Anda di halaman 1dari 92

LAPORAN KASUS

SOFT TISSUE TUMOR (STT)


Oleh:
ANIS JULIANTI
(2014730010)

Pembimbing:
dr. Usman Wahid,Sp.B
 KEPANITERAAN KLINIK BEDAH
RUMAH SAKIT UMUM SEKARWANGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2018
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Tn. E
• Umur : 50 tahun
• Jenis kelamin : Laki-laki
• Alamat : Cipetir cikidang
• Agama : Islam
• Pekerjaan : Tukang pijat
• Masuk RS : 11 Desember 2018
ANAMNESIS

KELUHAN UTAMA
Benjolan pada pelipis kanan sejak 5
tahun yang lalu.
ANAMNESIS

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien datang dengan keluhan terdapat benjolan pada pelipis kanan


sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu. Benjolan tidak ada rasa nyeri,
semakin lama semakin membesar. Benjolan saat ini sebesar kelereng
dan tidak ada benjolan lagi selain benjolan tersebut serta pasien
merasa kurang nyaman.
ANAMNESIS
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat HT (-)
Riwayat Sakit Jantung (-), Riwayat DM (-), Riwayat Asma (-),
Riwayat TB paru (-), Riwayat Hepatitis (-)
 

RIWAYAT PENGOBATAN

Pasien tidak pernah berobat karena tidak ada keluhan

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Dikeluarga ada yang menderita penyakit yang sama yaitu bapak


dan paman sudah dioperasi. Hipertensi (-), DM (-), Jantung (-),
Asma (-).
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS

Keadaan umum : Tampak sakit ringan


Kesadaran : Composmentis
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x/ menit
RR : 18 x/menit
Suhu : 36,9 C

 
PEMERIKSAAN FISIK
PEMERIKSAAN FISIK GENERALIS

Kepala : Normocephal, pada regio temporal terdapat benjolan berbentuk


bulat, ukuran ±2-3 cm, jumlah 1, konsistensi lunak, mobile dan tidak ada nyeri
tekan.
Mata : Pupil Isokor, Reflek cahaya (+/+), Konjungtiva anemis (-/-), Sklera
ikterik (-/-)
Hidung : Normonasi, napas cuping hidung (-), sekret (-), darah (-)
Telinga : Normotia, sekret (-)
Mulut : Sianosis (-), mukosa bibir kering, faring hiperemis (-)
Leher : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-/-)
Thorax : Normochest
Pulmo
Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris, retraksi sela iga (-)
Palpasi : Vocal fremitus sama pada kedua lapang paru
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru, batas paru-hepar pada ICS VI
dextra
PEMERIKSAAN FISIK
Cor:
Inspeksi : ictus cordis terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS VI linea midklavikula
sinistra
Perkusi : dalam batas normal
Auskultasi : BJ I dan II reguler. gallop (-), murmur (-)
 
Abdomen:
Inspeksi : Datar, distensi (-), massa (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Soepel, nyeri tekan epigastrium (-),
hepatosplenomegali(-).
Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen
PEMERIKSAAN FISIK
Ekstremitas Atas Bawah
Sianosis : -/- -/-
Akral : hangat hangat
Edema : -/- -/-
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
RESUME
Laki-laki usia 50 tahun, datang dengan keluhan terdapat
benjolan pada pelipis kanan sejak kurang lebih 5 tahun
yang lalu. Benjolan tidak ada rasa nyeri, semakin lama
semakin membesar. Benjolan saat ini sebesar kelereng
dan tidak ada benjolan lagi selain benjolan tersebut serta
pasien merasa kurang nyaman. Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum : Tampak sakit ringan, kesadaran :
Composmentis, TD: 110/70 mmHg, nadi: 80 x/ menit, RR:
18 x/menit ,Suhu : 36,9 C.
DIAGNOSIS

 DIAGNOSIS

Lipoma pada regio temporal


PENATALAKSANAAN

Rencana Terapi :
Eksisi tumor
PEMBAHASAN
SOFT TISSUE TUMOR (STT)
DEFINISI
Soft tissue atau jaringan lunak merupakan semua
jaringan nonepitel selain tulang, tulang rawan, otak dan
selaputnya, sistem saraf pusat, sel hematopoietik, dan
jaringan limfoid.
ANATOMI DAN HISTOLOGI
Jaringan embrional manusia

