Anda di halaman 1dari 20

SEMINAR AKUNTANSI

“AUDITING”
‘FRAUD(KECURANGAN)’

NAMA KELOMPOK 12:


1. KRISVELS W MARLISSA
2. HELLIS SOUISA
Pengertian
A. Kecurangan (Fraud)
Sebelum kita bahas lebih lanjut ada baiknya kita bahas dulu
mengenai kecurangan itu sendiri. Kecurangan (FRAUD) perlu
dibedakan dengan kesalahan (Errors). Kesalahan dapat
dideskripsikan sebagai “Unintentional Mistakes” (kesalahan
yang tidak di sengaja). Kesalahan dapat terjadi pada setiap
tahapan dalam pengelolaan transaksi terjadinya transaksi,
dokumentasi, pencatatan dari ayat-ayat jurnal, pencatatan
debit kredit, pengikhtisaran proses dan hasil laporan
keuangan. Kesalahan dapat dalam banyak bentuk matematis.
Kritikal, atau dalam aplikasi prinsip-prinsip akuntansi. Terdapat
kesalahan jabatan atau kesalahan karena penghilangan /
kelalaian, atau kesalahan dalam interprestasi fakta. “
Commission ” merupakan kesalahan prinsip (error of principle),
seperti perlakuan pengeluaran pendapatan sebagai
pengeluaran modal. Sedangkan “Omission” berarti bahwa
suatu item tidak dimasukkan sehingga menyebabkan
informasi tidak benar. Apabila suatu kesalahan adalah
disengaja, maka kesalahan tersebut merupakan kecurangan
(FRAUDulent).
Istilah “Irregulary” merupakan kesalahan penyajian keuangan
yang disengaja atas informasi keuangan. G.Jack Bologna,
Robert J.Lindquist dan Joseph T.Wells mendifinisikan
kecurangan “FRAUD is criminal deception intended to
financially benefit the deceiver ( 1993,hal 3 )” yaitu
kecurangan adalah penipuan kriminal yang bermaksud untuk
memberi manfaat keuangan kepada si penipu. Kriminal disini
berarti setiap tindakan kesalahan serius yang dilakukan
dengan maksud jahat. Dan dari tindakan jahat tersebut ia
memperoleh manfaat dan merugikan korbannya secara
financial. Biasanya kecurangan mencakup tiga langkah yaitu
(1)tindakan/theact.,
(2)Penyembunyian atau the concealment
(3)konversi atau the conversion.
Misalnya pencurian atas harta persediaan adalah tindakan,
kemudian pelaku akan menyembunyikan kecurangan
tersebut misalnya dengan membuat bukti transaksi
pengeluaran fiktif.
FRAUD (kecurangan) adalah tindakan ilegal yang
dilakukan satu orang atau sekelompok orang
secara sengaja atau terencana yang menyebabkan
orang atau kelompok mendapat keuntungan, dan
merugikan orang atau kelompok lain. FRAUDulent
financial reporting (kecurangan laporan keuangan)
adalah salah saji atau pengabaian jumlah dan
pengungkapan yang disengaja dengan maksud
menipu para pemakai laporan. Kecurangan dibagi
ke dalam tiga kelompok, yaitu :
  Kecurangan Laporan Keuangan (Financial
Statement FRAUD).
 Penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation).
 Korupsi (Corruption).
B. Karakterisitik Kecurangan (Fraud)
Dilihat dari pelaku FRAUD auditing maka secara garis
besar kecurangan bisa dikelompokkan menjadi dua jenis :
1. Oleh pihak perusahaan, yaitu :
 Manajemen untuk kepentingan perusahaan, yaitu salah
saji yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan
(misstatements arising from FRAUDulent financial
reporting, untuk menghidari hal tersebut ada baiknya
karyawan mengikuti auditing workshop dan FRAUD
workshop).
 Pegawai untuk keuntungan individu, yaitu salah saji yang
berupa penyalahgunaan.
2. Oleh pihak di luar perusahaan, yaitu pelanggan, mitra
usaha, dan pihak asing yang dapat menimbulkan
kerugian bagi perusahaan.
C. Penyebab Terjadinya Kecurangan
(Fraud)
 

