Anda di halaman 1dari 36

DISLOKASI ELBOW SINISTRA

Presentan:
Suci Gusti Sartika
(1410070100124)
Preseptor
dr. Vina Tri Septiana Sp.Rad
Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah
Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Radiologi
RSI Siti Rahmah Padang
2020
Anatomi
Definisi dan Klasifikasi
Dislokasi elbow merupakan suatu injury berupa keadaan
yang abnormal pada regio siku, dimana olecranon tidak
berhubungan secara normal dengan epycondylus humeri,
atau bergesernya ulna kebelakang dari ujung bawah humeri.
Neglected elbow dislocation didefinisikan sebagai dislokasi
siku yang tidak direduksi selama lebih dari 3 minggu.
Dislokasi siku diklasifikasikan sesuai lokasi cedera, yaitu
posterior, anterior, dan divergen. Dislokasi siku juga dapat
dikelompokkan ke dalam dua kategori besar, yaitu
sederhana dan kompleks.
O'Driscoll menyatakan bahwa dislokasi siku memiliki 3
tahap dari sisi lateral ke medial. Pada dislokasi posterior
sederhana, mekanisme cedera dianggap sebagai
gangguan jaringan lunak yang dimulai dari sisi lateral
dan berlanjut ke sisi medial.
a. Tahap 1 - gangguan LUCL total dengan gangguan LCL
total atau sebagian, menghasilkan subluksasi siku
posterolateral rotatorik.
b. Tahap 2 - gangguan pada kapsula anterior dan
posterior yang mengakibatkan dislokasi
posterolateral inkomplit, dengan koronoid berada
di troklea.
c. Tahap 3 - gangguan MCL yang mengakibatkan
dislokasi siku posterior.
(A) Radiografi lateral (B) anteroposterior dari dislokasi siku sederhana.
Radiografi lateral menunjukkan dislokasi siku tahap 2.
Dislokasi siku yang kompleks menyebabkan gangguan
pada anatomi tulang sekitarnya. Pola dislokasi siku
kompleks yang paling sering terjadi adalah:
• Dislokasi-fraktur transolekranon
• Dislokasi siku dengan fraktur koronoid
• Dislokasi siku dengan fraktur kepala radial
• Dislokasi siku dengan fraktur kepala koronoid dan
radial (“terrible triad”). Diperlukan reduksi sesegera
mungkin untuk menghindari kerusakan pembuluh
darah atau saraf.
Dislokasi-fraktur transolekranon, gambaran lateral. Dislokasi siku dengan fraktur koronoid, gambaran lateral
A) Radiografi lateral B) anteroposterior dari dislokasi kompleks.
Fraktur siku dikelompokkan sesuai dengan tulang yang terlibat. Untuk
setiap jenis fraktur, terdapat beberapa klasifikasi untuk membantu dalam
algoritma pengambilan keputusan atau untuk memberikan informasi
prognostik.
Fraktur kapitelar dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan
klasifikasi Bryan dan Morrey:
• Tipe I (fraktur Hahn-Steinthal) termasuk fraktur komplit dari kapitelum,
dengan keterlibatan fragmen tulang besar dari bagian lateral troklea.
• Tipe II (fraktur Kocher-Lorenz) termasuk pelepasan osteokartilagosa
frontal akibat shearing forces
• Tipe III (fraktur Broberg-Morrey) termasuk fraktur kominutif dari
kapitelum
• Tipe IV (fraktur McKee) termasuk fraktur kombinasi dari kapitelum dan
troklea.
Fraktur kepala dan leher radial dibagi menjadi empat
kelompok sesuai dengan klasifikasi Mason:
• Tipe I termasuk fraktur yang tidak mengalami
displacement atau displaced minimal (<2 mm)
• Tipe II termasuk fraktur displaced (> 2 mm)
(fraktur angulasi)
• Tipe III termasuk fraktur displaced kominutif
• Tipe IV kombinasi fraktur kepala radial dan
dislokasi siku
Radiografi siku oblik Lateral, menunjukkan fraktur leher radial tanpa adanya
displacement dengan elevasi fat pad anterior dan posterior.
Radiografi lateral siku selama ekstensi menunjukkan fraktur
kepala radial displaced (panah) yang melibatkan kurang dari
30% permukaan artikular, yang mengindikasikan fraktur Mason
tipe II.
Mekanisme terjadi nya dislokasi
Mekanisme cedera dislokasi siku seringkali dianggap
sebagai akibat dari hiperekstensi. Posisi terjatuh pada posisi
tangan ekstensi sangat sering terjadi. Siku mengalami gaya
tekan aksial selama fleksi saat tubuh mendekati tanah.
Tubuh melakukan rotasi internal, lengan melakukan rotasi
eksternal ke badan, sehingga menghasilkan posisi supinasi
siku. Pada titik tersebut, sumbu mekanis ekstremitas adalah
