Anda di halaman 1dari 41

ASUHAN KEPERAWATAN

GANGGUAN KEBUTUHAN
AKTIVITAS AKIBAT PATOLOGIS
SISTEM PERSYARAFAN DAN
INDRA : POLIO DAN TETANUS
Disusun Oleh Kel 11
Yulinar Pratiwi
Sonia
Nadya Kharunnisa
Definisi
Poliomyelit
is

Menurut Bahasa Yunani polio berarti abu-abu,


dan nyelon yang berarti saraf perifer, sering juga
disebut paralisis infantil. Poliomielitis atau sering
disebut polio adalah penyakit akut yang
menyerang sistem saraf perifer yang disebabkan
oleh virus polio.
2
Etiologi
Virus polio termasuk genus enterovirus.
Terdapat tiga tipe yaitu tipe 1, 2, dan 3.
Ketiga tipe virus tersebut bisa
menyebabkan kelumpuhan. Tipe 1
adalah tipe yang paling mudah
diisolasi, diikuti tipe 3, sedangkan tipe 2
paling jarang diisolasi. Tipe yang sering
menyebabkan wabah juga adalah tipe
1, sedangkan kasus yang dihubungkan
dengan vaksin disebabkan oleh tipe 2
dan 3.
3
Penularan
Masa inkubasi polio biasanya 7-14 hari
dengan rentang 3-35 hari. Manusia
merupakan satu-satunya reservoir dan
merupakan sumber penularan. Virus
ditularkan antar-manusia melalui rute oro-
fekal.
“ Manifestasi Klinis
1. Minor illness (penyakit denga gejala ringan)

Sangat ringan atau bahkan tanpa gejala

Nyeri tenggorokan dan perasaan tak enak diperut, gangguan


gastrointestinal, demam ringan, perasaan lemas, dan nyeri kepala.

Terjadi selama 1-4 hari, kemudian menghilang dan jarang lebih


dari 6 hari. Selama waktu itu virus berepilikasi pada nasofaring dan
saluran cerna bagian bawah
5
Terjadi selama 3-35
hari termasuk gejala
minor illness dengan
rata-rata 17 hari.
Demam, kelemahan
Pada dewasa, stadium pre- cepat dalam
paralitik berlangsung lebih beberapa jam, nyeri
hebat dan lama, terlihat sakit kepala dan muntah.
berat, tremor, agitasi, 2. Major Dalam 24 jam
kemerahan didaerah muka,
otot meniadi sensitive dan
illness terlihat kekakuan
kaku. (termasuk leher dan
jenis non- punggung.
paralitik dan
paralitik) Terlihat
Pada anak, stadium megantuk,
pre-paralisis lebih iritabel,
singkat dan kelemahan
otot terjadi pada waktu dan
penurunan suhu. cemas.
6
Pengobatan
Perlu diberikan pelayanan
fisioterapi untuk meminimalkan
kelumpuhan dan menjaga agar
tidak terjadi atrofi otot.
Perawatan ortopedik tersedia
bagi mereka yang mengalami
kelumpuhan menetap.
Pengendalian penyakit yang
paling efektif adalah
pencegahan melalui vaksinasi
dan surveilans AFP
Asuhan Keperawatan
Poliomyelitis

8
• Nama, usia, jenis kelamin, suku/bangsa, alamat, penanggung
Identitas Pasien
jawab.
• Gambaran klinis pasien dengan poliomyelitis bervariasi mulai
dari yang ringan sampai yang paling berat. 95% kasus biasanya
merupakan subklinis tanpa gejala atau gejala berlangsung
selama kurang dari 72 jam, berupa :
• Demam ringan
Keluhan Utama • Sakit kepala
• Tidak enak badan
• Nyeri tenggorokan
• Tenggorokan tampak merah
• Muntah
• Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui untuk mengetahui
predisposisi sumber penyakit. Tanyakan dengan jelas gejala yang
Riwayat Penyakit timbul seperti apa, kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah
Sekarang buruk.