Penyebab Terjadinya Kecurangan menurut J.S.R. Venables dan


KW Impley dalam buku “Internal Audit” (1988, hal 424)
mengemukakan kecurangan terjadi karena :

1.Penyebab Utama
Penyembunyian (concealment), Kesempatan tidak terdeteksi.
Pelaku perlu menilai kemungkinan dari deteksi dan hukuman
sebagai akibatnya.
Kesempatan/Peluang (Opportunity), Pelaku perlu berada pada

tempat yang tpat, waktu yang tepat agar mendapatkan
keuntungan atas kelemahan khusus dalam system dan juga
menghindari deteksi.
Motivasi (Motivation), Pelaku membutuhkan motivasi untuk

melakukan aktivitas demikian, suatu kebutuhan pribadi
seperti ketamakan/kerakusan dan motivator yang lain.
 Daya tarik (Attraction), Sasaran dari kecurangan
yang dipertimbangkan perlu menarik bagi pelaku.
 Keberhasilan (Success), Pelaku perlu menilai peluang
berhasil, yang dapat diukur baik menghindari
penuntutan atau deteksi.
2. Penyebab Sekunder.
 “A Perk”, Kurang pengendalian, mengambil
keuntungan aktiva organisasi dipertimbangkan
sebagai suatu tunjangan karyawan.
 Hubungan antar pemberi kerja/pekerja yang jelek,
Yaitu saling kepercayaan dan penghargaan telah
gagal. Pelaku dapat mengemukakan alasan bahwa
kecurangan hanya menjadi kewajibannya.
 Pembalasan dendam (Revenge), Ketidaksukaan yang
hebat terhadap organisasi dapat mengakibatkan
pelaku berusaha merugikan organisasi tersebut.
D. Kejadian-kejadian Yang Menandai
Terjadinya Kecurangan (Fraud)
Dibawah ini adalah suatu daftar yang disusun oleh
American Institute of Certified Public Accountants (AICPA)
pada tahun 1979 mengenai kondisi-kondisi atau kejadian-
kejadian yang dapat menandai adanya kecurangan :

1) Manajemen senior yang sangat menguasai/ mendominasi


dan terdapat satu atau lebih kondisi berikut atau yang
sama
 Dewan direksi dan/ atau panitia audit yang tidak efektif.
 Indikasi dari penolakan manajemen atas pengendalian
akuntansi internal yang penting.
 Indikasi kesulitan keuangan pribadi dari manajemen senior.
 Perebutan perwalian yang melibatkan pengendalian
perusahaan atau status dari manajemen senior.
2) Kemerosotan atau kemunduran dari mutu
pendapatan yang dibuktikan oleh :
 Penurunan dalam volume atau mutu penjualan
(misalnya, risiko kredit yang meningkat atau
penjualan sama dengan atau dibawah harga pokok).
 Perubahan yang signifikan dalam praktik usaha.
 Kepentingan yang berlebihan oleh manajemen
senior dalam laba persaham (EPS/Earnings per
Share) yang dipengaruhi oleh pilihan akuntansi.
3) Kondisi usaha yang dapat menciptakan tekanan
yang tidak biasa :
 Modal kerja yang tidak memadai.
 Kelenturan/ fleksibilitas yang kecil dalam
pembatasan hutang, seperti rasio modal kerja dan
keterbatasan dalam pinjaman tambahan.
Investasi yang besar dari sumber daya pemisahan
dalam suatu industri yang mengalami perubahan
cepat,seperti suatu industri yang bertekhnologi tinggi.
4) Lokasi usaha yang menyebar secara luas disertai
oleh manajemen yang didesentralisasi secara ketat
dengan system pelaporan tanggungjawab yang tidak
memadai.
5) Kekurangan staf yang tampak memerlukan
karyawan tertentu bekerja pada jam yang tidak biasa,
tidak memerlukan cuti dan/atau melakukan kerja
lembur yang substansial.
6) Tingkat perputaran yang tinggi dalam posisi
keuangan penting, seperti bendaharawan atau
kontroler.
7) Sering terjadi perubahan auditor atau penasihat
hukum.
8) Kelemahan material yang diketahui dalam pengendalian
intern yang dapat secara praktis dikoreksi akan tetapi tidak
diperbaiki, seperti :
Akses terhadap peralatan computer atau alat pemasukan data
elektronik tidak cukup dikendalikan.
Kewajiban yang tidak sesuai/bertentangan tetapi tidak
digabungkan.
9) Terdapat transaksi yang material dengan pihak yang
mempunyai hubungan istimewa atau terdapat transaksi yang
mencakup benturan kepentingan.
10) Pengumuman yang terlalu cepat atau premature atas hasil
operasi atau pengharapan masa depan yang positif.
11) Prosedur penelaahan analitis mengungkapkan fluktuasi yang
signifikan yang tidak dapat secara wajar dijelaskan, seperti:
Saldo akun yang material.
Antar hubungan keuangan dan operasional.
Selisih perhitungan persediaan.
Tingkat perputaran persediaan.
12) Transaksi besar yang tidak biasa, khususnya
pada akhir tahun, dengan pengaruh yang
material atas pendapatan.
13) Pembayaran besar yang tidak biasa
berhubungan dengan jasa yang diberikan dalam
usaha normal kepada pengacara, agen, atau
pihak lain (termasuk karyawan).
14) Kesulitan dalam memperoleh bukti audit yang
berhubungan dengan :
 Ayat jurnal yang tidak biasa atau tidak dapat
dijelaskan.
 Dokumentasi dan/atau otorisasi yang tidak
lengkap atau hilang.
 Pengubahan dalam dokumentasi atau akun.

