Anda di halaman 1dari 16

TEKNOLOGI KONVERSI

ENERGI BIOMASSA

“ANALISI HASIL RANCANG BANGUN ALAT


PRODUKSI BIOGAS DENGAN BAHAN BAKU
KOTORAN TERNAK”
KELOMPOK 1

AHMAD HARRIS FURQAN 17A1032


RADEN MUHAMMAD YUSUF 17A1005
SULTAN HASANUDDIN 17A1010
LATAR BELAKANG

Krisis energi yang terjadi saat ini sangat dirasakan oleh semua
lapisan masyarakat dan tentu saja memperngaruhi segala aspek
perekonomian, khususnya bagi masyarakat ekonomi menengah
dan lemah. Salah satu gejala krisis energi yang terjadi akhir –
akhir ini yaiu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), seperti
minyak tanah, bensin , dan solar. Kelangkaan terjadi karena
tingkat kebutuhan BBM sangat tinggi dan selalu meningkat setiap
tahunnya,sementara itu minyak bumi sebagai bahan baku
pembuaan BBM sangalah terbatas dan membutuhkan waktu
berjuta- juta tahun untuk proses pembentukannya.
Selain meningkatnya harga bahan bakar minyak, maka program
konversi minyak tanah ke gas, menjadi pilihan utama
masyarakat. Masyarakat memilih menggunakan LPG karena gas
dalam tabung berkapasitas 3 kg dapa diporoleh di warung atau
toko – toko sekitar lokasi. Gas dalam tabung 3 kg tersebut
dipasarkan dengan harga Rp 15.000,00 – Rp 16,000,- per
tabung. Dalam satu bulan rata-rata setiap rumah tangga
menghabiskan 3-4 tabung gas.
Biogas dapat dihasilkan dari pengolahan limbah rumah tangga
dan limbah kotoran ternak, dengan demikian biogas memiliki
peluang yang besar dalam pengembangannya karena bahannya
dapat diperoleh dari sekitar tempat tinggal masyarakat. Seiring
dengan berkembangnya teknologi dan pengetahuan, biogas
sudah dikembangkan sebagai energi alternatif yang bisa
memanfaatkan berbagai kotoran hewan. Selain kotoran sapi,
biogas juga bisa dihasilkan dari kotoran ayam
PENGERTIAN BIOGAS

Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan–


bahan organik oleh mikroorganisme pada kondisi tanpa oksigen
(anaerob). Komponen biogas adalah ± 60% CH4 (metana), ±38%
CO2 (karbon dioksida), ± 2% N2, O2, H2 dan H2S. Biogas dapat
dibakar seperti elpiji dan dalam skala besar dapat digunakan
sebagai pembangkit listrik, sehingga dapat dijadikan energi
alternative yang terbarukan dan ramah lingkungan (Musanif, dkk,
2006). Proses dekomposisi anaerobik dibantu oleh sejumlah
mikroorganisme, terutama bakteri metan. Suhu yang baik untuk
proses fermentasi adalah 30- 55°C, dimana pada suhu tersebut
mikroorganisme mampu merombak bahan bahan organik secara
optimal.
Hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri adalah gas
metan seperti yang terlihat dibawah ini:
Komposisi biogas : kotoran sapi dan campuran kotoran ternak
dengan sisa pertanian
Proses menghasilkan Biogas

Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara


(disebut Digester ) sehingga bakteri anaerob akan membusukkan
bahan organic tersebut yang kemudian menghasilkan gas (disebut
biogas). Biogas yang telah terkumpul di dalam digester selanjutnya
dialirkan melalui pipa penyalur gas menuju tabung penyimpan gas
atau langsung ke lokasi penggunaannya. Biogas dapat
dipergunakan dengan cara yang sama seperti gas -gas mudah
terbakar lain nya.
Biogas dalam skala rumah tangga dengan jumlah ternak 2 – 4 ekor
atau suplai kotoran sebanyak kurang lebih 25 kg/hari cukup
menggunakan tabung reaktor berkapasitas 2500- 5000 liter yang
dapat menghasilkan biogas setara dengan 2 liter minyak tanah/hari
dan mampu memenuhi kebutuhan energi memasak satu rumah
tangga pedesaan dengan 6 orang anggota keluarga
Langkah – Langkah
Pembuatan Biogas

Mencampur kotoran ternak dengan air sampai terbentuk lumpur dengan


perbandingan 1:1 pada bak penampung sementara. Bentuk lumpur akan
mempermudah pemasukan kedalam digester
 
Mengalirkan lumpur kedalam digester melalui lubang pemasukan. Pada pengisian
pertama kran gas yang ada diatas digester dibuka agar pemasukan lebih mudah dan
udara yang ada didalam digester terdesak keluar. Pada pengisian pertama ini
dibutuhkan lumpur kotoran sapi dalam jumlah yang banyak sampai digester penuh.
Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran) sebanyak 1 liter dan isi
rumen segar dari rumah potong hewan (RPH) sebanyak 5
 
karung untuk kapasitas digester 3,5 - 5,0 m2. Setelah digester penuh, kran gas
ditutup supaya terjadi proses fermentasi.
 
