Anda di halaman 1dari 30

Asuhan

Keperawatan
Pada Pasien
Dengan
Gangguan
Sistem
Penglihatan :
Glaukoma
Hello!
Risma Amalia
Fitri Nurjanah
Misbach Agnesti
Imam Nurfauzi
2
1.
Definisi
Glaukoma
“Glaukoma adalah
suatu keadaan
dimana tekanan bola
mata tidak normal
atau lebih tinggi dari
pada normal yang
mengakibatkan
kerusakan saraf
penglihatan dan
kebutaan (Sidarta
Ilyas, 2004).

4
Menurut Martinelli
dalam Sunaryo Joko
Waluyo (2009), bahwa
Glaukoma merupakan
kelainan mata yang
mempunyai gejala
peningkatan tekanan
intra okuler (TIO),
dimana dapat
mengakibatkan
penggaungan atau
pencekungan papil
syaraf optik sehingga
terjadi atropi syaraf
optik, penyempitan
lapang pandang dan
penurunan tajam
pengelihatan. 5
> Glaukoma berasal dari kata Yunani
“glaukos” yang berarti hijau kebiruan,
yang memberikan kesan warna
tersebut pada pupil penderita
glaukoma. Kelainan mata glaukoma
ditandai dengan meningkatnya
tekanan bola mata, atrofi saraf
optikus, dan menciutnya lapang
pandang. Glaukoma adalah suatu
penyakit dimana tekanan di dalam
bola mata meningkat, sehingga
terjadi kerusakan pada
6 saraf optikus
2.
Klasifikasi
Glaukoma
1. Glaukoma Primer
Glaukoma sudut Glaukoma sudut tertutup
terbuka Disebut sudut tertutup karena
Disebut sudut terbuka ruang anterior secara
karena humor aqueous anatomis menyempit
mempunyai pintu sehingga iris terdorong ke
terbuka ke jaringan depan, menempel ke jaringan
trabekular. Pengaliran trabekular dan menghambat
dihambat oleh humor aqueous mengalir ke
perubahan degeneratif saluran schlemm. Pergerakan
jaringan trabekular, iris ke depan dapat karena
saluran schleem, dan peningkatan tekanan vitreus,
saluran yang penambahan cairan di ruang
berdekatan. posterior
8
atau lensa yang
mengeras karena usia tua.
Glaukoma Sekunder
> Dapat terjadi dari
Glaukoma
peradangan mata ,
Kongenital
perubahan pembuluh
darah dan trauma . Dapat
 Primer atau mirip dengan sudut
infantile terbuka atau tertutup
 Menyertai tergantung pada
kelainan penyebab :
kongenital - Perubahan lensa
lainnya - Kelainan uvea
- Trauma
- Bedah
-9 Rubeosis
Penyebab Glaukoma
> Penyebab dari glaukoma adalah sebagai
berikut (Sidharta Ilyas, 2004) :
> Bertambahnya produksi cairan mata oleh
badan cilliary.
> Berkurangnya pengeluaran cairan mata di
daerah sudut bilik mata atau dicelah pupil

10
> Faktor-faktor resiko dari glaukoma adalah (Bahtiar
Latif, 2009)
> Umur
Resiko glaukoma bertambah tinggi dengan
bertambahnya usia. Terdapat 2 % dari populasi usia 40
tahun yang terkena glaukoma. Angka ini akan
bertambah dengan bertambahnya usia.
> Riwayat anggota keluarga yang terkena glaukoma
Untuk glaukoma jenis tertentu, anggota keluarga
penderita glaukoma mempunyai resiko 6 kali lebih
besar untuk terkena glaukoma. Resiko terbesar adalah
kakak adik kemudian hubungan orang tua dan anak-
anak.
11
Tekanan bola mata
> Tekanan bola mata diatas 21 mmHg beresiko tinggi
terkena glaukoma. Meskipun untuk sebagian
individu, tekanan bola mata yang lebih rendah
sudah dapat merusak saraf optik. Untuk mengukur
tekanan bola mata dapat dilakukan dirumah sakit
mata atau pada dokter spesialis mata.
Obat-obatan
> Pemakai steroid secara rutin misalnya pemakai
obat tetes mata yang mengandung steroid yang
tidak dikontrol oleh dokter, obat inhaler untuk
penderita asthma, obat steroid untuk radang sendi,
dan pemakai obat secara rutin lainnya.

