Anda di halaman 1dari 16

Cover

ILMU PENYAKIT SYARAF DAN INDERA: STROKE HEMORAGIK

Kelompok 3 :
1. Iza Diana Putri (P07120318009)
2. Cosmas (P07120318014)
3. Nenok Eka Yuni Astuti (P07120318024)
4. Florentina Agustin Eka Pratiwi (P07120318005)
5. Ferni Joice Smas (P07120318032)
6. Endah Dwi Puspitasari (P07120318048)

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI

JURUSAN KEPERAWATAN

POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA


Insert the Sub Titt
2020/2021
Cover
Stroke Hemoragik
• Stroke merupakan penyakit serebrovaskular yang menjadi penyebab utama kematian di
Indonesia dan menduduki posisi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker.
• Stroke hemoragik ditandai pecahnya satu atau lebih pembuluh darah otak yang memicu
perdarahan di sekitar otak dan menyebabkan pasokan oksigen ke otak berkurang.
• Disebabkan oleh faktor traumatik dan faktor non traumatik. Faktor traumatik terjadi akibat
benturan hebat kepala pada benda padat seperti benturan kepala pada kecelakaan lalu lintas
dan faktor non traumatik pada intracranial hemoragik contohnuya seperti hipertensi.
• Stroke hemoragik terjadi apabila suatu pembuluh darah di otak pecah sehingga timbul iskemia
(pengurangan darah) dan hipoksia di sebelah hilir.
• Kematian dapat terjadi dalam waktu 30 hari pada 44% kasus.
• Lokasi perdarahan pada stroke hemoragik umumnya terjadi pada basal ganglia, thalamus,
pons dan serebelum.
KASUS
Cover

Pasien laki-laki dewasa beranama Tn. R berusia 67 tahun, berat badan 60 kg


dengan perdarahan intrakranial et causa stroke hemoragik. Pasien dirujuk dari
Rumah Sakit Binawaluyo, Jakarta, dengan keluhan utama sakit kepala tiba-tiba dan
muntah 3 jam sebelum masuk rumah sakit. Saat di emergensi Rumah Sakit
Binawaluyo, Jakarta, kesadaran composmentis E4M6V5, pupil isokor dengan
diameter kanan 2 mm, kiri 2 mm. Tekanan darah 130/80 mmHg, laju nadi 80/ menit,
laju nafas 12 x/menit, temperatur 36,7 0C. Dalam perjalanan ke rumah sakit
rujukan, selama kurang lebih 1 jam perjalanan, kesadaran pasien menurun. Pasien
menderita hipertensi dan rutin berobat jalan. Pasien memiliki riwayat coronary
artery disease (CAD) dan riwayat pemasangan 2 sten jantung tahun 2010, mendapat
terapi rutin Aptor 1x1 tablet dan Plavix 1x1 tablet. Riwayat diabetes melitus, alergi
dan asma disangkal.
Diagnostik
Cover

• Diagnosis intracranial hemoragik (ICH) dapat ditegakkan berdasarkan pada


anamnesa (alloanamnesa), pemeriksaan fisik dan CT-scan.
• Pada anamnesa (alloanamnesa), dijumpai adanya keluhan sakit kepala hebat,
mual, muntah, dan penurunan kesadaran yang terjadi mendadak.
• Pemeriksaan fisik, didapatkan nilai GCS yang menurun, peningkatan tekanan
darah, penurunan laju nadi, penurunan laju nafas (trias cushing).
• CT-scan pada intracranial hemoragik akan memperlihatkan area yang
hyperdence (radioopak). Jumlah perdarahan dapat diperkirakan dengan melihat
potongan gambar CT-scan.
Cover
Pada kasus ini, perdarahan intrakranial bersifat sekunder, diduga akibat terapi
antikoagulan rutin yang dikonsumsi dan hipertensi yang tidak terkontrol.
Perdarahan intrakranial akibat suatu hipertensi emergensi, sampai saat ini masih
belum dapat dipahami betul, namun diketahui disebabkan oleh berbagai etiologi.
Fenomena yang mudah dikenali adalah peningkatan resistensi vaskuler sistemik
yang terjadi akibat sirkulasi vasokonstriktor humoral. Juga terdapat bukti bahwa
tekanan arterial kritis yang tercapai meliputi kemampuan organ target untuk
mengkompensasi peningkatan tekanan arterial dan pembatasan aliran darah ke
organ target.
Gejala
Cover Stroke Hemoragik
Berdasarkan kasus stroke hemoragik yang dialami Tn. R adalah jenis
Perdarahan intraserebral. Perdarahan intraserebral umumnya timbul tanpa
peringatan dan memburuk setelah 30 hingga 90 menit. Gejalanya, antara lain:
• Kelemahan mendadak.
• Kelumpuhan atau mati rasa di bagian tubuh manapun.
• Kesulitan berjalan.
• Ketidakmampuan dalam berbicara.
• Ketidakmampuan dalam mengontrol gerakan mata yang wajar.
• Muntah.
• Pernapasan tidak teratur.
• Pingsan.
• Kehilangan kesadaran.
Cover
Perdarahan subarachnoid terjadi akibat perdarahan di antara otak dan
jaringan yang selaput otak. Gejalanya, antara lain:
• Sakit kepala yang sangat parah dan tiba-tiba.
• Kebingungan.
• Kekakuan leher.
• Ketidakmampuan dalam melihat cahaya terang.
• Mual dan muntah.
• Pusing.
• Kejang.
• Koma.
Cover
Klasifikasi Stroke Hemoragik
Berdasarkan kasus yang dialami Tn. R Perdarahan ada di luar (perdarahan intraserebral),
perdarahan di dalam yang mengisi ruang-ruang antara otak dan tulang cranium dinamakan
perdarahan subaraknoid. Keadaan ini terjadi karena rupture aneurisma, malformasi
arteriovenosa, dan trauma kepala. Perdarahan di dalam jaringan otak sendiri dikenal dengan
sebutan perdarahan intraserebral dan terutama disebabkan oleh hipertensi.

