Anda di halaman 1dari 15

BABIRUSA

OLEH KELOMPOK 6
BABI RUSA

Babirusa merupakan hewan endemik Sulawesi,


Indonesia. Babirusa yang dalam bahasa latin
disebut sebagai Babyrousa babirussa hanya
bisa dijumpai di Sulawesi dan pulau-pulau
sekitarnya seperti pulau Togian, Sula, Buru,
Malenge, dan Maluku. Sebagai hewan
endemik, Babirusa tidak ditemukan di tempat
lainnya. Sayangnya satwa endemik ini
mulai langka.
Klasifikasi ilmiah Babirusa
Kingdom Animalia

Filum Chordata

Kelas Mamalia

Ordo Artiodactyla

Famili Suidae

Genus Babyrousa

Spesies Babyrousa babyrussa


Babirusa dahulu dikenal hanya ada satu Spesies babirusa
jenis yaitu Babyrousa babyrussa dengan
empat anak jenis, namun sekarang mereka
Perbedaan ketiganya terletak pada warna
sudah ditingkatkan menjadi jenis tubuhnya. Babirusa di Pulau Sula dan Pulau Buru
tersendiri yaitu Babyrousa babyrussa di rambutnya tebal dan panjang berwarna krem
Pulau Sula dan Pulau Buru, Babyrousa keemasan atau hitam. Babirusa di daratan Sulawesi
celebensis di daratan Sulawesi, kulitnya kasar berwarna abu-abu kecokelatan
dan Babyrousa togeanensis di Kepulauan dengan sedikit bercak rambut gelap. Sementara itu
babirusa di Kepulauan Togian, rambutnya
Togian yaitu di Pulau Malenge, Talatakoh, berwarna cokelat hingga hitam dan bagian bawah
Togean, dan Batudaka. tubuhnya berwarna lebih terang. Selain ketiga jenis
tersebut, dikenal pula jenis Babyrousa
bolabatuensis yang persebarannya di bagian
selatan Provinsi Sulawesi Selatan, namun jenis ini
sudah dinyatakan punah.
Konservasi

sering dikonsumsi, populasi babirusa merosot tajam di


alam. Mereka digolongkan ke dalam status konservasi
Rentan (Vulnerable) untuk B. babyrussa dan B.
celebensis dan Terancam (Endangered) untuk B.
togeanenesis berdasarkan status konservasi IUCN.
Populasinya di alam diduga sudah kurang dari 2500
individu. Mereka juga masuk dalam Appendix I CITES
yang artinya perdagangannya sudah dilarang sama sekali.
Untuk konservasi di tingkat nasional, babirusa juga sudah
dimasukkan dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan PP No. 7
tahun 1999 dan dalam daftar jenis yang diprioritaskan untuk
dikonservasi sesuai Permenhut P.57/2008. Babirusa juga masuk
dalam daftar 25 jenis terancam punah yang diprioritaskan untuk
ditingkatkan populasinya sebesar 10% sesuai SK Dirjen KSDAE No.
SK.180/IV-KKH/2015. Sebagai upaya penguatan konservasi tersebut,
maka pemerintah juga telah menyusun Strategi dan Rencana Aksi
Konservasi (SRAK) untuk babirusa sesuai Permenhut P.55/Menhut-
II/2013.
Penurunan populasi babirusa menjadi perhatian dan tugas kita
bersama. Kita wajib menjaga habitat babirusa agar tidak semakin
berkurang dan secara masif menggalakkan konservasi babirusa
karena mereka adalah satwa khas asli Indonesia yang menjadi
kebanggaan khususnya di daerah Sulawesi. Babirusa juga masuk ke
dalam program Rencana Global Pengelolaan Jenis (Global Species
Management Plan/GSMP) yang merupakan kerjasama kolaborasi
antar institusi konservasi di berbagai negara untuk mengkonservasi
jenis satwa tertentu. Dengan dukungan dan kerjasama dari berbagai
pihak baik dalam negeri maupun luar negeri, maka kita berharap
populasi dan habitat babirusa akan terus membaik dan meningkat
jumlahnya.
Habitat