medial terhadap siku yang menghasilkan posisi valgus.
O'Driscoll dan Morrey menyatakan bahwa tekanan ekstensi
varus mengganggu kompleks ligamen lateral terlebih
dahulu. Jika gaya tekan berlanjut, akan terjadi rotasi
lengan yang mengakibatkan robeknya kapsula sendi dan
dislokasi. Gangguan ini terjadi pada struktur medial.
Gangguan ini digambarkan sebagai 'ring of instability'
yang terjadi mulai dari gangguan ligamentum kolateral
lateral ulnar, ke kapsula sendi, dan akhirnya cedera pada
ligamentum kolateral ulnar medial. Pada posisi siku sedikit
fleksi, terjadi robekan pada kompleks MCL dan siku
mengalami dislokasi.
Diagnosis
Pemeriksaan awal
Pada pemeriksaan klinis, siku yang mengalami dislokasi akan
mengalami deformitas. Lengan bawah biasanya menunjukkan
gambaran posisi varus dan supinasi untuk dislokasi posterolateral.
Pemeriksaan neurovaskular harus dilakukan dengan cermat
karena sering terjadi dan memerlukan manajemen bedah darurat.
Pasien dengan dugaan dislokasi siku harus menjalani evaluasi
struktur neurovaskular karena neuropraksia terjadi pada 20%
dislokasi siku dan biasanya melibatkan cabang saraf Anterior
Interosseous (AIN) dari saraf median atau saraf ulnaris. Saraf AIN
adalah saraf motorik yang menginervasi otot fleksor pollicis longus
yang berperan untuk fleksi ibu jari interfalangeal.
Pemeriksaan radiografi
Setelah pemeriksaan awal, dilakukan pemeriksaan
radiografi dengan X-ray yang meliputi gambaran anterior-
posterior dan lateral. Radiografi penting dilakukan untuk
mengkonfirmasi dislokasi, mengevaluasi fraktur
periartikular, dan menentukan arah displacement lengan
bawah. Gambaran antero-posterior dan lateral dilakukan
dengan proyeksi 90°. Radiografi lateral yang benar akan
menunjukkan gambaran "teardrop" yang dibentuk oleh
batas-batas tulang koronoid dan olecranon.
Gambaran oblik lateral mirip dengan AP kecuali
tangan dan lengan dalam posisi rotasi eksternal
penuh. Gambaran lateral standar juga dapat
dioptimalkan untuk mengevaluasi kepala radial
dengan memiringkan tabung 45° ke arah sefalik
di sepanjang humeral shaft.
Gambaran siku antero-posterior lateral
Tanda Fat Pad
Lemak ekstra-sinovial dapat ditemukan pada tepi kapsula
sendi siku. Fat pad posterior biasanya berada jauh di dalam
tulang olecranon. Fat pad anterior biasanya terlihat sebagai
arkus tipis anterior terhadap korteks humerus distal.
• Gambaran lateral (A) menunjukkan displacement fat pad
ekstra-sinovial anterior (panah putih) dan posterior
(panah hitam)
• Gambaran lateral (B) menunjukkan anterior
“sail” sign. Fat pad anterior tipis menjadi
lebih tinggi dan mengalami displacement ke
anterior
• Gambar (C)MRI T1-weighted Sagittal
menunjukkan fraktur serpentine sinyal
rendah (panah).
• Garis Humeral Anterior
Sebuah garis yang ditarik di sepanjang korteks humerus
anterior pada radiografi lateral normalnya harus memotong
sepertiga tengah dari pusat osifikasi kapitelum. Gambaran
lateral sangat penting karena gambaran oblik dapat
menghasilkan hasil negatif palsu.
• Garis Radio-Kapitelar
Pada gambaran radiografi, garis yang ditarik sepanjang
sumbu panjang radius harus bersinggungan dengan
kapitelum.
• (A)Garis humeral anterior dan radio-
kapitelar.
• (B) Gambaran lateral
menunjukkan displacement
• (C) Gambaran lateral
menunjukkan dislokasi posterior
kepala radial.
• (D) Gambaran oblik lateral
menunjukkan subluksasi antero-
medial kepala radial.
Jika terdapat fragmen tulang, computed tomography (CT) scan
harus dilakukan untuk menilai fraktur terkait atau loose bodies
intraartikular pasca reduksi. CT scan juga direkomendasikan
untuk evaluasi fraktur kominutif dan untuk menilai adanya
occult fracture.
Magnetic resonance imaging (MRI) dapat dilakukan untuk
menilai jaringan lunak dengan lebih detail. MRI biasanya
dilakukan dalam kasus yang tidak meyakinkan atau pada
pasien dengan gejala klinis yang bertahan selama lebih dari 10
hari.
MRI dari dislokasi posterolateral setelah reduksi menunjukkan
cedera tingkat tinggi.
Tatalaksana