12
Patofisiologi
Aqueus humor secara kontinue diproduksi oleh
badan silier (sel epitel prosesus ciliary bilik mata
belakang untuk memberikan nutrien pada lensa.
Aqueus humor mengalir melalui jaring-jaring
trabekuler, pupil, bilik mata depan, trabekuler
mesh work dan kanal schlem. Tekanan intra okuler
(TIO) dipertahankan dalam batas 10-21 mmHg
tergantung keseimbangan antara produksi dan
pegeluaran (aliran) AqH di bilik mata depan.
Peningaktan TIO akan menekan aliran darah ke
syaraf optik dan retina sehingga dapat merusak
serabut syaraf optik menjadi iskemik dan mati.
Selanjutnya menyebabkan kerusakan jaringan
yang dimula dari perifir menuju ke fovea sentralis.
Hal ini menyebabkan penurunan lapang pandang
yang dimulai dari derah nasal atas dan sisa
terakhir pada temporal (Sunaryo Joko Waluyo,
2009).
13
You can insert graphs from
Google Sheets

14
Sumber : Istiqomah, Indriana N. 2003. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata. Jakarta: EGC
Tanda & Gejala
Umumnya dari riwayat > Gejala yang lain adalah :
keluarga ditemukan anggota (Harnawartiaj, 2008)
keluarga dalam garis vertical Mata merasa dan sakit tanpa
atau horizontal memiliki kotoran. Kornea suram.
penyakit serupa, penyakit ini Disertai sakit kepala hebat
berkembang secara perlahan terkadang sampai muntah.
namun pasti, penampilan bola Kemunduran penglihatan yang
mata seperti normal dan berkurang cepat.
sebagian besar tidak Nyeri di mata dan sekitarnya.
menampakan kelainan selama Udema kornea.
stadium dini. Pada stadium
Pupil lebar dan refleks berkurang
lanjut keluhan klien yang sampai hilang.
mincul adalah sering
Lensa keruh.
menabrak akibat pandangan
yang menjadi jelek atau lebih
kabur, lapang pandang
menjadi lebih sempit hingga15
Pemeriksaan Diagnostik
> Pemeriksaan diagnostik yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut
(Harnawartiaj, 2008) :
1. Oftalmoskopi (untuk menginspeksi saraf
optikus)
2. Tonometri (Mengukur TIO)
3. Pemeriksaan lampu split (Mengevaluasi
Oftalmik)
4. Perimetri (pemeriksaan lapang pandang)
5. Pemeriksaan ultrasonografi (Mengukur
16
dimensi & struktur okuler)
Penatalaksanaan Medis
> Terapi obat.
- Aseta Zolamit (diamoxx, glaupakx) 500 mg oral.
- Pilokarpin Hcl 2-6 % 1 tts / jam.
> Bedah lazer.
Penembakan lazer untuk memperbaiki aliran humor
aqueus dan menurunkan TIO.
> Bedah konfensional.
> Iredektomi perifer atau lateral dilakukan untuk
mengangkat sebagian iris unutk memungkinkan
aliran humor aqueus Dari kornea posterior ke
anterior. Trabekulektomi (prosedur filtrasi) dilakukan
untuk menciptakan saluran balu melalui sclera.