Habitat Babirusa adalah hutan hujan dataran rendah


Satwa ini menyukai kawasan hutan dimana terdapat aliran sungai,
sumber air, rawa, dan cerukan-cerukan air yang memungkinkannya
mendapatkan air minum dan berkubung.
Babirusa mengunjungi tempat-tempat air dan tempat mengasin (salt-
lick) secara teratur untuk mendapatkan garam-garam mineral untuk
membantu pencernaannya
Babirusa sering terlihat mandi dikubangan yang airnya agak bersih dan
tidak becek dan pada musim panas sering terlihat berendam disungai
Perilaku spesies
 biasanya akan terlihat babirusa dalam kawanan kelompok karena babirusa biasa hidup
dalam kelompok kecil dengan seekor betina sebagai pemimpinnya (matriarchal) jantan
dewasa biasanya hidup soliter dan bergabung  dengan betina dewasa pada musim
kawin.
 Babirusa juga sering terlihat berjalan sendiri atau berkelompok kecil dalam ikatan yang
kuat sehingga mampu mempertahankan diri dari predator.
 Peluang terbaik untuk bertemu babirusa adalah dengan mengamati di tempat
sumber air minum atau tempat berkubang yang biasa dikunjungi oleh babirusa
Babirusa dapat diamati siang hari atau malam hari
karena satwa ini aktif siang dan malam hari
Beberapa prilaku babirusa yang sering dijumpai
diantarannya perkelahian sesama babirusa jantan
memperebutkan betina, prilaku jantan untuk
menarik perhatian betina dan penandaan teritori.
Babi rusa sering menggesekkan badannya pada
pangkal batang pohon setelah berkubang (rubbing
tree). Aktifitas ini kemungkinan dilakukan untuk
mengurangi ketebalan lumpur pada badan
babirusa setelah berkubang atau menghilangkan
kutu yang menggangu.
Reproduksi
Babirusa jantan maupun betina mencapai dewasa kelamin
(sexual maturity) pada usia 5-10 bulan, namun ada juga
yang melaporkan pada usia sekitar 548 hari, dengan masa
hidup maksimum (maximum longevity) mencapai usia 23-
24 tahun.
jumlah anak yang dilahirkan seekor babirusa betina setiap
kali melahirkan (litter size) adalah 1-2 ekor dengan berat
anak pada waktu lahir sekitar 0.715 kg
masa kebuntingan berkisar 155-158 hari.
Lama anak disusui sekitar 1 bulan, namun ada yang melaporkan
lama masa anak bersama induknya 213 hari dan setelah itu anak akan
disapih untuk mencari makanan sendiri dihutan.
Seekor induk betina hanya melahirkan satu kali dalam setahun
sesaat sebelum melahirkan, induk babirusa membuat sarang berupa
tumpukan daun dan ranting dari berbagai jenis tumbuhan, alang-
alangan atau semak. sarang tersebut berbentuk oval dengan
diameter kurang lebih 2 meter dengan ketebalan  kurang lebih 0.5
meter. apabila sarang tersebut masih berisi anak dan induk babirusa
maka sarang tersebut akan berbentuk agak cekung bagian
tengahnya.
Peraturan
Babirusa dilindungi oleh Undang-undang RI
(semenjak Dierenbescherming Ordonnantie 1931),
dinyatakan berstatus Rentan menurut IUCN, dan
dimasukkan ke dalam Apendiks I CITES. Tiga usulan
kawasan suaka alam di Kepulauan Sula dan Buru,
yakni Gunung Kelpat Muda (1380 km²), Waeapo (50
km²), dan Pulau Taliabu (700 km²) diharapkan akan
dapat melindungi dan melestarikan jenis ini pada
masa depan
larangan perlakuan secara tidak wajar terhadap satwa yang dilindungi terdapat dalam Pasal 21 ayat
(2) UU 5/1990 yang berbunyi:

 “Setiap orang dilarang untuk


 a.    menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan
memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;
 b.    menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang
dilindungi dalam keadaan mati;
 c.    mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam
atau di luar Indonesia;
 d.    memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa
yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau
mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
 e.    mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur
dan/atau sarang satwa yang dilindungi.”
 Sanksi pidana bagi orang yang sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) adalah pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Terima kasih

LESTARIKAN ALAM SELAMATKAN MASA DEPAN