Ektoderm Endoderm

Mesoderm
JARINGAN TUBUH

Jaringan fibrosa
Jaringan lemak
LURIK

OTOT POLOS

JANTUN
G
Pembuluh darah
KLASIFIKASI STT
No. Soft Tissue Tumor  
1 Tumor Jaringan Lemak Lipoma
Liposarkoma
2 Tumor dan Lesi Mirip-Tumor pada Jaringan Fasilitis Nodularis
Fibrosa Fibromatosis
Fibromatosis
Superfisialis
Fibromatosis Profunda
Fibrosarkoma
3 Tumor Fibriohistiositik Histiositoma Fibrosa
Dermatofibrosarkoma
Protuberans
Histiositoma Fibrosa
Maligna
4 Tumor Otot Rangka Rabdomioma
Rabdomiosarkoma
KLASIFIKASI STT
No. Soft Tissue Tumor  
5 Tumor Otot Polos Leiomioma
Leiomiosarkoma
Tumor otot polos dengan
potensi keganasan tidak
jelas
6 Tumor Vaskular Hemangioma
Limfangioma
Hemangioendotelioma
Hemangioperisitoma
Angiosarkoma
7 Tumor Saraf Perifer Neurofibroma
Schwannoma
Tumor ganas selubung
saraf perifer
8 Tumor yang Histogenesisnya Tidak Jelas Tumor Sel Granular
Sarkoma Sinovium
Sarkoma bagian lunak
alveolus
Sarkoma Epitelioid
LIPOMA
DEFINISI

Lipoma adalah suatu tumor (benjolan) jinak yang berada


dibawah kulit yang terdiri dari lemak. lipoma berlokasi dikepala,
leher, bahu, badan, punggung, atau lengan.

PREVALENSI
Lipoma adalah tumor jaringan lunak yang paling umum dengan
prevalensi sebesar 2,1 per 1.000 orang.
ETIOLOGI GAMBARAN KLINIK

Idiopatik.
- Berbentuk benjolan dengan
diameter 2-10cm
- Konsistensi kenyal dan lembut
- Terdapat pada leher, lengan, dan
dada,
- Mobile/dapat digerakkan
- Tidak ada nyeri
- Pertumbuhannya lambat dan
jarang menjadi ganas
- Terdapat pseudokapsul
Jenis-jenis Lipoma

Pleomorphilicli
Angiolipoma
poma

Adipocytes Adenolipoma
Diagnosis

Anamnesis dan Biopsi dan


pemeriksaan fisik histopatologi

CT-Scan MRI
TERAPI
Surgical removal

• Alasan kosmetik
Steroid injection
• Untuk mengevaluasi histologi (adakah

keganasan pada jaringan) sehingga

dapat menyingkirkan kemungkinan

liposarkoma.

Liposuction • Jika menimbulkan gejala yang

mengganggu
• Jika berkembang menjadi lebih dari 5

cm.
LIPOSARKOMA
DEFINISI

Liposarkoma adalah neoplasma ganas adiposit. Berbeda


dengan lipoma, sebagian besar liposarkoma timbul di jaringan
lunak dalam atau visera. Ekstremitas bawah dan abdomen
sering menjadi tempat timbulnya tumor ini.

PREVALENSI
Kejadian tahunan sebesar 2,5 kasus per juta penduduk. Tumor
ini biasanya timbul pada orang dewasa.
ETIOLOGI

Terdapat kelainan translokasi pada kromosom band 12q13


translokasi kromosom mengkode faktor transkripsi yang
diperlukan untuk diferensiasi adiposit.

GEJALA KLINIS
Gejala berupa adanya suatu benjolan dibawah kulit yang tidak
terasa sakit, hanya sedikit penderita yang mengeluh sakit. Rasa
sakit muncul akibat perdarahan atau nekrosis dalam tumor dan
bisa juga karena penekanan pada saraf-saraf tepi.
KLASIFIKASI
TERAPI
1. Eksisi luas tidak hanya tumornya saja yang diangkat,
namun juga dengan jaringan sekitarnya sampai bebas
tumor
2. Penggunaan radioterapi dan kemoterapi
3. Untuk tumor yang ukurannya besar, setelah operasi
ditambah dengan radioterapi.
4. Setelah penderita operasi harus sering kontrol untuk
memonitor ada tidaknya kekambuhan pada daerah
operasi ataupun metastase
FIBROMA
DEFINISI

Fibroma ialah tumor jinak yang berasal dari jaringan ikat.