• Aneurisma merupakan keadaan diding arteri yang melemah sehingga menyebabkan arteri
tersebut meregang dan menggelembung seperti balon.
• Malformasi Arteriovenosa merupakan kelainan pembuluh darah otak dan di sini arteri
berhubungan langsung ke vena tanpa melewati jaringan kapiler (capillary bed).
• Trauma Kepala merupakan kejadian cidera akibat trauma pada otak, yang menibulkan
perubahan fisik, intelektual, emosi, social, ataupun vokasional (pekerjaan).
• Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang dapat menyebabkan teriol kecil pecah
dalam otak.
Cover
Komplikasi Stroke Hemoragik
Beberapa komplikasi yang dapat disebabkan oleh stroke hemoragik yang
diderita Tn. R, antara lain:
• Gangguan dalam proses berpikir dan mengingat.
• Kesulitan menelan, makan, dan minum.
• Masalah pada jantung.
• Kejang hingga kematian.
Pemeriksaan
Cover Fisik Stroke Hemoragik
Pada pasien dengan stroke hemoragik biasanya dapat ditemukan pemerik-saan fisik
yang signifikan yaitu :

• GCS
• Kelumpuhan saraf kranial
• Kelemahan motorik
• Defisit sensorik
• Gangguan otonom
• Gangguan neurobehavior
• Pemeriksaan Penunjang Stroke Hemoragik
• CT Scan/ MRI Brain
• CT/MR Angiografi Brain
Pemeriksaan
Cover Lab Stroke Hemoragik
• Hemoglobin
• Hematokrit
• Leukosit
• Trombosit (Pratelet)
• Kreatinin
• Gula darah sewaktu
• Kolesterol
Penatalaksanaan
Cover Operasi
Belum terdapat kesepakatan yang sama dalam seluruh aspek manajemen stroke
hemoragik, baik tekanan darah yang optimal sebagai indikasi pembedahan. Hal
berikut ini dapat kita gunakan sebagai petunjuk:
• Hipertensi: kontroversial. Hipertensi dapat berkontribusi terhadap perdarahan
yang lebih lanjut, terutama dalam 1 jam pertama. Namun, beberapa hipertensi
mungkin diperlukan untuk mempertahankan perfusi. Target tekanan darah 140/90,
hindari koreksi yang berlebihan (hipotensi);
• Intubasi jika pasien dalam keadaan sopor atau koma;
• Pemberian antikonvulsan (opsional), misalnya fenitoin;
• Permasalahan hemostatik: periksa PT, PTT dan platelet count, waktu perdarahan,
dapat diberikan agen hemostatik;
Cover
• Pemberian steroid masih kontroversi;
• Dugaan hipertensi intrakranial diterapi: berikan mannitol dan furosemide,
pertimbangkan monitor tekanan intrakranial;
• Pantau elektrolit dan osmolaritas;
• Angiografi, terutama untuk melihat malformasi vaskular yang mendasari, dan juga
melihat apakah ada aneurisma (penyebab ICH yang jarang), dan tumor (lebih baik
menggunakan CT kontras atau MRI). Angiografi direkomendasikan, kecuali pada
pasien >45 tahun dengan riwayat hipertensi dan ICH di thalamus, putamen, atau
fossa posterior.
Penatalaksanaan
Cover Anestesi
• Pada pengelolaan anestesia pastikan jalan nafas tidak tersumbat oleh sekret, muntahan atau darah.
Berikan O2 100% dan usahakan saturasi O2 98–100%. Laju nafas diusahakan hiperventilasi
ringan, terutama jika telah terjadi hernisasi.
• Hati-hati pada pasien dengan fraktur cervical, usahakan kepala tidak hiperekstensi, cukup jaw
thrust saja.
• Manfaat profopol selain untuk induksi juga berguna untuk menurunkan tekanan darah dan
tekanan intrakranial.
• Penurunan tekanan intrakranial yang cepat dapat dicapai dengan pemberian diuretik.
• Furosemid mengurangi tekanan intracranial dengan menimbulkan diuresis, menurunkan produksi
cairan serebrospinal dan memperbaiki edema serebral dengan mengurangi transport air seluler.
• Jika memungkinkan, dapat dipasang monitor invasif untuk mengukur tekanan darah arteri,
tekanan vena central dan tekanan intracranial selama operasi berlangsung.
• Pemeriksaan gula darah sewaktu dilakukan perjam untuk menghindari terjadinya hipo atau
hiperglikemia.
Pencegahan
Cover Stroke Hemoragik
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah Stroke
Hemoragik :
• Melakukan olahraga secara rutin.
• Melakukan pemeriksaan fisik secara berkala.
• Menggunakan obat-obat hipertensi yang diresepkan dokter dengan teratur.
• Mengonsumsi makanan sehat.
• Berhati-hati dalam berkendara.
• Menaati aturan dan dosis yang dianjurkan dokter dalam menggunakan
warfarin.
• Menggunakan helm dengan standar yang baik (SNI) saat mengendarai
sepeda motor.
• Menggunakan sabuk pengaman saat mengendarai mobil.
Cover

TERIMA KASIH
HEHE

Insert the Sub Titt