9
• Tanyakan : riwayat imunisasi, riwayat nyeri kepala, punggung
atau ektremitas. Faktor
yang memberatkan adanya riwayat hilang kesadaran, kejang,
Riwayat Penyakit kesemutan, kebas, tremor, paralisis, pergerakan tidak
Dahulu terkontrol,
kehilangan memori, masalah penciuman, penglihatan,
pengecapan,
sentuhan dan pendengaran.
• Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga
penting untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit
yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga
dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam
Pengkajian
kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam
Psikososial
masyarakat. Apakah ada dampak yang timbul seperti
kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan, untuk
melakukan aktifitas secara optimal, dan pandangan terhadap
dirinya yang salah (gangguan citra tubuh).
10
• B1 (Breathing)
• Respirasi normal, tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan, suhu 38,9
derajat celcius.
• B2 (Blood)
• tekanan darah normal.
• B3 (Brain)
• Gelisah (rewel) dan pusing.
• B4 (Bladder)
• Pengeluaran urin normal
• B5 ( Bowel)
• Mual muntah, anoreksia, konstipasi.
Pemeriksaan Fisik
• B6 (Bone)
• Letargi atau kelemahan, tungkai kanan mengalami kelumpuhan, pasien tidak
mampu berdiri dan berjalan.

• kelumpuhan pasien tidak mampu berdiri dan berjalan


• Nyeri kepala
• Paralisis
• Refleks tendon berkurang
• Kaku kuduk
• Brudzinky
• Mendeteksi lumpuh layu
11
• Darah Tepi Perifer
• Pemeriksaan darah perifer mungkin dalam batas normal atau
terjadi leukositosis pada fase akut mayor ilness.
• Cairan Cerebrospinal
• pada 90% mayor ilness, terjadi peningkatan jumlah sel
bervariasi 20-300 sel, pada umumnya dalam 72 jam pertama
terjadi dominasi PMN, selanjutnya dominasi limfosit dan
jumlah sel menurun pada minggu ke-2 menjadi 10-15 sel.
Pemeriksaan • Pemeriksaan Serologik
• Diagnosis polimyelitis ditegakkan berdasarkan peninggian titer
Penunjang antibodi 4x atau lebih antara fase akut atau konvalesens, yaitu
dengan cara pemeriksaan uji netralisasi dan uji fiksasi
komplemen.
• Isolasi Virus
• Penderita mengeluarkan virus ke dalam tinja saat sebelum
fase paralitik terjadi. Pada isolasi feses yang diambil 10 hari
dari awitan gejala neurologik, 80-90% positif untuk virus polio;
Hasil biakan juga penting untuk menentukan jenis stereotype
virus dan mempengaruhi cara vaksinasi.
12
Diagnosa Keperawatan
1. ketidakefektifan pola napas b.d
paralysis otot
2. Nyeri akut b.d proses infeksi
yang menyerang syaraf
3. Hambatan mobilitas fisik b.d
paralysis otot

13
Intervensi
Keperawatan

14
Hambatan Mobilitas Fisik b.d Paralysis

Rencana (Intervensi) Rasional


1. Tentukan aktivitas atau keadaan fisik anak. 1. Memberikan informasi untuk mengembangkan
  rencana perawatan bagi program rehabilitasi.
 

2. Catat dan terima keadaan kelemahan 2. Kelelahan yang dialami dapat mengindikasikan
(kelelahan yang ada). keadaan anak.
 

3. Indetifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi 3. Memberikan kesempatan untuk memecahkan


kemampuan untuk aktif seperti pemasukan masalah untuk mempertahankan atau
makanan yang tidak adekuat meningkatkan mobilitas.
 

4. Evaluasi kemampuan untuk melakukan 4. Latihan berjalan dapat meningkatkan


mobilisasi secara aman. keamanan dan efektifan anak untuk berjalan.15
Nyeri Akut b.d Proses Infeksi Yang Menyerang Saraf
Rencana (Intervensi) Rasional
1. Lakukan strategi non farmakologis untuk membantu 1. Teknik-teknik seperti relaksasi, pernafasan berirama,
anak mengatasi nyeri. dan distraksi dapat membuat nyeri dan dapat lebih di
  toleransi
 
2. Libatkan orang tua dalam memilih strategi. 2. Karena orang tua adalah yang lebih mengetahui anak.
   

3. Ajarkan anak untuk menggunakan strategi non 3. Pendekatan ini tampak paling efektif pada nyeri
farmakologis khusus sebelum nyeri. ringan.
   
4. Minta orang tua membantu anak dengan 4. Latihan ini mungkin diperlukan untuk membantu anak
menggunakan srtategi selama nyeri. berfokus pada tindakan yang diperlukan
 
5. Berikan analgesic sesuai indikasi 5. Mengurangi nyeri.

16
Ketidakefektifan Pola Napas b.d Paralysis Otot

Rencana (Intervensi) Rasional


1. Evaluasi frekuensi pernafasan dan 1. Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi
kedalaman. dapat mencegah komplikasi.
   