15) Dalam pelaksanaan pengujian laporan


keuangan masalah yang tidak dapat diramalkan
E. Salah Saji Yang Timbul Karena
Kecurangan Pelaporan Keuangan
 
Kecurangan pelaporan keuangan biasanya dilakukan
karena dorongan dan ekspektasi terhadap prestasi kerja
manajemen. Salah saji yang timbul karena kecurangan
terhadap pelaporan keuangan lebih dikenal dengan
istilah irregularities (ketidakberesan). Bentuk kecurangan
seperti ini seringkali dinamakan kecurangan manajemen
(management FRAUD), misalnya berupa : manipulasi,
pemalsuan, atau pengubahan terhadap catatan
akuntansi atau dokumen pendukung yang merupakan
sumber penyajian laporan keuangan. Kesengajaan dalam
salah menyajikan atau sengaja menghilangkan
(intentional omissions) suatu transaksi, kejadian, atau
informasi penting dari laporan keuangan, untuk itu
sebaiknya anda mengikuti auditing workshop dan FRAUD
workshop. Salah saji yang berupa penyalahgunaan
aktiva.
Kecurangan jenis ini biasanya disebut kecurangan
karyawan (employee FRAUD). Salah saji yang berasal
dari penyalahgunaan aktiva meliputi penggelapan
aktiva perusahaan yang mengakibatkan laporan
keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip-
prinsip akuntansi yang berlaku umum(ada baiknya
karyawan mengikuti seminar FRAUD dan seminar
auditing). Penggelapan aktiva umumnya dilakukan
oleh karyawan yang menghadapi masalah keuangan
dan dilakukan karena melihat adanya peluang
kelemahan pada pengendalian internal perusahaan
serta pembenaran terhadap tindakan tersebut.
Contoh salah saji jenis ini adalah Penggelapan
terhadap penerimaan kas, Pencurian aktiva
perusahaan, Mark-up harga dan Transaksi “tidak
resmi”.
KASUS
KECURANGAN (FRAUD) DALAM PRAKTEK
AKUNTANSI
• WorldCom.
Perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Amerika
Serikat, mengakui telah Melakukan skandal akuntansi
yang menyebabkan perdagangan sahamnya di bursa
NASDAQ terhenti. Beberapa minggu kemudian, WorldCom
menyatakan diri bangkrut. Perusahaan telah memberi
gambaran yang salah tentang kinerja perusahaan dengan
cara memalsukan milyaran bisnis rutin sebagai belanja
modal, sehingga labanya overstated sebesar $11 milyar
pada awal 2002. Perusahaan juga meminjamkan uang lebih
dari $400 juta kepada Chief Executive Officer (CEO)-nya
waktu, Bernard Ebbers, untuk menutupi kerugian
perdagangan pribadinya. Ironisnya meski di dakwa telah
melakukan pemalsuan, konspirasi dan laporan keuangan
yang salah, mantan CEO WorldCom tersebut mengaku
tidak bersalah (Mehta, 2003; Klayman, 2004; Reuters,
2004).
Enron Corp.