PREVALENSI
Angka kejadian pada wanita menunjukkan 66% terjadi pada
segala usia namun paling sering pada dekade keempat sampai
dengan keenam dalam kehidupan. Fibroma sering terjadi di
rongga mulut (71%) pada daerah bukal, labial, dan lidah bagian
lateral.
ETIOLOGI
Jaringan ini tumbuh akibat adanya trauma tunggal dan ringan
yang berlangsung terus-menerus sehingga terjadi inflamasi
kronis atau infeksi.

GEJALA KLINIS

Ukuran tidak lebih dari 3 cm yang tidak menimbulkan rasa sakit


dan terlokalisir, padat, warnanya seperti jaringan sekitar, sedikit
dilapisi jaringan keratin, dapat timbul ulserasi oleh karena trauma
yang berulang
KLASIFIKASI
TERAPI
Eksisi surgical (ekstirpasi) merupakan terapi
pilihan untuk perawatan fibroma tanpa harus
menghilangkan batas mukosa normal sekitarnya.
FIBROMATOSIS
DEFINISI

Sekelompok proliferasi fibroblast yang dibedakan berdasarkan


kecenderungannya untuk tumbuh secara infiltratif

PREVALENSI ETIOLOGI

Rata-rata usia 35 - 45 tahun. Genetik dan trauma.


GAMBARAN KLINIS
Gambaran fibromatosis cukup bervariasi, tergantung pada
tempat. Sebagian lesi bermanisfestasi sebagai nodus yang
berbatas tegas. Yang lain tampak sebagai massa infiltratif
tanpa batas yang jelas.
KLASIFIKASI

Fibromatosis Fibromatosis
superfisial profunda

TERAPI Eksisi
Fibrosarkoma
DEFINISI
Fibrosarkoma adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan ikat
fibrosa dan ditandai oleh adanya perkembangan fibroblast yang
belum matang secara banyak atau tidak dibedakan anaplastik sel
spindle.

PREVALENSI

Fibrosarkoma biasanya ditemukan pada orang dewasa, paling


sering umur antara 30-55 tahun.
ETIOLOGI GAMBARAN KLINIK

Idiopatik. - Pada awal tidak tampak rasa


nyeri
- Lesi yang besar terjadi
perenggangan kulit sehingga
berkilat dan berwarna
keunguan dan terdapat
pelebaran pembuhan darah
vena
DIAGNOSIS

Pemeriksaan Pemeriksaan
radiologi patologi

Pemeriksaan
hitopatologi
TERAPI
1. Eksisi

2. Radiasi sebagai terapi adjuvant

3. Kemoterapi dapat dikombinasi pada tumor yang high

grade
Histiositoma Fibrosa
DEFINISI
Histiositoma fibrosa adalah lesi jinak yang bermanisfestasi
sebagai nodus berbatas tegas, dapat digerakan, dan terletak di
dermis atau jaringan subkutis.

PREVALENSI

Sebagian kasus terjadi pada orang dewasa.


ETIOLOGI

Idiopatik.

GAMBARAN KLINIK

Nodus berbatas tegas, dapat


digerakan, dan terletak di dermis
atau jaringan subkutis.
TERAPI
Eksisi

PROGNOSIS
Bonam
Dermatofibrosarkoma Protuberans
DEFINISI
Neoplasma yang menempati posisi intermediate antara tumor
fibriohistiositik jinak dan histiositoma fibrosa ganas.

PREVALENSI

Sebagian kasus terjadi pada orang dewasa.


ETIOLOGI
Chromosom 17 dan 22 yang
bertranslokasi.

GAMBARAN KLINIK

Tumor ini bermanisfestasi sebagai


lesi nodular yang tumbuh lambat
dan terutama mengenai dermis dan
jaringan subkutis
DIAGNOSIS
Biopsi insisi atau biopsi eksisi ditemukan sel fibroblastik gemuk yang

tersusun dalam pola “storiform”. Aktivitas mitotik umumnya jarang, dan

hanya sedikit ditemukan atipia sitologik.