2. Auskultasi bunyi nafas. 2. Mengetahui adanya bunyi tambahan.


   

3. Tinggikan kepala tempat tidur,letakkan pada 3. Merangsang fungsi pernafasan/ekspansi


posisi duduk tinggi atau semi paru.
fowler.  
 

4. Berikan tambahan oksigen 4. Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru.


 
17
Implementasi Keperawatan
Memantau pola makan anak untuk mengetahui intake dan output anak

Memberikan makanan secara adekuat Untuk mencakupi masukan


sehingga output dan intake seimbang

Berikan nutrisi kalori, protein, vitamin dan mineral.

Menimbang berat badan mengetahui perkembangan anak

Memberikan makanan kesukaan anak menambah masukan dan


merangsang anak untuk makan lebih banyak

Memberikan makanan tapi sering mempermudah proses pencernaan

18
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi Keperawatan Merupakan hasil perkembangan dari
penderta polio dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang
hendak dicapai.

19
Definis Tetanus
penyakit akut yang
dapat dicegah dan
sering kali bersifat fatal
yang disebabkan oleh
eksotoksin dan
dihasilkan oleh kuman
Gram positif serta
membentuk spora
anaerobik Clostridium
tetani.

20
Manifestasi
Klinis
Minggu pertama : regiditas, spasme
otot. Gangguan ototnomik biasanya
dimulai beberapa hari setelah spasme
dan bertahan sampai 1-2 minggu
tetapi kekakuan tetap bertahan lebih
lama. Pemulihan bisa memerlukan
waktu 4 minggu. (Sudoyo Aru,dkk
2009)

21
Etiologi
✘ Kuman yang menghasilkan toksin adalah
Clostridium tetani, kuman berbentuk
batang dengan sifat :
✘ Basil Gram-positif dengan spora pada
ujungnya sehingga berbentuk sepi
genderang
✘ Obligat anaerob (berbentuk vegetatif
apabila berada dalam lingkungan dapat
bergerak dengan menggunakan flagela
✘ Menghasilkan eksotoksin yang kuat
✘ Mampu membentuk spora (terminal spore)
yang mampu bertahan dalam suhu tinggi
kekeringan, dan desinfektans. 22
Asuhan Keperawatan
Tetanus