Perusahaan terbesar ke tujuh di AS yang bergerak


di bidang industri energi, para manajernya
memanipulasi angka yang menjadi dasar untuk
memperoleh kompensasi moneter yang besar. Praktik
kecurangan yang dilakukan antara lain yaitu di Divisi
Pelayanan Energi, para eksekutif melebih-lebihkan
nilai kontrak yang dihasilkan dari estimasi internal.
Pada proyek perdagangan luar negerinya misal di
India dan Brasil, para eksekutif membukukan laba
yang mencurigakan. Strategi yang salah, investasi
yang buruk dan pengendalian keuangan yang
lemah menimbulkan ketimpangan neraca yang
sangat besar dan harga saham yang dilebih-
lebihkan. Akibatnya ribuan orang kehilangan
pekerjaan dan kerugian pasar milyaran dollar pada
nilai pasar (Schwartz, 2001; Mclean, 2001).
Kasus ini diperparah dengan praktik akuntansi
yang meragukan dan tidak independennya
audit yang dilakukan oleh Kantor Akuntan
Publik (KAP) Arthur Andersen terhadap Enron.
Arthur Anderson, yang sebelumnya merupakan
salah satu “The big six” tidak hanya melakukan
memanipulasi laporan keuangan Enron tetapi
juga telah melakukan tindakan yang tidak etis
dengan menghancurkan dokumen-dokumen
penting yang berkaitan dengan kasus Enron.
Independensi sebagai auditor terpengaruh
dengan banyaknya mantan pejabat dan senior
KAP Arthur Andersen yang bekerja dalam
department akuntansi Enron Corp. Baik Enron
maupun Anderson, dua raksasa industri di
bidangnya, sama-sama kolaps dan menorehkan
sejarah kelam dalam praktik akuntansi.
Indonesia.

Kasus skandal akuntansi bukanlah hal yang baru. Salah


satu kasus yang ramai diberitakan adalah keterlibatan 10
KAP di Indonesia dalam praktik kecurangan Keuangan.
KAP-KAP tersebut ditunjuk untuk mengaudit 37 bank
sebelum terjadinya krisis keuangan pada tahun 1997.
Hasil audit mengungkapkan bahwa laporan Keuangan
bank-bank tersebut sehat. Saat krisis menerpa Indonesia,
bank-bank tersebut kolaps karena kinerja keuangannya
sangat buruk. Ternyata baru terungkap dalam investigasi
yang dilakukan pemerintah bahwa KAP-KAP tersebut
terlibat dalam praktik kecurangan akuntansi. 10 KAP
yang dituduh melakukan praktik kecurangan akuntansi
adalah Hans Tuanakotta and Mustofa (Deloitte Touche
Tohmatsu's affiliate), Johan Malonda and Partners (NEXIA
International's affiliate), Hendrawinata and Partners
(Grant Thornton International's affiliate), Prasetyo Utomo
and Partners (Arthur Andersen's affiliate),
RB Tanubrata and Partners, Salaki and Salaki, Andi
Iskandar and Partners, Hadi Sutanto (menyatakan
tidak bersalah), S. Darmawan and Partners,
Robert Yogi and Partners. Pemerintah pada waktu
itu hanya melakukan teguran tetapi tidak ada
sanksi. Satu-satunya badan yang berhak untuk
menjatuhkan sanksi adalah BP2AP (Badan
Peradilan Profesi Akuntan Publik) yaitu lembaga non
pemerintah yang dibentuk oleh Ikatan Akuntan
Indonesa (IAI). Setelah melalui investigasi BP2AP
menjatuhkan sanksi terhadap KAP-KAP tersebut,
akan tetapi sanksi yang dijatuhkan terlalu ringan
yaitu BP2AP hanya melarang 3 KAP melakukan
audit terhadap klien dari bank-bank sementara 7
KAP yang lainnya bebas (Suryana, 2002).
SEKIAN DAN TERIMA KASIH