TERAPI
Eksisi
Histiositoma Fibrosa Maligna
DEFINISI
Suatu kelompok heterogen sarcoma jaringan lunak yang secara
klinis agresif. Tumor ini cenderung timbul di jaringan otot dalam di
ekstremitas atau daerah retroperitoneum.

PREVALENSI

Sebagian besar terjadi pada orang dewasa berusia 50-70


tahun.
ETIOLOGI DIAGNOSIS
Biopsi ditemukan gambaran
Idiopati. sel gelondong atipikal yang
tersusun dalam kumparan,
kadang-kadang bercampur
GAMBARAN dengan sel mirip histiosit
KLINIK yang aneh.

Tumor retroperitoneum
dapat mencapai ukuran TERAPI
yang sangat besar
sebelum menimbulkan
perhatian klinis. Reseksi luas
Rabdomioma
DEFINISI
Rabdomioma adalah tumor otot lurik. Ada 2 jenis rabdomioma
adalah neoplastik dan hamartoma. Hamartoma dibagi menjadi
rabdomioma jantung dan mesenchymal rabdomiomatous kulit.

PREVALENSI
Secara khusus dalam kategori tumor primer jinak jantung,
rabdomioma memiliki insiden yang relatif sekitar 5,8%. Biasa
terjadi pada sebagian besar pada pria.
ETIOLOGI
Varian genetik dari
perkembangan otot
lurik.

GAMBARAN KLINIK
• Pemeriksaan fisik pada pasien
dewasa dengan rabdomioma
mengungkapkan adanya massa
polypoid di wilayah leher, dan bias
terdapat pada daerah kepala serta
leher.
• Pasien dengan rabdomioma jantung
terdapat murmur jantung.
DIAGNOSIS

Anamnesis dan
pemeriksaan MRI
fisik

CT-Scan Pemeriksaan
Histologi
Rabdomiosarkoma
DEFINISI
Rabdomiosarkoma merupakan suatu tumor ganas yang aslinya
berasal dari jaringan lunak (soft tissue) tubuh, termasuk disini
adalah jaringan otot, tendon dan connective tissue.
Rabdomiosarkoma merupakan keganasan yang sering
didapatkan pada anak-anak.

PREVALENSI
Rabdomiosarkoma dapat terjadi pada semua usia dengan
insiden terbanyak pada usia 1-5 tahun dan 15-19 tahun. Lokasi
pada umumnya pada kepala dan leher (30-65%), anggota gerak
(24%), sistem urogenital (18%), badan (8%), retroperitoneal
(7%) dan tempat lain (2-3%).
ETIOLOGI
Idiopati.

GAMBARAN KLINIK

Penderita RMS terutama anak-anak mungkin


mendapat gejala-gejala yang berbeda satu dengan
yang lain tergantung dari lokasi tumor itu sendiri.
Gejala sering kali tidak muncul sebelum tumor
mencapai ukuran yang besar, nyeri serta pergerakan
dapat terjadi jika tumor menekan saraf pada area yang
terkena.
KLASIFIKASI

Embrional Alveolar

Sel spindel Anapastik


rabdomiosarkoma rabdomiosarkoma
DIAGNOSIS

Anamnesis dan Pemeriksaan


pemeriksaan fisik histopatologi

Pemeriksaan Pemeriksaan
laboratorium radiologi
TERAPI

Operasi Kemoterapi
Leiomioma
Definisi Leiomioma adalah neoplasma jinak jaringan lunak yang timbul
dari otot polos.

Prevalensi Piloleiomioma terjadi pada berusia 10-30 tahun.


Angioleiomioma paling sering terjadi pada tahun-tahun usia
20-60 tahun

Etiologi Idiopati kemungkinan berhubungan dengan genetik

Klasifikasi Piloleiomioma
Angioleiomioma
Leiomioma genitalia pada vulva atau skrotum
Gambaran Klinis

Piloleiomioma tumor tunggal dengan permukaan halus,papula, atau nodul,


biasanya lebih kecil dengan diameter 2 cm dan berwarna
coklat kemerahan. Tempat predileksi pada tubuh, wajah atau
ekstremitas. Pola distribusi bilateral simetris, dikelompokkan
dermatomal dan pola linier.