23
Identitas • Nama, usia, jenis kelamin, suku/bangsa,
Pasien alamat, penanggung jawab.
Keluhan • panas badan tinggi, kejang, dan
utama penurunan tingkat kesadaran.
• Tanyakan dengan jelas tentang gejala
yang timbul seperti kapan mulai
serangan, sembuh, atau bertambah
buruk. Keluhan kejang perlu mendapat
Riwayat
perhatian untuk dilakukan pengkajian
Penyakit
lebih mendalam, bagaimana sifat
Sekarang
timbulnya kejang, stimulus apa yang
sering menimbulkan kejang, dan tindakan
apa yang telah diberikan dalam upaya
menurunkan keluhan kejang tersebut.
24
• pernahkah klien mengalami luka dan luka tusuk yang dalam
misalnya tertusuk paku, pecahan kaca, terkena kaleng, atau
Riwayat Penyakit luka yang menjadi kotor; karena terjatuh di tempat yang kotor
dan terluka atau kecelakaan dan timbul luka yang tertutup
Dahulu
debu/ kotoran. Juga luka bakar dan patah tulang terbuka.
Adakah porte d'entrée lainnya seperti luka gores yang ringan
kemudian menjadi bernanah; gigi berlubang dikorek dengan
benda yang kotor atau OMP yang dibersihkan dengan kain
yang kotor.
• Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga
penting untuk menilai respons emosi klien terhadap penyakit
yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga
dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam
Pengkajian kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun
Psikososiospiritual dalam masyarakat. Apakah ada dampak yang timbul pada
klien yaitu timbul seperti ketakutan akan kecacatan, rasa
cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas
secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah
(gangguan citra tubuh).
25
• B1 (Breathing)
• Inspeksi apakah klien batuk, produksi sputum, sesak nafas,
penggunaan otot bantu napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan
yang sering didapatkan pada klien tetanus yang disertai adanya ketidak
efektifan bersihan jalan nafas. Palpasi toraks di dapatkan taktil premitus
seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi nafas tambahan seperti
ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi secret dan kemampuan
batuk yang menurun.
• B2 (Brain)
• Pengkajian pada sistem kardiovaskular didapatkan renjatan (syok
hivopolemik) yang sering terjadi pada klien tetanus. Tekanan darah
Pemeriksaan fisik biasanya normal, peningkatan denyut jantung, adanya anemis karena
hancurnya eritrosit.
• Pengkajian tingkat kesadaran
• Kesadaran klien biasanya compos mentis. Pada keadaan lanjut tingkat
kesadaran klieb tetanus mengalami penurunan pada tingkat letargi,
stupor, dan semikomatosa. Jika klien sudah mengalami koma maka
penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien
dan bahan evaluasi untuk pemantauan pemberian asuhan.
• Pengkajian fungsi screbal
• Status mental: observasi penampilan, tingkah laku, nilai gaya bicara,
ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien. Pada klien tetanus tahap
lanjut biasanya mental klien mengalami perubahan.
26
• B4 (Bladder)
• Penurunan volume urine output, retensi urine karena
kejang umum. Pada klien yang sering kejang sebaiknya
urine dikeluarkan dengan menggunakan kateter.
• B5 (Bowel)
• Mual sampai muntah disebabkan peningkatan produksi
asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien tetanus
menurun karena anokresia dan adanya kejang, kaku
Pemeriksaan fisik dinding perut (perut papan) merupakan tanda khas pada
tetanus. Adanya spasme otot menyebabkan kesulitan
BAB.
• B6 (Bone)
• Kejang umum sehingga menggangu mobilitas klien dan
menurunkan aktivitas sehari-hari.
• Laboratorium : leukositosis ringan, peningkatan tekanan
cairan otak, dan deteksi kuman sulit.
Pemeriksaan • Laboratorium : leukositosis ringan, peningkatan tekanan
diagnostik cairan otak, dan deteksi kuman sulit.
27
Pengkajian saraf
kranial
Saraf I. biasanya pada klien tetanus tidak ada kelainan pada fungsi
penciuman

Sarah II. Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal

Saraf III, IV, dan VI. Klien tetanus mengeluh mengalami fotofobia atau
sensitive yang berlebihan terhadap cahaya, respon kejang umum
akibat stimulus rangsang cahaya perlu diperhatikan perawat guna
memberikan intervensi untuk menurunkan stimulasi cahaya tersebut

28
 Saraf V. Refleks maseter meningkat. Mulut condong ke depan seperti
mulut ikan (ini adalah gejala khas dari tetanus)
 Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris
 Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi
 Saraf IX dan X. kemampuan menelan kurang baik, kesulitan
membuka mulut (trismus)
 Saraf XI. Didaptkan kaku kuduk, ketegangan otot rahan dan leher
(mendadak)
 Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak
ada fasikulasi indra pengecapan normal.

29
Pengkajian Pada Anak
 Trismus spasme otot-otot mastikatorus yg berfungsi sebagai otot pengunyah
 Kaku kuduk sampai epistotonus (karena ketegangan otot-otot erector trunki).
 Ketegangan otot dinding perut (perut seperti papan)
 Kejang tonik (merupakan manisfestasi toksin yang terdapat pada kornu anterior)
 Risus sardonikus (karena spasme otot muka dimana alis tertarik keatas, susut mulut tertarik keluar
dan kebawah/mulut mencucu seperti mulut ikan serta bibir tertekan kuat pada gigi)
 Kesulitan menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri kepala.
 Asfiksia sampai sianosis (akibat serangan pada otot pernafasan dan laring)
 Retensi urin (karena spasme otot uretral)
 Resiko fraktur kolumna vertebralis (karena kontraksi otot sangat yang kuat pada saat serangan
kejang).
Intervensi
Keperawatan

31
Diagnosa : Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan Dengan Kejang Dan Kekakuan Badan.

Tujuan : klien mampu melakukan aktivitas yang optimal setelah dilakukan askep 2 x 24 jam.
Kritera : tidak ada kontraktor otot, tidak ada ankilosis pada sendi, penyusutan otot.

