor respon fisik, sosial dan spiritual.

(buku nanda, dan NIC)