Angioleiomioma nodul pada kulit yang cukup dalam dengan diameter 4 cm.
biasanya dirasakan nyeri terutama pada saat palpasi.
Angioleiomioma umumnya soliter dan terjadi terutama pada
ekstremitas bawah.

Leiomioma Terdapat pada vulva atau skrotum dan lebih besar dari kedua
genitalia jenis lainnya

Terapi

Eksisi
Leiomiosarkoma
Tumor mesenkim yang berasal dari otot polos terutama terjadi
Definisi
pada usus. Leiomiosarkoma berasal antara propria
muskularis dan lapisan mukosa muskularis dinding usus.

Prevalensi Leiomiosarkoma usus cukup langka, dengan frekuensi sekitar


1,4 kasus per 100.000 pasien.

Etiologi Idiopati kemungkinan berhubungan dengan genetik

Tidak dapat terlihat dengan jelas kecuali terdapat perdarahan


Gambaran klinik
akut dan massa jarang teraba.

Kemoterapi dan radiasi telah menunjukkan manfaat hanya


Terapi
terbatas dalam pengobatan leiomiosarkoma. Tingkat Respon
untuk resimen kemoterapi berbagai umumnya sudah di
bawah 40%.
Hemangioma
Definisi Hemangioma adalah proliferasi abnormal dari pembuluh
darah yang dapat terjadi pada setiap jaringan yang
mengandung pembuluh darah.

Prevalensi Prevalensi hemangioma ± 1- 3% pada neonatus dan ± 10%


pada bayi sampai dengan umur 1 tahun. Lokasi tersering
hemangioma pada kepala dan leher (60%), dan sekitar 20%-
nya merupakan lesi yang multiple.
Penyebab hemangioma sampai saat ini masih belum jelas,
Etiologi
peningkatan factor-faktor pembentukan angiogenesis seperti
penurunan kadar angiogenesis inhibitors misalnya gamma-
interferon, tumor necrosis factor-beta, dan transforming
growth faktor-beta berperan dalam etiologi terjadinya
hemangioma.

Klasifikasi Hemangioma kapiler, Granuloma piogenik, Hemangioma


kaversum, Hemangioma campuran
Diagnosis Anamnesi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang(USG
dengan doppler, angiografi, CT-Scan dan MRI.

Komplikasi Perdarahan, ulkus, trombositopenia,gangguan penglihatan

Konservatif
Terapi
Aktif : pembedahan, radiasi
Angiosarkoma
Definisi Angiosarkoma adalah neoplasma ganas yang jarang terjadi
dengan berkembang cepat, luas infiltrassi sel anaplastik
berasal dari pembuluh darah dan lapisan pembuluh darah
yang menjadi tidak teratur.

Prevalensi Angisarkoma lebih sering terjadi pada pria dibanding dengan


wanita rasio 2:1.

Radioterapi, bahan asing (Dacron, bahan graft,dll),terkait


Etiologi
dengan lingkungan karsinogen (pekerja industry) dan dapat
meningkat pada pasien dengan AIDS

Pemeriksaan fisik dapat dibagi sesuai tempat terjadinya


Gambaran klinis
angiosarkoma tersebut. Angiosarkoma dari jaringan lunak
(ekstremitas, retroperitoneum, dinding abdomen).
Diagnosis Biopsi ditemukan keganasan pleomorfik sel. Anastomosis
pembuluh darah.

Terapi • Terapi adjuvant pada angiosarkoma jaringan lunak :


Kemoterapi dengan Doxorubicin
• Terapi adjuvant pada angiosarkoma tulang : Kemoterapi
dengan Doxorubicin dan Ifosfamid yang dapat digunakan
bersama-sama atau berurutan. Bisa juga dengan
mempertimbangkan rejimen kedua dengan Siklofosfomid,
Etoposid, dan Cisplatin.
• Terapi adjuvant pada angiosarkoma kulit : Kemoterapi
dengan Doxorubicin
• Terapi dengan pembedahan yang diikuti dengan radioterapi
memberikan hassil yang lebih baik.
Neurofibroma
Definisi Neurofibroma adalah tumor jinak selubung saraf dalam
system saraf perifer. Biasanya ditemukan pada individu
dengan neurofibromatosis tipe I (NF1), sebuah autosomal
dominan penyakit genetic yang diturunkan.

Prevalensi AnNeurofibroma biasanya timbul pada usia remaja dan sering


dikaitkan dengan masa pubertas.

