Anda di halaman 1dari 25

MANAJEMEN STRESS

KELOMPOK IV

DIAN FAZIRA K (SK117008)


ISLAHIYAN PRATIWI (SK117019)
PUTRI RAHMADANI (SK117025)
RIFDA HUSNA (SK117027)
SRI MULYANI (SK117032)
TRI KUSUMAWATI (SK117034)
DEVINISI

Definisi stress yang diberikan oleh


Selye (1982) adalah ”stress is the
nonspecific resultofany demand upon
the body be the mental or somatic,"
tubuh akan memberikan reaksi tertentu
terhadap berbagai tantangan yang
dijumpai dalam hidup kita berdasarkan
adanya perubahan biologi dan kimia
dalam tubuh.
MODEL STRESS BERDASARKAN STIMULUS

Model stimulus berdasarkan pada analogi


sederhana dengan hukum elastisitas. Hooke
menjelaskan hukum elastisitas untuk
menguraikan bagaimana beban dapat
menimbulkan kerusakan. Jika strain yang
dihasilkan oleh stress yang diberikan berada
Dada batas elastisitas dari material tersebut
akan kembali ke kondisi semula, tetapi jika
strain yang dihasilkan melampaui batas
elastisitasnya maka kerusakan akan terjadi.
MODEL STRESS BERDASARKAN RESPON

Model ini mengidenfisikasi stress sebagai respon individu terhadap str


essor yang diterima. Selye (1982) menjelaskan stress sebagai respon non
spesifik yang timbul terhadap tuntutan lingkungan, respon umum ini dise
but sebagai General Adaptation Syndrome (GAS) dan dibagi dalam tiga f
ase yaitu: fase sinyal, fase perlawanan, dan fase keletihan. Reaksi alarm
merupakan respon siaga (fight or flight). Pada fase ini terjadi peningkata
n cortical hormone, emosi, dan keteganga
MODEL STRESS BERDASARKAN TRANSAKSIONA
L .

Pendekatan ini mengacu pada interaksi yang timbul antar


a manusia dan lingkungannya. Antarvariabel lingkungan dan
individu terhadap proses penilaian kognitif (cognitive apprais
al)yang menjadi mediatornya. Studi yang berlandaskan pada
pendekatan ini menyimpulkan bahwa kita tidak akan dapat
memprediksikan penampilan seseorang hanya dengan meng
enali stimulus, individu bervariasi dalam menyesuaikan diri d
engan lingkungannya yaitu dengan melakukan koping terha
dap berbagai tuntutan.
TIGA TAHAP DALAM MENGUKUR POTENSIAL YANG ME
NGANDUNG STRES :

1. Pengukuran primer
menggali dersepsi individu terhadap masalah saat ia menila
i tantangan atau tuntutan yang menimpanya
2. Pengukuran sekunder

mengkaji kemampuan seseorang atau sumber-sum


ber tersedia diarahkan untuk mengatasi masalah
3. Pengukuran tersier
berfokus pada perkiraan keefektifan perilaku koping dalam
mengurangi dan menghadapi ancaman.
Psikologi stress

Konsep ini menunjukkan reaksi stress da


lam tiga fase, yaitu :
1. fase sinyal (alarm),
2. fase perlawanan (resistance), dan
3. fase keletihan (exhaustion).
TAHAP SINYAL

mobilisasi awal dimana badan menemui tantangan


yang diberikan oleh penyebab stress. Ketika penyeb
ab stress ditemukan, otak mengirimkan suatu pesan
biokimia kepada semua sistem tubuh. Pernafasan m
eningkat, tekanan darah naik, anak mata membesar
, ketegangan otot naik, dan seterusnya. Jika penyeb
ab stress terus aktif,GAS beralih ke tahap perlawana
n.
FASE PERLAWANAN (RESISTANCE)

melawan penyebab stress. Sementara perlawan


an terhadap suatu penyebab stress khusus mu
ngkin tinggi selama tahap ini, perlawanan t
erhadap stress Iainnya mungkin rendah; sese
orang hanya memiliki sumber energi terbatas
, konsentransi dan kemampuan untuk menahan
penyebab-penyebab stress. lndividu-individu
sering lebih mudah sakit selama periode str
ess ketimbang pada waktu Iainnya.
FASE KELETIHAN

Tahap terakhir GAS adalah keletihan.


Perlawanan pada penyebab stress yang
sama dalam jangka panjang dan terus m
enerus mungkin akhirnya menaikkan pen
ggunaan energi penyesuaian yang bisa
dipakai, dan sistem menyerang penyeba
b stress menjadi Ietih.
STRESSOR PSIKOSOSIAL

adalah setiap keadaan atau peristiwa ya


ng menyebabkan Derubahan dalam keh
idupan seseorang (anak, remaja, atau d
ewasa), sehingga orang itu terpaksa me
ngadakan adaptasi atau menanggulang
i stressor yang timbul.
JENIS STRESSOR PSIKOSOSIAL