Intervensi Rasional
Kaji fungsi motorik dan sensorik dengan mengobservasi setiap lobus frontal dan pariental berisi saraf-saraf yang mengatur fungsi
ekstremitas sacara terpisah terhadap kekuatan dan gerakan normal motorik dan sensorik dan dapat dipengaruhi oleh iskemia atau
dan respons terhadap rangsang. peningkatan tekanan.
Ubah posisi klien selama 2 jam. mencegah terjadinya luka tekan akibat tidur lama pada suatu sisi
sehingga jaringan yang tertekan akan kekurangan nutrisi melalui oksigen
yang dibawa darah. Jangan gunakan batal dibawah lutut saat klien posisi
telentang karena resiko terjadinya hiperekstensi pada lutut. Tetapi
letakkan gulungan handuk dalam jangka waktu singkat.

Lakukan latihan secara teratur dan letakkan telapak kaki klien mencegah deformitas dan komplikasi seperti kontraktur.
dilantai saat duduk dikursi atau papan penyangga saat tidur
ditempat tidur
Lakukan latihan diatas tempat tidur. Lakukan latihan kaki sebanyak membantu klien tetanus untuk latihan ditempat tidur berarti memberikan
lima kali, kemudian ditingkatkan secara perlahan selama 20 kali harapan dan mempersiapkan aktivitas dikemudian hari akan perasaan
setiap kali latihan. optimis sembuh.
Lakukan latihan pergerakan sendi ( ROM ) sebanyak 4 kali klien dengan tetanus mengalami kekauan tubuh. Dengan rooming dapat
mencegah terjadinya kontraktor. 32
Diagnosa : Sindrome self care ADL berhubungan dengan gangguan sistem syaraf (kejang)

Tujuan : Setelah dilakukan perawatan 2x24 jam klien klien mampu perawatan diri secara mandiri.
Kriteria hasil : Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari (makan, berpakaian, kebersihan, toileting, ambulasi) juga Klien
bersih, segar, nyaman dan tidak bau
Kritera : tidak ada kontraktor otot, tidak ada ankilosis pada sendi, penyusutan otot.

Intervensi Rasional
Monitor kemampuan klien terhadap perawatan kebutuhan diri Mengetahui seberapa besar kemampuan
sehari – hari (makan, berpakaian, kebersihan, toileting, klien dalam ADL
ambulasi)

Monitor kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, Memantau kebutuhan ADL klien
makan, toileting dan ambulasi
Beri bantuan kepada klien dalam memenuhi ADL Menghemat tenaga yang dikeluarkan klien

Anjurkan klien melakukan ADL sesuai kemampuannya Melatih ADL secara mandiri

Evaluasi kemampuan klien dalam memenuhi aktivitasnya Mengetahui seberapa besar kemampuan
klien
Berikan reinforcement atas usaha Memberi semangat dan dukungan kepada klien
perawatan diri yang dilakukan klien
33
Diagnosa : Anseitas Yang Berhubungan Dengan Ancaman, Kondisi Sakit Dan Perubahan Kesehatan
Tujuan : ansietas hilang atau berkurang
Kritera : mengenal perasaannya, dapat mengndetifikas penyebab atau faktor yang memengaruhnya dan menyatakan ansietas
berkurang/hilang

Intervensi Rasional
Kaji tanda verbal dan nonverbal ansietas, dampingi Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukkan rasa agitas,
klien dan lakukan tindakan bila menunjukan perilaku marah, dan gelisah
merusak
Jelaskan sebab terjadinya kejang. Memberikan dasar konsep agar klien kooperatif terhadap
tindakan untuk mengurangi kejang.

