Anda di halaman 1dari 14

EUTHANASIA

DISUSUN OLEH:
1. LUSIANA SANDRA OEY 091424044
2. MARIA PERSIANE ORLINA GAGUK 091424009
3. CHERESENRISTA CHRISTANA ATOK 091424007
4. SELESTINA KOSTARIA JUA 091424056
5. YASINTA MONIKA BHIJU DHAPA 091424036
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Dalam kehidupan ini seseorang mempunyai berbagai macam masalah
yang mau tidak mau harus dihadapi demi tercapainya kelangsungan hidup
seseorang. Setiap orang berbeda-beda dalam menghadapi dan menyikapi
berbagai masalah sebagian orang bisa menerima masalah dengan lapang dan
yakin bahwa itu adalah suatu ujian, tetapi ada juga seseorang yang
menganggap masalah adalah suatu musibah. Sehingga orang tersebut bisa
putus asa dan melakukan tindakan diluar dugaan, seperti seseorang yang
mempunyai penyakit yang susah diobati sehingga orang tersebut putus asa dan
depresi, sehingga orang tersebut memutuskan untuk menghentikan pengobatan
guna mengakhiri penderitannya, hal ini bisa dikenal dengan tindakan
euthanasia.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Euthanasia
- Apa pengertian euthanasia?
- Bagaimana pembagian euthanasia ?
- Bagaimana pandangan-pandangan
mengenai euthanasia (agama dsb)
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN EUTHANASIA
Euthanasia berasal dari kata Yunani eu : baik dan thanatos : mati.
Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan cara yang mudah tanpa rasa sakit.
Euthanasia sering disebut : mercy killing (mati dengan tenang).
Euthanasia bisa muncul dari keinginan pasien sendiri, permintaan dari keluarga
dengan persetujuan pasien (bila pasien masih sadar), atau tanpa persetujuan
pasien (bila pasien sudah tidak sadar).
Euthanasia adalah tindakan pemutusan kehidupan dalam maksud
membebaskan pasien dari penderitaan yang tidak tersembuhkan
2.2. PEMBAGIAN EUTHANASIA
2.2.1.Eutanasia ditinjau dari sudut cara pelaksanaannya
1. Eutanasia agresif : atau suatu tindakan eutanasia aktif yaitu suatu
tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga
kesehatan lain untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup si pasien
2. Eutanasia non agresif : atau kadang juga disebut autoeuthanasia
(eutanasia otomatis)yang termasuk kategori eutanasia negatif yaitu
dimana seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk
menerima perawatan medis dan sipasien mengetahui bahwa
penolakannya tersebut akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya
3. Eutanasia pasif : juga bisa dikategorikan sebagai tindakan eutanasia
negatif yang tidak menggunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk
mengakhiri kehidupan si sakit. Tindakan pada eutanasia pasif ini adalah
dengan secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang
dapat memperpanjang hidup pasien
2.2.2.Eutanasia ditinjau dari sudut pemberian izin
1. Eutanasia diluar kemauan pasien: yaitu suatu tindakan eutanasia yang
bertentangan dengan keinginan si pasien untuk tetap hidup. Tindakan
eutanasia semacam ini dapat disamakan dengan pembunuhan.
2. Eutanasia secara tidak sukarela: Eutanasia semacam ini adalah yang
seringkali menjadi bahan perdebatan dan dianggap sebagai suatu tindakan
yang keliru oleh siapapun juga.Hal ini terjadi apabila seseorang yang tidak
berkompeten atau tidak berhak untuk mengambil suatu keputusan
3. Eutanasia secara sukarela : dilakukan atas persetujuan si pasien sendiri,
namun hal ini juga masih merupakan hal kontroversial
2.2.3. Eutanasia ditinjau dari sudut tujuan
 Pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing)
 Eutanasia hewan
 Eutanasia berdasarkan bantuan dokter, ini adalah bentuk lain daripada
eutanasia agresif secara sukarela
2.3. KONSEP TENTANG MATI DIRI
Pada umumnya dikenal beberapa konsep tentang mati :
1. Mati sebagai berhentinya darah mengalir
2. Mati sebagai saat terlepasnya nyawa dari tubuh
3. Hilangnya kemampuan tubuh secara permanen (irreversible loss of ability)
4. Hilangnya kemampuan manusia secara permanen untuk kembali sadar dan
melakukan interaksi sosial
2.4. BEBERAPA ASPEK EUTHANASIA
2.4.1. Aspek Hukum
Di dalam pasal 344 KUHP dinyatakan : “Barang siapa menghilangkan jiwa
orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan
dengan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun”.
2.4.2. Aspek Hak Asasi
Hak asasi manusia selalu dikaitkan dengan hak hidup, damai dan
sebagainya.Tapi tidak tercantum dengan jelas adanya hak seseorang untuk mati.
Mati sepertinya justru dihubungkan dengan pelanggaran hak asasi manusia
2.4.3. Aspek Ilmu Pengetahuan
Seorang dokter harus mengerahkan segala kepandaiannya dan
kemampuannya untuk meringankan penderitaan dan memelihara
hidup manusia (pasien), tetapi tidak untuk mengakhirinya.
Menurut etik kedokteran, seorang dokter tidak dibolehkan :
 Menggugurkan kandungan (abortus provocatus)
 Mengakhiri hidup seorang penderita, yang menurut ilmu dan
pengalaman tidak akan mungkin sembuh lagi.
2.4.4. Aspek Agama
Semua agama yang ada di Indonesia melarang tindakan
euthanasia ini karena ajaran setiap agama tentang hidup dan mati
adalah sama, yaitu bahwa Tuhan YME-lah yang menciptakan
manusia dan menentukan hidup dan matinya seseorang.
euthanasia dan bunuh diri ini hukumnya haram, karena melakukan
perbuatan ini berarti melanggar ketentuan Allah yang berhak
menghidupkan dan mematikan manusia.
CONTOH KASUS DAN PEMBAHASANNYA
Untuk pertama kali di Indonesia seseorang yang mengakhiri penderitaan orang lain
dengan cara disuntik mati diajukan oleh keluarga pasien kepada negara. Adalah Hassan
Kusuma yang memohon izin menyuntik mati istrinya, Agian Isna Nauli yang tergolek tak
berdaya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sejak dua bulan terakhir. Agian tak
sadarkan diri sehari setelah dioperasi caesar di Rumah Sakit Islam (RSI) Bogor, Jawa
Barat, 20 Juli 2004.
Dari sepenggal cerita di atas, permintaan Hassan untuk mengakhiri hidup
istrinya dapat dikategorikan dalam euthanasia aktif : Proses kematian diperingan
dengan memperpendek kehidupan secara terarah dan langsung.
Jika dilihat dari sudut pandang hukum, hukum positif dengan tegas
melarang euthanasia(pasal 344 KUHP). Kendati setiap orang merasa punya hak
untuk mati, tapi kematian seyogianya tetap ada pada tangan Tuhan.
BAB III
PENUTUP
3.1.KESIMPULAN
 Euthanasia dan bunuh diri merupakan suatu tindakan yang sangat
bertentangan dengan kehendak Allah karena hanya Allah yang berhak
menentukan hidup dan matinya seseorang

 Euthanasia aktif tetap dilarang, baik dilihat dari segi kode etik kedokteran,
Undang-Undang Hukum Pidana, lebih-lebih menurut keyakinan agama yang
menghukumnya dengan haram
3.2.SARAN
 Membiarkan pasien dalam perawatan seadanya, tanpa ada maksud
melalaikannya, apalagi menghendaki kematiannya
 Sebagai keluarga, kita berusaha lebih sabar dalam mengalami
permasalahan. Dan berpikir panjang dalam melakukan sebuah tindakan.
”Biarkanlah hak untuk hidup tetap di
tangan Tuhan saja, bukan dihibahkan
kepada tangan kita yang betapa kecil
begini”