 Perkawinan
Berbagai permasalahan perkawinan merupakan
sumber stress yang dialami seseorang; misalnya
pertengkaran, perpisahan (separation), perceraia
n, kematian salah satu pasangan, ketidaksetiaan,
dan lain sebagainya. Stressor perkawinan ini dap
at menyebabkan seseorang jatuh dalam depresi
dan kecemasan.
Roblem Orangtua
permasalahan yang dihadapi orangtua, misal
nya tidak punya anak, kebanyakan anak, kena
kalan anak, anak sakit; hubungan yang tidak
baik dengan mertua, ipar, besan, dan lain seb
againya
 Hubungan Interpersonal (Antarpribadi)
Gangguan ini dapat berupa hubungan denga
n kawan dekat yang mengalami konflik, konfli
k dengan kekasih, antara atasan dan bawaha
n, dan lain sebagainya. Konflik hubungan inte
rpersonal ini dapat merupakan sumber stress
bagi sese~ orang, dan yang bersangkutan dap
at mengalami depresi dan kecemasan karena
nya.
 Pekerjaan
Masalah pekerjaan merupakan sumber stress
kedua setelah mesalah perkawinan. Banyak o
rang menderita depresi dan kecemasan karen
a masalah pekerjaan ini, misalnya pekerjaan t
erlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, mutasi,j
abatan, kenaikan pangkat, pensiun, kehilanga
n pekerjaan (PHK), dan lain sebagainya.
 Lingkungan Hidup
Kondisi lingkungan yang buruk besar pengaruh
nya bagi kesehatan seseorang, misalnya soal pe
rumahan, pindah tempat tinggal, penggusuran,
hidup dalam lingkungan yang rawan (kriminalit
as) dan lain sebagainya. Rasa tercekam dan tida
k merasa aman ini amat mengganggu ketenang
an dan ketenteraman hidup, sehingga tidak jara
ng orang jatuh ke dalam depresi dan kecemasa
n.
 Keuangan
Masalah keuangan (kondisi sosiaI-ekonomi) yan
g tidak sehat, misalnya pendapatan jauh Iebih r
endah dari pengeluaran, terlibat utang, kebang
krutan usaha, soal warisan, dan lain sebagainya
. Problem keuangan amat berpengaruh pada ke
sehatan jiwa seseorang dan seringkali masalah
keuangan ini merupakan faktor yang membuat
seseorang jatuh dalam depresi dan kecemasan.
TAHAPAN STRESS
ROBERT J. VAN AMBERG (PSIKIATER)

a. Stress tingkat 1 (Ringan)


 Semangat besar.
 Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.
 Energi dan gugup berlebihan, kemampuan meny
elesaikan pekerjaan lebih dari biasanya.
b. Stress tingkat II
 Merasa Ietih sewaktu bangun pagi.
 Merasa lelah sesudah makan siang.
 Merasa lelah menjelang sore hari.
 Terkadang gangguan dalam sistem pencernaan (g
angguan usus, perut  kembung), kadang-kadang p
ula jantung berdebar-debar. Perasaan tegang pad
a otot-otot punggung dan tengkuk (belakang Iehe
r).
 Perasaan tidak bisa santai.
c. Stress tingkat III
 Pada tahapan ini keluhan keletihan semakin nampak d
isertai dengan gejala-gejala:
 Gangguan usus lebih terasa (sakit perut, mulas, sering
ingin ke belakang).
 Otot-otot terasa Iebih tegang. Perasaan tegang yang s
emakin meningkat.
 Gangguan tidur (sukar tidur, sering terbangun malam
dan sukar tidur kembali, atau bangun terlalu pagi).
 Badan terasa oyong, rasa-rasa mau pingsan (tidak sa
mpai jatuh pingsan).
d. Stress tingkat IV
 Tahapan ini sudah menunjukkan keadaan yang lebih
buruk yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
 Untuk bisa bertahan sepanjang hari terasa sangat su
lit.
 Kegiatan-kegiatan yang semula menyenangkan kini
terasa sulit.
 Kehilangan kemampuan untuk menanggapi situasi,
pergaulan sosial, dan
 Kegiatan-kegiatan rutin lainnya terasa berat.
e. Stress tingkat V
 Keletihan yang mendalam (physical and psycholo
gical exhaustion).
 Untuk pekerjaan-pekerjaan yang sederhana saja t
erasa kurang mampu
 Gangguan sistem pencernaan (sakit maag dan usu
s) Iebih sering, sukar buang air besar atau sebalikn
ya feses cair dan sering ke belakang.
 Perasaan takut yang semakin menjadi, mirip panik
.
f. Stress tingkat VI (tahap puncak/gawat darurat)

 Debar jantung terasa amat keras, hal ini disebabkan


zat adrenalin yang  dikeluarkan, karena stress terse
but cukup tinggi dalam peredaran darah.
 Nafas sesak, megap-megap.
 Badan gemetar, tubuh dingin, keringat bercucuran.
 Tenaga untuk hal-hal yang ringan sekalipun tidak ku
asa Iagi, pingsan atau collaps.
MODE PENANGANAN DILIHAT DARI BEBERA
PA JURNAL
 Jurnal PENGARUH TEKNIK MANAJEMEN STRESS TERHA
DAP PENURUNAN TINGKAT STRESS PADA LANSIA DI PA
NTI SOSIAL TRESNA WERDHA PUSPAKARMA MATARAM

menyampaikan bahwa melakukan teknik manajemen stre


s selama 3 kali dalam seminggu memiliki pengaruh terhad
ap penurunan tingkat stres pada lansia yang tinggal di Pan
ti Sosial. Dengan diberikan teknik manajemen stres selam
a 3 kali dalam seminggu terbukti dapat menurunkan tingk
at stres pada lansia.
TERIMAKASIH