Penanganan yang tepat untuk dislokasi siku bergantung


pada jenis dan tingkat keparahan fraktur dan cedera
jaringan lunak. Oleh karena itu, identifikasi dan klasifikasi
cedera harus tepat. Dislokasi sederhana dapat menjalani uji
coba terapi konservatif dengan mobilisasi dini, tetapi
dislokasi kompleks biasanya membutuhkan pembedahan
untuk mencapai stabilisasi. Reduksi dislokasi ke sendi yang
sesuai adalah tujuan dari terapi ini. Pemeriksaan klinis dan
radiografi kemudian harus diulang untuk mengkonfirmasi
keberhasilan reduksi
LAPORAN KASUS
 
Identitas Pasien
• Nama : Tn. M
• Umur : 36 tahun
• Jenis kelamin : laki-laki
• MR : 207555
• Tanggal Masuk : 06 Desember 2019
Anamnesa
• Keluhan Utama :
Nyeri pada siku lengan kiri

• Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke poliklinik ortopedi dengan keluhan nyeri pada bagian siku lengan kiri
sejak 1 bulan setelah terjatuh dari motor. Pasien mengendarai motor dengan kecepatan
sekitar 40 km per jam, kemudian terserempet lubang di jalan sehingga terjatuh dari motor.
Posisi terjatuh yaitu lengan kiri sebagai tumpuan badan. Nyeri dirasakan hilang timbul,
seperti ditusuk, terutama bila digerakkan. Nyeri dirasakan semakin lama semakin
memberat. Nyeri juga diperberat apabila siku lengan kiri dipegang. Siku lengan kiri pasien
juga membengkak serta tidak bisa diangkat ke atas. Pasien merasa mengalami perubahan
bentuk siku lengan kirinya. Tidak ada rasa kesemutan, mati rasa, atau rasa terbakar pada
lengan kiri. Tidak ada luka di bagian siku lengan kiri pasien. Pasien tidak merasa adanya
suara pada siku lengan kiri bila digerakkan atau dipegang. Lengan kanan tidak ada
keluhan. Pasien mengaku pernah mengalami cedera pada siku kiri saat jatuh dari
ketinggian sekitar 2 meter 2 tahun sebelum masuk rumah sakit, namun tidak diobati.
Pasien pernah mengonsumsi obat nyeri yang dibeli di apotek 2 hari sekali selama
seminggu, namun lupa nama obat. Pasien tidak mengalami demam.
Riwayat penyakit dahulu : Riwayat penyakit keluarga :
 Keluhan serupa sebelumnya (+)  Tidak ada keluarga yang menderita gejala sakit seperti
 Riwayat hipertensi disangkal pasien
 Riwayat DM disangkal  Riwayat DM disangkal
 Riwayat penyakit jantung disangkal  Hipertensi disangkal
 Riwayat penyakit ginjal disangkal  Penyakit jantung disangkal
 Riwayat penyakit paru-paru disangkal  Riwayat penyakit ginjal disangkal
 Riwayat penyakit paru-paru disangkal
Pemeriksaan Fisik
• Kesadaran : Compos mentis, kooperatif
• Keadaan Umum : Sakit sedang