17
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN
GANGGUAN SISTEM
PENGLIHATAN :
GLOUCOMA
18
Pengkajian
Anamnesis mencakup data demografi yang meliputi :
--Umur, glaucoma primer terjadi pada individu berumur
lebih dari 40 tahun.
-Ras, kulit hitam mengalami kebutaan akibat glaucoma
paling sedikit 5 kali dari kulit putih (deWit, 1998)
-Pekerjaan, terutama yang berisiko besar mengalami
trauma mata.
Selain itu harus diketahui adanya masalah mata
sebelumnya atau yang ada saat ini, riwayat penggunaan
antihistamin (menyebabkan dilatasi pupil yang akhirnya
dapat menyebabkan angle-closure glaucoma), riwayat
keluarga dengan glaucoma, riwayat trauma (terutama
yang mengenai mata), riwayat penyakit lain yang sedang
diderita (DM, arteriosclerosis, myopia tinggi).
Riwayat psikososial mencakup adanya ansietas yang
ditandai dengan bicara cepat, mudah berganti topik, sulit
berkonsentrasi dan sensitive, dan berduka karena
kehilangan penglihatan.
19
Pemeriksaan Fisik
> Pemeriksaan fisik dilakukan dengan
menggunakan oftalmoskop untuk
mengetahui adanya cupping dan atrofi
diskus optikus. Diskus optikus menjadi
lebih luas dan lebih dalam. Pada
glaucoma akut primer, kamera anterior
dangkal, akueus humor keruh dan
pembuluh darah menjalar keluar dari iris.
> Pemeriksaan lapang padang perifer, pada
keadaan akut lapang pandang cepat
menurun secara signifikan dan keadaan
kronik akan menurun20 secara bertahap.
> Pemeriksaan fisik melalui inspeksi untuk
mengetahui adanya inflamasi mata, sklera
kemerahan, kornea keruh, dilatasi pupil sedang
yang gagal bereaksi terhadap cahaya. Sedangkan
dengan palpasi untuk memeriksa mata yang
mengalami peningkatan TIO, terasa lebih keras
disbanding mata yang lain.
> Uji diagnostic menggunakan tonometry, pada
keadaan kronik atau open angle didapat nilai 22-32
mmHg, sedangkan keadaan akut atau angle closure
≥ 30 mmHg (normal 11-21 mmHg). Uji dengan
menggunakan gonioskopi akan didapat sudut
normal pada glaucoma kronik. Pada stadium lanjut,
jika telah timbul goniosikenia (perlengketan pinggir
iris pada kornea/trabekula) maka sudut dapat
tertutup. Pada glaucoma 21akut seketika TIO
Diagnosa
Keperawatan

22
1) Gangguan persepsi
sensori : penglihatan
b/d kerusakan saraf
akibat peningkatan TIO
2) Nyeri b/d
peningkatan TIO
3) Kurang
pengetahuan : tentang
proses penyakit,
kondisi klinis, rencana
terapi dan
penatalaksann
dirumah b/d kurang
informasi tentang
penyakit glaukoma.
23
Diagnosa Tambahan
> Ansietas b/d penurunan penglihatan aktual.
> Resti injuri b/d penurunan lapang pandang
> Gangguan citra tubuh b/d hilangnya
penglihatan
> Ketidakmampuan dalam perawatan diri b/d
penurunan penglihatan
> Isolasi sosial b/d penurunan pandangan
perifer, takut cedera atau respons negatif
lingkungan terhadap ketidakmampuan visual.
> Risiko gangguan pola nutrisi b/d mual, muntah
sekunder akibat peningkatan TIO
24
Intervensi Keperawatan
1. Gangguan persepsi sensori : b. Anjurkan klien untuk mencegah
penglihatan b/d kerusakan saraf stress, mencegah konstipasi,
akibat peningkatan TIO mencegah maneuver valsava,
pembatasan kafein, dan diet rendah
Tujuan :
natrium.
Penggunaan penglihatan yang
R : tindakan tersebut untuk
optimal, mendapatkan kembali dan
mencegah semakin tingginya TIO
mempertahankan visus normal
dengan pengobatan.
Intervensi : c. Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian
a. Pantau kemampuan klien untuk
melihat dengan jelas. Tanyai klien
secara rutin tentang terjadinya
perubahan visual.
R : mengidentifikasi tipe perubahan
visual yang dapat terjadi saat TIO
meningkat