Membuang gas yang pertama dihasilkan pada hari ke-1 sampai ke-8 karena yang
terbentuk adalah gas CO2. Sedangkan pada hari ke-10 sampai hari ke-14 baru
terbentuk gas metan (CH4) dan CO2 mulai menurun. Pada komposisi CH4 54% dan
CO2 27% maka biogas akan menyala.
 
Pada hari ke-14 gas yang terbentuk dapat digunakan untuk menyalakan api pada
kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai hari ke-14 ini kita sudah bisa
menghasilkan energi biogas yang selalu terbarukan. Biogas ini tidak berbau seperti
bau kotoran sapi. Selanjutnya, digester terus diisi lumpur kotoran sapi secara
kontinu sehingga dihasilkan biogas yang optimal.
Membangun
Instalasi Biogas

Bangunan utama dari instalasi biogas adalah Digester yang


berfungsi untuk menampung gas metan hasil perombakan bahan
bahan organik oleh bakteri. Jenis digester yang paling banyak
digunakan adalah model continuous feeding dimana pengisian
bahan organiknya dilakukan secara kontinu setiap hari. Besar
kecilnya digester tergantung pada kotoran ternak yang dihasilkan
dan banyaknya biogas yang diinginkan.
Lahan yang diperlukan sekitar 16 m2. Untuk membuat digester
diperlukan bahan bangunan seperti pasir, semen, batu kali, batu
koral, bata merah, besi konstruksi, cat dan pipa prolon.
Lokasi yang akan dibangun sebaiknya dekat dengan kandang
sehingga kotoran ternak dapat langsung disalurkan kedalam
digester. Disamping digester harus dibangun juga penampung
sludge (lumpur) dimana slugde tersebut nantinya dapat dipisahkan
dan dijadikan pupuk organik padat dan pupuk organik cair.
Bahan dan peralatan yang
dibutuhkan

4 buah drum yang sudah dibersihkan, 3


buah drum berukuran 200 ltr dan 1 buah
drum berukuran 120 ltr atau yang lebih kecil
dari yang 200 ltr.

2 buah pipa baja berdiameter 5 cm panjang


kurang lebih 60 cm (panjang disesuaikan
dengan tinggi drum setelah dibaringkan).

Sealng karet (besarnya sam dengan selang


untuk ke kompor gas biasa) dan 2 buah kran
CONTOH PEMBUATAN

1). Satu buah drum 200 ltr di buka tutupnya


Satu buah lagi drum 200 ltr dipotong
tutupnya
Satukan(di las) 2 buah drum
tersebut pada sisi tutup yng
dibuka dan yang di potong
Tempelkan pipa besi berdiameter 5cm ( di Las )
pada kedua sisi drum yang telah dilubangi 5cm ,
pipa besi yang satu di tambah corong, yang
nantinya berfungsi sebagai saluran untuk
masukan bahan, dan pipa besi yang satunya
tanpa corong sebagai bahan keluaran sisa
pembuatan gas, dan pada bagian atas (setelah
drum di satukan ) di lubangi dan di tempel pipa
ukuran kecil dan kran. Kemudian pasang selang
karet untuk menyalurkan gas yang di hasilkan
Selanjutnya kita buat alat penyimpan gas sebelum nantinya
disalurkan ke kompor gas. dengan cara 1 buah drum 200 ltr
dibuka tutupnya kemudian diisi air setengahnya, kemudian drum
kecil (120 ltr) di buka tutupnya dan dilubangi sisi bagian
bawahnya sebanyak 2 lubang, untuk pipa kecil dan kran, 1
sebagai saluran gas masuk dari alat penghasil biogas dan 1 lagi
sebagai saluran keluar gas untuk disalurkan ke kompor gas,
masukan drum kecil ini ke drum besar berisi air tadi secara
terbalik sampai setengah badan drum
Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian untuk menghasilkan alat pengolah


biogas dan mengetahui hasil produksi biogas dari limbah
kotoran sapi dan kambing dari alat yang dibangun
Manfaat Penelitian

Pendidikan
Bidang bengkel mekanik untuk pendidikan praktek sebagai sumber
pembelajaran dan sebagai pengembangan sumber pembelajaran.

Peneliti
Dapat menambah pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas tentang
pemanfaatan kotoran sapi dan kambing dan limbah ternak sebagai
penghasil energi alternatif.

Masyarakat
Bagi masyarakat pesantren khusnya mendapat informasi bahwa
pemanfaatan kotoran sapi dan kambing dan limbah ternak lainnya tidak
hanya di gunakan sebagai pupuk kandang, akan tetapi dapat di
manfaatkan sebagi pengahasil energi alternatif.
 
Lingkungan
Dengan dilakukan pengolahan limbah ternak melalui penelitian ini
diharapkan dapat mengurangi pencemaran pada lingkungan yaitu polusi
udara, darat, dan air yang di sebabkan kotoran ternak .