• Tekanan darah : 110/80 mmHg
• Nadi : 100 x/menit, irama reguler
• Nafas: 20 x/menit, irama tidak teratur
• Suhu : 36,7’C
• Tinggi Badan : 168cm
• Berat Badan : 69 kg
• STATUS o Thorax
GENERALISATA
 Paru:
• Kepala
 Inspeksi
• Mata
Statis : dinding dada simetris kiri dan
• Konjungtiva : anemis (-/-)
kanan
• Sklera : ikterik (-/-)
Dinamis : Pergerakan hemithoraks kiri dan
• Mulut : sianosis (-), pursed-lips
breathing (-) kanan sama
• Leher  Palpasi : Focal Fremitus sama kiri dan
• JVP : 5-2 cmH2O kanan
• KGB : tidak ada  Perkusi : sonor dikedua lapang paru
pembesaran KGB
 Auskultasi : vesikuler, wheezing (-/-),
rhonki(-/-)
 Jantung
 Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat  Ekstremitas superior dan inferior :
 Palpasi : Ictus cordis tidak teraba o Edema pada lengan kiri

 Perkusi : jantung dalam batas normal o Sianosis (-/-)

 Auskultasi : Irama reguler, murmur (-), S3 gallop (-) o Akral hangat (+/+)

 Abdomen o CRT <2 detik

 Inspeksi: Perut tidak tampak membuncit dan


sikatrik (-)
 Palpasi : distensi, Nyeri tekan (-), Nyeri lepas (-).
 Perkusi : Timpani
 Auskultasi : Bising usus (+) normal
Pemeriksaan Penunjang
1. Rontgen

Expertise :

o Besar, bentuk dan struktur trabekula tulang


pembentuk elbow joint dalam batas normal.
o Tampak fraktur di supracondylar elbow kiri
o Tampak dislokasi sendi humeroulnar
 
Kesan : fraktur di supracondylar elbow kiri disertai
dislokasi sendi humeroulnar
Diagnosa Kerja  Non farmakologi :
 Dislokasi Elbow Sinistra - Rencana reposisi dan pemasangan Gips
  -Imobilisasi dengan splint selama 1 bulan
Tatalaksana - Rehabilitasi  motion exercise
 Monitoring :
Prognosis
- Keadaan umum
- Tanda vital  Quo ad vitam : dubia ad bonam
 Farmakologi :  Quo ad functionam : dubia ad bonam
- Ketorolac 3x10 mg  Quo ad sanationam : dubia ad bonam
- Raniditine 2x150 mg
KESIMPULAN

Dislokasi siku merupakan dislokasi yang paling sering terjadi kedua


setelah dislokasi bahu. Dislokasi siku biasanya disebabkan oleh
trauma. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik dan
radiografi X-ray. Pemeriksaan tambahan seperti CT scan dan MRI
dapat dilakukan apabila hasil X-ray tidak konklusif atau ada
kecurigaan cedera ligamen dan occult fracture. Diagnosis yang tepat
diperlukan guna menegakkan keputusan terapi. Tatalaksana pada
kasus dislokasi siku meliputi terapi konservatif maupun pembedahan,
dengan tujuan untuk mengembalikan posisi sendi seperti semua
melalui proses reduksi.
TERIMA KASIH