25
2. Nyeri b/d peningkatan TIO c. Observasi TTV tiap 8 jam jika klien
tidak menerima agens osmotic
Tujuan:
secara intravena dan tiap 2 jam jika
Klien akan mengalami pengurangan klien menerima agens osmotic
nyeri. intravena.
Intervensi : R : mengidentifikasi kemajuan atau
a. Pertahankan tirah baring ketat penyimpangan dari hasil yang
pada posisi semi-Fowler dan cegah diharapkan
tindakan yang dapat meningkatkan
TIO (batuk, bersin, mengejan)
d. Observasi derajat nyeri mata
R : Tekanan pada mata meningkat setiap 30 menit selama fase akut.
jika tubuh datar dan maneuver
R : mengidentifikasi kemajuan atau
valsava diaktifkan seperti pada
penyimpanan dari hasil yang
aktivitas tersebut.
diharapkan

b. Berikan lingkungan gelap dan


tenang.
R : stress dan sinar akan
meningkatkan TIO yang dapat
mencetuskan nyeri.

26
3. Kurang pengetahuan : tentang Intervensi :
proses penyakit, kondisi klinis,
a. Jika gejala akut terkontrol, berikan
rencana terapi dan penatalaksann
informasi tentang kondisinya.
dirumah b/d kurang informasi
Tekankan bahwa glaucoma
tentang penyakit glaukoma.
memerlukan pengobatan sepanjang
Tujuan : hidup, harus teratur dan tidak
terputus.
Klien mengetahui penatalaksaan
penyakitnya dan mampu mengulang R : meningkatkan kerja sama klien.
dan mendemonstrasikan kembali Kegagalan klien untuk mengikuti
Pendidikan kesehatan yang penatalaksanaan yang ditentukan
diberikan. dapat menyebabkan kehilangan
pandangan progresif dan bahkan
kebutaan.

27
b. Intruksikan klien untuk mencari d. Berikan informasi tentang dosis,
pertolongan medis jika nama, jadwal, tujuan dan efek
ketidaknyamanan mata dan gejala samping yang dapat dilaporkan dari
peningkatan TIO terulang saat semua obat-obatan yang diresepkan
menggunakan obat-obatan. Ajari dirumah. Ingatkan klien untuk
klien tanda dan gejala yang memberikan tetes mata sikloplegik
memerlukan perhatian medis hanya pada mata yang terkena
dengan segera. karena pada mata yang tidak sakit
obat tetes ini dapat mencetus
R : upaya tindakan perlu dilakukan
serangan galukoma tertutup dan
untuk mencegah kehilangan
mengancam sisa pandangan klien.
penglihatan lebih lanjut/komplikasi
lain. R : penyakit ini dapat dikontrol,
bukan diobati dan mempertahankan
c. Ajarkan klien dan keluarga serta
konsistensi program pengobatan
izinkan klien mempraktikan sendiri
adalah hal vital. Berikan obat
cara pemberian tetes mata.
menyebabkan dilatasi pupil,
Gunakan Teknik aseptic yang baik
peningkatan TIO dan potensial
saat meneteskan obat mata.
kehilangan penglihatan tambahan.
R : meningkatkan keefektifan
pengobatan, memberikan
kesempatan untuk klien menunjukan
kompetensi dan mengajukan
pertanyaan.
28
Evaluasi Keperawatan
Diagnosa 1 Diagnosa 2 Diagnosa 3
S : Klien mengatakan S : Klien mengatakan S : Klien mengatakan
dapat skala nyeri berkurang dapat pengetahuan
mempertahankan yang adekuat
O : Klien tidak
visus yang optimal tentang penyakit dan
tampah meringis
penatalaksanaan
O : Tidak terjadinya
A : Masalah teratasi penyakit nya
perubahan visual
yang menurun P : Intervensi O : Pasien tampak
dihentikan mengerti dan dapat
A : Masalah teratasi
mengulang kembali
P : Intervensi
A : Masalah teratasi
dihentikan
P : Intervensi
dihentikan

29
Thanks!
Any questions?

30