Etiologi Pada NF1,gen yang bermutasi ada di kromosom 17,


sedangkan pada NF2 di kromosom 22

Klasifikasi Neurofibroma dermal


Neurofibroma plexiform,
Biopsi ditemukan sel spindle, hiposeluler area dan sel mast.
Diagnosis

Terapi Radioterapi, kemoterapi, menggunakan obat-obatan


(Pirfenidone, Tipifarnib, Erlotinib (Tarceva) dengan Sirolimus,
imatinib (Gleevec), Pegylated Interferon (Peg-Intron),
Peginterferon alfa-2b, Sirolimus (Rapamycin), Sirolimus,
Sorafenib (Nexavar), Tranilast (Rizaben) ro, In vitro, tranilast.)
Schwannoma
Definisi Schwannoma merupakan tumor yang tumbuh lambat dan
dapat timbul dimana saja di sebelah distal perbatasan daerah
yang bermielin.

Prevalensi Prevalensi paling tinggi pada usia dekade kedua dan ketiga.

Etiologi Kelainan Kromosom 22.

Gambaran klinis Massa berbatas tegas, melekat ke suatu saraf perifer, saraf
kranialis, akar saraf spinal. Nervus-8 sering menjadi tempat
bersarangnya schannoma ini, yang disebut neuromaakustik.
Dan menimbulkan nyeri menjalar sesuai dengan distribusi
saraf yang terkena.

Terapi Eksisi
Sarkoma sinovium
Definisi Sarkoma sinovial adalah salah satu tumor jaringan lunak yang
paling umum terjadi pada remaja dan pasien muda, dengan
sekitar 1 dari 3 kasus yang terjadi dalam 2 dekade pertama
kehidupan.

Prevalensi Insiden sarkoma sinovial diperkirakan sekitar 2,75 per


100000. Sebagian besar kassus melibatkan ekstremitas
bawah.

Etiologi Sarkoma sel sinovial ditandai dengan translokasi t spesifik


kromosom (X; 18) (p11; Q11).

Diagnosis Pemeriksaan penunjang : Foto polos, pemeriksaan hitologi

Terapi Kemoterapi dan operasi


DAFTAR PUSTAKA
Rosenberg AE. Bones, Joints and Soft Tissue Tumors. In:
Kumar, Abbas, Fausto, Aster, editors.
Robin and Cotran Pathologic Basis of Disease.
Philadelphia: Saunders Elsevier; 2010.p. 1293-1302
Fletcher C, Unni KK, Mertens F. Pathology and Genetics of
Tumours of Soft Tissue and Bone.
France: IARC Press; 2002.p. 233-57, 259-64, 297-8, 309-
10, 313-6, 338-43
Kindblom LG. Bone tumors :Epidemiology, classification,
pathology (Cited 2018, November 30).
Junqueira L. Histologi Dasar. Edisi 8. Jakarta: EGC;
1998 .h. 136-143
DAFTAR PUSTAKA
An YH, Kylie L. Martin Handbook of histology methods for
bone and Cartilage.New Jersey:
Humana Press Inc; 2003.p. 99-321
Anonymous Bone (cited 2018, December 03).
Tortora JG, Bryan D. Principle of Anatomi And Physiology.
11thedition. USA: Biological
Science Textbook; 2006.p. 172-6
Weidner N, Lin GY, Kyriaskos M. Joint and Bone Pathology.
In: Weidner N, Cote RJ, Suster S,
Weiss LM, editors. Modern Pathology. Philadelphia:
Saunders Elsevier; 2009.p. 1784-1812
DAFTAR PUSTAKA
Kierszenbaum Abraham L MD. Histology and Cell Biology:
an Introduction to Pathology,
Second edition. Elseiver Inc; 2007. p.134-162.
Folpe AL, Inwards CY. Soft Tissue Pathology. Philadelphia:
Saunders Elsevier; 2010.p. 309-29,
330-51, 367-78, 401-7
Rosai J. Rosai and Ackerman Surgical Pathology. 10thed.
Mosby; ALsevier. 2010.p.2146-9420.

Sjamsuhidajat, R., Jong, W.D., editor., “Soft Tissue Tumor”,


dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi
2. EGC, Jakarta, 2005
TERIMA KASIH