Hindari konfrontasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah,


menurunkan kerja sama, dan mungkin memperlambat
penyembuhan
Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi Mengurang rangsangan eksternal yang iperlu
kecemasan. Berlingkungan yang tenang suasana
penuh istrahat 34
Tingkatkan control sensasi klien Control sensasi klien (dan dalam menurunkan
ketakutan) dengan cara memberikan informas
tentang keadaan klien, menekankan pada
penghargaan terhadap sumber-sumber koping
(pertahanan diri) yang positif, membantu Latihan
relaksasi, dan teknik-teknik pengalihan dan
memberikan respons baik yang positif
Orientas klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas Orentasi dapat menurunkan ansetas.
yang diharapkan
Beri kesempatan kepada klien untuk Dapat menghilangkan ketegangan terhadap
mengungkapkan kekhawatiran yang tidak diekspreskan
Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat Memberikan waktu untuk mengekspreskan perasaan,
menghilangkan ansietas dan perlaku adaptasi.
Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih klien
melayani aktivitas dan pengalihan (misalnya membaca)
akan menurunkan perasaan tersolasi.
35
Diagnosa : Hipertermi Yang Berhubunan Dengan Proses Inflamasi Dan Efek Toksin
Dijaringan Otak
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam perawatan suhu tubuh menurun
Kritera : suhu tubuh normal 36-37 derajat celsius.
Intervensi Rasional
Monitor suhu tubuh klien Peningkatan suhu tubuh menjadi stimulus
rangsang kejang pada klien tetanus
Beri kompres dingin dikepala dan aksila Memberikan respons dingin pada pusat pengatur
panas dan pada pembuluh darah besar
Pertahankan bedrest total selama fase akut Mengurangi peningkatan proses metabolisme
umum yang terjadi pada klien tetanus
Pertahankan bedrest total selama fase akut ATS dapat mengurangi dampak toksin tetanus
dijaringan otak dan anti mikroba dapat
mengurangi inflamasi sekunder dan toksin
36
Diagnosa : Risiko Tinggi Kejang Berulang Yang Berhubungan Dengan Kejang Rangsang (Terhadap Visual, Suara, Dan Taktil)

Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam perawatan risiko kejang berulang tidal terjadi
Kriteria : klien tidak mengalami kejang
Intervensi Rasional
Kaji stimulus kejang Stimulus kejang pada tetanus adalah rangsang cahaya dan
peningkatan suhu tubuh

Hindari stimulus cahaya, kalau perlu klien ditempatkan pada Penurunan rangsang cahaya dapat membantu menurunkan
ruangan dengan pencahayaan yang kurang stimulus rangsang kejang

Pertahankan bedrest total selama fase akut Mengurangi risiko jatuh/terluka jika vertigo, sinkop, dan ataksia
terjadi
Kolaborasi pemberian terapi diazepam, fenobarbital Untuk mencegah dan mengurangi kejang. Catatan ; fenobarbital
dapat menyebabkan respiratorius depresi dan sedasi.

Kaji tingkat mobilsasi, gunakan skala tingkat ketergantungan. Tingkat ketergantungan minimal care (hanya memerlukan bantuan
  minimal), partal care (memerlukan bantuan sebagian), dan total
care (memerlukan bantuan komplt dar pesawat dan klien yang
memerlukan pengawasan khusus karena resiko cedera tinggi).

37
Berikan perubahan posisi yang teratur pada klen. Perubahan posisi teratur dapat mendistribusikan berat
  badan secara menyeluruh dan memfasiltasi peredaran
darah serta mencegah dekubitus.
 

Pertahanan body alignment adekuat, berikan Latihan Mencegah terjadinya kontraktur atau foot drop serta dapat
ROM pasif jika klien sudah bebas panas dan kejang. mempercepat pengembalian fungsi tubuh nantnya.
   

Berikan perawatan kulit secara adekuat, lakukan masase, Memfasilitas sirkulasi dan mencegah gangguan integritas kult.
ganti pakaian klien dengan bahan klien, dan pertahankan  
tempat tidur dalam keadaan kering.
 

Berikan perawatan mata, bersihkan mata, dan tutup Melindungi mata dari kerusakan akibat terbukanya mata
dengan kapas yang basah sesekal. terus-menerus.
   

Kaji adanya nyeri, kemerahan, dan bengkak pada area indikas adanya kerusakan dan deteksi dan adanya dekubitus
kulit. pada area lokal
    38
Implementasi
Implementasi merupakan
Keperawatan
tindakan yang sesuai dengan
yang telah direncanakan,
mencakup tndakan mandiri
dan kolaborasi.

Evaluasi Keperawatan Evaluasi Keperawatan


Merupakan hasil
perkembangan dari penderta
polio dengan berpedoman
kepada hasil dan tujuan yang
hendak dicapai

39
Daftar Pustaka
Smeltzer, buku ajar keperawatan medkal-bedah Brunner &
Suddarth. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta:EGC, 2001.

Arif Muttaqin, Pengantar Asuhan Keperawatan Klen dengan


Gangguan Sistem Persyarafan, Jakarta : Salemba Medika, 2008.

George Dewanto, Panduan Dan Praktis Diagnosis Dan Tata


Laksana, Jakarta : EGC, 2009.

40
Thanks!
Any questions?

41